Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 146 - Love is so Mean...



Dua minggu berikutnya... 


Rumah sakit terbesar Negara B. 


Sudah hampir satu bulan penuh Farah Lee belum menunjukan tanda akan bangun dari komanya. Keenan dengan sabar menunggui Farah di rumah sakit. Dia bahkan mengakusisi gedung sebelah rumah sakit yang dia jadikan kantor cabang KTech agar anak buahnya lebih leluasa menghubunginya di saat genting. 


Farah sendiri sudah di pindahkan dari ruang ICU ke ruang inap biasa. Dia tidak perlu bantuan alat medis seperti sebelumnya. Hanya saja tubuhnya belum bisa merespon ransangan dari luar. 


Setelah kesehatan Keenan membaik, dia kemudian memerintah beberapa team medis memeriksa racun yang berada dalam tubuh Farah. Betapa terkejutnya Keenan saat mengetahui kenyataannya. 


"Tuan memang benar, dalam darah nona disinyalir terdapat kelebihan senyawa sintesis yang berbahaya."


"Salah satunya yang menyebabkan kinerja jantung nona berubah-ubah di awal."


Dokter menjelaskan dengan cukup baik, dokter melayangkan senyum empatinya. 


"Anda harus bersyukur tuan..."


"Bayi anda menyelamatkan hidup ibunya..."


DEG! 


"Saya menduga bahwa hormon estrogen yang diproduksi berlebih saat nona hamil menekan senyawa jahat bahkan menghilangkannya."


"Nona belum bangun mungkin karena dia belum ingin tuan..."


"Bisa jadi semua ini meninggalkan trauma mendalam bagi nona."


"Sejauh ini rekam medisnya sudah sangat baik."


"Semua kinerja organ tubuh nona baik-baik saja."


"Disarankan agar anda bisa lebih sering berkomunikasi saja dengan nona, dia bisa mendengar tuan."


"Hanya belum bisa merespon."


Keenan kembali menuju ruangan Farah.


"Tuan..."


Dua orang pengawal yang diperuntukkan menjaga ruangan Farah tengah menundukkan tubuhnya menyambut kedatangan tuannya.


Keenan menatap ruang inap Farah, sebelum membuka pintunya. Perasaan bersalah Keenan kembali menguar di relung jiwanya. Mendengar perkataan terakhir dokter yang mengatakan Farah belum ingin terbangun jiwanya seolah di tarik paksa dari raganya. Dia mengambil kesimpulan sendiri bahwa wanitanya tidak ingin menemuinya lagi.


Dia mengambil nafas perlahan dan menghembuskannya, membuka knop pintu dengan perlahan. Menatap tubuh wanita yang tertidur dengan pulasnya disana.


Ya! Farah terlihat seperti hanya sedang tertidur pulas. Wajahnya saja yang sedikit terlihat pucat, namun tidak mengurangi kecantikan wanita seorang Keenan Kaviandra. 


Keenan duduk di samping Farah, dia menelan salivanya. Menggenggam jemari lentik calon istrinya menciumnya dan meletakannya di pipi pria itu. 


"Sayaaang ku Farah Lee..."


Belum apa-apa air mata Keenan tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak terjatuh dari tempatnya.


"Kamu adalah wanita pertama yang membuat aku sefrustasi ini!"


"A-aku minta maaf sayaang..."


Keenan kembali mengingat jelas hari pertama saat Farah mengacau di kamarnya. Kemudian saat wanita itu mengenakan baju pendamping pengantin yang baru di sadari Keenan saat itu dirinya sudah mulai tertarik dengan Farah.


Ingatannya terus berputar kembali saat Farah menumpahkan jus yang diminta keponakannya. Itu juga saat pertama kali dalam hidup Keenan berdekatan dengan lawan jenis dan bukan adiknya.


Keenan semakin menggenggam erat jemari Farah saat kejadian pelecehan Farah kembali muncul di ingatannya.


"M-Maafkan a ku..."


Keenan sangat menyesal saat melihat raut kekecewaan Farah yang jelas terukir di wajah cantiknya saat Keenan dengan dinginnya mengatakan dia tidak ingin bertanggung jawab atau pun serius menjalani hubungan dengannya.


"Apa aku harus menciptakan mesin waktu sayang?!"


"Aku ingin memperbaiki segalanya!"


Keenan menangis menangkupkan wajahnya di atas ranjang dan tangan Farah.


"Aku tahu kamu pasti membenci ku saat ini."


"Aku membuat kita kehilangan bayi kita."


"Ini semua salah mu!"


"Seandainya kamu tidak membohongi ku tentang kehamilan mu!"


"Atau aku memang bodoh tidak menyadarinya!"


"Maafkan aku!!!"


"Bangunlah dan hukum aku!!"


"Kau membenci ku bukan?!"


"Setelah kamu bangun kamu bisa bebas menghukum ku dengan cara apapun!"


"Jika nyawaku bisa di tukar dengan kesadaranmu aku akan menukarnya sekarang juga..."


Keenan terus terisak dengan masih menggenggam erat jemari Farah.


"Farah Lee, aku sangat mencintai mu!"


"Tidak masalah kamu tidak ingin terbangun saat ini."


"Aku berjanji setiap hari aku akan tetap berada di sampingmu."


"Menyambutmu di awal hari..."


"Mengecupmu di menjelang pergantian hari.."


"Dan tentu saja aku akan selalu menyatakan perasaan ku padamu setiap harinya bermilyar-milyar kali."


"Mengungkapkan perasaan betapa aku mencintai mu hari ini dan hingga akhir waktu ku hidup di dunia ini!"


"Aku tidak akan menyerah sayang!"


"Aku akan selalu meyakinkan dirimu betapa aku mencintai dirimu Farah Lee!!


Keenan mengecup kembali jemari Farah yang tersemat cincin darinya.


"Apa kakak tengah bersungguh-sungguh dengan ucapan kakak barusan?!"


Keenan mendongakan wajahnya, dia menatap Farah berusaha tanpa berkedip. Degub jantungnya seolah berhenti sejenak kemudian berpacu dengan cepatnya membuat adrenalinnya memuncak.


Farah tengah membuka matanya dan tersenyum lemah di hadapan pria yang sudah berwajah kusut itu.


Bruk!


Keenan memeluk Farah erat tanpa kata, dia bahagia, sangat bahagia!!


"Kamu bangun sayaaaang...."


"Aku tahu kamu pasti bangun sayaang!"


"Kamu tidak mungkin meninggalkan ku bukan."


Keenan berkata lirih dengan terus memeluk erat calon istrinya yang kini tengah kesulitan bernafas.


"k a k... Le paas!"


"M-maafkan aku sayaaang!"


Keenan tersenyum dengan masih membanjiri wajahnya dengan air mata kebahagiaan.


"Aku panggil dokter dulu!"


Farah menghentikan gerakan prianya. Dia menggeleng menandakan tidak perlu. Farah hanya meminta untuk merubah posisinya untuk terduduk. Dengan hati-hati Keenan membantunya.


Keenan seolah seperti mimpi, benar apa yang di ucapkan oleh dokter barusan. Dengan ucapannya Farah akhirnya terbangun. Keenan mengusap lembut pipi Farah yang masih terlihat pucat.


"Maafkan aku sayang..."


"Maaf..."


"Aku tahu, permintaan maafku tidak akan mengembalikan bayi kita."


"Maafkan aku..."


Farah telah meneteskan air matanya, Keenan mengusapnya lembut.


"Maafkan aku sayang, aku siap menerima hukuman mu!"


Farah melengkungkan senyumnya, dia memeluk Keenan. Sungguh kebahagian diatas kehilangan putranya. Dia memang sudah sadar sejak dua minggu yang lalu, namun saat dia mengetahui kenyataan bahwa bayinya tiada dia merasa tidak ingin terbangun dan menghadapi kembali kenyataan pahit ini.


"Apa kamu memaafkan ku sayang?!" Keenan melonggarkan pelukan menatap lamat wajah kekasih hatinya dengan sangat dekat.


Farah mengangguk perlahan, secepatnya Keenan mencium bibir pucat wanitanya. Keduanya menutup mata mereka merasakan sentuhan hangat di setiap hi*sapan bibir mereka yang kembali menyatu.


"EEHEEEEMM!!"


Keduanya membuka mata dan Keenan yang mengetahui suara siapa gerangan menatap kearah pintu masuk.


"Kareen!"


Wajah Keenan pucat seketika, saat mengetahui yang datang tidak hanya adik kesayangannya melainkan seluruh keluarga besarnya.


"Bagus sekali tuan muda!"


"Anda membohongi kami semua!!"


Karen menatap tajam kearah keduanya, Keenan bangkit dari ranjang merasa dirinya akan di lucuti habis-habisan oleh Nina.


Baiklah, aku memang telah siap dengan segala konsekuensinya! Mungkin saat inilah waktunya memberitahukan kebenarannya.


Saat Keenan akan mencoba menjelaskan pada seluruh pasang mata di hadapannya. Nina yang tengah bersidekap tangan di dadanya mengalihkan pandangan pada Farah.


"Jadi, apa dia sudah menyesalinya?!" Tanya Nina datar.


"SURE!"


"Aku bahkan merekamnya!!"


"Kak Keenan berjanji akan memperlakukan ku dengan baik!"


Farah mengacungkan ponselnya yang sedari tadi dia aktifkan untuk merekam apa yang di ucapkan Keenan padanya dengan semangat dan antusiasnya.


"w h a t?!" Keenan menatap nyalang pada Farah dan Nina bergantian. Berharap mendapatkan penjelasan masuk akal saat ini juga.


Farah yang di tatap dingin, tajam dan menakutkan kemudian memekik lantang dan menunjuk pada Nina.


"Salahkan dia!!"


"Ini semua ide dia!!"


"Karen bilang kakak perlu dikasih pelajaran!!"


Keenan membulatkan matanya, Karenina mengacungkan jari tengah pada Farah.


"Bocah degil kurang ajaar!!" Umpat Nina.


✲✲✲✲✲✲