Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 10 - Kesempatan



Hanssel yang bersembunyi sebelumnya kini tengah memeluk Nina dari belakang. Nina yang terkejut dengan ulah tidak sopan bosnya dengan cepat dia bereaksi memukul keras bagian perut Hanssel dengan sikutnya.


Bug!


Tak lupa dia juga menginjak kaki Hanssel agar refleks kedua tangan Hanssel akan terbuka dengan sendirinya.


"AAAARRRGGHHH!!"


"KARENNINA KAVIANDRAA!!!"


Nina menyambar handuk kimononya dan bergegas keluar kamar serta mengunci kamarnya setelah sebelumnya dia menyambar dengan cepat ponsel dan laptopnya saat Hanssel tengah kesakitan.


"RASAKAN!!" Umpat Nina seketika keluar dan bersiap menyewa kamar baru lainnya.


"AHH SIALAAAN!!! KARENNINA AWAS KAU YA!!!"


"AAWWW!!"


Hanssel terjatuh di lantai memegang bagian perutnya yang di pukul keras oleh Nina, dia tidak menyangka jika sekertaris kunonya itu pandai ilmu bela diri juga. Dia sungguh apes terus menerus berhubungan dengan wanita yang dia panggil nenek lampir itu.


"Mengapa dia sulit sekali aku dapatkan!!"


Hanssel tengah tertidur di ranjang yang sebelumnya di pakai oleh Nina. Tercium aroma parfume khas Nina, yang bermerk huruf C itu. Pria itu terbaring dengan mengompres area perut setelah meminta bagian hotel membawakannya dan membawa kunci cadangan untuknya. Karena aroma parfume itu menguar di indra penciumannya walau sedikit memudar dia tetap merasa bahwa Nina berada disampingnya.


"Kamu semakin menarik Nina, aku tidak menyangka ternyata mengejar seorang wanita se-excited ini!"


Walau badannya terluka dia justru bahagia, betapa lemahnya dia sebagai seorang pria. Terus saja dikalahkan oleh wanita yang dulu dia anggap lemah dan buruk rupa.


***


Di cafe hotel bawah terlihat Nina tengah menyesap lemon tea dan kini menyuap sarapan paginya, kali ini dia benar-benar berpenampilan berbeda dari biasanya. Bukan tambah menarik atau cantik melainkan tambah buruk! Kaca mata tebal dan juga dengan bibir merah bata menyala poni lurus serta rambut yang biasa dia ikat ke belakang. Sesaat Hanssel tidak mengenalinya kalau bukan Nina yang menarik tangannya.


"SIAPA KAMU?!" Ujarnya terkejut.


"Aku wanita yang kau ganggu semalam!!" Ujar Nina datar dan kesal.


"WHAAAT!!" Hanssel membuka lebar mulutnya yang langsung Nina masukan cupcake miliknya.


Hmmp!


"K-Kau.. Ku rang.. Ajaar!" Hanssel terpaksa mengunyah dan menelannya.


"Pfftt!" Nina menahan suara tawanya melihat ekspresi pria yang sok cool dimata para gadis buruannya.


Hanssel duduk di depan Nina dengan tatapan siap menerkam. "Mengapa kamu berpenampilan seperti Betty La Fea sih?!"


Sejujurnya Nina memiliki alasan tersendiri namun untuk dia ungkapkan pada atasannya tentu tindakan yang tidak ada gunanya.


"Aku tidak ingin terus di ganggu oleh sikap mesum mu itu!!" Ujar Nina datar kembali menyeruput minumnya.


Sejurus kemudian dia mendapati pria yang tengah bersenda gurau dengan seorang wanita glamour di sebelahnya terpancar rona bahagia di keduanya. Nina mengeratkan kepalan tangannya, dengan tatapan penuh kebencian membuat Hanssel menaikan kedua alisnya heran namun saat dia mengetahui apa yang tengah Nina lihat dia baru menyadari semuanya kemudian dia mengulumkan senyumnya.


Aku tahu sekarang mengapa kamu mau aku ajak ke Bali, dan mengapa tampilanmu sejelek ini mungkin alasan ini yang kamu pakai. Cukup pintar!!


Hanssel mengunyah Croissant yang dia ambil dari piring Nina. Saat ini pria itu belum mengambil apapun untuk sarapan paginya. Kemudian Nina tersadar "HEI ITU MILIKKU!!" Nina merebutnya kemudian menggigitnya kasar.


Dia berhenti sejenak mendapati dia menggigit bekas gigitan Hanssel. "A-aku kembalikan!!!"


"Aku akan membawakanmu sarapan!!" Nina berdiri menyadari tingkah bodohnya barusan dan menghindar.


"Pfftt..." Hanssel tertawa lirih.


"Tampilanmu sungguh buruk saat ini, namun entah mengapa aku masih tetap melihat wanita cantik semalam yang aku peluk yang masih meninggalkan aroma tubuhnya di benakku!!" Gumam Hanssel memperhatikan Nina dari jauh.


***


Di dalam ruangan yang di gunakan untuk pertemuan pembahasan bisnis itu, Hanssel di temani Nina dan beberapa kandidat dari beberapa perusahaan untuk merebut tender besar dengan perusahaan terbesar kedua di Negara S tersebut.


Pulau N adalah pulau buatan yang di canangkan E.T untuk keperluan parawisata dan menarik wisatawan untuk mengunjunginya. Proyek yang tengah di lelang kali ini yaitu pengembangan beberapa Resort di beberapa titik di wilayah Pulau N. Dengan sengaja Nina memilih tempat duduk berhadapan langsung dengan Erick Shin yang di temani sekertarisnya Soraya yang tak lain istri barunya yang merupakan pihak ketiga dalam runtuhnya rumah tangganya dengan Erick.


Hanssel membiarkan apapun yang di rencanakan Nina, sejauh ini Hanssel tidak pernah ragu dengan perhitungan sekertarisnya itu. Entah dari mana datangnya ide atau informasi yang hampir 80% relevan. Dia bahkan menyangka bahwa Nina memiliki akses interpol tersendiri.


Karena tampilan Nina yang dia samarkan tentu saja tidak membuat kedua ular berbisa di depannya menyadarinya, setelah tuan Mahessa dan asisten khususnya masuk seluruh ruangan menjadi hening. Nina mengamati sekitar, kemudian dia tersenyum hangat pada salah satu peserta yang berparas sangat cantik disisi lainnya. Wanita itu menyambut senyuman Nina tak kalah ramahnya.


Memang benar, Nona Luna sangat cantik dan humbble... Aku tidak memiliki ide lain untuk meloloskan Adamson mendapatkan proyek ini.


Hanssel melihat tindakan Nina dan tengah berpikir Apa yang di pikirkan wanita ini, mengapa dia hanya menatap ramah peserta dari Lunarian saja?


"Hmmp..." Hanssel mendengus kesal pasalnya dia berharap banyak akan memenangkan kerja sama besar ini. Walaupun sejujurnya dia tidak sengaja menemukan iklan kerjasama yang dia dapat dari salah satu koleganya. Terlebih di Bali ini dia ingin mengerjai sekertaris kunonya saja.


"Kenapa anda sangat kecewa?!" Tanya Nina saat tengah merapikan berkas yang mereka gunakan untuk persentasi.


"Harusnya anda juga tahu Lunarian memang memiliki prototipe terbaik dari semuanya. Bahkan mereka telah mengetahui bahwa pulau itu akan di buat seperti Little Uni Emirates atau akan di kenal Little Dubai in Asia." Ujar Nina menjelaskan.


"Aku tahu hanya saja aku tidak tahu bahwa itu akan di ubah seperti Dubai!!" Rutuknya masih terdengar sangat kecewa.


"Mengeluh dan kecewa tidak ada gunanya, ayo kita dekati nona Luna. Aku akan membawakan Adamson dengan tender lain!!"


"W H A T?" Hanssel selalu tidak bisa memprediksi sekertaris jeniusnya.


Nina menarik segera lengan Hanssel menemui nona Naluna sebelum rupanya hilang.


"Nonaa... Permisi Nonaa... Nona Luna..." Setengah berteriak Nina menghampiri Luna yang kini di jaga ketat beberapa bodyguard.


"Oh iya...." Luna berbalik badan dengan senyum manisnya merespon panggilan Nina.


Syukurlah...


"Perkenalkan saya sekertaris dari Adamson Group." Nina mengulurkan tangannya.


"Panggil saya Luna..." Luna menjabat tangan Nina dengan senyuman keduanya bersalaman hangat.


Sial dia tidak jijik sama sekali dengan tampilanku, emang kalo orang pinter itu didikannya beda ya!! Coba tadi si Soraya liat gue aja dah hampir muntah. Pantas aja pria nomor dua di Negara S ini tergila-gila dengannya. Gue kapan di gilai pria sempurna kayak doi!!


"Maaf Nona saya lancang, namun beberapa waktu yang lalu saya mendapat informasi dari salah satu kolega bahwa Lunarian tengah mencari supplier untuk pembangunan Hotel terbesar yang akan di bangun di kota B dalam waktu dekat?" Dengan singkat dan jelas Nina menyampaikan maksudnya.


Luna sendiri terlihat sedikit terkejut "Oh ya... Sejujurnya belum di mulai, namun kamu boleh mencobanya..."


"Sandra..." Luna memanggil asistennya dan tanpa sepatah kata apapun asistennya sudah mengetahui apa yang diinginkan tuannya.


"Perkenalkan saya Sandra, asisten khusus Luna. Kamu bisa menghubungi lewat email di bawah ini. Setelahnya kirimkan portofolio perusahan langsung."


Nina menerima kartu nama dari Sandra keduanya saling berjabat tangan. Nina berulang kali membungkuk tanda berterima kasih atas kesempatannya kemudian mereka berpisah dan berlawanan arah.


"Apa yang tengah kamu bincangkan?" Tanya Hanssel penasaran. Setelah kedua wanita hebat itu pergi.


"Proyek pengganti gagalnya hari ini!" Ujar Nina mengulum senyumnya dan berlalu.


"Hei tunggu!!" Hanssel segera berbalik dan mengejar langkah kaki Nina.


"Hari ini sudah cukup bukan? Aku telah menjadwalkan kepulangan anda malam nanti."


"Kita bisa berlibur sebentar loh!" Ajak Hanssel.


Nina menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Hanssel serius.


"Aku sudah selesai, jika anda ingin berlibur silahkan... Beritahu aku jika ingin mengajukan perubahan jam terbang agar bisa segera aku ajukan tiket barunya!"


"Aku mengajakmu..." Ujar Hanssel menatap serius manik mata Nina yang tertutup kacamata tebal dan noraknya.


"Aku sedang ada urusan penting. Aku harap anda tidak lagi berbuat onar di luar batas kesabaranku!!"


"Memang aku melakukan apa?" Gumam Hanssel merasa tidak bersalah atas kejadian semalam dengan memainkan manik matanya.


Nina menjawab dengan dengusan kesal "Beruntung aku tidak mempermasalahkan dan meributkannya..."


"Aku sudah menyuruh Farell datang menemui anda mulai sekarang. Seharusnya dia sudah landing dan menuju hotel ini."


Nina segera berlalu dengan langkah tegasnya, meninggalkan Hanssel dengan mimik tidak percayanya.


"Kau terus menolakku Nina?!"


"Hah!!"


Hanssel tengah kesal dan berkacak pinggang. "Kamu semakin angkuh ya!! Aku tidak ingin tahu lagi tentangmu!!"


Hanssel berbelok arah, dia tidak ingin lagi mengurusi wanita sombong itu. Dia kini berpikir bahwa Nina sudah sangat membuatnya kesal seolah dirinya sangat menggilai Nina dan tengah mengejarnya dengan sepenuh hati.


HIH!! Mimpi kau Nina... Kau akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan ini!


******