
"Jimmy minta maaf papa..."
"Jimmy tidak pamit saat pergi!"
Hanssel kembali berkaca dia memeluk Jimmy lagi. Nyonya Lyn sangat terharu melihat kedekatan keduanya benar-benar seperti yang di ceritakan Jimmy kepadanya. Tuan Kaviandra mengembangkan senyumnya dia mengusap bahu istrinya menenangkan.
Aku menyetujui pernikahan dengan putra Adamson tentu sangat jelas bagaimana pria itu membesarkan putranya. Rumor mengenai dia yang suka berganti wanita sepertinya pasti ada tujuannya tersendiri. Semoga dia benar-benar menyayangi putriku dan putranya.
Nina meneteskan air matanya, mengembangkan senyumnya. Dia tidak menyangka secepat ini dia bisa melihat suaminya kembali.
"Huh!"
Keenan mendengus kesal, membuat Hanssel tersadar. Di dekat kakak iparnya dia tidak bisa seenaknya.
Hanssel melonggarkan pelukan Jimmy dan meletakannya.
"Maaf saya lancang..."
Hanssel berkata sopan dan memberi salam dengan menunduk hormat pada kedua orang tua Nina.
Nyonya Lyn melebarkan senyumnya, mendekatinya dan memeluknya hangat.
"Selamat datang di keluarga Kaviandra sayaang..."
Hati Hanssel menjadi hangat atas perlakuan di luar ekspektasinya. Tuan Kaviandra mendekat "Ga usah lama-lama meluknya!!"
"Hahaha!"
"Papa mertuamu memang begitu ga usah di ambil hati okay!!"
Hanssel menunjukan gigi rapinya malu.
"Kamu memang terlihat seperti Adamson!!"
Tuan Kaviandra mengulurkan tangannya, dengan cepat Hanssel menyambutnya kemudian tubuhnya di tarik oleh tuan besar itu mereka berpelukan.
Hanssel sungguh sangat malu, Nina di perlakukan tidak baik oleh keluarganya saat hubungan mereka terekspos. Sedangkan disini dia disambut hangat oleh keluarga besar Nina yang notabenenya jauh lebih berpengaruh dari keluarga Adamson.
"Papa menitipkan salamnya, dia minta maaf belum bisa berkunjung."
"Ibu saya masih kurang sehat."
"Dan saya juga menyampaikan beribu-ribu permintaan maaf atas perlakuan tidak baik ibu memperlakukan Nina sebelumnya."
"Hahaha!"
"Sudahlah kami mengerti..."
"Hanya saja Keenan memang sangat keras orangnya."
Tuan Kaviandra memang sangat ramah dan terbuka. Dia tidak seperti kebanyakan pebisnis lainnya. Makanya Keenan langsung mengambil alih semua posisi ayahnya. Kini kedua orang tuanya hanya tengah menikmati masa tua mereka tanpa lagi terbebani dengan pekerjaan.
"Aku juga!"
Keenan merasa kesal "Aku sudah melakukan tugasku, aku ingin istirahat sebentar!"
Keenan berlalu meninggalkan semua orang dan tamunya. Dia menuju kamarnya di lantai dua.
"Ya sudah, kamu pasti merindukan istrimu bukan!"
"Temui dia..."
Tuan Kaviandra menepuk bahu Hanssel dan memperlihatkan putrinya yang tengah menunduk malu. Begitu pula Hanssel, dia sungguh malu ini pertama kalinya baginya.
"Jimmy ayok ikut grand ma, kita memasak!"
"Ok grand ma ayok kita let's go!!"
Di ikuti tuan Kaviandra mereka meninggalkan sepasang kekasih yang masih dalam keadaan kasmaran dan penuh dengan perasaan cinta.
Nina masih berdiri di tempatnya, dengan mengenakan terusan di atas lutut yang sangat sesuai dengan bentuk tubuh Nina, rambutnya terurai indah bergelombang dengan riasan natural sangat berkelas.
Hanssel mendekati Nina perlahan dengan senyum mesumnya. Saat hanya berjarak satu jengkal saja Hanssel menggenggam kedua tangan Nina dan menciumnya.
"Aku menepati janjiku, aku sedang menjemput mu kembali pulang."
Nina mengatupkan mulutnya erat, perasaan bahagia itu menyebar di seluruh tubuhnya. Hanssel menarik tubuh Nina dalam dekapannya. Tangannya menarik tengkuk leher Nina, pria itu memiringkan wajahnya menyesap segera bibir seksi istrinya yang berwarna cerah. Keduanya bertautan mengikuti hasrat mereka yang sudah tidak sabar meminta haknya setelah beberapa lama mereka tidak bertemu.
Kerinduan yang selama ini mereka tahan tengah mereka lepaskan. Hanssel semakin menuntut ciuman mereka yang membuat bibir keduanya telah basah. Nina kehabisan oksigen, dia mendorong tubuh suaminya yang kini sudah turn on!
Hanssel menatap Nina memancarkan raut wajah bahaginya. Keningnya dia tempelkan dengan kening istrinya. Tangan mereka masih bertautan Hanssel tidak ingin melepaskannya. Dia kembali mencium jemari Nina, dan tanpa di duga Hanssel menundukan badannya kini bersimpuh memandangi perut Nina yang sudah sedikit menonjol.
Dengan bergetar Hanssel memegang dan mengusap perut Nina lembut.
"Terima kasih sayang..."
"Terima kasih sudah mau hadir di kehidupan kami."
Cup~
Hanssel mencium perut Nina, istrinya kembali dibuat terharu dan jatuh cinta atas perlakuan suaminya.
"Owwhh!!"
"SSSTTT!!"
Tuan dan Nyonya Kaviandra serta Jimmy mereka tidak benar-benar pergi ke dapur. Ketiganya kini tengah berjongkok di salah satu lorong memperhatikan tingkah keduanya.
"Dia menantu yang baik bukan?" Tanya nyonya Lyn.
"Tentu saja, aku sudah bilang sedari awal aku memang sudah menjodohkan mereka berdua!"
"Jika saja Nina tidak keras kepala dan kemakan omongan sampah keluarga Shin!!"
Akhirnya ketiganya benar-benar kembali menuju dapur dan memberi ruang bagi keduanya.
Hanssel kembali memeluk Nina, dia tidak ingin melepaskannya.
***
Di kamar Keenan, dia membuka pakaiannya. Dia ingin berendam sebentar rasanya dia sungguh penat.
"Ah, Jimmy gimana sih bukannya nyari lebih giat lagi!!"
"Masa segini aja nyerah!!"
Farah membuka pintu kamar mandi dan....
"Aaaaa!"
Braak!!
"INI KAMAR KAK KEENAN!!"
"GUE ADA DI KAMAR PEMBUNUH BERDARAH DINGIN."
"OKE TARIK NAFAS HEMBUSKAN!!"
"MARI KITA BUAT SURAT WASIAT TERLEBIH DULU SEBELUM NYAWAKU MELAYANG BERTEMU RAJA MING!"
"Mana tadi keliatan baget itu roti sobek!!!"
"Faraah Lee!!"
"Kau sungguh beruntung di atas kesialanmu!!"
"Kenapa aku sungguh bodoh mengira ini adalah kamar tamu!!!"
"Setahuku ini kamar tamu!!"
"Kenapa juga kamar si bos ini ga di kunci?!"
"Bukan salah ngana kalo gini kan?!"
Farah tengah mondar mandir menjambak rambut dengan kedua tangannya.
Braak!! Braak!! Braak!!
"BUKA FARAH LEE!!"
"BOCAH TENGIK SIALAN NGAPAIN KAMU DI KAMARKU!"
"KAMU CARI MATI HAH?!"
"KELUAR SEKARANG JUGA!!!"
Terdengar jeritan Farah di dalam kamar mandi dia semakin ketakutan.
"AKU MINTA MAAF KAK..."
"AKU SALAH MASUK PERCAYALAH..."
"BUKA PINTUNYA FARAH LEE!!"
"AKU AKAN MEMBUKANYA JIKA KAKAK KELUAR DAN MENJAUH!!"
"KAU MENYURUHKU?!"
"BERANINYA KAMU PERSIAPKAN PETI MATIMU SEKARANG JUGA!!"
"AAAAAAAA!!!"
"AKU MOHON... AKU MOHOON..."
"AKU BERJANJI KAK AKU TIDAK AKAN MENYULITKAN KAKAK..."
"AKU AKAN MEMBERIKAN SEMUA GAJI DAN TUNJANGAN BONUS SERTA APAPUN!!"
"ASAL KAKAK LEPASKAN AKU."
Eh tunggu!
Kak Keenan mana butuh uang recehan dari gue!
Gue kan emang di gaji dari duit dia juga!!!
Farah Lee bodohmu sungguh mengalir deras bagai rucika!!
Keenan yang mendengar perkataan polos Farah mendadak berhenti dan menahan tawanya.
Bocah sialan ini, jika aku tidak memandang kamu dekat dengan Nina. Tidak sudi aku mendengarkan mu!
"Baiklah aku keluar..."
"Kau cepat pergi dari kamarku!!"
"Dan jangan pernah ungkit kamu berada disini!!"
"SIAAAAP JENDRAL!!"
"Ppppfft!"
"Aku sudah berada di ruang wardrobe!"
Setengah berteriak Keenan mengatakan posisinya.
BRAAAAK!
Dengan kecepatan super flash Farah meninggalkan kamar Keenan demi panjang umur. Keenan menatap pintu yang terbanting keras.
"Heh! Aku harus buat perhitungan denganmu bocah!!"
Keenan memasuki kamar mandinya, "SIALAN WANGI FARAH DIMANA-MANA!!"
Ssssrrrrttt!
Keenan menyemprotkan pewangi ruangan dan desinfektan.
Farah berlari dan terengah menuju ruang makan, keluarga Kaviandra tengah bersiap makan siang.
"Onty ngumpet dimana?!!!"
Jimmy kembali merasa kesal.
"Muncul juga kau!!"
"Darimana?!"
Nina menatap Farah dari atas hingga bawah, wanita itu tengah terengah.
"Gue abis dari alam baka!!"
"Hah?!"
Semua yang mendengar terbahak atas penuturan polos Farah. Mereka tidak tahu bahwa Farah tengah mendapat keberuntungan ganda, selain tidak sengaja melihat cetakan roti sobek beraneka ragam rasa dia juga terlepas dari gantungan menuju Raja Neraka.
✲✲✲✲✲✲