Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 46 - I'm Sorry but I Love U



"Sayaaang..."


Panggilan Hanssel dari luar telah memburu istrinya seolah memaksa Nina untuk segera keluar dari persembunyiannya.


Ceklek!


Hanssel telah menunggu di luar dengan tatapan penasaran dan sumringahnya. Nina hanya berekspresi datar kemudian menaruh hasil testpacknya di dada Hanssel.


Tanpa mengulur waktu Hanssel segera melihat benda pipih panjang itu namun seketika raut wajahnya berubah suram. Dia menautkan alisnya kesal. Dia menelan salivanya menatap istrinya yang tengah merias diri.


"Kamu membohongi ku kan?!"


"Buat apa?"


"Bagaimana aku bisa membohongi mu?!"


"Alat itu yang memberikan jawabannya bukan aku!!"


Nina bersikap tenang berbeda jauh dengan hatinya yang sudah break dance tak karuan.


Secepatnya Hanssel menghampiri Nina dan membalikan badan istrinya meminta penjelasan yang rasional.


"Aku tidak percaya!!"


"Aku bilang kamu Hamil!! maka HAMIL!!"


"HANSSEL!!"


"Jika tidak mari kita buat ulang sekarang juga!!!"


"AAARRGHH!!"


Hanssel sungguh marah dia kembali memaksa Nina berhubungan badan dengan kasar. Nina merintih kesakitan, dia juga berlinang air mata kedua kalinya dia merasa sangat terhina.


Hanssel tidak memperdulikan lagi kenyamanan istrinya, dia telah gelap mata. Saat dia mencapai puncaknya, dia membenamkan sangat dalam tidak percaya jika semua itu tidak ada yang berhasil menjadi generasinya.


Hanssel sendiri tidak menyangka dia begitu sangat ingin istrinya hamil. Berbeda saat dengan wanita yang lainnya. Dia benar-benar menginginkan sebuah keluarga normal dengan istrinya itu.


Nina pingsan karena kebrutalan suaminya. Hanssel memeluknya erat dengan masih terengah.


"I'm sorry but I love you Karennina.."


"Aku tidak ingin kehilangan mu..."


"Aku ingin bayi mungil ini tumbuh di rahimmu..."


"Dengan begitu sempurna lah hidup ku!"


Hanssel sendiri tidak memikirkan akibatnya pada dia dan Nina kedepannya jika keluarganya tahu bahwa Nina mengandung keturunan Adamson. Terlebih saat ini dia adalah tunangan Catherina.


***


Hanssel membiarkan Nina untuk istirahat. Dia mengusap pipi Nina lembut, istrinya masih terlelap.


"Aku berangkat dulu ya sayang..."


"Istirahat yang cukup, makan siang nanti aku jemput."


Setelah kepergian suaminya Nina membuka matanya, dia pura-pura tertidur. Dia beringsut turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Dia memilih berendam lebih lama saat ini. Tubuhnya penuh dengan tanda cinta Hanssel bahkan di area yang terlihat seperti lehernya.


"Apa kamu pikir dengan mengetahui kehamilan ku bisa menjamin kita bisa bersama menjadi sebuah keluarga utuh?!"


Nina tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Dia bisa berlaku kejam pada yang lainnya, namun di bawah kungkungan suaminya dia tidak bisa melawannya.


Nina telah selesai membersihkan diri, dia keluar kamar dan menemui putra kesayangannya yang saat ini tengah bermain dengan riang di halaman belakang. Akhir pekan kemarin Hanssel menyuruh beberapa kontraktor membuatkan playground di area taman belakang mereka. Beserta kolam renang yang di lengkapi pancuran serta perosotan untuk di pakai Jimmy bermain air. Anaknya itu tidak perlu keluar rumah jika ingin bermain seperti di wahana waterpark.


"Ibuuu!!" Jimmy menghambur memeluk ibunya.


"Apa kamu sedang bersenang-senang?"


"Tentu saja!!"


"Papa Hanssel sungguh yang terbaik!!"


Nina mengacak rambut Jimmy dia bersimpuh mensejajarkan dirinya dengan putranya.


"Ibu keluar dulu ya.. Baik-baik dirumah."


"Okay ibu!"


"I love you..."


Cup~


Satu kecupan hangat Jimmy daratkan di pipi ibunya kemudian kembali berlari bermain. Nina beranjak, perutnya perih cacing di dalamnya tengah demo teelebih sepertinya bayinya juga ikut merajuk di dalam sana. Nina mengusap lembut perut yang masih terlihat biasa saja itu.


Dia berjalan menuju dapur, membuka kulkas mengambil susu dan menuangnya di gelas. Kemudian menyiapkan semangkuk sereal oat beserta buah sebagai pelengkap.


Hidup sehat Nina membuatnya bisa secantik dan sehat seperti sekarang. Setelah selesai dia kembali didera mual. Dia menuju kamarnya dan memuntahkan kembali sarapan paginya di toilet.


Nina menatap dirinya di cermin, tubuhnya merosot dia kembali menangis.


"Kamu pecundang, sudah tahu Hanssel tidak pernah menggunakan pengaman tapi kamu juga tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi!!"


Penyesalan seolah dilarang keras menghampirinya. Semua akibat ini tentu ada sebabnya. Dia mendapati ponselnya berdering, dia menatap di layar dan nama Rangga terpampang jelas.


"Halo..."


"Aku di depan Adamson..."


"Hari ini aku cuti..."


"Kenapa?"


"Aku tidak enak badan..."


"Kita bertemu ditaman X ya..."


"Rangga!!!"


Tuut!!


Nina membenamkan wajahnya di dalam bantal, kemudian dia bergegas mengganti pakaiannya dan pamit untuk keluar pada Jimmy dan pengasuhnya.


Di kantor Adamson, Hanssel telah selesai dengan proses verifikasi beberapa dokumen yang benar-benar mendesak. Dirinya membiarkan Farell mengambil alih karena sudah tidak sabar menemui istrinya.


Hanssel menyenderkan bahunya, dan mendongakan wajahnya.


"Apa Nina benar-benar tidak ingin dirinya hamil?!"


"Mengapa dia begitu dingin dengan hubungan ini?!"


Hanssel merasa frustasi, dia sendiri di liputi perasaan bersalah setelah pagi tadi dia dengan brutalnya mengerjai istrinya. Bergegas dia menuju keluar kantornya. Saat menuju area dimana mobilnya terparkir dia melihat mobil Rangga melalu meninggalkan kantor Adamson.


"Itu Rangga?!"


"Aku telponin barusan malah sibuk."


"Taunya disini!"


"Tapi ko ga masuk?!"


Hanssel mempercepat langkah kakinya dia ingin mengejar sahabatnya.


Di taman x, Nina sudah menangkap sosok pria yang di kenalnya.


"Maaf aku terlambat..."


Rangga membalikan badannya, dia tersenyum ke arah Nina. Namun senyumannya memudar berganti dengan kepalan erat tangannya. Tanda cinta dari Hanssel terlihat jelas di matanya.


Dia sudah mengira Hanssel pasti telah meniduri Karennina. Terlebih dia ingat bahwa Hanssel pernah mengatakan bahwa dia menikahi sekertarisnya. Dia tidak menyangka bahwa sekertarisnya adalah wanita yang di sukainya.


"Rangga..."


"Aku minta maaf..."


"Kenapa Karen!!"


"Kamu tahu sendiri bagaimana Hanssel tidak berperasaan selama ini!!"


"Dia terus mempermainkan banyak wanita. Kamu kamu tidak bisa melihat dengan jelas."


"Aku tahu!!"


"Aku hanya mengambil keuntunganku..."


"Oh ya?! AMBISI MEMILIKI SUHOMU ITU?!"


Nina mengeratkan genggaman tangannya, bibirnya mengatup erat. Hatinya bergejolak hebat.


"Jika begitu, hubungan kalian akan berakhir sebentar lagi bukan?!"


DEG!


Rangga menyadari, Nina meneteskan air matanya.


"Jangan bilang kamu mencintainya KARENNINA!!"


"Maafkan aku Rangga..."


"Aku tidak bisa mengontrol hatiku, pada siapa dia berlabuh!"


"KARENNINA!!"


"Aku tidak pernah berharap dia juga membalas cintaku..."


"Sedari awal hubunganku berdasar sebuah keuntungan semata!"


"DIA SUDAH BERTUNANGAN KAREN!"


"Apa kamu lebih senang kembali menghadapi kemalangan untuk kedua kalinya?!"


Tumpah semua air mata Nina, hatinya sangat sesak mengetahui kenyataan kehidupan cintanya sungguh sangat malang. Nina menyeringai, dia juga tengah menertawakan dirinya sendiri.


"Karen... Kamu masih punya pilihan."


Nina menepis tangan Rangga yang hendak menyentuhnya.


"Bukankah kamu juga sama?"


"Hidup penuh kemalangan, menungguku dan masih terus mencintaiku walau sudah sangat jelas aku tidak bisa membalasnya."


Tenggorokan Rangga tercekat, apa yang di ucapkan Karennina sangat menyakitinya. Selama ini dia berusaha memahami dan menghargai wanita yang sangat dia cintai itu. Hanya mengikatnya dengan kalimat mengikuti alurnya ternyata tidak cukup membuat Nina berpaling dan mencintainya sekarang.


"Aku akan selalu menunggu mu Karen..."


"Walau dalam kemalangan aku akan terus menunggu mu."


"Menunggu sampai hatimu sangat terluka..."


"Dan menyadari bahwa jalan mu kembali adalah kesisiku!"


Nina menekan dadanya erat, telinga dan hatinya sudah tidak sanggup mendengar semua perkataan menyedihkan dari Rangga.


"Rangga... Nina..."


"Apa yang terjadi disini?!"


DEG!!!!!


✲✲✲✲✲✲