Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 71 - Quality Time



Farah menarik kursi makan dia duduk di samping Nina.


"Sstt!"


"Laki lo ko bisa disini?!"


Farah mendekat dan berbisik.


"Makanya lu ngumpet pake ke alam baka segala!!"


"Ya i tuuuu..."


Tubuh Farah kembali bergidik ngeri jika melihat ekspresi kesal Keenan saat matanya menatap nakal roti sobek milik pria yang disukai Farah diam-diam itu.


"Ngumpet dimana?!"


"Toilet!"


"Isshh!"


"Jorok banget sih lu!!"


Farah kembali ke posisinya kemudian Keenan turun dari kamarnya dan mengikuti makan siang bersama.


Keenan sengaja duduk di depan Farah, dia melayangkan tatapan mematikannya.


Glek!


Tiba-tiba Farah tidak nafsu makan saat ini.


Mampus gue!!


Gue yakin kak Keenan sengaja kayak gini biar aku ga tenang hidup!!


Farah terus menundukan wajahnya, beruntungnya semua orang tengah fokus pada kedatangan Hanssel sehingga tidak memperhatikan tingkah aneh Farah.


"Oh ya om tante..."


"OM TANTE?!!!"


Nyonya Lyn menyela.


"Oh itu saya lupaaa...."


"Ma... Pah..."


"Pfftt!"


Nina menahan tawanya, Bos mesum gue biasa angkuh sekarang nyalinya menciut disini! senangnya mengerjai dia disini!! Hihi


"Ma, pa..."


"Saya berencana akan melakukan resepsi pernikahan lusa."


"APAAA?!"


Nina membulatkan matanya, dia tidak menyangka Hanssel akan melakukan semua ini.


"Saya memang sudah menikah secara resmi di catatan sipil dua bulan yang lalu."


"Tapi saya belum mewujudkan pernikahan impian Nina..."


Hanssel menggenggam jemari tangan Nina, menatapnya dengan senyuman kebahagian.


"Jadi, apakah kalian merestui kami menikah lusa?!"


Kedua orang tuanya saling tatap satu sama lain.


"Mengapa harus lusa?!"


"Apa tidak mendadak?!"


Nyonya Lyn merasa belum mempersiapkan dengan baik. Pernikahan anaknya tentu harus yang terbaik. Mengingat pernikahan terdahulu mereka tidak merestuinya.


"Mama tenang saja."


"Saya sudah persiapkan semuanya, hanya tinggal memilih gaun dan mengundang beberapa tamu dari pihak Nina."


"Kami akan menggelar pesta pernikahan di Jakarta."


Nina kembali membuka mulut dan matanya lebar.


"Baiklah jika itu kemauan mu."


"Kami hanya bisa merestui kalian dan mendoakan kebahagiaan kalian sekeluarga!"


"Terima kasih pa..."


"Bolehkah saya tinggal disini selama dua hari?!"


"Hahahaha!"


Semua orang tertawa dengan sikap Hanssel yang terlalu kaku dan khawatir.


"Karen gue tidur bareng lo yaaa!!!"


Farah tengah merengek pada Nina, biasanya mereka memang tidur sekamar. Apalagi saat ini Farah sedang dalam mode emergency dia harus mencari tempat perlindungan.


"Lu ga liat laki gue apa gimana?!"


Mereka sekeluarga tengah berada di taman belakang kastil. Memperhatikan Jimmy sedang bermain kesana kemari, selain itu seperti di keluarga bangsawan lainnya mereka sedang menikmati waktu sore dengan sajian teh dan beberapa kudapan manis lainnya.


"Kalo gitu aku tidur sama bibi yaaaa!!"


"Lah?!"


Nyonya Lyn terlihat heran dengan sikap Farah saat ini.


"Kamu bisa pake kamar biasa, memangnya kenapa?!"


"Aku takut bi!!"


"Ma, aku berangkat sekarang!"


"Aku tinggal di kondominium... Urusanku disini udah beres!"


"Owh gitu... Ya udah!"


"Besok ingat kita ke butik okay!"


"Iya ma.."


Keenan menatap Farah tajam seolah menyampaikan sebuah pesan kemudian dia berbalik meninggalkan keluarganya.


"Fiuuhh!!"


"Ada yang lu sembunyiin ya?!"


"Idih kagaaak!!"


"Gue kemarin nonton film horor!!"


"Film apaan?!"


"Conjuring!!"


"Ck!"


Nina berdecak tidak percaya, namun investigasinya terhenti saat kecupan mesra suaminya membuyarkannya.


"Sayaaaang..."


Hanssel menatap nakal ke arahnya. Farah memajukan bibirnya mengerti apa yang akan mereka lakukan.


"Mening gue pergi di banding jadi obat nyamuk!!"


Nina terkekeh dengan sepupu jauhnya itu. Farah dan Nina terpaut 1 tahun. Nina lebih tua dari Farah namun Nina tidak ingin Farah menganggapnya kakak mereka selalu menganggap selain saudara mereka juga sahabat bagai ulat, kepompong dan kupu-kupu!


***


"Aarrrgghh!!"


"Hanss...."


Hanssel sudah tidak sabar, baru saja mereka memasuki kamar pria itu sudah mendekap istrinya dan menciuminya bertubi-tubi. Bahkan kini tengah menyesap kuat belahan depan wanitanya yang menggoda.


Tangannya dengan terampil menarik resleting terusan istrinya. Nina tidak ingin kalah tengah membuka kancing kemeja suaminya. Keduanya sudah dikendalikan oleh hasrat mereka.


"Oh iya, aku boleh kan nengok adek bayi?!"


Tiba-tiba Hanssel teringat istrinya tengah hamil, ini pertama kalinya dia takut aksinya kelak menyakiti bayinya.


"Sepertinya tidak masalah, dia malah berbisik meminta di jenguk papa nya!!"


Nina kesal Hanssel menghentikan foreplay nya saat ini.


"Emang dia udah bisa ngomong?!"


"Astagaaa!!"


Nina menarik tengkuk leher suaminya dan menyesap bibirnya kuat. Dengan perlahan Hanssel memasuki inti milik istrinya yang telah basah dan sangat siap mendapatkan kunjungan.


"A pa ke ahlianmu me nurun sa yang?!"


Ditengah pergumulan mereka Nina masih sempat bertanya.


"Kamu meragukan kemampuanku?!"


"Bukankah kamu sangat tahu!!"


"Aku seperti ini agar bayi kita tidak kesakitan!!"


"Oh come on!!!"


Nina kesal dengan jawaban polos suaminya yang benar-benar tidak tahu apapun tentang wanita hamil.


Nina menjatuhkah tubuh Hanssel, kini giliran dia yang memimpin permainan.


"Oh sh*it!!!"


Nina menari indah di atas tubuhnya. Entah mengapa sepertinya ada yang salah dengan tubuhnya saat ini dia menjadi sangat liar. Dia ingin lagi dan lagi.


Apa karena aku sedang hamil? Apa ini bawaan orok?


Hanssel sangat menikmati permainan Nina yang semakin hari semakin membuat candu dan seductive.


"Saaaayaaang..."


"Arrgh!!"


"Baby nya minta momynya cekik papanya sekarang!!"


"W H A T?!!!"


Nina menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya seksi, Hanssel sungguh tidak tahan akan godaan, dia menarik tengkuk leher Nina dan kembali mengajak Nina terbang ke angkasa bersama dan menikmati penyatuan bersama-sama.


"Tidur ya sayang..."


Hanssel mengecup bibir istrinya, namun Nina kembali tebangun dan merengek.


"Aku masih ingin sayaaang!!"


"Oh my god!!"


"Ibu hamil ngeri juga ya!!"


Hanssel terkekeh melihat ekspresi Nina yang benar-benar meminta haknya.


Plaaak!


"Ga mau sana pergi!!!" Nina memukul bahu Hanssel kesal.


Tidak lama mood Nina yang sedang naik turun itu mendadak kesal dan meluapkan amarahnya. Hanssel terkekeh melihat tingkah istrinya.


"Mana mungkin ga mau..."


Hanssel kembali membuat tubuh Nina meremang dengan ciuman yang kembali mendarat di tubuh polos istrinya. Walau saat ini telah di penuhi tanda cinta yang dia sudah cetak sebelumnya namun Hanssel tidak pernah bosan melakukannya again and again.


Ya ampun Karennina kamu sungguh murahan meminta bermain lagi dan lagi!! Bahkan ini sudah hampir pagi...


Nina malu mengakui dirinya seliar ini sekarang, dia menarik kesimpulan ini benar-benar keinginan bayinya!


Keduanya benar-benar melakukan sepanjang malam mereka beristirahat sejak kemudian kembali melanjutkan hingga menjelang pagi. Kemudian Nina sangat lelah dan akhirnya tertidur dengan lelapnya tidak lagi terdengar rengekan manjanya.


Hanssel memeluknya sangat erat sebelum dia juga ikut tertidur di sampingnya.


"Kita benar-benar harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin sayang..."


"Aku minta maaf kelak aku akan banyak meninggalkanmu..."


"Aku berjanji aku akan menyelesaikannya dengan cepat."


"Aku ingin menemanimu melahirkan putraku..."


Cup~


✲✲✲✲✲✲