
^^^♪Tenggelam, jiwaku dalam angan^^^
^^^Tak kulihat lagi cahaya cinta^^^
^^^Dan kamu hadir coba bawa bahagia^^^
^^^Ketika ku masih mati rasa...^^^
Rangga melepaskan tautannya, jantungnya berpacu dengan cepatnya, dia menelan salivanya berulang kali, kini dia tertegun melihat tubuh Yvone yang masih terbujur kaku tanpa dia inginkan air matanya terjun bebas saat ini.
Sakit rasanya, mendapati orang dia sayangi dalam keadaan terganggu kejiwaan dan kesehatannya.
Apa ini yang dimaksud Karen, senjata biologis yang di gunakan untuk menghancurkan manusia demi uang atau kepuasan?
"Kak..." Lirih Yvone.
Mata Rangga seketika terbelalak, dia juga membatu.
"Kak?!" Yvone mencoba untuk bangkit dari tidurnya.
"Ko bengong?!"
Rangga seketika merangkul tubuh Yvone dengan eratnya, dia begitu bahagia gadis otu tersadar dengan cepat. Akhirnya dia meyakini bahwa memberikan nafas kehidupan juga merupakan suatu therapi tersembunyi agar wanitanya kembali tersadar.
Yvone yang tidak tahu apa-apa sungguh merasa terharu, dia merangkul balik tubuh pria yang membuatnya jatuh cinta. Wangi musk yang lembut telah memudar namun masih bisa dia hirup dalam indra penciumannya membuat dia merasakan hatinya damai seketika.
Apa ini artinya perasaanku terbalaskan?
Yvone mengembangkan senyumannya, dia merasa sangat beruntung. Rangga melonggarkan pelukannya dia menangkupkan satu tangan di wajah Yvone tanpa permisi dia mencium kembali bibir wanitanya.
Mata Yvone semakin terbelalak, terkejut atas kenyataan yang dia dapati jauh melebihi ekspektasinya. Beruntungnya Rangga telah lebih dulu belajar dengan Karen. Bagaimana dia menyesap bibir atas dan bawah kekasihnya lembut, sesekali Rangga menyesap kuat lidah Yvone membuat wanita itu kewalahan dna kehabisan nafas!
"Hah!!"
"Hah!!"
Yvone mendorong tubuh Rangga, dia butuh udara yang banyak untuk supply kehidupannya.
"Sorry..." Lirih Rangga masih membelai wajah cantik Yvone.
"Maksud kakak apa menciumku?!" Wajah Yvone menunduk malu dengan suara lirih dan menggenggam ujung selimutnya.
Rangga mengulumkan senyumnya, dia menarik kedua tangan Yvone dan menciumnya.
"Apa kamu mengijinkan aku bertahta di hatimu?!"
"Karena aku sudah mengijinkan kamu bertahta di hati ku..."
DEEEG!!!!
Tanpa waktu lama, air mata Yvone terjatuh begitu saja.
"Apa aku sedang bermimpi?!"
"Tidak..."
"Mengapa kakak bisa menyambut perasaanku?!"
Rangga duduk di samping Yvone, dalam satu ranjang rumah sakit mereka berhadapan. Rangga menatap lekat gadisnya.
"Mungkin terkadang kita tidak menyadari kapan cinta menyapa."
"Mungkin juga aku sudah memberikanmu ruang lebih awal sebelum aku menyadari bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu!"
"Kamu membuat aku mengerti bahwa menyadari perasaan kita datang dari ketakutan akan kehilangan."
"Aku sungguh takut jika aku benar-benar kehilangan mu!"
Yvone sudah membanjiri wajahnya dengan air matanya. Dia sudah tidak bisa lagi mengungkapkan rasa syukurnya pada tuhannya. Kebaikan apa yang telah dia lakukan sampai tuhan memberikan malaikat tanpa sayap seperti Rangga.
Yvone memeluk Rangga dengan eratnya, dia tidak ingin pria itu beranjak dari dirinya walau sejengkal saja.
"Aku sangat malu pada tuhan ku!"
"Sejatinya Dia memberikan aku kesempatan merasakan anugerah cinta dari seseorang sebaik kakak di hidupku saat ini."
"Aku sangaat sangaaat beruntung!!"
"Aku berjanji, seumur hidup ku akan selalu menjaga rasa ini selalu untuk mu!"
"Di saat aku mungkin kembali melupa aku hanya berharap hanya kamu satu-satunya hal yang tidak bisa aku lupakan di hidup ini!!"
"Aku tidak membutuhkan apapun lagi di dunia ini!"
"Hanya berada di samping kakak, hidupku sudah sangat sempurna!"
Rangga sudah tidak memiliki kata untuk dia berikan pada Yvone, namun dia juga berjanji dalam relung jiwanya selama sisa hidupnya dia akan menemani dia dalam keadaan baik atau buruk.
Aku bersumpah aku akan bekerja keras mencari kebenaran dan keadilan untukmu Yvone. Kamu tenang saja, aku akan selalu menjagamu dan tidak akan pernah melepaskan ikatan kita mulai hari ini.
***
Seminggu kemudian, Laboratorium Emperor Pulau B.
Hari yang di tunggu Keenan tiba, dia pikir setelah ini tugasnya selesai. Namun dia sendiri sangat gelisah. Selama ini dia tidak pernah bertemu dengan nyonya besar atau istri dati tuannya.
Menurut informasi yang dia dapat Liliana Tan merupakan anak dari pengusaha Bo Ang Tan dan menjadi ahli waris terakhir keluarga Tan. Tidak banyak yang bisa mengupas tuntas tentang keluarga bangsawan murni di Negara itu.
Hanya setelah menikah dengan tuan Wira dia melepaskan kebangsawanannya dan mengikuti suaminya.
"Menurut infonya juga nyonya jauh lebih kejam dari tuan."
"Aku benar-benar harus extra hati-hati dan tisak gegabah dalam melangkah."
Dengan peralatan canggihnya dia memastikan semua kamera pengawas yang dia buat transparan tidak meninggalkan sinyal yang mencurigakan. Baru kali ini dia merasa sangat gugup. Misi ini adalah yang paling mudah jika dibanding harus kembali melawan antek tuan Wijaya yang selalu menggunakan senjata.
Tapi resiko yang di bebankan padanya saat ini justru lebih berbahaya dibanding saat menjalankan misi di lapangan. Saat misi ini gagal dalam mendapatkan informasi atau keberadaannya di ketahui oleh nyonya besar, saat itu juga dia sudah tidak memiliki kesempatan melanjutkan hidupnya.
Pagi ini karena nyonya besar dan beberapa orang penting akan berkunjung ke laboratorium maka seluruh janjaran pegawai kelas bawah di wajibkan berada di dormitori mereka. Suatu keberuntungan sejujurnya bagi Keenan hanya saja akan lebih puas saat dia bisa memastikan dengan mata kepala sendiri. Dia sudah mulai menyebar beberapa robot Laba-laba miliknya. Memposisikan dengan sudut yang tepat dan terhindar dari kecurigaan. Walau sudah dalam. ode tak kasay mata tapi baginyang bisa merasakan gelombang magnetik akan bisa menyadari bahwa mereka telah di awasi sehinggi mereka tidak lagi bergerak bebas. Salah satu hal yang akan menggagalkan misinya.
"Selamat pagi nyonya besar!" Seluruh staff dan pengawal tunduk menyambut tuan mereka.
"Hm.." Dengan wajah dinginnya nyonya Tan di dampingi seorang pria yang terlihat masih muda melewati beberapa pengawal di depan dan CEO Emperor atau keponakan satu-satunya menyambutnya.
"Tante!" Bo Qi menundukan tubuhnya.
Nyonya Tan merangkul keponakannya dengan hangat. Pria muda itu berhenti tepat di belakang nyonya Tan.
"Bo Qi tante kenalin kamu..."
"Tapi sepertinya kamu sudah kenal bukan?!"
"Iya tan..." Bo Qi tersenyum tipis sembari menjulurkan tangannya.
"Senang bisa bertemu dengan satu-satunya pewaris Huateng Group!"
Deg!
Keenan membuka matanya lebar, dia juga mengenal siapa pria muda yang di bawa Nyonya Tan.
"Bagaimana mungkin?!"
"Apa maksud semua ini?!"
Keenan terus fokus pada perbincangan mereka.
"Mohon kerja samanya!" Pria itu dengan ramah menyambut uluran tangan Bo Qi.
Mereka akhirnya bergerak menuju laboratorium yang sudah mulai beroperasi. Tanpa basa-basi owner mereka langsung bertanya pada intinya.
"Apa yang sedang kalian produksi?!"
✲✲✲✲✲✲
Note : Lirik lagu Mahalini - Kisah Sempurna.