Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 111 - Cuek



Nina kembali menuju kantornya dengan perasaan kecewa yang teramat sangat.


"Ruby pesankan aku kwetiaw Liang!"


"Eh nona..."


Ruby yang baru saja datang dari makan siangnya tersentak dan segera menunduk menyambut kedatangan tuannya.


"Baik..."


Ruby sekertaris baru Nina kemudian bergegas memesan via aplikasi Ojek Online.


Bosque emang paling tepat waktu!!


Bruuk!


Nina melempar sling bagnya, dia menekuk wajahnya penuh rasa kecewa. Ingin rasanya dia melarikan diri saat ini namun dia menyadari sikapnya kali ini seperti anak labil. Tak lama ponselnya berdering, Nina meraihnya dia menatap nomor suaminya tertera disana. Dia menatapnya lama hingga panggilan itu mati dengan sendirinya.


"Apa karena aku sudah tahu hal yang lebih menyakitkan aku jadi tidak begitu sesak saat melihat suamiku sendiri dengan wanita lain."


Tuuut!


"Iya nona..."


"Jika ada yang mencariku bilang aku rekreasi ke Mars!"


"Hah?!"


Tut!


"Tuanku ini kenapa?!" Ruby mengerutkan keningnya.


Tak berapa lama Hanssel mengunjungi istrinya.


"Maaf tuan, apa anda memiliki janji temu?!"


"Aku ingin menemui istriku apa harus buat janji?!!" Rutuk Hanssel kesal.


"Maaf tapi tuan Nona sedang tidak masuk kerja..."


"......"


Hanssel berpikir ada yang tidak beres dengan istrinya. Dia berlalu tidak peduli pada sekertaris baru Nina. Dia memasuki ruangan....


Braaak!


"Say.........."


Hanssel terdiam sejenak, karena benar Nina tidak ada di sana.


"Tuaaaan!!"


Ruby bergegas melarang siapapun memasuki ruangan bosnya jika dia masih ingin berada disana, tapi kemudian dia membulatkan netranya tidak percaya.


Hanssel mendekati kursi kebesaran Nina dia benar-benar tidak disana, semua dalam posisi non aktif.


Apa dia di rumah? Ya sudah aku cek disana.


Hanssel segera pergi dari ruangan tanpa memperdulikan Ruby.


"Aneh, nona tadi masih ada..."


"Aku juga baru pesan makanan..."


Ruby menutup pintu ruangan dengan perasaan kebingungan. Dia hanya di beri pesan bahwa tuannya sedang tidak ada.


"Apa nona benar-benar ke Mars?!"


"Jangan-jangaaaaan...."


"Kerja yang bener gosip aja!!!"


"Nonaaa?!"


"Tap.. Tapii..." Ruby menatap ruangan tuannya, kemudian kembali menatap Nina yang berada di hadapannya seolah berasal dari luar.


Jadi yang tadi masuk itu siapaaa? Masa ada huntuuu sesiang ini!!


"Kyaaaa!!"


"Lah?!"


Nina bingung dengan respon sekertarisnya yang kini berlari menuju toilet.


"Ya sudah lah..."


"Permisi nona, ini pesanan anda..."


Nina kembali membalikan badannya dan mendapati security membawakan pesanan kwetiaw miliknya.


"Oh iya terima kasih..."


Nina menerima bungkusan plastik dan menuju ruangan.


"Bik, bawa Jimmy ke kantor sekarang."


"Baik non..."


Nina memutus sambungan telpon dan memakan makan siangnya yang terlambat dengan perasaan enggan namun bayinya meronta meminta haknya.


Hanssel, aku tidak akan menangisi dan memelas padamu. Jika ingin lepas maka aku akan lepaskan tanpa perlu pertikaian yang berarti.


Hati Nina yang sempat mencair oleh cinta Hanssel kini kembali membeku. Dia tidak peduli apa yang akan dilakukan suaminya di belakangnya.


Tring!


[Kareeen... Miss you, aku udah di Jakarta. Ketemu dimana kita?!]


Nina sedang membaca pesan singkat dari Rangga. Dia mengulumkan senyumnya.


[Bayi ku minta bebek peking Emperor!]


Tring!


[Iya! ]


Di perjalanan keluar area Bandara Rangga mengerutkan keningnya. "Apa mereka ada masalah?!"


Rangga kembali memacu kendaraannya.


***


"Sayaaaang..."


"Jimmy... Papa pulang!"


"Ko sepi?!"


Hanssel terus memanggil istri dan putranya. Namun tidak juga dia dapati sambutan hangat seperti biasa.


"Apa pada pergi keluar?!"


"Siang tuan..."


Salah satu asisten rumah tangga menghampirinya. Hanssel segera bertanya sebelum memeriksa ke kamar mereka.


"Nyonya masih di kantor tuan, dan tuan muda Jimmy di minta nyonya untuk keluar."


"........."


Aku yakin di resto itu pasti Nina!! Dia salah paham!


Hanssel tidak banyak bertanya lagi dia keluar dari rumahnya dan kembali mencari Nina.


Di salah satu hotel bintang lima, Rangga melebarkan senyumnya dan bergegas menghampiri ke arah ibu dan anak yang sudah lebih dulu di ruangan penjamuan.


"Papaaa Rangga!!"


"Jimmy!!"


"Papa rinduu..."


"Papa... Papa... Om lah!!" Sungut Nina pada keduanya yang kini tengah berpelukan.


"Dih lagi sensi ya bu?!" Rutuk Rangga ga mau kalah.


"Mana oleh-oleh buat Jimmy."


Seketika Rangga menunjukkan gigi rapinya. Dia lupa!!


Jimmy menunjukan ekspresi lesu dan kembali ke mejanya dengan berpura tidak terjadi apapun.


"Maafin papa Rangga sayaaang..."


"Gimana kalo gantinya papa beliin apapun yang Jimmy mau?!"


"Papa temenin Jimmy maen Timezone sepuasnya?!"


"MAUUUU?!"


Nina memutar bola matanya tidak percaya dengan keduanya yang penuh drama. Rangga refleks mengecup pucuk kepala Nina. Nina membulatkan kedua matanya.


Rangga hanya ingin tahu respon Nina padanya saat ini. Nina kemudian menghembuskan nafas kasar dan tidak mempermasalahkan tindakan Rangga.


Rangga menarik kursinya duduk di sebelah Karennina.


"Apa kamu bertengkar dengan suami mu?!"


"Hah?!"


Nina menatap Rangga dengan pura-pura bingung.


"Kenapa kamu datang-datang mengharap aku bertengkar dengan Hanssel?!"


"Biasa kamu kan menampik perlakuan ku seperti barusan."


"Lagian dia kan ga ada juga..."


"Kita udah bagai saudara wajar lah ya, kakak ku malah masih sering cium-cium aku kok!" Bela Nina.


Rangga terdiam sejenak kemudian dia tidak lagi memperpanjang. Beberapa pelayan telah menghidangkan kudapan di atas meja mereka. Jimmy yang tidak tahu apa-apa bersorak, begitu pula Rangga dia sudah sangat lama tidak memanjakan lidahnya biasanya dia hanya sesempatnya karena harus mengurus Yvone.


"Kamu puasa apa gimana?!"


"Ko kek ga dikasih makan sebulan!!"


Nina mendelik memperhatikan cara makan Rangga yang sedikit bar-bar.


"Iya gue lapaaar banget!"


"Pelan-pelan aja keles, tar kesedak!!"


Merasa di perhatikan hati Rangga kembali bimbang. Kedua netra mereka beradu pandang dengan tatapan yang tidak biasa. Nina merasa ada yang salah dia memalingkan wajahnya berpura-pura mengambil makanan di atas piringnya.


Bisakah aku menggantikan kamu dengan wanita lain Karen?


Rangga tiba-tiba kehilangan selera makan yang awalnya menggebu. Dia pikir saat berada dengan Yvone dia sedikit melupakan rasa patah hatinya. Namun saat seperti saat ini, dia kembali mengiris kalbu dan perasaannya kembali mencuat.


Ponsel Nina sedari tadi berdering, namun dia memilih mode hening agar tidak mengganggunya.


"SH*IT!!"


"Kamu dimana sayaaang?!"


"Aku bahkan tidak bisa melacak keberadaannya dari alat ini!!"


"Percaya padaku sayang..."


Hanssel membanting stirnya kasar. Dia menatap nanar ke depan. Wanita yang menempel dengannya selama sebulan adalah wanita yang di siapkan Wijaya untuk memata-matainya. Hanssel membutuhkan informasi dari wanita itu, dia memiliki ide kembali menjadi pria hidung belang agar keluarganya tidak di curigai oleh pihak musuh. Terlebih saat kejadian Nina masuk kerumah sakit dia tidak ingin gegabah.


Dia memutus hubungan dengan Nina agar semakin memuluskan jalannya. Dia harus berkorban sebentar agar dia bisa melindungi keluarganya. Namun saat melihat Nina di restoran dan dia tidak sengaja mereject panggilan istrinya hatinya merasa tidak tenang.


✲✲✲✲✲✲