Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 48 - Risalah Hati



Sebelum meninggalkan Nina di kamarnya, Hanssel pamit lebih dulu pada istrinya mengatakan bahwa dia telah berjanji menemani Jimmy.


"Terima kasih Hanssel..." Lirih Nina menggenggam tangan suaminya.


Hanssel membelai pipi Nina lembut menatap perutnya yang terlihat masih datar ada rasa berbeda namun dia sukar menemukan jawaban atas keraguannya.


"Setelah selesai aku akan menemanimu..."


Nina mengangguk dengan senyuman manisnya. Hanssel mencium bibir kesukaannya lembut. Kemudian meninggalkan kamar dan menemani putranya.


Nina sudah selesai dengan makan malamnya, namun saat ini dia kembali di dera mual. Buru buru mengunci kamar mandi dan menyalakan bak mandi dengan air yang kencang.


Hoek... Hoek... Hoek...


"Astaga!!"


"Jika seperti ini terus aku pastikan Hanssel akan menyadarinya..."


"Gimana ini!!"


"Patuh ya sayaaang..."


"Jikapun kamu ingin papamu tahu tidak sekarang oke!!"


Nina berkomunikasi dengan bayinya berharap janinnya mendengar dan bisa diajak bekerja sama saat ini.


Nina membasuh wajahnya dia juga menyemprot kamar mandinya dan menggosok giginya. Dia terkejut saat Hanssel sudah berada di depan pintu kamar mandinya.


"Hans..."


"Kamu mau mandi?"


Hanssel mengangguk dengan senyuman lemah, tidak biasanya suaminya sedingin ini padanya. Biasanya Hanssel akan sangat manja, menggelayut padanya sepanjang masa. Namun saat ini keduanya seolah baru saling mengenal, baru pertama kali terlibat pernikahan.


Nina mencoba menyenangkan perasaan suaminya. Dia rangkul tubuh suaminya dan menggodanya dengan sedikit rayuan nakal.


"Mau aku mandiin ga?" Nina mendongak menatap wajah tampan suaminya.


Hanssel membalas pelukan Nina dia tidak menjawab hanya saja bibirnya sudah menyesap bibir istrinya. Tubuh Nina dia angkat dan di dudukannya di atas meja wastafel. Keduanya masih bertautan mesra, mereka juga saling membelit dan bermain di dalam sana namun Hanssel meringis merasa perih.


"M Maaf..." Nina menyentuh bibir suaminya.


Dia segera berinisiatif membawa kotak P3K yang terdapat di kamar mandinya. Mengusap sedikit obat pereda rasa sakit dan bengkak di pipi suaminya. Sedari awal hingga sekarang Hanssel tidak berkata sepatah katapun.


Sumpahnya aku kok merasa bahwa suamiku tiba-tiba menjadi bisu!!


Nina menatap mata Hanssel namun sedetik kemudian mengalihkan kembali pandangannya sembarang. Hanssel mengulumkan senyumnya.


"Kamu menang sayang, aku sungguh tidak bisa tanpa kamu di sisiku!!!"


"Kamu dan Jimmy adalah rumahku saat ini..."


"Apa yang aku harus lakukan pada Rangga..."


"Aku sudah menganggapnya seperti saudara..."


"Dan saat......"


"Sssttt!"


Belum ada Hanssel menyelesaikan kalimatnya, Nina sudah menaruh jari telunjuk di bibirnya.


"Kita mandi sekarang?" Nina telah membuka kancing-kancing kemeja suaminya.


Pandangan mata Hanssel menatap tajam pada wajah cantik istrinya.


"Aku ingin lebih..." Ujar Hanssel penuh hasrat di belakang telinga istrinya.


Nina memejamkan matanya, saat jemari Hanssel ikut melucuti pakaiannya dan bibir mereka kembali bertautan.


Aktifitas mandi malam mereka menjadi lebih lama dari seharusnya. Hanssel tengah mengeringkan rambut basah Nina. Nina sedang meminum susu UHT kesukaannya yang di bawakan Hanssel sebelumnya. Dia duduk di depan prianya yang tengah sibuk memanjakannya.


Hanssel mengembalikan hair dryer di meja rias istrinya yang terdapat bermacam-macam produk kecantikan, tak hanya untuk wajahnya.


Dulu aku pikir istriku ini norak, tidak tahu fashion, bahkan menyangka dia tidak tahu apa itu skincare yang selalu di minta para wanita kencanku.


Nyatanya, dia bisa membuka store produk kecantikan disini.


Sangat wajar bagiku yang terus mencurigainya.


Dia terlalu lihai bermain peran.


Hanssel menyunggingkan senyumnya kembali mendekati wanitanya dan menyisir rambut istrinya tak lupa mengecup pucuk rambut istrinya yang harum semerbak.


"Terima kasih sayang..." Ujar Nina meraih kepala Hanssel di belakang dengan tanganya dan bibirnya mencium dagu prianya.


"Apa aku berdosa, menikmati kebahagian di atas penderitaan sahabatku sendiri?"


Nina melonggarkan rangkulan tangannya dan kembali pada posisinya. Dia tidak menyangka, bahwa sejujurnya banyak hal positif dari suaminya itu. Prianya itu sangat setia kawan, dia juga sangat setia padanya. Setelah dia mendeklarasikan hubungannya bahkan menikahinya dia tidak pernah lagi terdengar atau membawa wanita lain jika bukan si Catherina yang memang di jodohkan oleh keluarga besarnya.


Apa yang membuat dia menjadi pria Casanova seperti dulu? Apa karena kecewa pada cintanya yang bertepuk sebelah tangan?!


Nina terus bermonolog di alam pikirannya sendiri. Hanssel tengah memeluknya erat. Dia juga merasakan semua kegelisahan suaminya menjalar di tubuhnya.


"Bagaimana kamu mengenal Rangga?" Hanssel melonggarkan pelukannya di bawanya Nina merebahkan dirinya di pangkuannya. Dia tengah menyangka saat ini mereka akan melakukan Deep Talk untuk saling mengenal satu sama lain.


"Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama di US."


"Dia adik kelasku, kamar apartemennya tepat di hadapan kamarku."


"Dia selalu mengunjungi ku meminta makanan."


"Sedari awal aku hanya bisa menganggapnya sebagai seorang adik."


"Namun siapa sangka, dia justru memiliki perasaan padaku."


"Saat dia tahu aku berhubungan dengan Erick Shin."


"Dia lah orang pertama yang menentang hubungan kami..."


"Aku ingat dia beradu mulut denganku sampai aku sangat emosi dan menampar wajahnya."


"Setelah itu aku menyesalinya."


"Apa yang dia katakan akhirnya terbukti bahwa memang keluarga Shin tidak sebaik kelihatannya."


Nina menelan salivanya, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang dibiarkan polos tanpa satu helai pakaian.


"Mengapa kamu tidak mengatakannya sedari awal padaku?" Ujar Hanssel sendu.


"Aku tidak tahu..."


"Aku baru mengetahui saat kabar kedatangan Rangga aku dapatkan. Aku di minta kamu mencari barang sebagai bingkisan bukan?"


"Dari situ aku tahu bahwa temanmu dan temanku adalah orang yang sama."


"Pantas saja kamu tahu apa yang di inginkannya?!"


"Aku ingat dulu pernah mendapati mobil Rangga di Adamson namun orangnya tidak ada."


"Jadi itu kamu?!"


Nina mengangguk lemah. Hanssel tersenyum perih.


"Hal yang tidak bisa aku sangka adalah..."


"Kamu menikahiku!"


"Semua ini tidak ada di jadwal kehidupanku..."


"Jika bukan kamu menggunakan Suho mungkin kita..."


Nina menggantung kalimatnya, nyatanya saat ini dia terlanjur mencintai suaminya.


"Aku baru menyadari, bahwa ternyata aku lah yang lebih dulu mencintaimu Nina..."


"Tidak!"


"Tepatnya adalah hanya aku yang sudah jatuh cinta dan kamu tidak!!"


Ingin rasanya Nina membatah pernyataan suaminya. Namun tidak mengapa suaminya menyangka dia hanya memanfaatkannya. Dengan begini dia akan lebih mudah terlepas dari Hanssel nantinya.


Sepertinya untuk kedua kalinya Hanssel merasakan kembali patah hati oleh cintanya. Namun saat ini dia benar-benar tidak bisa jauh dari istrinya. Jika dia dulu tidak berusaha menahan Catherina, namun saat ini hatinya seolah mengajaknya berjuang untuk mempertahankan hubungannya dengan Nina.


"Aku sungguh mencintaimu Karennina..."


"Aku teramat sangat mencintaimu..."


"Aku harus meminta maaf pada Rangga..."


"Aku tidak bisa menyerahkan dirimu padanya, walau aku sangat menyesal hubungan aku dengannya terputus sekarang."


Nina mengeratkan pelukannya, dirasanya Hanssel tengah mengusap buliran bening di kedua netranya.


"Aku minta maaf Hanssel..."


Setelahnya Hanssel menyuruh Nina istirahat lebih awal, Hanssel terpejam dia teramat sangat lelah. Dia tidak menyangka dia akan kembali merasakan apa itu terluka tapi tak berdarah.


Nina memastikan suaminya telah tertidur.


"Aku juga sangat mencintaimu Hanssel."


"Namun takdir kita seolah tidak merestuinya..."


Nina ikut terpejam di sisi suaminya, Hanssel membuka matanya. Segaris senyumnya dia terbitkan di wajahnya tanpa Nina ketahui.


Terima kasih sayang, aku pikir cintaku bertepuk sebelah tangan namun nyatanya kamu memang menyambut cintaku.


Sejujurnya aku ingin percaya dari awal, tapi sekali lagi kamu sangat lihai menipu nona!!


✲✲✲✲✲✲