
Nina memakaikan dasi pada suaminya, keduanya masih dalam mode hening. Mulai hari ini keduanya akan terpisah sementara dalam batas waktu tidak bisa di tentukan. Jelas terlihat kesedihan terpancar di kedua netra mereka. Walau semalam mereka sudah mengisi daya kehidupan namun rasanya tidak cukup.
"Hati-hati disana, jangan pikirkan kami disini."
"Hah?!"
Hanssel terpaku dengan ucapan istrinya.
"Kau sudah tau aku akan kemana?!"
"Tentu saja kamu pikir aku bodoh?!"
"Hehehe..." Hanssel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Keenan Kaviandra adalah pembunuh berdarah dingin, dia tidak akan mentolerir kesalahan."
"Jangan bertindak gegabah!"
"Dia tidak akan memandang siapa kita saat sudah di simulator bahkan saat di tetapkan misi."
"Aku saja pernah mendapat 10 kali hukum cambuk hahaha!"
"APAAAA?!"
Raut wajah Hanssel berubah pucat pasi saat mendengarnya.
"Aku memahaminya, semua demi kebaikan dan pencapaian terbaikku."
"Aku percaya padamu sayaaaang..."
"Kamu akan pulang lebih cepat dari yang di tetapkan."
Tangan Hanssel meraup wajah Nina, wajahnya semakin di dekatkan dan keduanya kembali bertautan. Setelah puas Hanssel menunduk mendekati perut istrinya.
"Sayaaang, papa kerja dulu ya."
"Papa minta maaf papa tidak bisa jenguk tiap saat, papa juga tidak bisa temani ibu saat pemeriksaan mu berikutnya."
"Jaga ibu okay..."
"Jangan menyusahkannya!"
"Papa sayang sekali sama kalian..."
Hanssel mencium perut istrinya lembut dan memeluknya erat. Nina tengah menahan air matanya untuk tidak keluar agar tidak memberatkan suaminya saat pergi.
"Kita temui kakakmu yuk!"
Hanssel menggenggam erat jemari Nina dan keduanya turun menemui putranya yang sepagi ini sudah sibuk dengan area bermainnya.
"Prince Jimmy!"
"Papaaaa!!"
Jimmy berlari dan melompat ke arah ayahnya, dengan tepat Hanssel menangkap putranya dan memutar badannya, tawa renyah Jimmy akan menjadi penyemangatnya selama dia pergi.
"Jimmy, papa ada perjalanan bisnis selama beberapa hari ke depan."
"Bolehkah papa meminta tolong?!"
"Apa itu papa?!"
"Jimmy sudah menjadi kakak saat ini, di rumah jika tidak ada papa, Jimmy bantu papa lindungi ibu dan adek bayi ya sayang..."
"SIAAAAP PAPA!!!"
Dengan posisi menghormat pada ayahnya Jimmy bertingkah menggemaskan membuat Hanssel terus menciuminya.
"Papa sayaaaang sekali sama jagoan papa!!"
"Jimmy juga sangat sangat sangat sayang papa Hanssel!!"
"Hanya ada satu papa sekarang buat Jimmy."
"Hanya papa Hanssel!!"
Hanssel tersentuh dengan ucapan anak kecil didepannya, dia memeluk erat putranya "Terima kasih sayaaang..."
Nina sudah tidak bisa lagi membendung rasa haru dan sesak menjadi satu. Dia mengusap buliran bening yang sudah turun dengan derasnya kemudian mendekat pada keduanya dan memeluk mereka bersama.
"Farell akan melakukan apapun yang kamu minta. Jadii...."
Nina terkekeh dengan penuturan suaminya yang masih mencemaskannya.
"Sayang tenang saja, aku ini adalah anggota termuda terbaik di XK."
"Jadi kalahkan rangkingku ya!"
Hanssel mengulumkan senyumnya, "Aku tidak akan pernah bisa mengalahkan mu ratu ku!" Bisiknya kemudian.
***
Farah telah sampai di apartemennya, seluruh jiwa dan raganya hancur bersamaan saat ini.
"Jarak kecintaan dan kebencian itu memang sangat tipis, aku tidak menyangka rasa suka ku pada Keenan Kaviandra berubah jadi rasa benci dalam waktu sesingkat ini!!"
Farah menenggelamkan dirinya di dalam bathtub, dia telah mengirimkan pesan pada Nina dia berbohong dan meminta cuti beberapa hari. Bekas luka yang sangat mencolok tidak bisa dia sembunyikan dari sepupu yang sudah dia anggap saudara sendiri.
Karennina membaca pesan yang dikirimkan Farah.
[Bos, sorry aku harus pulang ke KL aku minta cuti beberapa hari ya. Tiba-tiba ada urusan mendadak. Kalau kamu berbaik hati jangan potong gajiku!!!]
Nina mengerutkan keningnya, dia ingat semalam dia meminta Farah menggantikannya.
"Mengapa sekarang tiba-tiba minta cuti?"
Nina menghubungi ponsel Farah namun tersambung dengan kotak suara.
"Apa dia benar-benar terbang ke KL?!"
Nina meminta bagian personalia memberikannya seorang admin untuk membantunya beberapa hari kedepan.
Di tengah kesibukkan Nina tiba-tiba kakaknya menemuinya.
"Dimana sekertarismu itu?!"
"Sepupu sendiri aja kayak orang lain!"
"Officialnya kan dia bukan siapa-siapa!"
"Kemana dia?!"
"Tumben tiba-tiba perhatiin keberadaan Farah?!"
"....."
Keenan terdiam sejenak kemudian kembali menampilkan ekspresi datar dan dinginnya.
"Aku juga heran dengan dia, semalam dia tidak memberitahukan ku apapun tiba-tiba minta cuti pulang ke KL!"
Deg!
"Oh ya kak, apa kakak tahu pengobatan adiknya sudah sampai mana?!"
"Aku tidak ada urusan!"
"Aku hanya menyuruh orangku memberikan mereka financial sesuai kebutuhan."
"Apa kakak tidak ingin membantunya mencarikan donor jantung yang cocok buat Daniel?!"
"Bukan urusanku!"
"Bantu orang itu sebuah kebaikan yang akan memantul ke diri kita lagi!"
"Kau sungguh cerewet persis papa mama!"
"Farah sudah aku anggap adikku sendiri..."
"Dia paling tahu saat aku dalam kondisi terpuruk dan selalu mencoba berada disampingku menemaniku."
"Aku juga tidak akan sungkan buat membantunya."
"Bagi dia semangat hidupnya hanya terpusat pada nyonya Lee dan adiknya Daniel."
"Apa salahnya kakak bantu dia mencari di pasar gelap!"
Keenan menatap Nina serius, dia berpikir bagaimana jika adiknya tahu apa yang sudah dia lakukan pada Farah semalam.
"Aku akan utus orangku melakukannya."
"Thank you so much mr. K!"
"I love you to the moon and back!!"
"Basi!"
Ada rasa aneh di hati Keenan setiap mendengar nama Farah saat ini. Bahkan bayangan bagaimana dia memperlakukan gadis itu saat dia dalam pengaruh obat. Dia kembali berkeringat dingin dan ketakutan, mengingat dia tak ubahnya seperti monster saat itu.
"Kakak baik-baik saja?!"
Nina memperhatikan perubahan sikap kakaknya.
"Ya, I'm okay..."
"Aku akan membawa Hanssel jadi hati-hati aku akan di Aussie selama 2 minggu."
"Kemarin pemberontak mulai melakukan pergerakan."
Nina terhenti dia menyenderkan bahunya di kursi kebesarannya. Teringat kejadian seperti di buntuti seseorang saat pesta pernikahannya. Dia lupa belum membuka kamera pengintai milik robotnya.
"Kamu harus selalu waspada, kakak sudah memberikan beberapa orangku di rumah."
"Pastikan Jimmy selalu dalam area pengawasan."
"Baik ka, terima kasih."
Keenan bangkit dari kursinya, di ikuti Nina.
"Kak.."
Nina menghampiri Keenan, "Aku tahu bagaimana peraturan pelatihan, tapi aku mohon jaga suamiku!"
"Aku tidak ingin menjadi janda dua kali!"
"HAHAHAHAHA!"
Keenan mengacak rambut adiknya yang kini dalam mode duck face.
"Itu tergantung kemampuan suamimu!"
"Jika dia memang orang pintar dan terbaik pasti dengan mudah melewati setiap ujian."
Nina merangkulkan kedua tangannya di bahu kakaknya "Aku yakin kakak tidak akan tega denganku!"
Cup ~
Nina mencium pipi kakaknya mesra. Namun ingatan Keenan kembali memutar kejadian bagaimana dia mencium bibir mungil Farah dan menyesapnya lembut kemudian menuntut.
AARGH! Sialaaan....
Mengapa dia selalu muncul di ingatanku!!!
"Kakak?!"
Nina merasakan ada yang aneh dengan kakaknya.
"Iya bawel!!"
Cup ~
Keenan melepaskan rangkulan adiknya dan bergegas pergi.
"Sejak kapan kak Keenan berkeringat dingin?!"
"Dia hanya akan seperti itu dalam kondisi tertekan!"
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
✲✲✲✲✲✲