Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 26 - Keliru



Seminggu kemudian...


"Hans, ini laporan yang kamu harus periksa..."


"Taruh di situ sayaaang..."


Nina menjawab dengan memajukan bibirnya membuat Hanssel terkekeh dengan tingkahnya. Sudah seminggu mereka menjalani kehidupan sebagai suami dan istri. Hanssel tidak menyangka kehidupannya sungguh mendekati sempurna saat ini.


Nina telah mendapatkan rumahnya di kawasan PIK tak jauh dari blok dimana rumah Hanssel berdiri. Mereka dengan di tambah Nanny dan yang akan membantu urusan rumah tangga serta security rumahnya telah resmi menjadi penghuni sejak 4 hari yang lalu.


Setiap pulang bekerja Hanssel akan di sambut dengan pelukan hangat Jimmy, malam hari sebelum pria kecil itu terlelap akan meminta bermain dengan Hanssel dan Nina. Terkadang mereka membawa Jimmy mengunjungi Playground di salah satu Mall.


Karena sidang hak asuh anak telah selesai Rangga mengambil pekerjaan di luar kota mengurusi kasus pengakusisian sebuah perusahaan multinasional. Dia semakin jarang menemui Nina, tapi bagi Nina dia bersyukur karenadia belum siap mengungkap pasal hubungannya dengan Hanssel. Mereka masih berhubungan intens termasuk dengan Jimmy juga, tentu saja di saat Hanssel tengah sibuk dengan jadwal pekerjaannya. Sampai saat ini Nina belum berani mengakui pernikahannya pada Rangga. Dia sungguh tidak enak hati pada lelaki baik hati itu. Dia berpikir biar waktu yang akan mengungkapkannya.


"Bro elu dimana?" Tanya Hanssel pada sahabatnya.


"Gue lagi ada kerjaan di luar kota. Kenapa emangnya?"


Hanssel memutar kursi kebesarannya dengan senyuman penuh arti kebahagiaan baginya. Dia ingin memberitahukan sahabatnya itu pasal pernikahannya dengan Nina. Namun saat itu dia dan Nina tengah di sibukan dengan urusan pembangunan proyek Mall dengan Lee Hi phase pertama. Saat ini Hanssel tengah senggang dan ingin membagi kebahagiaannya dengan Rangga. Satu-satunya sahabat rasa saudara baginya.


"Gue udah married!"


"Lah bukannya elu emang sering..." Jawab Rangga menyalah artikan.


"Itu kawin lah!!"


"Gue beneran nikah dapet akte nikah!!"


"Serius?!"


"Demi apa lu ga ngundang gue?"


"Eh tunggu... Lu kibul ye..."


"Mana mungkin pewaris Adamson nikah ga ada acara besar-besaran?!"


Rangga terus mencerca sahabatnya, dia antara terkejut dan tidak. Dengan kelakuan casanova temannya baginya tidak aneh juga jika dia mungkin menikahi salah satu teman kencannya mungkin juga karena salah satu dari mereka tengah mengandung benih keturunan Adamson. Terlebih lagi Rangga juga mendapatkan notifikasi bahwa Catherina akan pulang ke Indonesia beberapa hari lagi. Dia mengira Hanssel akan menikahi Catherina, karena sejauh Rangga menjalin persahabatan dengan pria itu Catherina adalah cinta dan pacar pertama Hanssel. Mereka putus karena Catherina memilih menjalani dunia modelingnya di luar negara. Karena hal itu lah yag mengubah pria sebaik Hanssel Adamson menjadi pria Casanova yang menjadikan wanita adalah baju sekali pakai untuknya.


"Emm... Partynya nyusul!"


"Terlebih gue belum bilang nyokap ama bokap!!"


" W H A T !!"


"Lu nikahin siapa emangnya?"


"Sekertaris gue!"


"Eh buseet!!"


"Lu pake jalur hamil duluan apa gimana??"


"B*NGKE!!"


"Gue serius cinta ma dia..."


"Buruan balik kita minum di MO gue traktir!!"


"Tiga hari lagi sidang gue kelar..."


"Sip!"


Hanssel memutus sambungan telponnya setelah terdengar bunyi pintu ruangannya di buka seseorang. Hanssel melebarkan senyumannya beranjak dari kursinya dan mendekati wanita yang baru saja masuk yang telah mencuri hati dan perhatiannya beberapa waktu ini.


"Sayaaang..." Hanssel memeluk dan menciumi leher Nina bertubi-tubi.


"Hans.." Nina menolak halus perlakuan berlebihan suaminya.


"Makan siang dimana kita? Jemput Jimmy udah lama kita ga makan di luar." Ajak Hanssel.


"Boleh..."


"Tapi aku butuh kamu tanda tangani berkas ini dulu..." Nina menaruh beberapa berkas di depan dada bidang Hanssel.


Hanssel menerimanya dengan rutukan lirih. "Kamu senang memperbudak suamimu!!"


"Tidak, aku hanya sedang mempermudah pekerjaanku saja agar tidak menumpuk dan di kejar para pemegang departemen bersangkutan."


"IYA LAH karyawan teladan anda!!"


Hanssel kembali duduk di kursi kebesaran dan mulai membolak balikan berkas memeriksa ulang.


"Kau sudah periksa semua nominal ini?"


"Iya... Ada yang salah?"


"Oh itu, karena anda sudah mulai membayarku 12x lipat dari gaji bulan lalu..." Ujar Nina dingin, datar dan menohok.


Uhuukk!


Hanssel menatap dengan senyuman kecut kearah wanita yang berhasil memerasnya dalam waktu singkat. Hanssel segera menandatangani kemudian kembali menyerahkan pada sekertarisnya yang akan di proses untuk pembayaran payroll bulan ini.


"Love you nenek lampir!!" Seru Hanssel sedikit berteriak.


Nina mengacungkan jari tengahnya ke arah Hanssel tanpa membalik badannya, Hanssel terbahak dibuatnya.


***


Nina berjalan menuju divisi keuangan, dia akan menyerahkan dokumen pada jajaran staff yang akan mengurusnya disana. Jessica yang memang menjadi salah satu staff keuangan di Adamson Group melirik dengan sinis. Dari penelusuran informan yang dia sewa di ketahui bahwa Hanssel sering sekali membawa Nina keluar berdua bahkan dia mendapat potret kebersamaan Hanssel dan Nina bahkan Jimmy sekalipun masuk dalam frame informan yang di sewa wanita julid itu keluar dari apartemen milik Nina seperti layaknya sudah tinggal satu atap.


"Cih laga sok dingin kelakuan tetaplah seperti wanita murahan!" Gumam Jessica.


Saat Nina akan melewati biliknya dengan sengaja Jessica kembali memprovokasi sekertaris bosnya itu dan berniat kembali menyebar rumor tidak sedap dan menyulitkan Nina saat ini.


"EHM... Denger-denger sekertaris kita yang terkenal alim yang tidak tersentuh dan suci nyatanya wanita yang memiliki anak di luar nikah!!"


Suara lantang Jessica yang mencoba mencuri perhatian satu divisinya menghentikan langkah Nina. Nina menelan salivanya berbalik arah kembali mendekati Jessica yang saat ini sudah berdiri dengan wajah angkuh memainkan sebagian rambut panjang di jari telunjuknya.


"Heh.. He." Jessica menyeringai akhirnya umpan berhasil di makan si ikan.


Nina menatap dingin ke arah Jessica saat ini, riuh suara yang berbisik mengomentari keduanya saat ini.


"Gue acungi kempol buat Jessica yang berani bikin masalah sama si Ratu Antagonis di kantor ini..." Salah satu temannya berbisik.


"Benar, dia ga kapok udah dapet hukuman tuan Hanssel juga!" Ujar salah satu teman lainnya.


"Lagian enak bener sih jadi si Ratu Antagonis ini, dia dapat dukungan penuh dari bos kita..."


"Iya lah, wujudnya udah cakep gitu... Ga mungkin bos kita ga kegoda..."


"Denger-denger kalau makan siang mereka suka open hotel loh!"


"IH... Amit-amit jabang babu!!"


"Cantik doang tetep aja gatel kalo di sodorin terong ganteng, kaya lagi!!"


Desas desus di belakang Nina sedikitnya menyayat hatinya. Kini selain rumor ratu antagonisnya dia kembali disematan dengan sebutan wanita j*lang.


"See?? Bukan aku yang menghujatmu!!"


"Satu kantor Adamson juga udah tahu pasti kelakuan murahanmu itu!!"


Jessica memanfaatkan gosip di belakang mereka untuk memukul musuhnya tanpa perlu dia bersusah payah mengatakan sendiri. Nina menyeringai di depan Jessica ingin rasanya saat ini juga dia merobek mulut wanita murahan sesungguhnya ini.


"Aku tidak masalah sih di bilang murahan..."


"Setidaknya aku tahu kalian semua memang terlihat konyol dan bodoh hanya mempercayai rumor dari mulut yang jelas-jelas tengah iri dengan ku!!"


"Kau tau Jessica apa bedanya kamu dengan ku?"


Jessica terdiam mengepalkan tangannya kesal. Nina mendekat dengan wajah musuhnya berbisik tepat di telinga Jessica dengan suara yang dibuat-buat untuk menaikan emosi yang mendengarnya.


"Bedanya adalah, kamu selalu sibuk mengejarnya tanpa bisa mendapatkan apa-apa sedangkan aku sudah tahu rasanya!!"


Nina mengangkat dagu Jessica dengan jari telunjuknya menyeringai layaknya raja hutan yang tengah menemukan mangsanya untuk dia makan.


"Melihat tubuhmu saja aku yakin Hanssel tidak akan bernafsu!"


Nina kembali memprovokasi Jessica dia menatap bagian depan Jessica yang lebih rata di banding milik Nina yang montok dan seksi.


"KAU J*LANG!!"


Jessica benar-benar telah tersulut emosi ingin melayangkan pukulan namun kembali di tahan oleh tangan Nina.


"Ingin bersaing denganku?"


"Berkacalah lebih dulu!!!"


Nina menghempas tangan Jessica keras kemudian berlalu beranjak dari divisi keuangan yang sebagian orang tengah memakan kripik cemilan, bahkan menyeruput es kopi mereka menonton pertunjukan seru di tengah sibuknya hari closing mereka.


"Sebuah Hiburan" Ujar mereka kompak


Tanpa Nina ketahui Hanssel tengah terbahak di ruangannya.


"Nenek lampir yang mempesona..." Gumamnya lirih menyambar ponsel dan kunci mobilnya bersiap mengajak istrinya untuk makan siang bersama.


✲✲✲✲✲✲