
"Semua sudah jelas Mentari Abadi saat ini dalam naungan Adamson Group."
"Nina tolang take note seluruh jajaran manajemen diganti. Lakukan assessment ulang bagi seluruh pegawai MA. Dirikan satu departemen khusus di bawah Human Capital kita."
"Yang tidak berguna buang yang baik pertahankan!"
Dengan tegas Hanssel menutup rapat mereka. Semua yang terlibat tidak ada yang berani membantahnya. Nina tengah sibuk mengetik notulen di laptop kesayangannya dengan wajah datar dan dinginnya.
Sebelumnya beberapa orang dibuat tidak percaya bahwa wanita di samping tuannya adalah sekertaris Nina. Nina merengut kesal oleh tingkah orang-orang yang selalu mengutamakan paras di banding kecerdasan!
Tanpa terasa hari telah menjelang senja. Nina merentangkan tangannya ke atas. Hanssel terus menatap sekertarisnya itu.
"Apa liat-liat?!" Sungut Nina tidak terima.
"Dasar nenek lampir!!" Balas Hanssel tidak mau kalah.
"Aku ada yang ingin di bahas denganmu berdua." Hanssel mendekati Nina.
"Ya udah kamu ngomong sekarang. Toh udah ga ada orang!!"
"Biar kita bisa langsung balik jakarta!!"
Nina menyelesaikan notulen dengan cepat, dia menutup laptop miliknya dan kembali memasukannya pada tasnya. Dia juga merogoh ponsel pintarnya melihat apa Rangga memberikannya kabar mengenai putranya.
"Kita nginep disini satu hari Farell udah siapin!!"
"Kita ngomong di atas!"
"APAAA?!"
"GA BISA GITU DONG AKU ADA URUSAN PRIBADIKU JUGA!!"
Nina dan Hanssel kembali terlibat pertikaian. Emosi Nina meluap begitu saja, dia sungguh merindukan putra yang baru saja dia dapatkan tapi Hanssel kembali membuat ulah!
"Aku yakin perbincangan kita nanti menarik perhatianmu..." Hanssel menyunggingkan senyum sinisnya.
"Aku tidak peduli!! Aku pulang sendiri aja pake travel juga gampang!!"
"Atau aku beli mobil aja sekalian sekarang!!"
Nina bergegas menuju pintu keluar ruangan namun dengan satu kalimat yang di lontarkan bosnya membuat langkahnya terhenti.
"Apa kamu tidak ingin mengambil Suho mu kembali?!"
Hanssel tertawa lirih melihat respon Nina.
Ternyata benar, kelemahannya adalah ambisi ingin menguasai perusahaannya kembali yang diambil paksa!!
"Kau menyelidiki ku?" Nina berbalik badan.
"Tentu saja... Aku menginginkan dirimu..."
"Tidak ada yang bisa tidak aku dapatkan!"
Hanssel telah berada di depan wajah Nina, dia membelai pipi wanita itu lembut.
Bibirnya sungguh membuatku candu!! Tahaaan... Tahaaan... Sebentar lagi aku mendapatkannya... Tidak hanya bibirnya, seluruh tubuhnya akan menjadi milikku seutuhnya!!
Nina menelan salivanya, bibirnya bergetar.
"Apa yang kamu ketahui..."
"Aku bisa membantumu mendapatkannya..."
"Tanpa bantuanmu aku bisa mendapatkan yang menjadi milikku sedari awal."
"Oh ya?!"
"Hanya saja apa kamu bisa mengambil dalam waktu singkat seperti yang akan aku janjikan?!"
DEG!!
Benar... Aku benci Hanssel mengetahui semua ini...
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang tengah kamu rencanakan kedepan untuk Adamson Group!" Hanssel berbalik dan berjalan menuju jendela besar yang kini memperlihatkan pemandangan kota dengan hiruk pikuknya.
"Awalnya aku tidak menyangka kamu bisa mencari cara memasukan Adamson dalam daftar Lee Hi..."
"Kemudian aku membaca berkas lanjutan proyek dari Lee Hi kamu mencoba memasukan Suho menjadi supplier Adamson?"
"Adamson tidak pernah mau menerima perusahaan baru bahkan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan seperti saat ini!"
"Apa kamu mau bunuh diri?!"
"Adamson tidak segegabah itu..."
".........."
Nina benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia telah di skak mat oleh bosnya sendiri. Tidak dia sangka ternyata selama ini Hanssel mengetahui apa yang Nina kerjakan di belakangnya.
"Tanpa persetujuanku kamu tidak akan pernah bisa memasukan Suho dalam tender gabungan dengan Lee Hi!"
"Tender Lee Hi adalah tender utama Adamson tahun ini. Aku tidak ingin ada kesalahan apapun!!"
"Walau tuan Ron merupakan teman akrabmu... Tetap saja akan mempengaruhi performa perusahaan. Apa kamu tengah mempertaruhkan Adamson demi Suho mu?!"
"Atau bisakah kamu jelaskan padaku bagaimana kamu akan mendapatkan Suho tanpa kekuasaan yang lebih tinggi?"
"Kau hanya seorang sekertaris AG!" Sungut Hanssel mengakhiri ocehannya.
"Apa yang kamu inginkan? Mengenai Suho itu urusan pribadiku..." Nina berkata lirih.
Gotcha!! Kau masuk perangkap rubah betina!! Aku sangat senang!!
Hanssel benar-benar tengah gembira, usahanya menjerat sekertarisnya berhasil. Hanssel mendekati Nina dan kembali menatap Nina lekat, dia menaikan dagu wanita itu dengan jari telunjuknya.
"Aku sudah bilang aku menginginkan mu!!"
"Jadilah pacarku!!"
"Aku akan membantumu mendapatkan Suho mu kembali!!"
Hanssel sudah tidak bisa menahan dia segera mencium bibir menggoda Nina yang masih berwarna oleh lipstiknya. Nina mendorongnya lemah.
"Jika kau mengetahui Suho berarti kamu sudah mengetahui status pernikahanku bukan?"
"Aku tidak masalah..."
"Aku sudah memiliki anak..."
"No problem!"
"Aku sudah...."
Hah!! Hah...
Keduanya terengah, Hanssel kembali menginginkan lebih.
"Kita akan bermalam disini hari ini..."
"Tapi aku...."
"Sssstt!!"
Hanssel menaruh jari telunjuknya yang kemudian Nina gigit dengan kerasnya.
"AAAAARRGHHH KARENNINA!!!" Pekik Hanssel menarik jarinya kembali.
"Rasakan!!" Nina berbalik badan dan menuju keluar ruangan.
"Hei tunggu!!"
"Nenek lampir!!!"
Si babi terkutuk itu haisshh!!! Apa yang harus aku lakukan pada Rangga selanjutnya!!
Nina sangat gelisah, dia berdoa semoga Rangga tidak berpikir macam-macam dan masih mau membantunya menjaga Jimmy malam ini.
***
[ Rangga aku sungguh minta maaf, aku harus lembur. Aku bahkan tengah di Bandung selesein akusisi disini. Boleh kan minta tolong menjaga Jimmy semalaman? ]
Nina telah mengirimkan pesan singkat dia segera memasukan kembali ponselnya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Hanssel kemudian.
"Kita ke PVJ ya... Aku juga mau beli baju!"
"Ok sayang..."
"HOEEEKK!!"
"HAHAHAHAHA"
Aku tidak tahu kalau berhubungan dengan nenek lampir ini semenyenangkan ini!!
Hanssel mengulumkan senyumnya karena pikirannya tengah menari-nari bahagia.
Keduanya telah berada di salah satu mall besar di kota ini. Nina sudah menenteng beberapa paper bag belanjaan baju dan aksesoris lainnya. Dia membalaskan rasa kesalnya dengan menyuruh Hanssel membayarnya. Tentu saja bagi pria kaya itu tidak bermasalah sama sekali justru sangat menyenangkan di saat wanita yang dia sudah di cap mandiri itu bergantung padanya.
Mereka tengah makan malam di sebuah cafe di bagian depan mall dengan nuansa yang sangat romantis. Sangat terlihat seperti keduanya tengah berkencan.
"Kamu tunggu di sini ya!!"
"Jangan kemana-mana ingat itu atau tidak mampus kau!!"
"HAH?!"
Hanssel bergegas pergi meninggalkan Nina yang tengah membuka mulutnya lebar.
"Si babi itu kerasukan apa?!"
"Haiisshh!! Aku pikir tahun ini adalah tahun terbaikku... Mendapatkan kembali putraku dan karier berjalan cemerlang... "
"Aku tidak menyangka akan se apes sekarang menjadi pacar dari pria casanova satu ini!!"
"Jika nyonya Adamson mengetahuinya mati aku!! Aku akan di depak dari AG!!"
"Siapa lagi yang akan menggajiku sebesar AG! Huhuhu..."
Nina merasa kesal dia memakan makanannya dengan agresif! Dia bahkan berani memesan sampanye. Hanssel pergi sudah begitu lama Nina telah meminum setengah botol sampanye, dia memesan dengan kadar alkohol rendah. Namun tetap saja membuat dirinya sedikit pusing.
"Kau minum?!!" Rutuk Hanssel setelah kembali.
"Kau lama!!" Balas Nina kesal.
"Haisshh..."
Hanssel menyingkirkan botol sampanye dari hadapan Nina, kemudian dia memakan bagiannya.
"Kamu dari mana?" Tanya Nina basa-basi.
"Rahasia..."
"Cih!"
"Sudah semua?" Tanya Hanssel memastikan wanitanya puas dan kenyang.
"Hmm..." Nina hanya berdehem dengan sibuk membalas pesan dari Rangga.
"Karennina Kaviandra...." Hanssel memundurkan kursinya.
Nina masih mengacuhkannya, namun beberapa saat kemudian Hanssel tengah bersimpuh di hadapannya dengan memegang kotak kecil berwarna biru gelap dengan aksesoris pita kecil diatasnya.
Mata Nina terbelalak tidak percaya apa yang tengah dilakukan bosnya kali ini!
Apa ini semacam ritual khusus? Apa semua teman kencannya di perlakukan seperti ini saat memilih menjadi teman kencannya?
"Mau kah kamu jadi kekasihku?!" Dengan mesra dan senyuman mautnya Hanssel melafalkan kalimat sakral membuat sekujur tubuh Nina merinding hebat.
Pekikan dari pengunjung sekitar mengiringi proses apa namanya ini? Bahkan saat ini live music tengah mengiringi mereka dengan lagu seperti dalam proses lamaran.
"W h a t a r e y o u d o i n g?" Bisik Nina gelisah.
Hanssel hanya memainkan matanya untuk menerimanya. Nina mendengus kesal. Dia mengangguk perlahan tanda menyetujuinya. Sorak tepuk tangan dari beberapa pengunjung yang terharu yang tidak tahu menahu apa sebenarnya yang telah terjadi menandakan berhasilnya rencana Hanssel.
Hanssel memakaikan cincin yang bertahtakan berlian itu di jari manis Nina.
PAS!! Bagaimana bisa?
Nina tengah gelisah, matanya berkaca masih tidak percaya. Hanssel mencium tangannya mesra kemudian dia kembali berdiri dan mengecup kening Nina lembut.
Mati Gue!!! Please jangan baper hati... Please... Dia ini buaya cobra hal semacam ini sudah biasa untuknya!! Tapi tidak untukku!!! Huhu
Nina terus merutuki dirinya dalam pikirannya. Yang tidak Nina ketahui bahwa semua ini juga hal yang pertama kali Hanssel lakukan pada teman kencannya.
"Terima kasih..." Lirih Nina tulus.
"Ingin sekali rasanya aku menggotongmu ke kamar sekarang!" Bisik Hanssel di belakang telinga Nina.
"BANG✩KE!!" Maki Nina membuat Hanssel terbahak.
✲✲✲✲✲✲