Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 32 - Penculikan



Hanssel keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk menutupi setengah badannya. Dia menggosok rambutnya yang basah salah satu airnya mengenai cetakan roti sobek beraneka rasa itu membuat Nina kembali menelan salivanya.


Aku mengerti kenapa semua cewek menggilai pria ini! Dia raja dari segala raja beruang liar!! Aku kesaaal!!!


Nina mengumpat dalam hatinya, dia bangkit dari ranjang berjalan dengan tertatih. Kearoganan bosnya sudah tidak terbantahkan lagi.


"Masih sakit sayang?" Tanya Hanssel mendekat.


Nina mengacuhkannya dengan terus berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Hanssel mengukir senyum tampannya.


"Huh!" Dengusnya frustasi.


Nina segera membersihkan diri, waktu telah menunjukan hampir jam makan siang.


"Kita bertemu siapa?" Tanya Nina heran.


"Perasaan aku ga arrange pertemuan dengan siapapun?" Tanya Nina dalam mobil.


"Iya kemarin aku dapat undangan ekslusif dari salah satu pendiri startup yang sedang naik daun. Dia membuka kantor cabang di ibu kota."


"Dia bilang jika proposal dan persentasi kita ok dia langsung tunjuk kita sebagai kontraktor konstruksinya."


"Owh..."


Nina hanya membulatkan mulutnya, kemudian dia tersadar.


"Siapa nama direkturnya atau yang datang?"


"Itu dia!"


"Dia cuma bilang Mr. K"


"Nama perusahaannya?"


"Buat apa?"


Keduanya membahas sampai mereka telah berada di tempat pertemuan.


"Yuk!"


"Haish... Ya sudah lah..."


Nina merasa tidak nyaman, selain dia tidak tahu menahu tentang proyek tambahan ini dia juga tidak bisa menjamu kliennya seperti biasanya.


Mereka bertemu di salah satu ruang meeting di sebuah hotel berbintang tak jauh dari hotel mereka gunakan tadi pagi.


Mereka telah di sambut oleh orang suruhan Mr. K di area lobby kemudian di arahkan ke tempat pertemuan. Setelah asisten itu membuka pintu betapa terkejutnya Nina saat melihat wajah tampan pria yang tengah menunggui mereka saat ini.


"Aaaww..."


Hanssel tiba-tiba terkejut dengan pekikan Nina di ambang pintu.


Mereka baru akan bertemu tapi Nina sudah berulah.


"Kamu kenapa?" Tanya Hanssel panik.


"Eee i-itu aku sakit perut... Kebelet!!"


"Kamu duluan kalo udah selesai kabarin!!"


Nina melesat mundur keluar dari ruangan menyisakan raut wajah Hanssel yang kebingungan. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


Mr. K tersenyum melihat tingkan Nina dia menggerakkan tangannya membuat si Asisten yang melihatnya mengangguk mengerti dan berlalu dengan buru-buru keluar ruangan.


"Tuan Hanssel mengapa diam saja?" Ujar Mr. K berdiri menyambut vendornya.


"Oh.. Maafkan ketidaksopanan saya." Hanssel mendekat dan menjabat tangan Mr. K.


Keduanya akhirnya duduk bersebelahan.


"Loh kemana perginya sekretaris anda?"


"Oh itu dia ijin ke kamar kecil."


Untuk pertama kalinya Hanssel gelisah di tengah pertemuan bisnis mereka bersama klien.


"Baiklah kalau begitu kita tunggu..."


"Untuk di ingatkan kembali, saya mau menyetujui proyek ini asal sekretaris anda yang mempersentasikannya."


"I-itu..."


Hanssel melupakan hasil pertemuan pertama mereka di Negara S tempo hari. Semua karena kedatangan Catherina membuat pikirannya bercabang kemana-mana.


Di luar ruangan Nina tengah gelisah, pasalnya kakaknya Keenan ternyata yang memberikan proyek pada perusahaannya.


"Kak Keenan akan menyeret dan menjatuhkan ku!!"


"Aku tahu itu!!"


Nina terus mondar dan mandir di depan toilet umum. Sampai dia terkejut ada seseorang yang tiba-tiba mendekat dan membekap mulutnya dengan sapu tangan. Dia yang akan berusaha meronta dan menghubungi seseorang tiba-tiba pingsan. Ponselnya terjatuh dan pria itu bergegas membawa tubuh Nina.


"Hahaha... Tuhan sedang mendukung ku..."


"Aku tidak perlu menjebaknya dia sudah di jebak orang lain."


"Aku harus ikuti kemana perginya laki-laki itu!!"


Jessica yang tidak sengaja tengah melakukan pertemuan dengan temannya di hotel yang sama mendapati Nina berada di hotel yang sama kemudian dia mengikutinya dan melihat semua peristiwa di depan toilet itu dengan bersembunyi di balik lorong tak terlihat.


Hanssel semakin gelisah pasalnya Nina tidak menjawab panggilannya. Mr. K yang masih menunggu kemudian berdiri


"Sudah 15 menit dan sekretaris mu belum juga hadir!"


"Kalau begitu pertemuan kita di tunda..."


"Sampaikan salamku padanya. Jika dia tidak datang dan menghandle apa yang aku minta maka kalian harus membayar ganti rugi waktu yang aku buang sekarang ini."


"Proyek ini aku siapkan khusus untuk kalian, otomatis kalian sudah mengecewakan!"


"Ada hubungan apa anda dengan sekretaris saya?!"


"Mengapa anda ingin dia yang melakukan semuanya!!"


"Ini perusahaan saya semua dalam kendali saya!!"


Hanssel mencoba bernegosiasi ulang mengulur waktu dan berharap Nina segera menemuinya.


"Saya dengar dari tuan Ron, tidak ada sekretaris yang jauh lebih baik mentreatment kliennya selain dia."


"Dia terkenal dengan sebutan One of a kind!"


"Aku ingin melihat benarkah demikian?!"


DEG!!


"But now? I don't think so..."


"Suruh dia menjadwalkan pertemuan denganku segera..."


Kemudian tanpa basa-basi meninggalkan Hanssel yang tengah terpaku tidak percaya.


Hanssel bergegas menuju tempat kemungkinan Nina berada. Dia masih terus menghubungi ponsel Nina.


"Nyambung ko ga diangkat!!"


Saat berada di depan kamar mandi dia masih menghubungi dan mendengar nada dering Nina tak jauh dari tempatnya.


"Ponsel Nina!!"


Perasaan Hanssel semakin gelisah. Dia menyambar ponsel Nina. Dia bergegas menghubungi Farell untuk menyelidiki kemungkinan bahwa ada kejahatan di balik menghilangnya Nina saat ini. Sedangkan dia bergegas menuju area kamera pengawasan hotel.


Di dalam area CCTV terlihat seseorang tengah membius Nina dari belakang.


"BAJINGAN!!" Pekik Hanssel emosi.


Perasaannya saat ini tidak bisa di jelaskan dengan ungkapan kata. Marah, takut, gelisah dan semuanya membaur menjadi satu. Dia memegang kepalanya frustasi namun sekilas dia menangkap sosok di dalam CCTV.


"FARELL AWASI JESSICA!!!"


"BAWA DIA KEHADAPANKU!!"


Hanssel menutup sambungan dan bergegas keluar hotel. Emosinya telah memuncak, dia tidak menyangka dan menyesal seharusnya saat dia tahu Jessica selalu berulah pada Nina dia keluarkan saja wanita sialan itu.


"Maafkan aku sayang... Aku tidak bisa melindungimu!!"


"Aku berjanji aku akan menemukanmu dan menyelamatkanmu..."


"Kamu bertahan sayaaang!!"


***


Di dalam kamar di hotel yang sama Nina menggeliat, dia tersadar dan...


"Kamu sungguh tidak sopan!"


"Begitu kah caramu menyambut kakak tersayangmu?!"


Nina mengatupkan mulutnya, dia segera bangun dan duduk dengan menunduk.


"Aku tidak berani..."


"Aku sudah tidak punya muka untuk bertemu kalian..."


Kini Nina terisak dan semakin menangis kencang. "Huaaaaaa!!!"


"Haisshh!!!"


Keenan mendekat ke arah Nina dan bersimpuh di bawah kakinya.


"Kami semua merindukanmu Karennina Kaviandra..."


"Kau sungguh anak degil!!"


"Huaa Kakaaaaaak!"


Nina menghambur memeluk kakaknya. Dia semakin terisak sampai senggukan di dalam dekapan Keenan.


"Sudah-sudah..."


"Aku hanya ingin mengajarimu bahwa jangan pernah lengah pada kondisi apapun!!"


"Bagaimana bisa kamu tidak menghindari orangku saat membiusmu?!"


"Apa kamu sudah selemah itu?!"


Nina terdiam dia menghapus air matanya dan menggelengkan kepalanya terus menerus.


"Aku ingin menemui Jimmy... Papa dan mama juga ingin bertemu dengannya."


"Kapan kamu pulang?"


"A Aku..."


"Ponselku terjatuh!!!"


Nina mengalihkan pembicaraannya, kemudian Keenan menjentikan jari di keningnya sama seperti dulu saat dia masih kecil jika berbuat salah maka kakaknya akan menghukumnya dengan cara demikian.


"Sebentar lagi bos mu akan menemukanmu..."


"Dia yang mengambil ponselmu."


"MAMPUSSS AKU!!"


✲✲✲✲✲✲