
Tring!
Hanssel mendapat sebuah notifikasi e-mail. Pengirimnya adalah anonim namun dia mengerti siapa di balik semua ini. Hanssel menyunggingkan senyumnya. Tanpa basa-basi dia segera menghubungi Farell dan menyuruhnya mempersiapkan semuanya.
Di Negara S, hari ini Karennina berencana untuk berkeliling menikmati setiap sudut negara yang walau kecil namun sangat kaya.
"Kamu mau kemana sayang?!"
"Aku mau jalan-jalan bolehkah?!"
"Aku juga ingin melihat rumah di Beverly."
"Owh, baru juga sampai sudah kemana-mana!"
"Ingat kamu tengah hamil jangan sampai kamu kelelahan sayang!"
Nyonya Lyn mendekati Nina setelah beliau turun sepenuhnya dari lantai 2.
"Mama tau aku hamil?!" Nina berkata dengan khawatir dan tidak percaya ibunya tidak melakukan drama yang mematikan.
"Kakak mu menceritakan semuanya."
"Kamu sudah menikah dengan pewaris Adamson bukan?!"
"Iya, tapi kakak mempersulit kami."
"Bukan..." Nyonya Lyn tertawa geli.
"Kamu akan mengerti jika tahu maksud yang sebenernya kakakmu itu."
"Aku tahu!"
"Dia itu terlalu keras ga sih ma!!"
"Apa mama ga ada niatin jodohin dia biar mampuss!!"
"Hus!"
"Ngomong yang baek-baek sama kakakmu itu!"
"Eh tapi, dulu kami sempet jodohin dia sih."
Nyonya Lyn berpose seperti tengah berfikir, namun kemudian dengan ekspresi datar dia mengatakan jawabannya kembali.
"Tapi ceweknya kabur!"
"BUAHAHAHAHAHAAHAHAHAHA!!!"
Nina sungguh puas menertawakan kakaknya, sungguh sangat ironis cowok tampan yang kayak di abaikan oleh seorang wanita.
"Bibii...."
"Faraah sayaaang!"
"Muncul juga!"
"Lu tega bener ninggalin gua!!!"
Nyonya Lyn tengah cekikikan geli.
"Ma, aku berangkat dulu."
Farah menatap Keenan tanpa berkedip, dia bahkan tengah meneteskan air liurnya saat ini.
"Lap ilermu bocah!"
Keenan kemudian berlalu setelah menghina Farah. Farah yang merasa di perhatikan oleh lelaki pujaannya rasanya dia ingin pingsan sementara saat ini juga.
"WOY!!" Nina mengguncang tubuh Farah yang masih kaku tidak bergeming masih tersihir dengan pesona Keenan.
"Ih apa sih ganggu!!" Maki Farah.
"Udah-udah yuk sarapan!" Nyonya Lyn mengajak kedua wanita itu sarapan bersama. Keenan memang jarang sekali makan atau berada di rumah. Dia hanya numpang tidur saja disana atau berbincang jika memang ada hal penting yang di bicarakan. Bahkan biasa juga dia pulang ke kondominium miliknya yang tak jauh dari milik adiknya.
"Jadi kamu tetap ingin Suho berpusat di Jakarta?!"
"Iya pah..."
"Aku hanya tidak ingin membuang waktu, uang dan tenaga dengan memindahkan kembali kantor Suho yang akan membuat para investor kebingungan."
"Baiklah jika itu keinginan mu."
"Oh ya pah."
"Apa papa mempersulit hubunganku dengan Hanssel?!"
"No!"
"Actually no..."
"Semua hanya aksi pencegahan saja, papa khawatir dia akan seperti Erick Shin."
"Terlebih pria itu terkenal bad boy bukan?!"
"Tapi aku sudah menikah dengannya."
"Ya udah mau gimana lagi!!"
Nina membulatkan matanya dengan reaksi papanya yang tenang.
"So boleh kah aku pulang segera?!"
Dengan hati-hati dia mengucapkannya, Nina juga menampilkan wajah memelasnya, dia yakin ayahnya tidak akan tahan dengan tampilannya saat ini.
"Percuma kamu melakukan hal itu!" Ujar tuan Kaviandra datar.
"Huh!"
Nina mendengus kesal, dia tidak percaya jika wajah penuh kasihan itu tidak menggetarkan hati ayahnya.
"Tuan Adamson sendiri adalah sahabat papa, dulu dia menjodohkan putranya dengan putri papa."
"Namun saat itu putri degil ku memilih menikah dengan pria brengsek!"
"Dua tahun setelah kamu bercerai dengan Erick, papa mengikuti pelelangan bisnis di Inggris. Disana juga ada tuan Adamson."
"Kami melakukan kesepakatan kembali."
Prang!
Nina menjatuhkan alat makannya, dia tidak percaya apa yang dia dengar saat ini. Sungguh kebetulan yang direncanakan yang dia tidak tahu sebelumnya.
KEENAN KAVIANDRA BIADAB!!
Nina mengutuk kakaknya yang sudah seenaknya menjebaknya dan sekarang justru menghalangi hubungannya dengan Hanssel saat ini.
"Hatchiiiiii!"
"Siapa yang mengutukku sepagi ini?!"
"Iya tuan?!"
"Papa tidak memberitahuku sebelumnya."
Kali ini Nina protes mungkin jika sedari awal dia mengetahui perjodohannya dengan Hanssel lebih awal mungkin jalannya tidak mblunder seperti saat ini.
"Saat itu papa emosi dengan aksi keras kepalamu."
"Papa belum mengetahui asal usul dan jejak Erick Shin."
"Jika dia memang pantas papa juga tidak mungkin melarang putri papa memilih kebahagiannya."
"Hanya saja track record dia begitu buruk."
"Bahkan hutang keluarga Shin dimana-mana."
"Nyonya Yun hanya memanfaatkanmu untuk melunasi semua hutang itu!!"
"Benar demikian bukan?!"
Nina kembali menundukkan wajahnya malu, dia sungguh sangat menyesal.
Ini namanya double kill, udah jatuh tertimpa tangga pula!!
Nina mendengus kasar, kemudian dia tersadar tidak ada gunanya mengeluh toh saat ini dia juga benar-benar menjadi istri tuan muda Adamson. Nina mengembangkan senyumnya.
"Kau mencintainya?!" Tanya tuan Adamson penasaran.
"Iya pa, dia terus membujuk ku dengan semua cintanya membuka kembali pintu hati aku yang sudah lama aku tutup."
"Dia juga papa yang di akui Jimmy menjadi papa terbaiknya."
"Ya, mama dan papa sudah puluhan kali mendengar Jimmy menceritakan betapa hebatnya papa Hanssel dimata anak itu." Nyonya Lim tengah tersenyum membuat hati teduh seketika.
"Ya...."
"Sudah berapa bulan bayi di perutmu?!"
"Sepertinya jalan 6 minggu."
"Papa doakan kebahagiaan untuk mu."
"Papa tidak bisa membantu lebih, kau tahu sendiri jika kakakmu sudah turun tangan."
"Huff!!"
Semuanya terkekeh melihat ekspresi putus asa Karennina.
***
Dua hari kemudian, area pertemuan Hotel Ritz-Carlton Negara S.
Hanssel tengah berjalan dengan serius menelusuri lorong dan kemudian sampai di tempat yang di tentukan. Di area restauran hotel telah terlihat pria yang sangat dingin telah berada disana.
"Selamat pagi tuan K..."
"Atau kakak ipaaar..."
Hanssel mengulurkan tangannya berkata memanggil kakak ipar dengan sedikit lirih hampir tidak terdengar. Nyalinya mendadak menciut di depan kakak istrinya itu yang kini memandang dirinya penuh aura dinginnya.
"Haha... Kamu sungguh percaya diri!"
"Tentu saja..."
"Nina adalah calon istri yang sudah di jodohkan sedari lama oleh papaku dan tuan Kaviandra bukan?"
"Jadi selama ini memang Nina adalah jodoh saya, sejauh mana dia pergi aku akan menemukannya."
Hanssel mengatakan dengan sangat serius dan penuh kesungguhan.
"Jadi papa mu sudah kembali pulang ke rumah?!"
Keenan menyeringai setelah keduanya berjabat tangan dia kembali menempati tempat duduknya disusul Hanssel yang menempati kursi berhadapan.
"Terima kasih karna anda papa saya kembali dengan selamat."
"Kau sungguh menyanjungku..."
"Apa tuan Adamson tidak menceritakan keseluruhan kejadian sebenarnya?!" Keenan tengah menginterogasi adik iparnya dengan tatapan dinginnya.
Flash back sehari sebelum dia berangkat menuju Negara S.
"Papa pulang karena kamu membuat kekacauan dan papa melihat ibu mu terlibat."
"Sepertinya mama tidak tahu menahu pah!"
"Iya dia di jebak tuan Lim."
"Tuan Lim adalah buronan internasional."
"Kejahatannya sanagt rapi, butuh rencana matang untuk menangkapnya."
"Namun dia hanya pion catur saja!"
"Orang di belakangnya masih berkeliaran dengan bebasnya."
"Bisa jadi juga dia akan mengeluarkan tuan Lim dengan uang jaminan."
Braak!!
Hanssel memukul meja kerjanya.
"Apa pekerjaan papa tidak hanya menjadi pebisnis?!"
Hanssel lupa inti dari semua yang di ceritakan ayahnya sepertinya ada yang di sembunyikan oleh pria tua itu.
"Tentu saja, namun ini masih terlalu awal untuk kamu ketahui."
"Papa sudah mengenal Karennina sebelumnya..."
"Dia adalah anak dari teman papa, kedatangannya ke Adamson tentu memiliki tujuan."
"Kamu tahu di keluarga Kaviandra yang paling membahayakan adalah putra sulung mereka."
"Jangan pernah menyinggungnya."
Da*mn!
Ingin rasanya Hanssel menggali lubang yang dalam untuk mengubur dirinya. Apakah ayahnya sudah mengetahui bagaimana arogannya dia berselisih dengan kakak iparnya saat ingin mempertahankan Nina di dalam kantor Adamson terlebih kecemburuannya yang di luar batasan itu.
Sungguh memalukan!!
Namun demi sayangku apa itu malu?!
Hahaha
Flash back off.
✲✲✲✲✲✲