
"Kamu pergilah aku sedang dalam bad mood!!"
Hanssel mengusir wanita penghibur itu, saat bersiap menutup pintu dengan sigap tangan sang wanita mencegah tertutupnya pintu.
"Tunggu tuan... Apa anda tidak bisa melihat saya sekali lagi... Saya yakin saya bisa melayani anda dengan baik..." Bujuk sang wanita memohon.
"AKU BILANG PERGI MAKA PERGI!!!"
"B-Baik tuan... Maafkan sayaaa..."
Dengan terkejut dan ketakutan wanita panggilan itu berlari menuju keluar mansion Hanssel.
BRAAK!
Hanssel membanting pintu dengan sangat kesal, dia menyambar ponselnya di nakas yang tengah mengisi daya. Segera menghubungi biang kerok yang seharian membuat mood Hanssel berantakan.
Tuuut...
"KARENNINA BERANI SEKALI KAMU MEMPERMAINKANKU!!"
Belum ada Nina menjawab sudah di maki bosnya lebih dulu.
"Ups!" Nina pura-pura terkejut.
"Bukankah seharusnya anda tengah bersenang-senang?"
"Apa kesenangan itu cepat sekali selesai?"
"Bagaimana performanya? Aku perlu kasih bintang 5 ga di aplikasinya?!"
Rentetan celaan sekertarisnya membuat Hanssel semakin gelap mata, dia bahkan tengah melempar gelas winenya hingga berserak.
PRAAAANG!!!
"Aku tunggu kamu disini dalam 10 menit jika tidak maka kamu tidak perlu lagi berada di perusahaan!!!"
Hanssel mengancam sekertarinya, dia yakin Nina yang sangat gila kerja akan takut dengan ancaman barusan dan segera menemuinya.
Disaat itu aku akan membereskan mu Nina!!!
"Boleh saja anda memecat saya... Toh sudah beberapa perusahan yang mengantri memperkerjakan saya, bahkan mereka menawariku gaji yang jauh dari gaji di Adamson." Ujar Nina santai.
"HAHA! KAMU MENGUJI KESABARANKU... Aku pastikan esok hari namamu berada di daftar blacklist perusahan!!"
"Walaupun aku berada di blacklist perusahaan, tuan Ron dengan senang hati menerimaku... Aku tinggal menghubunginya saat ini."
"Baiklah jika anda tidak membutuhkan saya lagi tanpa basa-basi saya dengan ini mengundurkan diri dari Adamson Group. Esok anda akan menerima surat pengunduran diri saya. Oh iya anda jangan lupa membayar pesangon saya!!"
TUT!
"APAAAA?!!!"
Hanssel tengah terpaku kali ini, dia yang hanya berniat menggertak sekertarisnya nyatanya sekertarisnya sendiri yang membuat dirinya terkejut setengah mati.
"Kamu pikir kamu siapa KARENNINA!!!"
"AAAARRRGHHH!!"
Braaaak! Praaaaang!
Hanssel sangat emosi malam ini dia menghancurkan apapun yang ada di depan matanya. Kini mansionnya sudah seperti kapal karam. Dia mengenakan pakaian rapinya bergegas keluar.
***
Mansion Piony, 6 AM.
"Pake hujan segala... Huh!" Keluh Nina tidak tahu malu.
Dia berjalan gontai menuju kamar mandinya dan segera membersihkan diri. Sejujurnya Nina memang berasal dari keluarga yang berada. Namun semenjak pernikahannya dengan Erick Shin tidak di setujui kedua orang tuanya terlebih papanya. Dia yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara di keluarga Kaviandra terpaksa di coret dari daftar ahli waris Kaviandra.
Nina sendiri berparas cantik dengan tubuh yang ideal. Namun semua dia sembunyikan demi satu hal "Terhindar dari para pria hidung belang." Dua tahun yang lalu dia melamar bekerja di Adamson Group sebagai sekertaris, dengan syarat tidak boleh jatuh cinta dengan bos mereka.
Kala itu Nina di wawancara oleh Nyonya Besar Adamson, Hanssel sendiri merupakan ahli waris satu-satunya keluarga Adamson. Mereka juga sangat mengetahui kelemahan anak mereka tentang senangnya bermain dengan para wanita.
Bahkan sekertaris terdahulu mengundurkan diri karena Hanssel sangat mesum padanya.
"Ma!! Kenapa harus dia?! Dia jelek begitu aku mana mau punya sekertaris jelek kayak dia!!!"
Nina ingat betul perkataan menyakitkan bosnya untuk pertama kalinya dan semenjak itu dia bertekad untuk membuktikan dirinya bahwa dia sangat mampu dan ahli dalam pekerjaannya. Orang luar tidak mengetahui bahwa Karennina seharusnya merupakan presdir dari Suho Enterprise yang dia dirikan sendiri saat menempuh magisternya di US.
Namun saat ini perusahaannya di ambil alih paksa oleh mantan suaminya Erick. Dia bersumpah suatu hari nanti dia akan merebut kembali apa yang menjadi miliknya dari awal.
Byuuuuuurr!!!
Dengan sengaja sebuah mobil mewah tengah mencipratkan genangan air ke arah Nina. Saat ini otomatis hampir seluruh bagian depan pakaian Nina menjadi basah.
"SHIIIITT!!!" Umpat Nina.
Dia melihat nopol mobil merci di depannya.
"Kamu pasti sangat sengaja Hanssel!!"
Nina segera bergegas menuju ruangannya, dia akan membersihkan diri setelahnya. Jika harus kembali menuju apartemennya dia tidak memiliki waktu yang cukup.
Saat memasuki lobby semua pasang mata menatapnya jijik, dengan suara lirih di belakangnya. Seperti hal yang umum jika ada sebuah kejadian menarik di depan mata mereka, maka dengan sangat cepat mulut mereka menggosipkannya.
"Haha... Jika aku jadi kamu aku tidak akan mau menginjakkan kaki di kantor!"
Riuh semua orang menertawakan Nina atas hasutan Jessica yang tengah mengolok tampilannya saat ini. Nina mengabaikan Jessica dia berlalu meninggalkan kerumunan, dan bersiap memasuki lift. Namun tidak ada yang mau satu lift dengannya. Dengan terpaksa dia menggunakan tangga.
"Hanssel bersiaplah menyesaaal memperlakukanku seperti ini!!"
Nina merutuki bosnya dan mulai meniti anak tangga menuju lantai 8 dimana tempat ruangannya berada. Dari balik pintu lift sebelumnya seorang pria tengah mengulumkan senyumnya.
Hah... Hah... Hah....
Dengan terengah akhirnya Nina sampai juga di lantai 8. Dia bergegas menuju washroom dan membersihkan dirinya kemudian mengeringkan pakaiannya menggunangan mesin pengering.
Di dalam ruangan direktur, Hanssel mengetuk jemarinya di meja kerjanya, dia tengah merasa gusar. Walaupun sedikitnya puas dengan mengerjai sekertarisnya barusan namun ada rasa takut jika Nina benar-benar keluar dari perusahaan. Wanita itu telah mengetahui banyak informasi penting di perusahaan.
"Tuan... Sepertinya anda sangat gelisah... Apa ada yang bisa saya bantu?!" Asisten khusus Hanssel, Farell tengah menghawatirkan tuannya.
"Kamu bukannya dekat dengan Nina.. Menurutmu apa kelemahan dia?!" Tiba-tiba Hansell ingin mengorek sesuatu dari Farell yang seharusnya dekat dengan sekertarisnya.
"Aku butuh sekarang juga!!!"
Farell terpaku sejenak "Sepertinya dia tidak memiliki kelemahan..."
"Tidak mungkin!!!" Cerca Hanssel.
"Kalau begitu aku beri kamu 10 menit mengupload kembali data pribadi Nina. Gunakan akses interpol sekalian aku tidak peduli!!! Aku harus bisa menahan wanita itu disini setidaknya sampai informasi perusahaan kita di ubah."
"Baik tuan... Tapi semua ini untuk apa? Bukannya Nina masih menjadi sekertaris anda?"
"Apa dia berencana mengundurkan diri?" Farell merasa bingung dengan tingkah tuannya kali ini.
"PERGI CARI INFORMASI ITU SEKARANG!!!"
"KALAU TIDAK PERGI KE AFRIKA SANA!!"
"Baik tuan... Saya pamit!" Farell bergegas mencari data mengenai Nina.
Walau dia sangat dekat karena pekerjaan mereka, namun secara pribadi Farell tidak begitu mengetahui Nina yang memang sangat misterius.
Tuuuut!
"Iya tuan..."
"Masuk keruangan sekarang!!!"
Nina bergegas menuju ruangan bosnya, hari ini seperti biasa dia mengenakan kemeja putih polos dengan rok span di bawah lutut pas di badannya. Rambut yang masih setia dengan ikat lurus serta kacamata tebal yang menutupi mata indahnya. Namun dia membawa berkas untuk menutupi area dada yang masih sedikit basah dan ternyata menerawang memperlihatkan bagian depan yang bisa mengganggu.
"Iya tuan..."
Nina tengah berada di ruangan milik bosnya.
"Duduklah..."
Nina duduk di depan Hanssel. Hanssel tengah sangat kesal pada wanita itu dia melayangkan tatapan dinginnya. Namun yang di tatapnya biasa saja.
"Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu?"
"Aku sudah berbaik hati tidak melanjutkan memakimu seperti semalam." Hanssel memulai percakapan.
"Kenapa anda harus memaki saya? Pasal tidak datangnya saya ke mansion?" Nina mengerutkan dahinya pura-pura bingung.
"Bukannya aku sudah mengganti dengan wanita yang jauh lebih cantik dari saya dan dia masih gadis loh!"
"Aku membayar sangat mahal tau!!" Sungut Nina.
"Walau itu sesungguhnya uang entertain anda.." Gumam Nina lirih kemudian kembali bersemangat.
"Tapi saya sendiri memastikan bahwa wanita itu seperti kriteria yang anda sukai.. Polos, gadis murni, bersih dan aduhai!!"
Hanssel ingin sekali mengetuk kepala Nina dengan martil saat ini juga.
"Ya di banding anda bermain dengan saya yang tidak ada apa-apanya ini anda pasti akan lebih memilih dia bukan?"
"Letak salahku dimana coba??!!!"
Nina memang tidak pernah segan untuk mengoceh di depan bosnya. Selama 2 tahun Nina tidak pernah berpura-pura menampakan sifat aslinya. Tanpa Hanssel sadari dia memang telah terbiasa. Hanssel menatap lekat wanita di depannya, seketika pandangannya tertuju pada area depan yang terlihat jelas karena basah membuat Hanssel refleks menelan salivanya.
Dari jarak sejauh ini aku bisa melihat betapa menariknya area itu!
Nina menyadari tatapan liar bosnya segera menutup kembali berkas di depan. Hanssel mengulumkan senyumnya, melihat reaksi berlebihan Nina.
"Jika memang kamu tidak ada apa-apanya dengan gadis itu kenapa kamu menutupi bagian depanmu saat ini? Bukankah tidak akan menarik perhatianku?"
Hanssel beranjak dari singgasananya menghampiri tempat Nina.
"Kamu pikir aku akan tertarik dengan bagian depanmu yang rata?"
RATA?!! Mata dia sungguh buta!!!
Nina merutuki bosnya di dalam hatinya.
Kenapa baru aku sadari bahwa sejujurnya tubuh Nina mulai mencuri perhatianku!! Kamu sangat menarik...
"Jika sudah tidak ada hal yang mau di bicarakan aku keluar, aku sedang membuat surat pengunduran diriku!"
Mata Hanssel seketika berubah nyalang. Dia yang sudah mengalah dan memaafkan kesalahan Nina, saat ini hatinya seperti kembali di siram minyak oleh wanita itu membuatnya kembali membara dan tersulut emosi.
*****