
Nina memuntahkan semua isi perutnya, dia sungguh mual.
"Sayaaaang..."
"Are you okay?!"
Hanssel tengah mengikuti istrinya yang tiba-tiba menuju kamar setelah mereka selesai sarapan pagi.
Sayaaang, patuh ya nak.... Ayahmu akan sangat curiga jika ibu terus seperti ini.
Nina membasuh wajahnya. Dia belum siap memberitahukan kehamilannya pada Hanssel. Entah mengapa ada perasaan mengganjal dihatinya untuk terus menyembunyikan kenyataannya.
"Iya aku kebelet tadi!"
Hanssel mengusap lembut wajah Nina yang pucat.
"Kita ke dokter?!"
"Tidak perlu..."
"Ya udah kamu ga perlu masuk..."
"Hans!"
Nina menahan lengan suaminya, "Aku ingin berbicara serius tentang...."
Entah mengapa Hanssel seolah mengerti apa yang ingin di bicarakan istrinya.
"Tidak!"
"Selamanya kamu hanya boleh menjadi sekertaris khusus Hanssel Adamson!"
"Bukankah kamu bisa menunjuk siapa saja menjadi CEO Suho!!"
"Lagian, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu berada di sisi pria lain."
"Aku pikir kamu mengerti apa yang sudah aku katakan semalam!!"
Nina melonggarkan genggaman tangannya, sejujurnya Nina tidak suka di ikat seperti ini. Namun pengorbanan Hanssel untuknya membuat Nina memberi pengecualian bagi pria yang sudah kembali menghadirkan cinta di hidup baru Nina.
"Ya sudah..."
"Apa kamu juga bisa berjanji untuk putuskan Catherina?!"
Nina mengejek dirinya dengan tertawa lirih setelah mengucapkan kalimat barusan.
Rangga benar, cinta itu serakah! Semakin kamu mencintai seseorang. Semakin kamu ingin memiliki dia seutuhnya!
Nina menggelayut manja di lengan suaminya.
"Tentu saja!"
Hanssel menyesap bibir Nina, entah bawaan bayi atau memang keduanya berotak nista. Mereka kembali melakukan aktifitas menjenguk adek bayi sepagi ini mengabaikan jam kerja mereka.
"Mentang-mentang bos ga pake absensi seenaknya aja datang juga!!" Ejek Nina pada Hanssel yang tengah keluar dari kamar mandi.
"Ini semua ulahmu nona muda!!"
Nina terkekeh, dia kembali meminta cuti. Dia akan mengunjungi kakaknya untuk melobi kembali pasal Suho.
***
"Jujur padaku kamu mencintainya?!"
Nina terdiam dengan pertanyaan menusuk dari kakaknya. Keenan menaruh gelas kopinya.
"Fuh!!"
"Kakak harap kamu tidak terluka untuk kedua kalinya!"
"Aku tidak berharap dia mencintaiku pada awalnya..."
"Namun apa yang dia lakukan selama ini padaku, pada Jimmy semua meruntuhkan benteng pertahananku!!"
"Dan hatiku menginginkan dia..."
Keenan mendengus kesal, dia sangat tahu betapa keras kepala adiknya.
"Mengenai Suho..."
"Papa sudah mengembalikannya menjadi nama mu"
"Namun semalam Adamson bergerak cepat, dia membeli secara sporadis dalam jumlah hampir mendekati 30%"
"Apa kamu bisa menjelaskannya semua itu apa maksudnya?!"
"Hanssel tidak ingin aku keluar Adamson tentu saja!"
"Heh!"
"Segitu cintanya dia padamu?!"
"Benarkah demikian?!"
Keenan mendelik ke arah Nina serius.
"Tidak sepenuhnya..."
"Apa?!" Keenan mengerutkan keningnya heran.
"Semua data pribadi Adamson aku mengetahuinya."
"Semua proses perencanaan, proyek dan keuangan Adamson aku yang kelola."
"Dia hanya bertugas mengawasi dan verifikasi."
"Selama satu tahun kebelakang aku selalu menyelipkan beberapa proyek yang tidak masuk akal, termasuk kerja sama dengan Lee Hi dengan tujuan menjebak Suho!"
"Aku dan tuan Ron yang merancangnya..."
"Dia tidak pernah mempermasalahkan."
"Aku justru curiga..."
"Disana ada aktifitas ilegal dengan keluarga Lim!"
"Semua di bawah naungan Nyonya Adamson."
"Hanssel tidak bisa menyentuhnya!!"
"Aku tidak sengaja menggiringnya untuk membukanya 3 bulan yang lalu..."
Keenan tertawa lirih dan kembali menyesap kopi hitamnya.
"Secara tidak sengaja Hanssel menggunakanmu sebagai alat melacak pekerjaan itu?!"
"Jabatanmu tidak hanya Sekertaris khusus, mungkinkah?"
"Ya, Hanssel memainkan perannya, dalam stuktur organisasi asli aku adalah CO CEO."
"Dia pikir aku tidak bisa mengetahuinya!"
Keduanya tertawa menyeringai, betapa liciknya mereka.
"Berhati-hatilah dengan keluarga Lim."
"Hasil penyelidikanku menemukan mereka bekerja sama dengan Huateng dalam project obat ilegal yang di incar XK!"
"Nih..."
Keenan menyerahkan usb kecil pada adiknya yang berisi data penting milik XK. Mereka sedang dalam misi khusus yang di minta XK.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu akan mengerti saat melihatnya."
"Dan ini..."
Hanssel memberikan Nina sebuah perangkat seperti hardisk.
"Apa ini?!"
"Upgrade terbaru dari sistem EYES!"
"Terima kasih kak!!"
"Ingat jangan sampai Hanssel mengetahuinya."
"Keluarga Lim mulai bergerak malam ini..."
"Jadi kamu pastikan Hanssel masuk dalam jebakan mereka!!"
Nina terdiam, dia tidak menyangka akan menjadikan kekasihnya sebagai umpan.
"Kamu melakukan hal ini bukan sekali dua kali bukan?!"
"Tentu saja sebelum dia di jebak kamu siapkan antisipasi."
"Aku sudah tahu!!" Nina menghardik kakaknya sebelum kakaknya dengan sangat cerewet mengomelinya.
"Aku sudah melakukannya di awal!!"
Nina segera pamit dari kediaman kakaknya. Dia memastikan tidak ada yang mengikutinya. Kemudian dia kembali menuju kondominium barunya.
***
PLAAAAAK!!
"Sudah berapa minggu ini Catherina?!!"
"Kamu aku suruh kembali ke indo agar kamu berguna jadi seorang anak!!"
"Mengapa sampai saat ini Hanssel belum berpihak pada kita!!"
"Kamu tinggal goda dia!!"
"Apa susahnya Catherina!!"
Tuan Lim tengah menampar anaknya sendiri. Beliau kesal setelah kejadian gagalnya pesta pertunangan mereka tuan Lim juga belum mendeklarasikan penggabungan dua bisnis antara Group Lim dan Adamson Group.
Dia belum bisa menyetir Adamson, dengan begini Group Lim yang tengah kesulitan dana harus menunggu lebih lama lagi.
"Jangan kamu menginjakan kaki dirumah ini sebelum kamu membuat Hanssel menandatangani surat peralihan hak ini!!"
"Lakukan sebisamu!!"
"Pakai otakmu Catherina!!"
Tuan Lim mengusir putrinya, Catherina merasa sakit hati di perlakukan kasar oleh ayah kandungnya sendiri. Lebih mirisnya lagi ibunya tidak pernah mau membelanya!
"Jika bukan karena aku juga membutuhkan uang lagi, aku tidak sudi kembali ke keluarga ini!!!"
Catherina merutuki keluarganya sendiri, dia tidak habis pikir yang di pikirkan orang tuanya hanya uang dan uang. Sedari dulu mereka tidak pernah memikirkan kebahagiaannya. Hal yang tidak di ketahui dunia luar bahwa Catherina dulu dijual ayahnya untuk melunasi hutang keluarga Lim karena kalah dalam pelelangan.
Catherina mengirimkan pesan pada Hanssel.
[Hans, bisa kita ketemu. Aku kembali di pukul ayahku! ]
Catherina menyunggingkan senyumannya saat mendapat balasan Hanssel, dia menyiapkan semuanya. Catherina bergegas kembali ke apartemennya.
Hanssel menghubungi istrinya dia mengatakan dirinya ada keperluan. Nina sedikit kecewa pasalnya Hanssel sendiri tidak terus terang bahwa dia akan menemui Catherina. Nina sendiri telah meretas ponsel Hanssel. Nina akan mengetahu apapun yang Hanssel lakukan di belakangnya.
"Maafkan aku Nina, aku tidak ingin kamu memiliki perasaan yang tidak-tidak!"
"Aku hanya ingin memperjelas hubungan ku dengannya."
Hanssel melajukan mobilnya cepat, inginnya dia cepat menyelesaikan urusan dengan Catherina sehingga dia akan pulang ke rumah menemui istrinya. Sudah seharian dia merindukan harum tubuh istrinya. Hanssel senyum-senyum sendiri jika mengingat rupa istrinya saat tengah berhasrat.
"Hanssel!!"
Catherina memeluk tubuh Hanssel setelah membuka pintu apartemennya.
✲✲✲✲✲✲