
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?!"
Hanssel mendekati Nina dan merangkulnya segera. Dia sungguh merindukan istrinya. Hampir 3 hari dia tidak menjamahnya.
Hanya anggukan yang bisa Nina lontarkan saat ini. Namun tidak lama kemudian Keenan mendekat dan memisahkannya.
"Urusan kita sudah selesai!"
"Kamu masuk mobil sekarang!!"
Titah Keenan membuncah perasaan kedua sejoli itu. Nyonya Rossie mendekati mereka.
"Hanssel!!"
Hanssel melepaskan pelukannya, Nina menundukan wajahnya dia beringsut mundur menuju ke tempat kakaknya berada. Namun Hanssel tidak mengijinkannya. Dia menarik tangan Nina. Pandangan Nina menatapa manik mata indah suaminya. Bibirnya bergetar, kedua netranya berembun.
"Anda tidak berhak memaksa Karennina!"
"Dia istri sah saya!!"
"APAAAA?!"
Nyonya Rossie dan beberapa tamu undangan yang masih setia di ruangan itu syok mendengar apa yang di ucapkan Hanssel dengan lantangnya. Nina sudah meneteskan air matanya.
"Hanya perkataan seperti itu kamu sudah menjatuhkan air mata mu KARENNINA!"
"SAM BAWA NINA MASUK MOBIL SEKARANG!!"
"Baik tuan!!"
Nina tidak bergeming sama sekali, bibirnya kelu, tubuhnya juga seperti tidak memiliki tenaga. Padahal sebelumnya dia dengan sukses melakukan aksi heroik menjerat penjahat.
Hanssel menarik keras Nina kebelakang tubuhnya. Dia tidak akan mengijinkan siapapun membawa istrinya. Susah payah dia berusaha membuat Nina kembali ke sisinya setelah sebelumnya menghilang begitu saja.
"Kamu jangan kurang ajar tuan K!!"
"Selamanya Nina tidak akan anda dapatkan."
"Jika perlu pembatalan proyek aku tidak masalah!"
"Mulai saat ini kita tidak akan bekerja sama lagi!"
"Silahkan anda tarik kembali sejumlah investasi dan sumber daya dari Adamson."
"Jangan harap kamu bisa berebut Nina denganku!"
Hati Nina semakin kalut dengan ucapan suaminya, dia benar-benar bersyukur Hanssel sungguh mencintainya. Nina menggigit erat bibir bawahnya.
"HAHAHA!!"
Prok... Prok... Prok...
Keenan bertepuk tangan atas keteguhan hati Hanssel. Namun semua itu belum bisa membuktikan apa-apa.
"Kamu mungkin benar mencintai Nina, tapi apakah wanita mu demikian?!"
DEG!!!
Hati Hanssel merasa terhimpit benda keras yang terus meremasnya kencang. Hal yang paling di takutinya di dunia ini adalah cintanya bertepuk sebelah tangan. Hanssel semakin mengencangkan genggam tangannya. Dia percaya Nina mencintainya. Dia yakin itu!
"Karennina, bukan kah kamu sudah memilib keputusan akhirmu sebelumnya?!"
Keenan menatap tajam pada adiknya, Nina tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Ingin rasanya dia memutar waktu dan....
Maafkan aku Hanssel, aku yakin kamu pasti akan menang.
Nak, kita doakan papa mu berhasil!
Nina melonggarkan genggaman tangan Hanssel. Dia berpindah tempat dengan sendirinya. Nina memilih berada di samping tuan K yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
Hanssel membulatkan matanya, dia kembali merasa sakit hati atas perlakuan istrinya kali ini. Setelah apa yang sudah Hanssel lakukan demi wanitanya.
Keenan menyunggingkan senyumnya dan menyeringai. Tertawa mengejek ke arah Hanssel, semua dia lakukan untuk menguji mental calon adik iparnya itu!
Beberapa orang masih sibuk berbisik membicarakan mereka. Nyonya Rossie tidak tahan untuk tidak okut berkomentar.
"Kamu sangat lancang Nina!!"
"Kamu kami perlakukan dengan baik selama kamu berada di Adamson!!"
"Seperti ini kah balasan mu HAH?!"
"MA!!!"
"Heh! Kamu bahkan berani menentang mama karena wanita tidak tahu malu ini!!!"
"Biarkan dia pergi..."
"Dia tidak pernah setara dengan mu Hanssel!!"
DEG!!
"MAMA!!"
"Berhenti ikut campur urusanku!"
Nina tertegun dan mengulumkan senyumnya setelah mendengar cacian Nyonya Rossie. Dia menatap Keenan dengan gesture tubuhnya meminta waktu sebentar baginya sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat ini. Keenan mendengus kesal, Nina menahan tawanya dan berbalik badan mengucap salam perpisahan pada suaminya.
Nina menghentikan pertikaian Hanssel dan ibunya.
"Terima kasih nyonya sudah mempercayakan Adamson padaku selama 2 tahun terakhir ini."
"Saya pamit!"
"KARENNINA!!"
"Aku tidak mengijinkanmu pergi!!"
Hanssel kembali mencengkram pergelangan tangan istrinya tidak akan membiarkan Nina pergi. Jika harus memaksanya bahkan dia akan melakukan apapun caranya walau mungkin Nina tidak menyukainya dia akan tetap lakukan. Selama Nina berada di sampingnya dia tidak perduli jika harus memaksa pada akhirnya.
Nina mendekat pada tubuh Hanssel dan berbisik di samping telinganya.
"Fighting papa Hanssel!"
"Aku yakin kamu bisa melewati semuanya dan akan kembali membawaku serta Jimmy dan bayi kita kembali bersama..."
"Saranghaeyo!"
Nina tersenyum geli bahkan menahan tawanya, saat ini Hanssel dalam mode Freeze terlebih saat Nina mengatakan BAYI KITA!
Nina membalikan badan dan meninggalkan ruangan dengan segera. Keenan kesal tidak tahu apa yang Nina ucapkan pada prianya yang saat ini masih termangu seperti pria bodoh.
"Seperti ucapanmu aku akan menarik kembali sejumlah dana investasi KTech yang akan di sumbangkan."
"Dan proyek pengembangan kantor cabang KTech dengan ini resmi di cabut!"
"TUNGGU TUAN K!!"
"Kita bisa mendiskusikannya kembali!!"
"Bukankah Nina sudah kembali kesisi anda."
"Bukankah yan anda inginkan menumar Nina saja?!"
Nyonya Rossie tidak ingin kehilangan ladang emas miliknya. Keenan menyeringai mengetahui bahwa keluarga Adamson benar-benar menggilai harta dan tahta.
Hanssel kembali tersadar, sejujurnya perasaannya tengah campur aduk saat ini. Di tengah kekecewaannya pada Nina yang memilih mengikuti tuan K di banding dirinya yang merupakan seorang suami, dia juga tengah merasa bahagia. Mengetahui bahwa Karennina tengah mengandung anaknya.
Hanssel tidak ingin gegabah saat ini, dia tengah menelaah perkataan Nina barusan. Sepertinya itu bukan pesan perpisahan tapi suatu pesan baginya.
Fighting?!
Nina menginginkan aku semangat bertarung dengan siapa? Dengan Tuan K?
Membawanya kembali bersama?
Berarti aku harus mengeluarkan mereka dari tuan K!!
Dengan begitu aku dan Nina... Kami akan kembali bersama!!
Ya benar, Nina percaya padaku. Dia menginginkan aku berusaha memenangkan apapun itu aku tidak tahu!!
"Tuan K, siapa anda?!"
"Dan apa hubungan mu dengan Nina?!"
Hanssel bertanya serius pada tuan K.
"Haha"
"Akhirnya kamu bertanya juga siapa aku dimata Karennina?!"
"Kalian dengar baik-baik..."
Hanssel menelan salivanya entah mengapa suhu di ruangan mendadak turun drastis, dia sungguh sangat gelisah. Begitu pula dengan Nyonya Rossie dia seperti mendapat firasat buruk saat ini.
Keenan mendekati keduanya, kemudian dengan bangga dia memperkenalkan keluarganya. Ini adalah yang pertama kalinya Kaviandra mempublikasikan mereka di mata publik.
"Dengarkan semuanya, Karennina Kaviandra adalah adik kesayanganku satu-satunya!"
"Dia adalah bagian dari keluarga Kaviandra pengusung KTech. Slaah satu perusahan terbesar ketiga di Negara S!"
"Dan aku sendiri merupakan pewaris utama Kaviandra."
"KEENAN KAVIANDRA!!"
JEDEEEEER!
Nyonya Rossie membuka mata dan mulutnya lebar, dadanya sesak kemudian dia pingsan seketika.
"MAMAAA!"
Hanssel menopang tubuh ibunya agar tidak terjerembab di lantai. Dia segera memanggil asisten pribadi ibunya dan segera membawa ibunya.
"HAHAHAHAHAHA!!"
"Aku yakin ibu mu tengah syok saat tahu siapa Karennina yang dia olok-olok barusan?!"
"Menyesal HAH?!"
"It's too late!!"
Keenan masih tertawa lirih, kemudian dia kembali mengganti air mukanya serius kembali. Hanssel berdiri kembali menatap kakak iparnya. Sepertinya dia akan mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk membawa kembali istrinya.
"Kau tahu, 2 tahun yang lalu saat Nina depresi aku yang membuatnya kembali bangkit."
"Aku yang menyuruhnya masuk di Adamson Group."
Keenan menatap tajam ke arah Hanssel, Hanssel masih menyimak dengan baik tanpa bergeming sedikitpun. Rangga dan yang lainnya telah di persilahkan keluar oleh anak buah Kaviandra. Keduanya akan berbincang secara serius kali ini.
✲✲✲✲✲✲