
...═════════•°•⚠ WARNING ⚠•°•═════════...
[ Mohon maaf bab ini mengandung kekerasan dan adegan twenty one plus! Bocil skip!!! ]
...═════════•°•⚠•°•═════════...
Dengan menggerutu kesal Farah menyanggupi permintaan Karennina.
"Siapa suruh dia bos gue!! Huhu"
Farah Lee bergegas menuju Hotel Emperor yang lumayan jauh dari apartemennya. Sesampainya disana seperti arahan Nina dia memasuki aula penjamuan di sebuah ballroom. Dia mengisi buku hadir dan memilih tempat duduk.
Dia melirik kiri dan kanan, dia tidak mengenali orang-orang yang berada disana. Dia mendengus kesal dan memilih duduk di bangku paling belakang dengan tujuan bisa pulang lebih awal. Jam telah menunjukan pukul 8 malam acara pun di mulai.
Farah tidak memperhatikan dengan seksama lagi, bahkan pembahasan mereka saja tidak ada yang masuk di kepalanya. Namun dia merekam semuanya di alat khusus merekam sama seperti dia melakukan rapat.
"Aku tidak melihat si degil hadir!!"
"Maaf tuan sepertinya Nona muda memang tidak hadir."
"Haiss!!"
"Kayak gitu performanya sok-sokan minta jadi CEO perusahaan ternama!!"
"Mungkin karena besok tuan Hanssel sudah mulai meninggalkan indo tuan."
"Cih!"
"Itulah alasannya kita tidak membutuhkan cinta!"
"BEBAN!!"
Kemudian Keenan kembali memperhatikan jalannya sambutan acara. Tiba-tiba di tengah acara salah satu anak buahnya mendekat dan memberikan informasi.
"Sam, kamu pergi cek situasi disana!"
"Baik tuan..."
"Bagaimana dengan anda?!"
"Kau tidak perlu khawatir."
"Baik tuan, jaga diri anda menurut info yang baru saja saya terima tuan Wijaya sudah bergerak. Dia pasti telah menyisipkan beberapa anak buahnya disini."
"Kau berhati-hatilah, Wijaya sangat licik dan kekuatan anak buahnya setara dengan kita!"
Sam mengerti dan pergi dari hadapan tuannya menyelesaikan tugasnya.
Semua prosesi pembukaan dan pembahasan bisnis telah selesai, para tamu undangan di bebaskan untuk membaur satu dengan lain. Menikmati kudapan yang tersedia di samping meja mereka. Farah telah dulu memakan beberapa macam makanan berat dan dessert.
"Diantara kesialan selalu ada keberuntungan."
"Perbaikan gizi ga melulu ke kondangan!!"
Farah merasa senang dengan banyaknya makanan yang di hidangkan, dia seolah berada di surganya dunia. Sampai-sampai dia lupa diri.
"Malesin nih perut gue nih ga bisa banget nahan ampe pagi gitu biar gue ga laper lagi!!"
"Rugi amat abis makan dah minta di buang lagi!!!"
Farah mendengus dan keluar menuju toilet yang berada di luar kawasan aula penjamuan.
Keenan tengah berdiskusi dengan beberapa rekan bisnis, termasuk tuan Ron. Dia lengah saat ini, dia tidak menyangka bahwa minuman yang dia taruh di meja telah di tukar seseorang.
Keenan merasakan tubuhnya berekasi berlebihan dari biasanya. Keenan menyadarinya, dia merasa darahnya mendidih saat ini.
"Tuan semua saya pamit lebih dulu..."
"Saya ada urusan sebentar!"
"Duh iri banget sama anak muda satu ini."
"Bagi dia time is money!!"
Keenan tersenyum dingin dan pamit undur diri. Keenan menyadari dirinya tengah di ikuti. Dia mengeluarkan pistol untuk berjaga-jaga.
"Sialan!"
"Kapan mereka menukar minuman ku!!"
Dor!
Prang!
Sebuah tembakan mengenai lampu dinding hotel dan membuatnya pecah berhamburan.
Keenan mempercepat langkahnya dengan menekan dadanya yang dirasa sesak.
"Sial!!"
Keenan bersembunyi di lorong menuju area kamar tamu hotel. Dia mengaktifkan mode spy pada lensa kontak miliknya. Sistem yang akan membantunya mengintai dan memberitahu posisi musuh dan sudut ketepatan untuk menembak.
Dor!
Dor!
Dor!
Hanya satu kali tembakan sudah mengenai sasaran. Pada awalnya musuh yang bergerak hanya ada 3 orang kini mereka mendapatkan bala bantuan beberapa orang kembali mendekat ke arahnya. Dengan kondisi tubuh Keenan yang tidak siap bertarung dia mencari jalan keluar menggunakan EYES untuk bersembunyi terlebih dulu.
Dia juga menghantarkan pesan pada Sam agar membantunya.
Dor!
Seseorang tengah menembak ketempatnya. Keenan segera bergerak cepat, tubuhnya sudah semakin panas dan berkeringat.
"Obat apa yang mereka masukan di minumanku!!"
Keenan menghubungi Nina, namun sialnya ponsel adiknya itu sengaja di matikan.
SI DEGIL KURANG AJAR!!
SEKARANG YANG DIA TAU URUSAN RANJANG AJA!!!
Keenan merutuki kelakuan adiknya yang masih di mabuk cinta dengan suaminya.
Bruuuk!
Di ujung persimpangan Keenan menabrak seseorang.
"Ups... Maaf!"
"Kak Keenan?!"
"Faraaah?!"
MAMPUS GUE!! Eh tunggu...
"Kakak baik-baik saja?!"
"Menjauh dariku!!!"
"Arrgh!"
Keenan terjatuh menekan dadanya, harinya sungguh sial dia meninggalkan obat anti inflamasi di dalam mobilnya. Obat yang bisa menetralisir segala jenis racun.
"Kakaaaak!" Farah membantu kakak sepupunya bangkit.
Derap langkah beberapa orang semakin mendekati keberadaan mereka. Keenan menarik tangan Farah dan berlari menuju salah satu kamar tamu. Dengan menggunakan EYES dia bisa membuka akses pintu dengan mudah walau tanpa kunci.
Farah mulai ketakutan mulutnya di bekap oleh tangan Keenan. Dengan cepat Keenan kembali menutup pintu dan mengisyaratkan Farah untuk tidak bersuara.
Deg!!
Debar jantung Farah berdetak dengan kencangnya, antara ketakutan di situasi yang dia sendiri tidak mengetahui pasti baik atau buruk dan disisi lain ini pertama kalinya dia begitu dekat dengan kakak sepupunya. Bahkan dia bisa mencium telapak tangan pria yang disukainya itu.
PUJA KERANG AJAIB MILIK SPONGEBOB... IT'S THE BEST DAY EVER!!
Farah mengatupkan bibirnya erat, tubuhnya sedikit bergetar antara takut dan gelisah saking syoknya. Dia juga bisa mendengar nafas terengah dari pria yang tengah merangkulnya. Suasana begitu menegangkan. Derap langkah itu berhenti tepat di depan kamar mereka Keenan segera membawa Farah menjauh dari depan pintu masuk. Mereka kini berada di area lebih dalam dari kamar itu.
Dengan cepat dia mengeluarkan sesuatu dari jam tangannya. Benda kecil berupa robot berbentuk laba-laba kini dia lepaskan di lantai dan memprogramnya menggunakan EYES untuk mengetahui kondisi di luar. Robot laba-laba melintasi celah di bawah pintu, setelah keluar dia melintasi beberapa orang yang menghentikan langkahnya di depan kamar.
Keenan bisa melihat mereka dengan jelas lewat laba-laba miliknya yang tengah merangkak di dinding. Keenan juga membuatnya terlihat transparan.
"Terkunci!"
"Berikan aku alat peretas kode!"
Mata Keenan terbelalak saat mendengar percakapan mereka, dia harus berpikir cepat meninggalkan ruangan ini. Dia melihat jendela kamar. Mereka berada di lantai 5 hotel itu, sangat beresiko jika dia memaksa melompat. Dia sendiri tidak masalah, yang jadi masalah dia membawa beban!
Dor!!
"Gawat kita ketahun!"
"Mundur!!"
Dor!
Dor!
"Huh!" Keenan bisa bernafas lega, Sam telah datang dan mengejar komplotan penjahat.
Farah masih terpaku tidak bergerak tidak juga berbicara. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya berdiri hingga ujung pojok kamar. Beberapa suara tembakan menghempaskan sebagian jiwa Farah.
Keenan menarik kembali robot laba-laba miliknya. Dia menyenderkan tubuhnya di dinding pembatas.
"Arrgh!"
Perasaan menekan dan panas di dalam tubuh Keenan masih berlangsung.
"Kakak!!"
Farah memberanikan diri menghampiri kakak sepupunya. Farah membantu Keenan bangkit dan memapahnya menuju ranjang. Farah melirik kiri dan kanan mencari sesuatu yang biasanya tersedia di hotel besar.
Farah menyerahkan satu botol air mineral, dia pikir kakak sepupunya dalam kondisi tidak enak badan. Mata pria itu memerah saat ini bahkan tubuhnya sudah di penuhi keringat.
Glek... Glek... Glek...
Tanpa basa-basi Keenan menerima dan menenggak minuman yang di berikan oleh Farah.
"Sepertinya kakak butuh istirahat aku pamit lebih dulu!"
Bruuk!
Saat membalikan badannya Keenan menarik tangan Farah membuat gadis itu terjatuh tepat di hadapan wajah Keenan.
"Bagaimana bisa kamu ada disini hah?!"
"A.. A ku disuruh Karen mewakili Suho hadir dalam penjamuan."
Dengan terbata dan takut Farah menjelaskannya.
"Jadi si degil mengutusmu?!"
Keenan menelan salivanya, entah bagaimana darahnya kini mendesir hebat melihat tubuh indah gadis di depan matanya. Wajah Keenan semakin mendekati wajah Farah. Debaran jantung Farah semakin berdetak tidak karuan, deru nafas keduanya saling memburu.
Terlebih saat ini Keenan akan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.
"Sebelumnya kamu memiliki pilihan untuk tidak menolong dan menghampiriku."
"Tapi kamu memutuskan hal yang salah saat ini!"
"Jadi bantu aku!!"
Keenan menyadari panas dan melemah fungsi tubuhnya sepertinya berasal dari gabungan obat Afrodisiak dan obat lainnya yang bertujuan membangkitkan naluri dan hasrat se*ksual dirinya.
Keenan menarik tubuh Farah dan menyesap bibir mungilnya. Farah sepertinya menyadari bahwa dia dalam mode bahaya. Jika di banding harus menyerahkan dirinya begitu saja pada pria yang dia sukai dia lebih memilih menjaga kesuciannya untuk suami realnya kelak dan dia lebih memilih ingin melarikan diri saat ini juga.
"Mmmmm!!"
Farah berusaha berontak, dia tidak menginginkannya. Keenan menyesap bibir seksi gadis di dalam dekapannya. Namun itu tidak cukup dia menginginkan lebih!
Bruuk!!
Di hempasnya tubuh mungil Farah diatas ranjang.
"Aargh!"
Suara rintihan Farah justru membuat Keenan semakin gelap mata. Dia melempar jas dan membuka kancing-kancing kemejanya kemudian bergerak slow motion menghampiri tubuh Farah yang tengah menggeliat dan beringsut mundur.
"Jangaan kak..."
"Aku mohooon..."
Farah telah berderai air mata kali ini. Dirinya dilanda ketakutan luar biasa dia sudah sampai batas ujung ranjang besar ini. Dia menutup tubuh bagian depannya. Dia memakai dress yang sedikit membuka bagin depan tubuhnya tentu sangat menggoda bagi siapa saja yang melihatnya.
Keenan menyunggingkan senyumnya dia membuka ikat pinggangnya menarik kaki Farah hingga mendekati dirinya. Farah menjerit kencang. Farah berusaha mempertahankan dirinya terlebih harga diri dan kesuciannya.
Farah berontak sekuat tenaga namun apalah dayanya kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pembunuh berdarah dingin dihadapannya saat ini.
"Aku mohon kak..."
"Lepaskan akuuu!"
"Kakak bisa menggunakan wanita lain!"
"Kakak bisa...."
Plaaak!
Tubuh Keenan benar-benar tidak bisa dia kendalikan dengan pikiran bersihnya. Dia sudah dalam pengaruh obat sepenuhnya. Keenan menampar wajah Farah, gadis itu semakin ketakutan dan kembali terisak pilu.
"Aku sudah bilang!"
"Terlambat Farah!!"
"Sekarang kamu hanya bisa pasrah membantuku!!"
Keenan mengikat kedua tangan Farah dengan ikat pinggangnya di atas kepala gadis itu. Kakinya yang berontak telah di kunci oleh kedua paha Keenan. Air matanya terus mengalir dengan derasnya.
"Aku akan adukan kelakuan bejat kakak pada Karennina!"
Emosi Keenan memuncak, dia mencekik gadis itu dan hampir membunuhnya. Beruntung Keenan kembali melepaskannya.
"Aku tidak mungkin bercinta dengan seonggok mayat."
"Kau harus membantu dan memuaskanku FARAH LEE!"
"AAARGHH TIDAAAK!!"
SRAAAAAK!!
✲✲✲✲✲✲