Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 114 - Let your inner out!



Hanssel mengerjapkan kedua netranya, energi kehidupannya sudah terisi penuh dengan sentuhan wanitanya. Hanssel melebarkan senyumnya bahagia, namun seketika dia kembali terperanjat dan kecewa. Dia tidak menemukan istrinya di sampingnya.


"Sayaaang..."


"Mengapa hatimu sungguh sekeras batu!"


Hanssel membersihkan badannya yang lengket karena peluh dan ****** ***** yang pagi tadi di hasilkan mereka berdua. Hanssel bergegas keluar kamar, berharap bisa menemukan istrinya.


"Sayaaang..." Panggil Hanssel sedikit berteriak.


"Papaaa!!"


Jimmy melompat ke arah ayahnya dengan bahagia, Hanssel menangkap putranya dan memutar tubuhnya beberapa kali putaran.


"Kamu sudah sarapan sayang?"


"Pah ini sudah siang, bukan lagi sarapan..."


"Bahkan sebentar lagi makan siang."


"Papa lelah kah sampai baru keluar kamar?"


"Ibu bilang Jimmy jangan berisik papa masih tidur."


Hanssel hanya menunjukan gigi rapinya di hadapan putranya yang tengah mengoceh.


"Ibu dimana sayang?"


"Ibu tentu sudah pergi bekerja pah!"


Seketika kilatan petir berada di atas kepala Hanssel, Bahkan aksi di ranjang saja tidak cukup meluluhkan hatinya!


"Kalau gitu Jimmy main lagi ya, papa juga harus berangkat bekerja."


"Baik papa..."


Cup ~


Jimmy mencium pipi Hanssel, pria itu membalas menciumi tubuh putranya yang harum lembut semerbak memberikannya tambahan amunisi kebahagiaan hari ini. Walau sejujurnya istrinya masih membuat perkara mereka berlanjut sampai saat ini.


Hanssel menuju mobilnya, dia berniat menghubungi Nina namun saat melihat aplikasi chat terbuka dan melihat pesan terakhir dari Sarah membuat dia membulatkan matanya.


"Haissh!"


"Pantas saja dia kembali murka!!"


"Ingin rasanya aku resign saja dari XK, tapi kalo resign aku kena hukum gantung kakak ipar yang kejam..."


"Sungguh malang nasib ku..."


"Suami-suami yang lemah di hadapan istri dan kakak ipar sendiri."


Hanssel menyalakan mobilnya dengan perasaan enggan, bagaimana dia menjelaskan kembali pada istri bongkahan es batunya itu.


Di kantor Suho, Nina masih berkutat dengan aktifitasnya. Sampai suara seseorang yang dia kenal menghentikan semuanya.


"Apa ibu direktur memiliki waktu khusus untuk ku?"


Nina tersenyum ke arah Rangga.


"Silahkan duduk, Apa anda ingin berkonsultasi dengan ku??"


"Bukannya kebalik ya?!"


Rangga terkekeh dia segera berjalan duduk berhadapan dengan Nina.


Tuut!


"Ruby siapkan kopi dan kudapan untuk tuan Rangga."


"Baik nona..."


Tuut!


"Huh!"


"Mengapa kamu membuang nafas berat kayak gitu?" Pancing Nina.


"Aku langsung aja ya Karen, sebelum ada yang mengganggu perbincangan serius kita."


Seketika raut wajah Nina berubah, dia terdiam dengan tatapan tajam ke depan.


"Karen, mengenai Yvone."


Deg!


Debaran jantung Nina berpacu dengan cepatnya, perkataan Keenan kembali terdengar di telinganya mengatakan wanita itu telah mati.


"A pa yang kamu temukan?" Ujar Nina lirih.


"Apa pekerjaan kalian?"


DEG!!


Jantung yang masih tidak beraturan semakin dipacu dengan kecepatan dua kali lipat, membuat wajah Nina memerah gelisah.


"Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan padamu."


"Semua rahasia perusahaan."


"Aku tahu..." Hardik Rangga.


"Apa pantas kalian memperlakukan seorang gadis begitu kejam seperti itu?!"


Lemas sudah tubuh Nina mendengar setiap kata yang di lontarkan Rangga.


"Apa kamu menemui kakak ku di kediamannya?"


"Tidak!"


"......."


"Aku melihat anak buahnya mengendap menuju suatu tempat."


Nina tidak bergeming, dia terus menatap dengan tatapan bersalah pada Rangga.


"Mereka membuang sesuatu di tempat pembuangan akhir."


"Kau tahu itu apa?!"


DEGG!!


Nina terengah, dia mengatur jalur pernafasannya, dan dia juga mengontrol emosinya agar tidak membuat bayinya kembali terkejut.


"Kau sudah mengetahuinya Karen?" Rangga begitu kecewa melihat ekspresi Nina yang sudah sangat terbaca memiliki ketakutan dan kecemasan berlebih.


Rangga menundukan wajahnya, kemudian dia mengusapnya kasar.


"Kareen..." Lirih Rangga.


Tiba-tiba Nina menitikan air matanya, sampai Ruby mengetuk pintu dan menghidangkan kopi di hadapan Rangga Nina menyapu perlahan agar Ruby tidak mengira yang bukan-bukan.


"Ruby, jika ada tamu untuk ku hari ini seperti biasa aku tidak ada di ruangan."


"Baik bu..."


Setelah Ruby menutup pintu ruangannya, Nina menghirup dan mengeluarkan nafasnya perlahan.


"Aku tahu bahwa Yvone meninggal..."


"Aku minta maaf tidak bisa mencegahnya."


"Tapi kakak ku memastikan sepertinya Yvone lebih dulu meminum suatu racun yang telah di setting waktu kegunaannya."


"Saat dia akan di introgasi Yvone tiba-tiba sudah tidak bernyawa."


"Dia sungguh berani menggunakan aku sebagai senjata mengancam kakak ku."


"Sepertinya dunia bawah sudah sangat tahu aku adalah kelemahan terbesar kakak ku."


"Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang mengincar nyawanya."


"Dia dihargai jutaan dollar untuk nyawanya."


"Aku pikir kamu akan memahami jika kamu di posisi kakak ku."


Keduanya terdiam sejenak, Nina kembali menceritakan kejadian yang di alaminya.


"Di depan matanya, Yvone melempar vas keramik tepat kearahku."


"Walau berakhir mengenai kakak ku, aku tetap mengalami gejala keguguran."


"Hingga berakhir di rumah sakit karena pendarahan."


"Kamu tidak bisa serta merta menyalahkan kakak ku."


"Yvone lah yang memprovokasi kami bertindak jauh."


"Dia juga memberikan racun pada kopi yang dia buat untuk Keenan."


"Yang berakhir dia sendiri yang meminumnya."


Rangga memangku kepalanya dengan kedua tangannya. Dia merasa baru kali ini menemui kasus kejahatan serumit ini. Terlebih menyangkut keselamatan orang-orang yang dia kenal.


"Aku tahu, tugas mu mengusut kasus pembunuhan Yvone bukan?"


"Jika kamu ingin menempatkan kakak ku sebagai tersangka, aku sudah siap yang akan menjadi saksi yang akan membebaskannya."


DEG!


"Baik lah aku akan beberkan semuanya pak penyidik." Nina menyeringai ke arah Rangga yang masih dalam raut wajah tercengang.


"Aku dan Keenan dahulu adalah anggota mata-mata sebuah kelompok di jaringan hitam."


"Kami bergerak di garis kebenaran."


"Setidaknya itu yang kami tahu."


"Kami memerangi seorang musuh yang sangat berbahaya."


"Dia adalah pencetus obat-obatan terlarang yang di jadikan senjata biologis untuk di perjual belikan secara legal dan untuk melawan siapapun yang menghalangi jalannya."


Nina menghentikan penjelasannya, dia menghirup oksigen sebanyak yang dia mampu tampung dan mengeluarkannya perlahan.


"Kami sudah berperang kurang lebih satu dan memasuki dua tahun ini."


"Kami sudah sering terlibat aksi pertumpahan darah."


"Aku di bawa oleh kakak ku terjun di dunia itam ini bukan tanpa alasan."


"Aku membenci keluarga Shin, aku sendiri berjanji akan menyeret mereka ke Neraka paling dalam."


DEG!


Hari ini banyak hal yang tidak terduga yang Rangga baru ketahui.


"Jika kamu menjadi kakak ku, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama."


"Dia mendapati adik kesayangannya di buang seperti sampah di jalan dengan balutan luka."


"Tidak hanya luka fisik, tetapi hatinya sungguh hancur se hancur-hancurnya."


Nina kembali meneteskan air matanya. "Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku."


"Aku bersumpah, aku hanya akan setia di bawah naungan kakak ku yang selalu mengulurkan dan merangkul jiwa dan raganya untuk ku."


"Aku pun sebaliknya, aku akan berusaha keras melindungi kakak ku walau di jalan yang salah."


"Kamu mengerti kan?"


Hati Rangga tersayat melihat raut wajah wanita yang di cintainya di beberapa bulan terakhir terlihat berbahagia dan kini kembali memancarkan kesakitannya.


✲✲✲✲✲✲