Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 33 - Why... Why... Why...



Nina sedang melepas kerinduannya dengan kakaknya. Mereka telah bersepakat sebelumnya.


"Hanssel sudah melacak keberadanmu..."


"Tuan maaf menyela... Wanita itu sudah di tangkap!"


"Oh iya... Bawa masuk!!"


"Baik tuan..."


"LEPASKAAAAN!!"


"KALIAN SIAPA?! AKU AKAN LLAPORKAN KALIAN ATAS TINDAKAN KALIAN SEKARANG!"


"DIAM!!"


BRRUUK!!


"Jessica!" Pekik Nina tidak percaya.


"Kau mengenalnya?" Tanya Keenan dingin.


"NINA?!"


"HEH JA*LAAAANG!! TERNYATA SEMUA ULAHMU!!"


PLAAAAAAK!


Salah satu pengawal Kaviandra menampar keras Jessica. Wanita itu kini ketakutan.


"BERANI SEKALI KAMU PADA NONA MUDA KAMI!!" Ujar si pengawal.


Nina mengulumkan senyumnya, dia mendekati Jessica yang saat ini dalam keadaan menyedihkan. Jessica beringsut mundur.


Nona muda? apakah Nina tengah dalam penyamaran?!! Semua tidak mungkin. Pasti pria di sebelahnya adalah sugar daddynya. Iya pasti!!


"Kamu sungguh memiliki nyali yang besar Jessica aku berikan tepuk tangan yang meriah atas prestasimu!!"


Nina bersimpuh dan menepuk kedua telapak tangannya di ikuti mimik wajah mengejek wanita di depannya.


Prok... Prok... Prok...


"Siapa dia?" Keenan kembali bertanya mendekat pada keduanya.


"Hanya rekan kerja yang selalu iri padaku..."


"Aku bisa mengatasinya sendiri..."


Nina bangkit dan tersenyum pada kakaknya.


"Owh... Hanya remahan duri!"


"Cepat selesaikan bagianmu... Esok kamu kembali jadwalkan pertemuan kita!!"


"Baik kak..."


"KAKAK?!"


Jessica terperanjat mendengar pembicaraan kedua adik kaka di hadapannya.


"Iya aku kakak satu-satunya Karennina dan juga pewaris tunggal keluarga Kaviandra!" Ujar Keenan mencoba memprovokasi Nina.


"Iya lah!!"


"Haha! Jika masih ingin terdaftar menjadi pewaris pulanglah... Negara S jauh lebih cocok di banding disini. Terlalu banyak duri!!"


"Aku pertimbangkan nanti..."


"Sebulan... Papa hanya memberi waktu sebulan ini!!"


"......"


Disaat Nina tengah berpikir Jessica juga sama tengah berpikir dalam benaknya.


Nina berasal dari Negara S? Buat apa dia disini saat ini. Aku harus mendapat informasi tambahan dengan begitu mungkin akan berguna bagiku kelak!


"Jessica, bagusnya aku apakah kamu?!" Nina kembali menatap Jessica yang selalu mencoba berurusan dengannya tanpa jera.


Nina menggerakan tangan sama seperti yang dilakukan Keenan. Itu adalah kode atau cara berkomunikasi di saat tidak ingin orang lain mengetahui pergerakan mereka terutama di hadapan musuh mereka. Salah satu pegawai mengerti kemudian


"Mmmmm...." Awalnya Jessica meronta kemudian pingsan.


"Kamu mau apakan dia?" Tanya Keenan yang tengah menyesap cerutu serta menenggak gelas winenya.


"Membuat sesuatu yang bernilai tinggi bagi majalah dewasa!!"


"HAHAHAHAHA!!"


"Not bad!" Ujar Keenan menilai kinerja adiknya.


Nina kemudian pamit, masalah Hanssel biarlah dia mencarinya lebih dulu. Anggap saja balasan sakit hati Nina setelah di perlakukan kasar pagi tadi.


***


"KALIAN SAMPAH!!"


"BAGAIMANA BISA KEHILANGAN JEJAK JESSICA!!"


"MENCARI SATU WANITA SAJA TIDAK BECUS!!"


Hanssel tengah emosi, hari sudah gelap dia belum juga menemukan istrinya. Bahkan Jessica kunci dari penemuannya di dalam CCTV mendadak tidak bisa di temukan. Hanssel telah menggerakan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan istrinya.


"Jimmy..."


"Iya ibu..."


"Em... Kakek dan nenek Kaviandra ingin bertemu. Kamu mau kan bertemu mereka?"


"Mau..."


Tidak di sangka Jimmy justru tengah berantusias, membuat Nina sedikit lega. Keluarga Shin sudah memberi pengaruh buruk bagi tumbuh kembang Jimmy. Nina sangat khawatir putranya tidak mau lagi berkomunikasi dengan yang lebih tua terlebih Nenek Shin memperlakukannya dengan buruk.


"Sayaaang... Kedepannya mungkin papa Hanssel tidak akan bisa bersama kita lagi..." Lirih Nina saat tengah mengeloni putranya.


"Kenapa ibu? Apa papa Hanssel pergi keluar kota?"


Nina hanya bisa menampilkan senyumnya, "Iya, dia akan pergi sangat jauh dan lama!"


"Yaah... Apa kita tidak bisa mengikutinya bu?"


"Tidak sayang..."


Jimmy terlihat sangat sedih dengan perkataan ibunya. Pasalnya dalam sebulan ini Jimmy justru seolah merasa mempunyai papa sesungguhnya.


"Maafkan ibu... Ibu janji ibu akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan kamu sayang... Tanpa perlu papa Hanssel maupun papa Rangga kita akan bahagia berdua bahkan kelak kita akan tinggal bersama kakek dan nenek Kaviandra."


Jimmy mengangguk kemudian memejamkan matanya dan tertidur dalam dekapan ibunya. Nina menaruhnya di bantal menaikan selimut dan mengecup keningnya.


"Good night my boy!"


Saat akan menuju keluar kamar Nina terpaku melihat Hanssel telah berada di hadapannya dengan tampilan sangat kusut. Nina mengatupkan bibirnya, namun dia mencoba mengendalikan emosi dan perasaannya.


"Ssstt!"


Nina menaruh telunjuk di bibirnya kemudian mengajak Hanssel keluar kamar putranya.


Setelah pintu tertutup Hanssel segera memeluk Nina dengan eratnya.


"Bagaimana bisa kamu ada disini?!"


Terdengar suara putus asa Hanssel di telinga Nina, membuncah perasaannya.


"Aku di tolong seseorang..."


"Siapa dia aku akan mengucapkan terima kasihku padanya!!"


"Aku tidak tahu aku hanya terbangun di sebuah kamar dan aku mencoba kabur."


"JESSICA SIALAN!!"


"Kamu terluka.. Kamu..."


Hanssel tengah memeriksa setiap detail istrinya, Nina terharu di buatnya. "I'm okay..."


"Kenapa kamu membawa Nama Jessica?"


"Oh iya aku butuh ponsel... Aku menjatuhkannya entah dimana..." Ujar Nina berbohong.


"Ini..." Hanssel merogoh saku celananya dan memberikan ponsel milik Nina.


"KAMU MENEMUKANNYA?!"


"Terima kasih..."


"Banyak data penting disini..."


Nina melancarkan serangan lanjutan dengan memeluk erat prianya. Hanssel kembali memeluk bahagia, Nina ternyata tidak apa-apa.


Di dalam kamar Nina, dia tengah membuka file di laptop miliknya. Kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Hanssel telah selesai membersihkan dirinya. Nina segera menutup laptop miliknya dan menaruhnya di nakas sebelah ranjang miliknya.


"Aarghh Hans!!" Pekik Nina saat Hanssel melemparkan dirinya ke dalam pelukan Nina.


"Aku minta maaf aku tidak melindungimu dengan baik!"


Apa-apaan dia ini? Apa maksud dari semua sikapnya padaku selama ini.


Nina memejamkan matanya, bibirnya telah dihisap lembut oleh prianya. Mereka kembali melabuhkan cinta keduanya malam ini. Setelah sebelumnya Hanssel sangat frustasi mencari keberadaan wanitanya.


"Faster babe!!"


Plaaak!


"Arrgh Hans!!"


Keduanya masih terus melakukan aktifitas menyehatkan jiwa dan raga mereka. Lenguhan panjang keduanya mengakhiri permainan panas mereka yang sudah berlangsung beberapa jam.


"I Love you Karennina..." Hanssel mengecup kening Nina.


Tubuh wanita itu ambruk di atas tubuh suaminya. Hanssel tidak berniat melepaskan miliknya. Dia sangat senang berlama-lama disana.


Nina mencoba beringsut turun dari tubuh suaminya. Kemudian memilih tidur dalam pangkuannya. Hanssel yang berniat masih ingin melanjutkan permainan terhenti dia melihat Nina terlelap dengan pulasnya. Hanssel mendekapnya erat.


"Aku sungguh takut sayaaang..."


"Aku sungguh takut kehilanganmu..."


Hanssel mengecup erat kening Nina, diah bahkan tengah menitikan air mata haru wanitanya baik-baik saja. Nina yang pura-pura tertidur mendengar apa yang di ucapkan Hanssel membuat hatinya sungguh bimbang. Dia berniat kembali pada jalannya seperti di awal dia meniti kariernya. Kemunculan perasaannya pada Hanssel sungguh diluar dugaannya.


✲✲✲✲✲✲