Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 74 - VIP



Setelah semua prosesi selesai bunga bertaburan dimana-mana. Hanssel dan Karennina aungguh dalam keadaan batas maksimal kebahagian mereka.


"Siap semuanya..."


"Kita hitung dari sekarang!"


"Satu..."


"Dua..."


"Tiga!"


Nina melempar buket bunga ke belakang, beberapa orang wanita dan pria dari teman Hanssel dan Nina telah berebutan termasuk FARAH LEE!


Hup!


"Woow!!"


"Selamat nona muda yang mendapatkannya..."


"Sebentar lagi anda akan menyusul tuan Hanssel dan nona Karennina ke pelaminan!!"


Nina terbahak melihat reaksi Farah yang menampilkan wajah polis dan kebingungannya.


"Gue menang bunganya tapi siapa cowoknya?!!!"


Satu persatu acara telah selesai di lakukan, kini tiba pada acara berdansa bersama. Tuan Kaviandra menjulurkan tangannya pada Nina. Keduanya akan mengawali dansa bersama.


Diiringi alunan musik yang sesuai keduanya bergerak mengikuti irama.


"Papa sungguh bahagia melihatmu bahagia sayang!"


"Terima kasih pap..."


"Jika bukan karena papa terus mendukung aku."


"Mungkin aku tidak akan seperti sekarang!"


"Ingat Karen, walaupun kamu sudah menjadi istri Hanssel dan bagian dari keluarga Adamson namun kamu tetap putri kami tercinta!"


"Kediaman Kaviandra selalu... Selalu terbuka lebar untuk mu dan tentu cucu-cucu papa nantinya!!"


Nina memeluk erat ayahnya, semuanya terharu melihat betapa dekatnya hubungan keduanya. Kemudian Keenan mengajak Nina berdansa kali ini.


"Degil!" Keenan menjentikkan jemarinya di kening adik kesayangannya.


"Hisss!" Nina membalas dengan menghentakan kakinya kesal.


Keenan tertawa, tawanya mengalihkan semua dunia para wanita yang tebar pesona kearahnya. Hanya bersama adiknya dia akan menunjukan semua apa adanya Keenan.


"Congratulations!" Ujarnya kemudian mengambil lengan Nina dan mulai berdansa.


"Kakak memberiku hadiah apa?!"


"Suho!"


"Cih!" Nina memajukan bibirnya membuat Keenan gemas dan menutupnya dengan tangannya.


"Aarg!"


"Haha!"


"Apa Hanssel tau sikap bar-bar mu ini?!"


"Off course."


"Aku tidak pernah bersikap bermuka dua pada siapapun!"


"Dih muji diri sendiri!"


Nina menjulurkan lidahnya, Keenan mencium pipi adiknya. Hanssel menggigit jempolnya kuat. Walau dia tahu mereka adik dan kakak tapi semua itu membakar hatinya!


"Hahaha..."


"Kamu cemburu pada kakak iparmu?!"


Tuan Adamson tengah mengejek putranya.


"Papa juga sering cemburu padaku!!"


"Jadi papa tau sifatku menurun dari mana?!"


"Pintar sekali kamu!!"


Tuan Adamson mendadak kesal, nyonya Rossie terkekeh kemudian Hanssel mengajak ibunya berdansa.


"Sungguh menyenangkan mengusili suamimu!"


"Hah?!"


"Hanya melihat aku mencium pipi mu dia langsung mendekati mu!!"


Nina menoleh, terlihat Hanssel tengah berdansa dengan ibunya.


"Ppfft!" Nina menahan tawanya.


Nina dan Keenan memang troublemaker ahli membuat rusuh. Nina tak kalah mengusili kembali suaminya. Kedua tangannya di taruh di bahu kakaknya bersikap layaknya pasangan kemudian mencium pipi yang sangat dekat dengan sudut bibir kakaknya jika dalam sudut pandang tertentu mereka akan terlihat berciuman bibir.


SUDAH CUKUP!!!


"Ehmm...."


Hanssel berada di samping kedua kakak beradik itu. Seluruh keluarga yang menyaksikan terbahak bersama. Bagi keluarga Kaviandra mereka sudah memahami kedua anak mereka.


"Kenapa?!" Keenan menatap dingin ke arah Hanssel. Hanssel menjadi salah tingkah.


"Kamu sudah berjanji menjaga adik ku sepenuh jiwa dan nyawamu!"


"Aku sudah mencatatnya!"


"Kakak tidak perlu khawatir..."


"Aku tidak pernah mengingkari janjiku!!"


Keenan menyunggingkan senyumnya menyerahkan tangan adiknya sepenuhnya. Nina tertawa lirih, kecemburuan suaminya memang tidak ada duanya.


Hanssel menatap istrinya namun saat akan berdansa Rangga mendekati keduanya.


"Pemeran utama tuh muncul belakangan!!"


"OH COME ON!!"


"Hahaha!!"


Nina menyambut Rangga lebih dulu, Hanssel sungguh kesal, namun dengan segera Nyonya Lyn menghampirinya.


"Sini sama mama dulu!"


"Memang pada dasarnya pemeran utama tuh bakalan di belakang dan waktu yang paling utama!"


Hanssel menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kekehan kakunya. Dia menyambut ibu mertuanya dan kembali berdansa.


"Hei, Beautiful girl!" Rangga melebarkan senyumnya.


"Wherever you are!" Nina menjawab dengan bersenandung.


"Malah nyanyi!!"


Nina kembali terkekeh namun segera menatap Rangga dengan tulus dan berkata lirih "Terima kasih..."


Rangga mengubah air mukanya dengan cepat.


"You're welcome."


"Asalkan kamu bahagia aku ikut bahagia Karen..."


Nina merangkul Rangga, dia merasa beruntung di cintai tanpa batas oleh sahabatnya. Walau berulang kali dirinya menyakiti pria itu. Tatapan Hanssel memang tidak bisa lepas dari keduanya.


Rasa kurang nyaman menguar di dalam dada Hanssel. Bukan karena cemburu, melainkan perasaan tidak enak karena dia mengingkari sumpah serapahnya tempo hari saat mengatakan akan membuat wanita yang menyakiti sahabatnya menyesal. Nyatanya wanita itu adalah istrinya sendiri.


Cinta itu sulit di terka dia seperti angin, tidak berwujud tanpa bisa di lihat oleh mata namun bisa di rasa. Aku tidak menyangka bahwa aku sudah jatuh dalam cinta seorang Karennina.


Hanssel kembali menundukan wajahnya sendu.


"Terkadang hidup memang tidak bisa kita prediksi 100% sesuai apa yang kita inginkan."


"Namun, dalam hal cinta sejauh apa kita para wanita berkelana namun mereka bisa dengan radarnya menemukan dimana tulang rusuknya berada."


Hanssel mengulumkan senyumnya tersipu malu.


"Betapa beruntungnya aku ma!"


"Keberuntungan tidak datang sendirinya sayang!!"


"Nih aku balikin bini lo!"


"Ga usah cengeng!!"


"Errr!!"


"HAHAHA!"


Nyonya Lyn, Nina dan Rangga menertawakan Hanssel.


Tiba saatnya Nina dan Hanssel melakukan dansa mereka berdua. Yup, hanya ada mereka berdua saat ini. Semua lampu di matikan hanya ada lampu sorot yang menyinari mereka berdua.


Dentingan suara piano mulai mengiringi keduanya. Lagu yang langsung di pilih oleh Nina.


^^^Heart beats fast^^^


^^^Jantungku berdebar kencang^^^


^^^Colors and promises^^^


^^^Warna-warni dan janji-janji^^^


^^^How to be brave^^^


^^^Bagaimana agar berani^^^


^^^How can I love when I'm afraid to fall?^^^


^^^Bagaimana bisa aku cinta saat aku takut jatuh?^^^


^^^But watching you stand alone^^^


^^^Namun melihatmu sendirian^^^


^^^All of my doubt suddenly goes away somehow^^^


^^^Segala bimbangku mendadak hilang^^^


^^^One step closer^^^


^^^Selangkah lebih dekat^^^


^^^I have died every day waiting for you^^^


^^^Tiap hari aku telah mati karena menantimu^^^


^^^Darling don't be afraid^^^


^^^Kasih, janganlah takut^^^


^^^I have loved you for a thousand years^^^


^^^Aku telah mencintaimu ribuan tahun^^^


^^^I'll love you for a thousand more^^^


^^^Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi^^^


^^^Time stands still^^^


^^^Waktu berhenti berputar^^^


^^^Beauty in all she is^^^


^^^Segala tentangnya begitu indah^^^


^^^I will be brave^^^


^^^Aku akan berani^^^


^^^I will not let anything take away^^^


^^^Takkan kubiarkan segalanya berlalu begitu saja^^^


^^^What's standing in front of me^^^


^^^Apa yang menghalangi di depanku^^^


^^^Every breath^^^


^^^Tiap tarikan napas^^^


^^^Every hour has come to this^^^


^^^Tiap jam telah sampai di sini^^^


^^^One step closer^^^


^^^Selangkah lebih dekat^^^


^^^And all along I believed I would find you^^^


^^^Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu^^^


^^^Time has brought your heart to me^^^


^^^Waktu telah membawa hatimu padaku^^^


^^^I have loved you for a thousand years^^^


^^^Aku telah mencintaimu ribuan tahun^^^


^^^I'll love you for a thousand more^^^


^^^Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi^^^


^^^One step closer^^^


^^^Selangkah lebih dekat^^^


^^^One step closer^^^


^^^Selangkah lebih dekat^^^


^^^And all along I believed I would find you^^^


^^^Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu^^^


^^^Time has brought your heart to me^^^


^^^Waktu tlah membawa hatimu padaku^^^


^^^I have loved you for a thousand years^^^


^^^Aku tlah mencintaimu ribuan tahun^^^


^^^I'll love you for a thousand more^^^


^^^Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi^^^


Hanssel mencium bibir istrinya mesra di hadapan banyak pasang mata. Perasaan keduanya membuncah saat ini. Beberapa wartawan tengah merekam dan memotret semuanya bahkan tak jarang beberapa tamu mengabadikan dan menjadikannya story di media sosial mereka.


Namun di salah satu sisi lain di tempat yang sama Farah tengah mengantar keponakannya Jimmy mengambil beberapa kudapan bahkan makanan berat.


"Onty aku mau jus!"


"Siap jendral!!"


Farah memang menyukai anak kecil, dia sendiri memiliki adik yang masih kecil. Dia dan Jimmy sangat kompak, Farah segera menuju stand minuman namun saat berbalik badan.


Bruuuk!


"Ups... Maaf tuan saya tidak se...."


"Mampus g u e!"


Farah membulatkan matanya hingga akan keluar setelahmenatap orang yang dia senggol. Lubang mana lubang!! Gue mening deketin Raja Ming duluan aja!!!


"f a r a h"


"l e e!"


Dengan nada rendah namun ditekan dengan aura dingin khas pembunuh profesional membuat Farah tidak punya pilihan.


"Aku minta maaf kak..."


"Aku tidak sengaja!!"


Farah menunjukan muka menyedihkannya, menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya dan menunduk berulang-ulang. Dia berencana bersiap beringsut mundur dan seperti biasa melarikan diri adalah jalan ninjanya.


✲✲✲✲✲✲