Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 92 - Croocked



Keempat personil yang tengah menyelesaikan makan siang mereka kini tengah menunggu personil yang tiba-tiba datang bergabung menceritakan masalahnya saat ini. Yvone tengah menelan salivanya. Jangan di tanya siapa yang menginterogasinya karna pastilah Karennina jawabannya.


Nina menatapnya tajam "Aku bisa membantumu dengan catatan kamu jujur padaku apa yang sedang terjadi?!"


"Ehmm...."


"Kalo gue di tanya kek penjahat gitu deg-degan anjir!" Sela Farah mengejek Nina.


"Agree!" Timpa Rangga terkekeh dia sendiri seorang pengacara handal namun akan mati kutu jika Nina yang bertanya serius padanya.


Nina melayangkan tatapan Ratu Antagonisnya. Farah melakukan gerakan mengunci mulutnya dengan isyarat. Begitu pula Rangga, Yvone yang melihat kedekatan mereka terkekeh justru merasa terhibur.


"Maafkan aku menyeret kalian dalam masalah ku!"


"Aku dipaksa menikah oleh ayah ku!"


Rangga menatap Yvone serius, dia sepertinya bisa menarik kesimpulan dari kasus yang dia tangani minggu kemarin. Tuan Albert adalah salah satu pengusaha ternama yang menang dalam sebuah pelelangan barang. Naasnya saat ingin melakukan pembayaran uang yang dia miliki dalam bentuk asset perusahaan di sabotase saudaranya.


Di karenakan hal itu pihak pelelangan mengindikasikan sebagai bentuk penipuan komersil. Tuan Albert dikenakan denda atas kerugian yang di timbulkan. Saat itu perusahaannya dalam keadaan di sabotase, harta yang dia punya kala itu di gunakan membayar Rangga untuk memenangkan kasus penipuan komersil oleh saudaranya sendiri.


Rangga memenangkan kasus itu, namun Rangga tidak tahu menahu yang terjadi setelahnya. Dia mengenal Yvone saat terakhir kali dia mengunjungi kediaman tuan Albert, dia tidak sengaja berpapasan dengan gadis itu.


Yvone menceritakan kejadian setelah kasus Rangga di menangkan pihak Pelelangan yang di ketuai mafia ibu kota menagih biaya finalti yang tidak sedikit. Keuntungan perusahaan yang sedang tidak stabil dimanfaatkan pihak lawan, dia mendatangi tuan Albert dan mengancam bahwa mereka akan mengambil paksa perusahaannya. Tuan Albert yang baru saja mempertahankannya tentu tidak rela akhirnya tuan Gilbert yang merupakan ketua mafia pelelangan menawarkan menukar semua hutang tuan Albert dengan menikahkan dirinya dan putri tertua tuan Albert. Tuan Albert memiliki dua putri, yang tertua bernama Yvone Caroline dan adiknya yang masih di bangku sekolah menengah yaitu Yovanka Anastasha.


Yvone yang mengetahuinya memilih kabur dari rumah. Dia tidak rela menjadi alat pertukaran hutang ayahnya.


"Begitu ceritanya..." Yvone terisak, menyapu kedua netranya yang basah.


Nina menatapnya iba, namun seperti ada yang salah di cerita Yvone. Tapi dia belum bisa begitu spesifik meminta Yvone menjelaskannya saat ini.


"Baiklah, karena kamu berpura-pura menjadi pacar Rangga maka kalian pergi lebih dulu!"


"Apa?!" Rangga mulai protes.


"Bukankah kamu pahlawan berbudi pekerti yang luhur?!" Canda Nina membuat Farah cekikikan.


"Tapi aku harus bawa dia kemana?!"


"Kerumah mu lah!"


"TIDAAAK!!"


"Rumahku hanya boleh di masuki oleh Karen seorang!!"


"Haissh!" Nina memegang kepalanya frustasi. Farah semakin terbahak dengan penuturan polos seorang Rangga.


Yvone menjadi tertarik dengan hubungan yang aneh antara Nina dan Rangga. Dia menatap Rangga intens, membuat Rangga yang menyadari tatapan intimidasi itu menatap balik dengan tajam. Yvone segera menundukan pandangannya.


"Aku tidak mungkin membawanya kerumahku."


"Kamu boleh tinggal di apartemen Farah lebih dulu."


"Farah, kapan kamu pulang ke KL?!"


"Besok siang."


"Eh tunggu!"


Farah tiba-tiba memiliki ide luar biasa saat ini.


"Gimana kalau kamu gantiin aku jadi sekertaris bos kulkas gue ini?!" Farah menunjuk Nina menegaskan dia bos kulkasnya. Nina mengetuk kepala Farah.


"MAAUUUU!!"


"M Maaf..."


"Maksud saya, saya bersedia..."


Yvone sangat antusias, Nina mendadak merasa dalam mode waspada saat ini.


Bagaimana pun perilaku wanita ini sedikit mencurigakan. Akan lebih bagus jika dia berada di sampingku aku bisa mencari tahu mendetail berikutnya.


"Bagus jika begitu..." Nina menyetujui ide gila Farah.


Farah akhirnya tenang, akan ada orang yang membantu Nina kedepannya.


Setidaknya Karen tidak akan kerepotan melakukan segalanya sendiri. Aku sangat mengenal bagaimana dia begitu pemilih dan sulit mempercayai orang dengan mudah.


Farah melengkungkan senyumnya, namun sejujurnya hatinya merasa sangat sedih saat ini.


"So, Rangga bawa dia ke apartemen milik ku dan sekalian dengan Farah."


"Aku kan kembali ke kantor?!" Ujar Farah polos.


"Iya, Rangga akan mengantar kalian ke kantor ajari dia apa saja pekerjaan mendasar."


Nina menatap Farah dengan tatapan seperti mentransfer pesan lain. Farah mengerti, dia tidak akan memberitahukan pasal hal yang penting mengenai perusahaan.


See, dia memang tidak gampang mempercayai orang. Jika dia kerjakan sendiri dia akan kelelahan.


Farah kembali dirundung kesedihan.


"Aku ada urusan disini."


"TIDAAK!"


Rangga menolak mentah-mentah ide Nina, dia tahu Nina akan menyelesaikan para pengawal tuan Albert.


Nina mengernyitkan keningnya heran.


"Aku tahu apa yang akan kamu lakukan."


Yvone tersentak dengan penuturan Rangga. Dia menerka bahwa hubungan keduanya memang rumit.


"Hehe... Percayalah aku juga tidak mungkin melakukan tindakan membahayakan diriku dan bayiku."


Yvone menatap Nina lekat Ternyata wanita ini bukan orang biasa, aku bisa merasakannya. Terlebih aku menginginkan jam tangan miliknya.


"Sayaang... Apa yang kamu ributkan?!"


Nina dan ketiga personil lainnya membulatkan matanya mendengar suara yang tidak asing lagi bagi mereka kecuali Yvone tentu saja.


"H a n s s e l!!" Lirih Nina tidak percaya apa yang dia lihat saat ini.


"Suami pulang malah bengong!"


Cup~


Hanssel mencium kening istrinya di hadapan yang lainnya.


"Tebaaar kemesraan terus!!"


"Kenapa gue selalu jadi obat nyamuk sih!!" Rutuk Farah.


"It's you?!" Nina memegang pipi Hanssel meyakinkan dirinya.


Nina yang sedang sensitif mendadak menitikan air matanya.


"Sayaaang..." Hanssel menjadi khawatir.


"Aku minta maaf..."


"Aku terlalu lama membuat mu menunggu!"


Nina memeluk suaminya erat "Anakmu sungguh manja!! Dia minta martabaaak yang dibeli sama papanya!!!"


"Aku sungguh lelah karena walau aku menyuruh siapapun membelikan barang itu anakmu tidak mauuuu!!"


"Huhuhuhu!!!"


GUBRAAG!


Farah dan Rangga membuka mulutnya lebar, sedangkan Yvone menutup mulutnya menahan tawa atas apa yang dia lihat dan dengar saat ini.


"Aku mintaa maaf sayaaang!"


"Maafin papaaa nak, papa beliin sekarang yaaa!!"


"Bukankah papa bilang jangan menyusahkan ibumu saat papa tidak ada?!"


Hanssel menunduk berbicara di depan perut Nina.


Deg!


Semua pemandangan yang tadinya menjadi lelucon bagi yang lainnya kini justru menyakitkan bagi Rangga dan Farah. Rangga merasa cemburu, dia masih begitu mencintai Karennina. Sedangkan Farah, dia menyadari kelak tidak ada siapapun yang akan memperdulikan kondisi kehamilanya.


Nak, ibu yakin kamu tidak akan menyusahkan ibu dengan tingkah anehmu kelak. Ibu minta maaf... Ibu meminta kelak kamu jangan seperti saudaramu yang meminta papanya melakukan segalanya untuknya. Kamu harus berbesar hati karena papamu tidak akan pernah melakukan apapun untukmu! Dia bahkan tidak akan pernah mengetahui keberadaanmu...


Farah menekan perutnya, sekuat tenaga dia tidak menjatuhkan air matanya. Sekarang dia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Hanssel berdiri dari tempatnya.


"Hei brow... Wuiihh gitu dong move on jangan nempel ama binik gue mulu!" Canda Hanssel.


"Dih najis!!" Umpat Rangga.


Keduanya saling peluk, Yvone masih menundukan pandangannya. Dia dibuat takjub saat ini.


"Kenapa ga lebih lama aja perginya!" Protes Rangga.


"Binik gue lagi hamil ga mungkin ninggalin dia lama-lama."


"Emang kemana sih?!" Selidik Rangga.


"Ada bisnis di luar..."


"Siapa ini?!"


"Kenalin dia Yvone.." Ujar Nina mengenalkan pada suaminya.


Hanssel menatapnya, sepertinya dia pernah melihat wanita itu tetapi dimana dia lupa.


Hanssel kembali mendekati istrinya "Ayo kita pulang aku merindukan Jimmy."


"Rangga, seperti barusan ya..."


"Aku sudah bersama Hanssel."


Rangga mendengus kasar, Hanssel mengerutkan keningnya sepertinya dia melewatkan sesuatu. Farah segera bangkit dia juga tidak ingin berlama-lama.


"Eh btw bukannya harusnya kami yang di jagain ya?"


"Tau-tau mereka buntutin kami gimana?!" Protes Farah.


"Tenang, sebelum mereka membuntuti kalian mereka tidak akan bisa keluar dari sini." Ujar Nina lugas membuat Yvone semakin ingin mengetahui Nina.


Istriku memang tidak ada tandingannya, aku yang sudah melakukan pelatihan saja tetap merasa tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan dirinya.


Hanssel mencium jemari tangan Nina, keduanya kembali dalam mode dunia dan seisinya hanya ada mereka berdua yang lain numpang lewat doang.


✲✲✲✲✲✲