
"Hei bro!!"
"Lu kok disini?"
Hanssel berpapasan dengan Rangga saat dia akan mengunjungi Nina.
"Lah elu juga disini?" Tanya Rangga sedikit terkejut dengan sapaan yang membuyarkan kemelut pikirannya.
Keduanya berjabat tangan dan saling berpelukan. Hanssel kemudian merangkul bahu sahabatnya.
"Lu kenapa? Kek sedih gitu?!"
"Ah enggak, ini barusan gue ketemu klien buat gue urus kasus peralihan hak asuh."
"Minum yuk di bawah!!" Ajak Hanssel sepertinya mereka butuh kembali mengobrol.
Sebelum akhirnya kembali berputar arah Hanssel menatap jalan menuju kamar Nina.
Selamat kamu lepas dariku sementara Nina!!
Di salah satu bar kawasan hotel, Rangga benar-benar sangat tidak bersemangat. Membuat sahabat di sebelahnya merasakan tidak nyaman dan ingin membantu saudara seperjuangannya dulu.
Hanssel dan Rangga telah berteman baik dari kecil bahkan selalu satu sekolah di ibu kota. Maklum keduanya bertetangga dekat di komplek kawasan mereka tinggal. Sebelum akhirnya Rangga pindah mengikuti ayahnya yang di pindah tugaskan ke USA. Rangga meneruskan kuliah disana sedangkan Hanssel mengikuti keluarga besarnya ke Aussie kemudian kembali lagi ke tanah air untuk meneruskan bisnis keluarga mereka.
"Lu murung gitu lagi patah hati apa gimana?" Tanya Hanssel hati-hati.
Diantara beberapa teman sepermainan mereka, karakter Rangga merupakan sosok yang baik. Bahkan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui siapa wanita kencan pria itu. Sifat keduanya bagai Bumi dan Langit, jika Hanssel menganggap wanita itu seperti baju sekali pakai, lain halnya dengan Rangga, baginya wanita itu harus di jaga segenap jiwa. Dan baginya jika sudah terpaut satu wanita maka dia akan menjadi yang pertama dan terakhir di hidupnya.
"BTW udah setua ini masa lu ga mau ngenalin gebetan lu?"
"Tunggu jangan bilang Lu jomblo?"
"Atau jangan-jangan Lu...."
Rangga menatap sekilas kearah Hanssel yang mengoceh sedari tadi, kemudian dia menengguk gelas minumnya hingga tandas.
"Lu ga homo kan?"
"Bangs*t!!" Umpat Rangga.
Hanssel terkekeh, kemudian dia membalikan badan dan mengamati sekitar, beberapa wanita penghibur tengah memperhatikan keduanya dan mulai tebar pesona kearah mereka. Bahkan ada yang tak segan mulai menghampiri keduanya.
"Hai... Kalian butuh temen ngobrol ga?" Salah satu wanita yang pemberani mendekati keduanya dengan pakaian yang kurang bahan serta parfume yang sangat menyengat di ikuti salah satu temannya yang lain.
Bagi Hanssel semua sudah terbiasa, lain hal dengan Rangga. Paras Rangga memang lebih imut ketibang Hanssel yang maskulin.
"Menyingkir!!!" Hardik Rangga mendorong kasar wanita yang ingin merangkulnya tanpa basa-basi.
Bruuk!!
"Aaw..." Rintih si perempuan kemudian menunjukan raut wajah kecewa.
Hanssel tersenyum lirih, "Kalian pergi lah kami sedang tidak berminat bermain..." Usir Hanssel halus pada dua wanita yang mencoba menggoda mereka saat ini.
Kedua wanita itu pergi begitu saja, dengan sedikit rutukan yang masih terdengar oleh Hanssel membuat lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Lu kenapa.. Sama cewek ga boleh kasar gitu... Tar ga ada yang mau sama lu bahaya!!"
"Om sama Tante bakalan sedih kehilangan pewaris kecil mereka!!"
"Gue udah berusaha baik dan sopan aja ga di hargai... Bahkan ga pernah di lirik sedikitpun..." Lirih Rangga frustasi dan kecewa.
"Eh? Lu di mainin ama cewek lu?"
"KURANG AJAR TUH CEWEK!!"
"SIAPA DIA SINI GUE LABRAK SEKALIAN TAU RASA SAKITIN SODARA GUE!!" Hanssel berdiri dengan menggebu ingin menghajar siapa yang membuat Rangga semenyedihkan ini.
"Iya kalo emang kita udah pacaran, dari 5 tahun yang lalu sampe hari ini gue di tolak mulu!" Rangga kembali menuang wine ke dalam gelas kosong miliknya.
"KAMPREET TU CEWE!!"
"BAGUS LU GA USAH JADI AMA DIA BIAR NYESEL DAH SIA-SIAIN LU YANG BAIK INI!!"
Rangga yang memiliki masalah namun Hanssel yang emosi parah! Sahabatnya masih dalam mode kalem sedangkan Hanssel sudah sangat ingin bertingkah kasar meninju misalnya.
"Bilang sama gue, siapa cewek ga tau diri itu!!"
"Biar gue kerjain sampe mampus!!!" Sungut Hanssel menggebu.
"Gue cinta mati sama dia... Sebesar apa dia nyakitin gue, dengan lapang dada gue bakal maafin dia..."
Hanssel tertegun dengan pengakuan temannya, kali ini dia tidak membalas omongan sahabatnya. Dia justru seperti tengah di tampar keras oleh sahabatnya dengan kelakuan casanovanya. Selama ini dia tidak pernah tahu apa itu cinta. Hanssel hanya senang bermain dan baginya berurusan dengan cinta sama dengan kebodohan. Diperbudak oleh kaum lemah seperti wanita sungguh tidak ada dalam jalan ninjanya.
Seketika dia mengingat Nina, sekertaris noraknya yang sudah mencuri perhatiannya beberapa hari terakhir ini. Kemudian pikiran aneh itu ia segera tepis.
Aku hanya ingin bermain-main dengan si nenek lampir itu. Dia selalu membodohiku!!!
"Tenang sob, yang baik bakalan dateng... Mungkin tuhan sedang nunjukin kalo dia ga baik buat lo!"
"Apa mau aku kenalin ama temen cewek yang lain?"
"Aku yakin mereka tak kalah dari cewek ga tau diri yang udah nolak lu!!"
"Hehe...." Rangga Tersenyum lirih mengejek.
"Tidak ada cewek manapun yang bisa nandingin kemampuan dia..."
"Dia cantik, pintar, dan berasal dari keluarga ternama dengan reputasi yang baik..."
"Dia sangat sempurna dimataku!"
"Sayang, walau dia sangat pintar dari segi akademik namun masalah perasaan dia sungguh sangat bodoh dan buta!!!"
Rangga kembali menenggak minuman winenya kini dia menenggak habis satu botol kemudian tumbang.
"Denger bro, aku pastikan wanita itu akan menyesal membuang berlian sepertimu!!"
Hanssel segera membayar tagihan dan membawa sahabatnya ke kamarnya untuk dia istirahatkan disana.
***
"Hatchiiii!!"
"Siapa yang mengutukku di belakang?!"
Nina tiba-tiba bersin dan menurut mitos yang beredar, jika tanpa ada apa-apa tengkuk merinding dan bersin tiba-tiba mungkin ada seseorang yang mengutukmu di belakang. Nina menenggak habis air putih yang telah dia siapkan di samping nakas sebelah tempat tidurnya.
Dia sendiri tengah mengotak-atik laptop miliknya dia terus mengarahkan kursor mousenya. Dia tengah mempersiapkan hal yang di perlukan esok saat bertemu di pertemuan tender dengan E.T.
"Tuan Mahessa adalah CEO E.T dia sudah menikah dengan nona Naluna, Naluna sendiri merupakan CEO Lunarian. Dan Lunarian sendiri mengikuti tender ini."
"Hahaha apa aku harus bilang bahwa semua ini formalitas?"
"Bukankan nantinya istrinya yang akan mendapatkan hak atas kerjasama ini?"
"Tapi Suho bisa mendapat keberanian untuk mengikuti tender besar seperti ini dari mana?!"
Nina terus berkutat dengan laptop yang sebagian besar orang akan menganggap bahwa gadget besar itu merupakan barang elektronik biasa. Namun sesungguhnya merupakan sumber daya penting bagi Nina.
Ding... Dong...
Nina menajamkan pendengarannya, kemudian dia berhenti dari aktifitasnya dan segera mematikan kompeternya. Akan sangat membahayakan jika orang bisa tahu apa yang tengah dia lakukan.
"Siapa? Apa Rangga kembali mengunjungiku?"
Nina menuju pintu dan saat mencoba memeriksa dari lubang pintu yang tersedia dia tidak bisa melihat jelas orang yang berada di depan pintu kamar hotelnya. Dia terpaksa membuka kembali siapa tahu Rangga yang mengunjunginya.
"HANSSEL!!" Pekik Nina tidak terima.
Hanssel mengulumkan senyumnya kemudian menerobos masuk dalam kamar Nina tanpa persetujuan wanita itu.
"HEI!!"
"Bukankah anda sudah memiliki kamar pribadi milik anda sendiri?!"
"Apa mau kita bertukar tempat?!" Sungut Nina tidak menerima kedatangan bosnya.
"Aku hanya mengunjungi pegawaiku dan memeriksa, jangan-jangan kamu sedang melakukan hal yang tidak senonoh!!"
"Apaaaa?!!" Nina kembali berteriak tidak percaya alasan yang di gunakan oleh bosnya.
Tanpa di persilahkan duduk Hanssel tengah duduk di ujung ranjang size 160 itu. Nina menyewa kamar biasa saja. Baginya yang terpenting jaringan wifi yang kencang bukan semewah apa tempat yang akan di gunakannya hanya untuk numpang tidur itu.
Hanssel menatap lekat sekertarisnya, wanita itu mengenakan dress tidur tipis di atas lutut, dengan satu tali yang mengekspose seluruh kulit putih halus empunya.
Sialan, ternyata tampilan asli Nina sungguh jauh berbeda!! Bisa-bisanya dia secantik bidadari surga kalo begini terus aku bisa ga bisa nahan godaan setan!
Nina menyadari tatapan liar bosnya kemudian....
"AAAAAAAA"
Nina menjerit dan berlari kencang menuju kamar mandi.
"Aaaa... Kenapa baru nyadar gue udah pake baju tidur!!!"
"Ngapain juga si babi itu datang malem-malem gini!!"
Nina terus menghentakan kakinya tidak terima dia juga menutup wajahnya frustasi. Dia akan mengurung diri di kamar mandi kecil ini sampai bosnya keluar dengan sendirinya.
Tok... Tok... Tok...
"Nina apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin aku mendobrak paksa pintu ini?!!" Ujar Hanssel kesal.
Setiap kali dia ingin berbincang berduaan saja Nina selalu menghindar dan bersembunyi seolah Hanssel merupakan wabah penyakit bagi sekertarisnya itu.
"Kamu juga ngapain sih dateng malem-malem?"
"Besok pagi kan bisa ngomong pas sarapan!!"
Nina terus mengelak jangan harap dia mau keluar begitu saja. Salah-salah dia akan menjadi santapan bos mesumnya itu.
"Keluarlah, aku tidak akan melakukan apapun padamu!!"
"Cih... Mengapa aku harus percaya pada mulut pembual sepertimu?!!"
"Sejak kapal aku menjadi pembual Nina? Bukankah kamu sangat tahu aku selalu jujur selama ini!!"
Nina terdiam, dia berpikir sejenak kemudian menelan salivanya. Dia menyambar handuk kimono yang dia gantung di kamar mandi.
"Aku akan keluar kalau kamu keluar!"
"Oke... Aku keluar sekarang..."
Terdengar bunyi pintu depan terbuka dan tertutup saat ini. Nina menunggu sebentar kemudian hening dia segera membuka pintu kamar mandi dan membuang nafas lega.
Dia melihat kesekeliling ruangan tidak ada batang hidung bosnya.
"Hufft!!"
Nina melepas handuk kimononya dan menaruhnya sembarang di kursi namun tiba-tiba dia di rangkul oleh seseorang dari belakang.
"Aaaaaaaaaa!!!"
******