
Nina tengah mengantar kepulangan Farah beserta Hanssel, Jimmy serta Rangga. Tak luput Yvone juga ikut mengantar. Mengingat kelak dia yang akan menggantikan tugas Farah selanjutnya.
"Onty nanti sering jenguk Jimmy okey?"
"Siap Jendraal!!"
"Ga boleh nakal ama ibuu, jagain ibu sama adek bayi ya!"
"Tenaaang Onty Jimmy tuh bakalan jadi anak baik dan kakak yang baik!!"
Farah sangat gemas dengan keponakannya dia menciumi Jimmy berkali-kali. Dia tidak rela sejujurnya pergi dan menghilang setelah ini. Nina merangkul sepupunya dengan perasaan campur aduk, Farah sudah membantunya beberapa bulan terakhir. Mereka juga baru saja merasakan kebersamaan mereka kembali setelah sebelumnya dipisahkan karena Farah masih menempuh pendidikan universitasnya.
"Ingat kabari aku terus!"
"Siap Bos!!"
"Bye semuanya!!"
Farah melambai dan berlalu untuk melakukan boarding pass. Dia tidak ingin berlama-lama, dia takut tidak bisa menahan perasaannya. Nina menatap hingga bayangan Farah menghilang.
"Kalo gitu gue cabut duluan ya!"
"Eh, kak Rangga aku boleh numpang ga?!" Tanya Yvone hati-hati.
Rangga mengerutkan keningnya, sejujurnya dia malas namun saat ini Nina justru menyuruhnya mengantarkan Yvone ke apartemennya.
"Ada cewek nganggur gini tuh harusnya jadi kesempatan bagus!" Goda Hanssel pada sahabatnya.
"Cih!" Rangga tidak menanggapinya.
"Cepat!!!" Rangga segera menyuruh Yvone untuk cepat mengikutinya. Yvone buru-buru pamit pada kedua personil lainnya dan mengejar langkah kaki Rangga.
Setelah keduanya menghilang, Hanssel merangkul bahu istrinya.
"Mau kemana kita sayang?"
"Jimmy besok papa harus berangkat kerja lagi..."
"Mau jalan-jalan papa!"
"Ok let's go!"
***
"Kak, kita makan siang bersama bagaimana?"
"Tidak!"
"Tapi ini sudah waktunya makan siang..."
"...."
Rangga tengah dalam perjalanan menuju apartemen Karen yang akan digunakan Yvone kedepannya, selama gadis itu bersembunyi dari kejaran orang yang di utus ayahnya.
Sebenarnya aku ingin mengorek informasi Karennina dari Rangga. Dengan begitu aku bisa lebih mengenal mereka. Aku juga seperti pernah melihat suaminya saat pergi ke Negara S.
Yvone terus mendesak Rangga hingga pria itu luluh juga dan menemani gadis itu makan siang di salah satu resto di sebuah mall besar.
Yvone mengembangkan senyumnya, dia juga tidak tahu malu merangkul lengan Rangga yang segera di tepis oleh pria itu.
"Kamu jangan ngelunjak ya!"
"Kamu tidak bisa menjaga sikap maka aku tidak segan melaporkan posisimu pada ayahmu!!"
"M-Maaf kak..."
"Aku tidak sengaja..."
"Huh!!"
Rangga mendengus kasar, dia hanya bisa lemah lembut hanya pada Karennina seorang. Sekarang muncul wanita yang entah mengapa menjeratnya menjadikan dirinya pengawal pribadinya saat ini.
"Jika bukan karena Karen aku tidak ingin membantumu lebih jauh!!" Ujar Rangga mengawali perbincangan mereka setelah berada di resto dan menunggu makan siang mereka di hidangkan.
Bagus sekali dia membahas wanita itu lebih dulu!
"Kakak sungguh dingin sekali padaku..."
"Tapi pada nona Karennina begitu lembut, padahal dia sudah memiliki suami!"
Braak!
"Jaga ucapanmu!!" Rangga menggebrak meja makan, untungnya saat ini situasi ramai jadi suaranya tidak begitu mengundang perhatian banyak orang.
Yvone tertegun dengan respon berlebihan pria di hadapannya Menarik!!
"Kakak mencintai nona Karen ya?" Goda Yvone.
"Aku bilang jaga ucapanmu apa kamu tidak paham ya?!!" Ketus Rangga menatap mata Yvone nyalang.
DEG!
Yvone sedikit tersentak dengan tatapan Rangga, dia merasa pria di depannya terlihat menggodanya.
"A-aku minta maaf kak..."
"Aku hanya ingin berbincang saja..."
"Kakak selalu mengacuhkan ku."
"Bahkan dengan terang-terangan menolak kehadiran ku!!"
"Heh?!" Rangga mengerutkan keningnya tidak mengerti arah perbincangan rekan makan siangnya.
"Sampai kapan kamu bersembunyi dari keluargamu?!"
"Karen benar, apa dengan kaburnya dirimu tidak memberikan dampak buruk pada keluargamu?!"
Yvone menundukan wajahnya, bagaimana caranya memberikan keterangan palsu lagi pada pria di depannya. Dia harus hati-hati, Rangga pernah menjadi pengacara keluarganya dalam membantu memenangkan kasus mereka.
"Apa kakak mau menolongku!!"
Tiba-tiba Yvone memiliki ide gila saat ini. Selain dia memiliki tujuan lain, dia juga mulai tertarik dengan pria di hadapannya. Selama ini Yvone tidak pernah berhubungan dengan lawan jenis. Mungkin dia mencoba untuk memiliki teman kencan seperti yang sering di banggakan oleh adiknya yang di usia remaja sudah memiliki pasangan.
Rangga merenggangkan genggaman tangan Yvone pada tangannya.
"Aku mohon kak..."
"Hanya ini yang mungkin bisa membantuku!!"
Rangga terpaku melihat betapa arogannya Yvone mendekati wajahnya dan merengek tepat di depan wajahnya.
Mengapa aku tiba-tiba berdebar seperti ini!!
Rangga menelan salivanya, dia tiba-tiba kehilangan pendiriannya.
"Makanlah dulu aku pikirkan nanti..."
Pelayan tengah menghampiri meja mereka Yvone kembali di tempatnya dengan wajah memerah.
Ya ampunnn malu banget! Tapi dia beneran ganteng banget!!
***
"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Yvone?"
Nina bertanya pada suaminya setelah keduanya kembali ke rumah. Jimmy tengah beristirahat di kamarnya. Bocah itu sangat senang setengah hari dia bermain di Timezone bersama ayahnya.
"Aku sempat melihat dia sekilas saat ke Negara S mencari jejak tuan Don."
"Mungkin saja dia mata-mata yang di tempatkan tuan Wijaya disekitar mu!"
"Kamu harus hati-hati."
Hanssel membuka laptop miliknya mencari data identitas Yvone, Nina merebahkan dirinya di ranjang, kehamilannya kali ini sungguh menguras energinya. Dia mudah sekali lelah, padahal baru menginjak 12 minggu gejala mual dia pun jauh lebih merepotkan di banding saat dulu dia mengandung Jimmy yang terbilang cukup santuy.
Aku merasa anak ku ini cewek! Dia manja bener....
Keluh Nina yang kini merasa performa dirinya menurun drastis. Dia bahkan begitu malas menyelidiki Yvone dan kejadian di pesta pernikahannya sebelumnya.
"Kau menemukan sesuatu?" Tanya Nina kemudian pada suaminya.
"Ya, dia benar putri sulung dari keluarga Albert."
"Salah satu pebisnis di lini kolektor barang antik."
"Tuan Albert sendiri pernah bertransaksi dengan anak buah tuan Don."
"Dia menjual......"
Hanssel menggantung kalimatnya dan terus memperbesar resolusi gambar yang dia tangkap.
"Jual apa?"
"Jadi tuan Don klientnya?"
"Iya, tuan Albert merupakan pemasok persenjataan mereka ku rasa."
Hanssel telah selesai mengidentifikasi keluarga Yvone.
"Gadis itu berbohong!" Nina tertawa lirih, kemudian dia membuka kamera pengawas apartemennya.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak tahu, aku ingin lihat terlebih dulu apa yang menjadi targetnya."
"Aku pergi besok pagi, aku di tugaskan mengawasi pergerakan nona Luna dan putra Wijaya."
"Nona Luna?"
"Iya, ternyata CEO Lunarian yang dulu kita temui adalah putri bungsu tuan Wira."
"Kemarin dia baru diangkat menjadi CEO XK!"
"W H A T?!!" Nina terbelalak tidak percaya.
"Apa istriku mengetahui sesuatu?"
Hanssel mendekati istrinya dan merangkulnya, dia akan mengisi daya kehidupannya semalaman sebelum dia kembali berpuasa.
"Tidak banyak, yang aku tahu dia adalah istri tuan Mahessa CEO E.T"
"Pantas saja tender miliknya di menangkan nona Luna!!"
Hanssel mengingat kembali kekesalannya saat di Bali dia tidak mendapatkan apapun.
"Hmm..."
"Sayaaang.."
Hanssel sudah mulai turn on, dia meminta haknya pada istrinya saat ini. Nina menyeringai dia juga tidak ingin melewati kesempatan bersama suaminya. Mereka pernah bermimpi bisa mempunyai kehidupan seperti sebelumnya namun kini keadaannya menjadi lebih rumit. Untuk bertemu saja mereka harus melakukan tugas berat lebih dulu.
✲✲✲✲✲✲