Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 57 - Lies



"CATHERINA!!"


"APA YANG KAMU LAKUKAN!!!"


Catherina terbangun dalam dekapan Hanssel. Dia mengumpulkan kesadarannya setelah Hanssel menyingkirkan dirinya.


Sial, mengapa aku juga tidak ingat semalam aku ngapain aja!!!


Hanssel bangkit dari ranjang dia menyambar pakaiannya memasuki kamar mandi.


BRAAAAAK!!!


Catherina menyunggingkan senyumnya, Setidaknya dia berpikir terjadi sesuatu dengan kami semalam! Benar tidaknya bisa di atur setelahnya.


Hanssel keluar dari kamar mandinya dengan raut wajah kesal.


"Aku tidak menyangka kamu bisa menjebakku!!"


"Kau sungguh mengecewakan ku CATHERINA!!"


"Aku menyetujui kita bertemu karena ingin meluruskan hubungan kita!!"


Hanssel menunjuk wajah Catherina penuh emosi.


"HANS!!"


"Aku sendiri tidak tahu menahu!!"


"Aku baru tersadar barusan!!"


"Kamu jangan habis manis sepah di buang gitu!!!"


"Aku tidak melakukannya!!!"


"HANS!!"


"Aku tidak merasa melakukannya CATHERINA!!"


"JANGAN MENGUJI BATAS KESABARANKU!!"


"JIKA ISTRIKU TAHU MENGENAI INI AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH MU CATHERINA!!!"


Hanssel bergegas meninggalkan tempat Catherina, dia membanting pintu keras membuat Catherina semakin hancur.


"Hahahaa!!!!!"


Catherina menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan. Dirinya merasa bbahw, di dunia ini tidak pernah ada yang menghargainya. Dia selalu jadi alat oleh keluarganya demi kekuasaan dan harta. Dia sendiri mencintai Hanssel sedari dulu namun kemudian dia harus mengubur rasa cintanya. Keluarga Lim pada awalnya menentang Adamson karena mereka belum sebesar sekarang.


Tuan Lim menjodohkan Catherina dengan salah satu pewaris keluarga Keith di US. Hanya bertahan 3 tahun kemudian keluarga Keith mendepak Catherina karena skandal perselingkuhannya terbongkar dengan Charlie.


***


Sepanjang jalan Hanssel memaki dirinya sendiri. Walau dahulu dia memang seorang pria casanova, namun dia bersumpah setelah menikahi Nina dia tidak akan menyentuh gadis lainnya.


"Nina... Apa yang harus aku katakan padamu!!"


"AAAARRRGGGHHH!!"


Di kantor Adamson Nina sudah lebih dulu datang, dia tengah merapihkan berkas yang sudah menunggu dia garap. Karena kandungannya Nina menjadi lebih sensitif, dia menangis kali ini.


"Kamu kuat Karennina!!"


"Fighting!!!"


Nina menyemangati dirinya sendiri kemudian Farell mendatanginya. Farell bingung karena tidak bisa menemukan tuannya. Dengan wajah dingin Nina hanya mengangkat bahunya.


"Bukankah dia suami mu?!"


"Ya... Suami di atas kertas!"


"Jadi dia tidak di rumah?!"


Farell menginterogasi Nina dengan wajah heran akan tingkah Nina yang biasa saja tanpa khawatir dan gelisah suaminya belum ada di kantor sampai saat ini telah pukul 10 pagi.


"Mungkin dia mulai bosan..."


"Kamu tahu sendiri tuanmu bukan?!"


Nina melengkungkan senyum palsunya.


"Tapi dia sungguh mencintaimu Nina..."


"Aku sangat tahu sendiri..."


"Semenjak berhubungan denganmu tuan Hanssel tidak pernah bermain dengan wanita lain."


"Dia lebih memilih tinggal dirumah mu."


Nina menghentikan ketikan tangannya, dia menghirup udara perlahan dan menghembuskannya.


"Kau punya ponsel?!"


Farell mengangguk dengan pertanyaan konyol Nina.


"Kau bisa menghubungi tuan mu, dan tanya dimana dia sekarang!!"


Ingin rasanya Farell melempar bantal pada sekertaris tuannya namun dia ingat Nina adalah istri tuan muda. Berurusan dengan Nina sama dengan menandatangani mutasi dirinya ke Afrika.


Nina kembali mengerjakan pekerjaannya dengan meninggalkan senyum mengejeknya.


"Huh!"


"Gak bini gak laki sama aja kelakuannya!!" Rutuk Farell lirih, Nina terkekeh mendengarnya.


Tak berapa lama tuannya datang, dia melewati ruangan Nina begitu saja dan memasuki ruangan presidir dengan tergesa. Nina memperhatikannya, ada rasa sesak yang tiba-tiba menghampirinya.


Nina kembali mengolah dokumen, Farell memperhatikan keduanya. Dia akhirnya menarik kesimpulan bahwa keduanya tengah bermasalah.


Di ruangannya Hanssel masih merasa bersalah pada Nina, dia sangat takut jika Nina mengetahuinya dan berpikir pendek memutuskan dirinya.


"Haaissh!!"


Hanssel berjalan menuju ruangan Nina, dia butuh pelukan istrinya agar kegelisahannya menghilang.


Braaak!


Hanssel membuka pintu melewati Farell dan menghampiri Nina tanpa sepatah kata. Kedua pegawainya terdiam melihat gerak-gerik tuannya tanpa kata. Hanssel menarik lengan Nina.


"Hah?!" Nina mengerutkan keningnya namun mengikuti titah tuannya.


"Farell urus kantor yang bener!!"


Farell sudah mengetahuinya, dia bermuka masam.


"Harusnya jabatanku adalah CEO ADAMSON..." Gumam Farell lirih.


Nina hanya terkekeh saat mendengarnya.


"Kamu berani menentang aku potong bonus akhir tahunmu!!" Hanssel menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Farell dingin.


"AMPUUN TUAN SAYA TIDAK BERANII..."


Nina terbahak melihat tingkah keduanya. Hanssel kembali menarik lengan Nina dengan cepat memasuki ruangannya kembali. Namun langkah kakinya terhenti dan kembali keluar ruangan. Membuat Nina semakin mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Nina perlahan.


Hanssel masih terdiam dia bergegas membawa Nina keluar kantor.


Setelah memasuki mobil Hanssel segera mencium Nina.


Si babi ini kalo lagi emosi nyari gue bua pelampiasan!!!!


Di tengah rutukan hatinya, Nina menikmati sentuhan liar suaminya.


"Kita ke hotel?" Ajak Nina tidak di sangka oleh Hanssel


"Baik nyonya..." Hanssel menyeringai. Dia memacu kendaraannya menyelusuri jalanan dan memilih hotel yang sedikit jauh dari jangkauan.


"Aaargghh!"


Hanssel terus melancarkan aksinya.


"Aku sangat mencintai mu sayang..."


"Percayalah padaku!!"


"Aku hanya melakukan ini denganmu!!!"


Di tengah aksinya, Nina mengerutkan keningnya. Mencoba mencerna kegelisahan suaminya.


"Aku percaya padamu sayaaang..."


Tangan Nina meraih wajah tampan suaminya, dan menari-nari disana. Hanssel memegang satu tangan Nina mencium telapak tangannya.


"Terima kasih sayang..."


"Percayalah, seluruh hati bahkan hidupku milikmu Karennina..."


Nina tersenyum bahagia dengan penuturan suaminya. Hanssel mempercepat gerakannya mereka mencapai puncaknya bersama.


"Aku tidak ingin melepaskanmu sayang!!"


"Hari ini kita akan disini seharian!!!"


"Aku mencintaimu Ninaaa!!"


Hanssel kembali memeluk Nina erat. Sangat erat sampai membuat Nina tidak bisa bernafas.


Hanssel dan Nina kelelahan mereka tertidur. Nina terbangun lebih dulu cacing di perutnya meminta haknya, terlebih bayi kecilnya ikut protes!


Nina berusaha duduk di tepi ranjang dan menelpon resepsionis memesan makan siang. Hanssel terbangun, melengkungkan senyumnya menatap punggung polos istrinya yang terdapat tanda cinta darinya di beberapa tempat.


Aku tidak menyangka, saat aku terbangun di samping Catherina emosiku meledak, tidak ingin percaya apa yang terjadi semalam dengannya. Tapi aku pastikan aku tidak merasakan apapun.


Tidak seperti terbangun di samping istriku. Aku tahu aku telah melakukannya. Again and again!


Dia benar-benar tidak pernah membuatku bosan!!


Hanssel memeluk Nina dari belakang mencium tengkuk leher istrinya.


"Kamu udah bangun?!"


"Aku sudah pesan makan siang..."


"Mau mandi sekarang?"


Nina membalikan wajahnya, Hanssel tersenyum dan mencium bibir istrinya.


"Aku ingin memakan mu lagi sayang..." bisik Hanssel memegang bibir Nina.


"Oke..."


Di tengah deru nafas gairah keduanya Nina menyatakan sesuatu yang tidak bisa dia kontrol.


"Jangan tinggalkan aku Hanssel..."


"Tidak akan sayaang..."


Nina memeluk erat tubuh Hanssel, dia benar-benar mencintai pria itu.


Semakin kesini aku semakin serakah!! Aku tidak mengijinkan Catherina merebutmu dari ku Hans!!


Kamu hanya milikku, kamu ayah dari buah hati kita dan juga papa terbaik milik Jimmy!


Nina terus berbisik meminta lebih, Hanssel mengerutkan keningnya.


"Lama-lama aku bakalan curiga kamu hamil sayaaang!!!"


"Ishh apa sih!!" Nina menepuk bahu Hanssel.


"Gairahmu luar biasa akhir-akhir ini!!"


"Bukankah itu bawaan bayi kan?!"


"Kita periksa ya sayang?!"


"Kayaknya alat testpack kemaren rusak!!"


Nina tertawa mendengarnya, Hanssel mendengus kesal.


✲✲✲✲✲✲