Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 60 - FxxK it!



Bug!!


Braaaak!!


"BAJINGAN KAMU HANSSEL!!"


"AKU BERUSAHA UNTUK MENGHARGAI KEPUTUSAN KARENNINA KARENA DIA MENCINTAI MU!!!"


"DAN KAMU MENGKHIANATI NYA!!"


"BULLSHIT!!!"


BUG!


"Tuaaan... Anda tenang lah!"


Farell tengah menarik tubuh Rangga agar tidak terjadi lagi hantaman pada tuannya lagi yang sudah tersungkur di lantai.


Hanssel tidak berkata apapun, dia menyeka sudut bibirnya. Mencoba berdiri dan memperbaiki posisinya.


"Aku tidak melakukannya!"


"BULLSHIT!!"


"CUIH!!"


Rangga meludahi temannya, emosinya benar-benar sudah meledak. Bagaimana tidak, sahabatnya menyakiti wanita yang paling di cintainya di dunia ini.


"Ceraikan Karen sekarang juga!!!"


"Tidak akan!!"


"HANSSEL!!!"


"Aku sudah pernah bilang Rangga, aku sangat mencintai Karennina."


"Aku pastikan aku tidak pernah mengkhianati nya."


"Semua ini hanya jebakan yang di lakukan keluarga Lim!"


"Aku sedang menginvestigasi semuanya."


"Terlambat Hanssel!!"


"Nina sudah kembali terluka dengan berita mu dimana-mana!!"


"HAHAHAHA!!"


"Sejujurnya ini menguntungkan bagiku!!"


"Saat dia terluka aku akan merangkulnya!!"


Rangga mengangkat satu sudut bibirnya mengejek.


"Lepas!!"


Farell melepaskan rangkulannya dari tubuh Rangga. Rangga menegaskan jasnya dia kemudian berlalu dari hadapan Hanssel.


BRAAAAAAAK!!


Hanssel meluapkan emosinya dengan menyapu bersih meja kerjanya.


"AAARRGGHH!!"


"FARELL LAKUKAN SEGALANYA!!"


"Baik tuan..."


Farell keluar dari ruangan presidir, dia kembali berurusan dengan para interpoll dan hacker guna melancarkan jalan untuk tuannya mendapat kebenaran.


Nomor yang anda tuju sedang di alihkan!


Mata Hanssel membulat, bergegas dia keluar kantor dan menemui istrinya.


***


Nina mengusap wajahnya yang basah, berulang kali dia mencoba meneguhkan hatinya. Namun saat berita itu terngiang kembali di pikirannya saat itu juga hatinya mendadak sakit dan sifat sensitif nya kembali menguar membuatnya kembali terisak.


Kepala Nina terasa pusing, dia memijat keningnya perlahan.


Ceklek!


"Ren, kamu ada meeting dengan bagian personalia 10 menit lagi!"


Nina berdiri dari tempat duduknya namun seketika pandangannya menjadi gelap.


Bruuk!


"KARENNINA!!!"


Di kondominium barunya Hanssel membuka dengan kartu akses miliknya.


"Sayaaang..."


"Jimmy..."


Namun Hanssel tidak mendapati sahutan, rumahnya terasa hening. Dia memeriksa tiap kamar dan sudut rumahnya. Dia memeriksa lemari dan....


"AAAARRRGHH!!"


BRAAAAAK!! PRAAAAANG!!


Hanssel menghancurkan apapun di depan matanya. Tubuh Hanssel ambruk di lantai, dia merasa dirinya menjadi seorang pecundang kali ini!


"No!"


"Aku percaya kamu akan mempercayaiku Nina!!"


Hanssel kembali bangkit dan bergegas mencari keberadaan istri dan putra sambungnya.


Di rumah sakit besar, Nina tengah mengerjapkan matanya. Kepalanya seolah berputar seperti komedi putar. Dia menangkap siluet tubuh yang seperti dia kenal.


"Hanssel!" Lirihnya mengharapkan suaminya lah yang ada di sampingnya saat ini.


Keenan mendekati ranjang Nina, dengan raut kecewa dan menahan amarah dia menatap adiknya yang sudah tersadar sepenuhnya. Nina mencoba duduk dengan benar, Keenan tidak membantunya dia masih di selimuti perasaan kecewa yang begitu besar.


"Jelaskan ini Nina!!"


Keenan melempar lembaran kertas. Nina menangkapnya dia kembali berkaca dan menutup mulutnya.


"KAU HAMIL?!"


"BERAPA KALI AKU KATAKAN PADAMU!!"


"JATUH CINTA ITU BAWA SERTA OTAKMU!!!"


Nina semakin terisak dengan bentakan kakaknya.


"Ingin rasanya aku menampar mu KARENNINA!!"


Braaak!!


Keenan sungguh kehilangan kendali atas emosinya dia menendang kursi.


"Apa dia mengetahuinya?!"


Nina menggeleng lemah.


"Sebaiknya tidak!!"


"Setelah ini aku akan mengirim mu pulang!!!"


"Kau sungguh mengecewakan ku!!!"


BRAAAAAAK!!


Ceklek!


"Apa kamu baik-baik saja?!"


Nina masih berderai air mata.


"Oh sayaaang..."


Farah memeluk sepupunya, Nina kembali terisak di dalam pelukan Farah.


Setelah puas menangisi hidupnya, Nina melonggarkan pelukannya.


"Kak Keenan sangat marah... Dia mengirim Jimmy ke SG saat ini juga." Ujar Farah.


"It's okay..."


"Ini yang terbaik untuknya..."


"Dia sangat mencintai Hanssel, sangat tidak baik baginya jika dia mendengar berita dari luar mengatakan keburukan Hanssel."


"Aku pikir dia setia padamu!"


"Tingkahnya tidak mencerminkan segalanya ternyata."


Farah ikut merasa kecewa, dia merasa iba pada sepupunya. Untuk kedua kalinya Nina di kecewakan oleh orang yang di cintainya.


Nina menatap keluar jendela ruang rawatnya. "Aku lapar, bisa kah kamu belikan aku kwetiaw?"


"Aku sangat menginginkannya."


"Okay..."


"Oh ya, dimana hp ku?!"


"Owh, nih..."


Farah meletakan sling bag Nina di pangkuan sepupunya.


"Kamu tidak masalah aku tinggal?!"


Nina mengangguk, dia merogoh tasnya mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Bawakan aku seseorang bernama...."


"Terima kasih!"


"Sayang, maafkan ibu... Kamu akan di bawa ibu melakukan hal berat."


Nina kembali terisak, dia baru menyadari satu hal. Setiap kali dia hamil di saat itulah hidupnya terjatuh.


***


Nina tengah berselancar dengan perangkat keras di ruang kerjanya. Dia menggunakan aplikasi yang memudahkannya melakukan pekerjaannya.


Nina mengerutkan keningnya, kemudian dia memperbesar layar kamera pengawas, memperlihatkan seseorang yang dia kenal, yang sangat dia cintai.


"Aku benci aku merindukan mu!!"


"Haiish!!"


"Apa kamu yang mengatakan bahwa kamu merindukan papa?"


Nina mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Setelah kejadian pingsannya kemarin dia bisa memeriksakan kandungannya pada dokter obgyn. Dia bersyukur bayinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Tenang sayang, mari kita bantu papa!"


"Kita kejutkan esok di pernikahannya..."


Nina mengusap layar yang menunjukan wajah dingin dan frustasi suaminya. Walau tampilannya tidak seperti biasa saat dia bersamanya Nina masih melihat ketampanan disana.


Disisi lain Hanssel tengah menatap ponselnya, dia menyeka sudut matanya. "Aku sungguh merindukan kalian... Mengapa jejak kalian benar-benar tidak bisa aku temukan."


"Bahkan Suho tidak beroprasi di kantor lamanya..."


"Nina aku sangat berharap kamu dalam keadaan baik-baik saja."


"Aku akan menemukanmu sayang!!"


Semenjak dia tidak menemukan jejak Nina dan putranya dia mendatangi kediaman besar. Dia mengira bahwa ibunya menculik Nina dan putranya demi memuluskan pernikahan mereka. Nyonya Adamson yang baru mengetahuinya tentu saja menjadikan kesempatan bagus.


Dia berpura-pura mengatakan bahwa Nina dan Jimmy ada di tangannya. Jika ingin mereka selamat maka jalan keluar satu-satunya dengan menerima pernikahannya dengan Catherina.


Hanssel yang tidak bisa berpikir jernih dan begitu takut istri dan putranya terluka karena dirinya akhirnya menyetujuinya. Esok hari adalah hari pernikahannya, semua media akan meliput keduanya. Ini akan menjadi pesta pernikahan termegah tahun ini.


"Hans, kita akan melakukan fitting baju sekarang!"


Catherina mengunjungi ruang kerja calon suaminya. Hanssel menatap Catherina nyalang, dia beranjak dari kursinya dan bergerak mendekati wanita yang sudah menghancurkan hidupnya saat ini.


"Kau pikir aku mau melakukan semuanya?!" Hanssel berkata di depan wajah Catherina dingin dan tajam.


Catherina menelan salivanya, tubuhnya mulai bergetar ketakutan. Tekanan suhu di ruang kerja Hanssel turun drastis. Hanssel dalam mode Raja Iblis.


"Aku melakukan ini hanya demi istri dan putraku!"


"Selebihnya aku akan menjatuhkan keluarga Lim!"


"Hans!!"


"APAAA?!"


"Aku ingat, aku dulu jatuh cinta pertama kali dalam hidup ku pada seorang wanita periang, namun berambisi dengan cita-citanya tapi dia apa adanya."


"Dia sangat setia kawan, dia juga sangat menjungjung tinggi martabatnya!"


"Dia wanita yang memberikan aku energi positif setiap kali bersamanya."


"Namun sekarang, aku tidak lagi mengenal wanita itu!"


"Lakukan semaumu."


"Ini pernikahan mu bukan milik ku."


"Aku sudah menikah dengan Karennina, aku juga tidak menceraikannya."


"Tapi bayi di perutku ini milik mu!!"


Catherina masih tidak menerima, dia tidak percaya Hanssel tidak menginginkannya.


Plaaaak!!


Hanssel menampar keras wajah Catherina dan kini tengah memegang erat wajah wanita itu dengan satu tangannya.


"Aku tidak pernah menyentuh mu..."


"Aku tidak tahu itu milik siapaa!"


"Kita lihat kebenarannya nanti!!"


Bruuk!!


Hanssel menjatuhnya Catherina di lantai dan meninggalkannya. Hanssel berbalik sebelum benar-benar pergi.


"Kamu memilih jalan pintas menikah dengan ku, maka terima lah kamu akan hidup di dalam neraka bersamaku!!"


"Aku sungguh iba dengan mu!"


"Kau sangat mengecewakanmu!!"


Tubuh Catherina bergetar hebat, dia terisak pilu. Sudah tidak bisa terkatakan lagi bagaimana sakit yang dia terima di dalam hatinya.


✲✲✲✲✲✲