
Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil milik Hanssel. Hanssel mulai melajukan dan menembus jalanan ibu kota.
"Loh ini kemana?!" Tanya Nina heran dengan jalur yang di ambil Hanssel yang bukan mengarah kerumahnya atau pun ke rumah bosnya.
Hanssel hanya menampilkan segaris senyumnya kemudian berbalik memastikan Jimmy tengah nyaman di belakang.
"CATATAN SIPIL?!" Pekik Nina tidak percaya.
"Mau apa kita kesini Hans?"
"Menikah tentu saja!"
"APAAAA?!"
"UNTUK APA?!"
"Untuk nidurin kamu terus!!" Umpat Hanssel kesal Nina sungguh bersikap bodoh saat ini.
"OGAH!!" Nina tidak menyetujui keputusan sepihak bosnya.
Buat apa dia daftarin pernikahan? Dia beneran mau nikahin aku? Impossible ga sih!!!
Nina masih teguh dengan pendiriannya sampai dia harus di gendong bak karung beras oleh Hanssel menuju bagian Administrasi yang sebelumnya memang telah di persiapkan oleh Farell jadi mereka datang hanya untuk berfoto dan tanda tangan.
"TANDA TANGAN SEKARANG JUGA!!" Paksa Hanssel.
"KAU TIDAK BERHAK MEMAKSAKU!! INI MELANGGAR HAM..."
"Dasar wanita bodoh!!"
"Dasar BABI!!"
"Apa kamu bilang?!"
Semua yang menonton pertikaian mereka seolah tengah menonton drama harap-harap cemas di layar kaca. Farell menghembuskan nafas kasar melihat keduanya seperti Tom and Jerry sepanjang waktu.
Akhirnya Hanssel menang keduanya telah mendapat akta pernikahan mereka. Secara negara mereka telah sah menjadi suami dan istri.
Nina menatap nanar sertifikat pernikahannya. Dia tidak percaya bosnya memintanya menjadi istri sahnya yang di sembunyikan dari publik tentu saja.
"Mengapa kamu lakukan semua ini?" Lirih Nina setelah mereka sampai di pelataran apartemen Piony tempat tinggalnya.
Nina menghubungi Nanny nya untuk membawa Jimny masuk ke dalam rumah. Sedangkan dia akan membahas perihal pernikahan yang baru saja terjadi di detik-detik jam pulang para karyawan catatan sipil.
"Nina, bisa kah kamu pintar sedikit perihal perasaan seseorang dan perasaanmu?"
"Apa semua sikapku padamu masih kurang nunjukin betapa aku cinta kamu!"
"No way!"
"Ini bukan cinta.. Kamu hanya tengah berhasrat... Kamu hanya sedang penasaran denganku!!"
"Tidak lebih tidak kurang..."
"Aku yakin setelah sebulan kita bersama kamu akan bosan denganku dan kamu akan kembali mencari mangsa baru!!"
Nina terus meyakinkan dirinya dan bahkan dia mencoba meyakinkan Hanssel yang di ucapkannya itu kebenaran.
"KARENNINA!!"
"Aku yang tahu pasti bagaimana perasaanku!!"
"Jika aku main-main aku tidak mungkin seserius ini!!"
"Untuk apa aku repot menikahi orang yang hanya akan aku jadikan mainan. Kamu paham ga sih?!"
"Sedari awal aku serius denganmu Nina..."
"Aku mencintaimu Nina... Berapa kali aku harus bilang..."
"Apa pengorbananku selama ini belum cukup membuka hatimu Nina!!"
"Hanssel please...."
"Orang tua mu tidak akan pernah merestui ku!!"
"Aku tidak peduli!!"
Nina menatap keluar jendela, dia menutup erat matanya dan buliran bening itu berjatuhan dengan sendirinya. Hanssel memberanikan diri menggenggam erat tangan Nina.
"Kita masuk temui Jimmy sekarang?"
"Aku papa sambungnya saat ini!"
"Terserahlah..."
Hanssel tersenyum gembira. Keduanya keluar dan menuju apartemen menemui Jimmy.
Nina kembali menyibukan dirinya dengan laptop miliknya. Dia mencari informasi tambahan untuk membalas keluarga Shin.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" Hanssel telah keluar dari kamar mandi dengan handuk setengah badannya.
"Aku mencari rumah baru... Aku tidak mungkin terus di apartemen ini?! Jimmy membutuhkan ruang terbuka..."
"Oh itu... Kamu bisa pindah ke salah satu rumahku di PIK."
"Besok Farell akan mencari jasa binatu merapikan barang-barangmu."
"Tidak!"
"Aku akan membeli rumahku sendiri..."
"Huh! Sulitnya memiliki wanita yang mandiri!"
Nina terkekeh "Tapi aku butuh bantuan untuk kamu carikan di PIK atau kawasan Sumerecon boleh deh..."
"Ok nanti aku suruh Farell mempersiapkannya."
"Terima kasih sayang..." Nina merangkul tubuh suaminya.
"Nih..." Nina menyerahkan beberapa lembar kertas yang terlihat seperti sebuah perjanjian.
"Surat Pra-Pernikahan."
"Okay aku akan tanda tangani."
"Kamu tidak membacanya dulu?" Nina heran bosnya sama sekali tidak mencurigai apapun.
"Aku percaya padamu, aku tidak masalah jika semua ini merugikanku... Asal kamu dan Jimmy senang aku pun senang."
"DEG!!!"
Nina sungguh tidak percaya dengan perubahan sikap Hanssel yang berubah 180 derajat.
"Hanssel..."
"Hmm..."
Hanssel tengah sibuk dengan laptop miliknya, dia juga sama tengah membawa pekerjaannya pulang pasalnya dia ikut tidak masuk kerja hari ini.
"Mengapa kamu memilih ku?"
"Entah!" Hanssel terdiam seolah tengah berpikir.
"Mungkin karena dulu kamu si itik buruk rupa yang kini jadi angsa putih mempesona!"
"Eh bukan!! Kamu nenek lampir yang selalu mengajak baku hantam!!"
"Apa lagi kalau di ranjang!!"
"B*NGSAT!!" Umpat Nina.
Hanssel terkekeh, sekertarisnya memang senang mengucap kata kasar padanya. Anehnya justru terdengar menyenangkan di telinga Hanssel. Catatan hanya berlaku jika Nina yang mengucapkannya. Jika orang lain mungkin tengah mengantarkan nyawa pada Raja Neraka.
Nina tertidur lebih dulu, Hanssel tengah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menghampiri istrinya menaikan selimut dan mengecup keningnya.
Tring.
Hanssel mendapati ponselnya mengeluarkan notifikasi pesan masuk.
[ Hans aku kembali ke indo minggu depan... See you next week, I miss you so badly!! ]
Dua bola mata Hanssel membulat dia tidak percaya pesan yang sedang dia baca. Kini dia menatap Nina yang sudah tertidur pulas.
"Huh! I'm sorry..."
***
Siang ini Nina meminta ijin pada bosnya untuk menghadiri sidang pengalihan hak asuhnya kembali dengan Erick.
Nina sangat senang akhirnya Erick menepati janjinya untuk tidak mempersulit dan menyerahkan langsung hak asuk penuh pada Nina dengan persyaratan mereka masih bisa bertemu dalam sebulan minimal 2x demi kepentingan tumbuh kembang buah hati mereka.
Nina tidak mengajukan naik banding pasalnya dia tidak ingin memperpanjang masa sidang yang sangat menyita waktunya. Sudah bersyukur Erick mau di ajak bekerja sama dan memberikan hak penuh Nina membawa Jimmy keluar dari keluarga Shin.
Hari ini terlihat Soraya menemani suaminya dengan riasan yang too much membuatnya jadi sorotan banyak pihak. Rangga sampai harus menahan tawanya karena merasa Erick seperti tengah kena sirep oleh nenek lampir sesungguhnya.
"Setelah membuang berlian dia mendapat kayu arang!!" Ejek Rangga.
"Hussh!" Nina ikut menahan tawanya sejujurnya. Hanya dia menunjukan sikap coolnya saat ini.
Setelah persidangan selesai mereka semua keluar dari ruangan sidang. Soraya tengah menghalangi jalan Nina dan kuasa hukumnya.
"Denger ya Karen, karena Jimmy telah putus hubungan dengan keluarga Shin maka dari itu keluarga Shin tidak akan bertanggung jawab mengenai financial dia kelak!"
"Termasuk biaya pendidikannya!!"
"SORAYAA!!"
Erick Shin membentak kembali istri barunya, Soraya semakin kesal dibuatnya dia mengira semua ini karena Nina!!
Pasti karena cewek ini terlihat cantik kembali!!
"Karen dia tetap anakku... Aku..."
"Tidak perlu!! Aku yang akan menanggung semuanya!!"
"Kau tahu sendiri aku dan keluarga besarku sangat mampu hanya sekedar menyekolahkan. Bahkan aku bisa memberikan nya sekolah terbaik bahkan aku sudah mempersiapkan sampai dia S3!"
"Jangan sok jadi orang!!"
"Udah di usir dan di coret dari keluarga besar aja masih sombong!!"
"Kalo aku jadi kamu aku tidak akan berlagak sultan kayak kamu!!"
PLAAAAK!
Satu tamparan keras Nina layangkan pada wanita ular di depannya. Sejujurnya dia ingin melakukannya sedari dulu namun selalu dia tahan demi bisa keluar dari jeratan keluarga Shin yang terus menyiksanya.
"KAU J*LANG!!"
Nina menahan tangan Soraya dan mencengkramnya erat.
"J*LANG teriak J*LANG!!"
"Apa perlu aku berikan kamu kaca berukuran jumbo!!"
"Kamu wanita parasit tidak berguna... Tunggu saja karma sedang mendatangi anda!!"
"Disaat itu dengan senang hati aku akan menonton sambil. memakan popcorn!!"
Rangga menahan tawanya, melihat ekspresi Soraya yang mulai takut oleh gertakan Nina.
"Aawhh!" Rintih Soraya.
Nina melepaskan kasar genggaman tangannya kemudian meninggalkan mereka tanpa perlu berkata panjang kali lebar lagi. Erick seolah tengah tersihir dengan sikap berani Nina saat ini.
Mengapa aku kembali terpesona dengan aura Karennina saat ini? Aku benar-benar bodoh!!
Erick mengepalkan kedua tangannya dia beranjak meninggalkan Soraya yang tengah menggerutu kesal atas sikap kurang ajar Nina padanya barusan.
✲✲✲✲✲✲