
"Hanssel!"
"Iya kak?"
Hanssel berbalik mendengar panggilan kakak iparnya.
"Kita berbincang di ruangan!"
Sesampainya di ruangan Keenan keduanya membahas pekerjaan mereka kedepannya.
"Aku baru mendapat tugas baru dari bos!"
"....."
"Kita kesampingkan urusan Huateng."
"Aku menyuruhmu untuk mengawasi Nona Naluna."
"APAAA?"
"Apa kakak tidak bisa berikan pada bawahan kakak saja mengapa harus aku!!!"
"Aku kan bukan bodyguard!"
Hanssel menumpahkan kekesalannya, setelah pekerjaannya yang membahayakan nyawa saat ini dia malah down grade menjadi seorang body guard!
"Kau pikir aku kasih pekerjaan mudah untuk mu!"
Tuk!
"Awww!"
Keenan mengetuk kepala Hanssel sama kesalnya.
"Sam mana data yang aku inginkan?"
"Sudah di hapus tuan Wira tuan."
"APAAA!"
"Semua profil keluarganya tidak pernah tuan besar publish, terlebih nona Luna."
"Data dia di perebutkan oleh dua keluarga besar."
"Jika terekspose mereka akan melakukan peperangan."
"Tapi saya tidak sengaja mendengan dari tuan Bobby, bahwa nona Luna dulu berpacaran dengan satu-satunya anak tuan Wijaya."
"Namanya Diaz Wijaya."
"Akhir-akhir ini mereka terekam kembali melakukan pertemuan."
"Pertama di Negara S, kemudian jadwal berikutnya adalah Jakarta."
"Mereka melakukan perjalanan bisnis yang sama."
Mendengar kata Jakarta, otak Hanssel menampilkan wajah istrinya. Dia berkesempatan pulang!
Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Aku bisa bertemu istriku!!
"Aku akan terima tugas ini kak!"
"Aku sudah tau kamu akan menerimanya!!!!"
Keenan kesal, dia mengerti apa yang di pikirkan adik iparnya. Hannsel menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kekehan. Hal yang tidak Hanssel ketahui adalah, justru kakak iparnya tengah memberi dia jalan menemui istrinya. Melihat adiknya menangis sepanjang waktu membuat kepalanya di dera migrain selama sepekan.
"Oh iya tuan, saya ingin menambahkan menurut kabar yang beredar."
Keenan dan Hanssel menatap Sam serius.
"Tuan Diaz dan Nona Luna adalah kelinci percobaan tuan Wijaya untuk obat mereka yang di beri nama WANG!"
"Itu alasan tuan Wira terus berperang dengan tuan Wijaya."
"Dan misi jaringan hitam adalah menemukan serum anti inflamasi yang hanya dimiliki oleh tuan Wijaya sendiri."
"Wang sendiri berarti melupakan."
"Obat itu ada dua jenis, satu di paksa melupakan yang satu dipaksa mengingat."
"Dan Nona Luna di indikasi dipaksa melupakan oleh tuan Wijaya."
"Ini senjata biologis yang sungguh melanggar hak asasi manusia."
"Aku mengerti,kamu masukan aku dalam karyawan Emperor di penjamuan seminggu kedepan."
"Tapi tuaan mungkin nyonya besar mengetahui anda."
"Tidak jika aku menyamar."
"Baik tuan saya akan mencoba menembus akses mereka."
"Hanya saja, Nyonya Liliana Tan jauh lebih kejam jika di banding Tuan Wira yang masih bisa mempertimbangkan jasa anda."
"Semua sama saja."
"Aku gagal maka itu akhir dari hidupku!"
Hanssel dan Sam menelan salivanya dalam keheningan. Sekali terjerumus dalam jaringan hitam maka mereka tidak memiliki peluang untuk hidup damai.
***
Farah menatap selembar foto hasil USG. Dia benar-benar tengah mengandung dan usia kandungannya baru menginjak 4 minggu.
"Nak, maafkan ibu..."
"Kelak kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan ayahmu..."
"Dia tidak menginginkanmu..."
"Tapi tenang, ibu sangat menginginkanmu..."
"Kita pasti bisa melalui semuanya tanpa perlu campur tangan ayahmu..."
"Dia adalah lelaki paling brengsek yang ibu kenal."
"Tapi kamu tenang saja, ibu akan menceritakan hal baik darinya dan betapa ayahmu begitu hebat!"
"Dia bagai James Bon dengan kearifan lokal!"
Farah mengembangkan senyumnya dengan terus mengusap lembut perutnya yang belum begitu terlihat menonjol. Dia mencium potret benih cintanya dengan lelaki yang paling dia cintai sekaligus dia benci di dunia ini. Farah menaruhnya di tempat paling aman, karena dia tahu sendiri keahlian Nina sebelas dua belas dengan kakaknya yang bagi mereka privasi itu bisa dilanggar semaunya.
Farah menghembuskan nafasnya kasar dia telah merapihkan barang-barangnya. Dia akan kembali pulang ke KL, hari ini dia akan mengajukan pengunduran dirinya dari Suho. Dia sudah mempersiapkan mentalnya dia akan berakting dengan sungguh-sungguh kali ini agar Nina tidak mencurigainya.
"Siang bos!"
Nina melihat kearah Farah yang masuk dan duduk di hadapannya saat ini. Nina mengerutkan keningnya dia memperhatikan gelagat sepupunya.
"Kenapa liatin aku kek liatin penjahat!!" Protes Farah.
Nina terkekeh, kemudian menghentikan aktifitasnya.
"Ada apa?"
"Daniel kembali di rawat..."
"Apaaaa?"
"Lalu bagaimana keadaannya?"
"Sekarang sudah stabil, aku minta maaf aku harus menemani ibu di KL."
"Dia tidak ada teman untuk berbagi dan bertukar jam istirahat."
"Bolehkan aku mengundurkan diri saat ini."
"Tapi jika tidak ya aku..."
"Kau pikir aku setega itu pada keluargamu?!"
"A ku..."
Farah menundukan kepalanya dia sudah tidak tahan untuk tidak menitikan air matanya. Nina bangkit dari tempatnya merangkul sepupunya.
"Apa tidak masalah kamu pergi sendiri?"
"Apa perlu aku temani?"
"Tidak perlu!!!"
"Suho sedang banyak proyek saat ini..."
"Aku justru lagi pusing siapa yang akan menggantikan ku membantu mu?!"
"Aku tidak tega meninggalkan mu."
"Mana kamu hamil lagi!"
Nina mengacak rambut Farah dengan mata sendunya. "Kamu tidak perlu khawatirkan disini."
"Aku akan mencari orang baru..."
"Aku sudah membicarakannya dengan kak Keenan, kita akan berusaha mencarikan donor jantung yang cocok untuk adikmu..."
Farah menghambur memeluk Nina, Nina sungguh bagai malaikat bagi dia dan keluarga Lee. Apa yang di ucapkan Keenan benar adanya. Jika bukan Nina yang ngotot membantu keluarga Lee mungkin hidup Farah tidak semudah saat ini.
"Aku sungguh malu, aku belum juga berbakti pada keluarga Kaviandra."
"Ssstt!"
"Kamu sudah aku anggap adik ku sendiri."
"Percayalah kak Keenan walau terlihat acuh aku pikir dia sudah mengerahkan anak buahnya mencari pedonor yang cocok."
Farah semakin terisak pilu Karen aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat kamu mengetahui aku hamil oleh kakakmu! Maafkan aku....
Nina kembali memeluk Farah dan menenangkannya. "Yuk, kita makan siang ajak Rangga kita minta dia yang bayar! Mumpung dia masih di Jakarta."
"Kamu mau hot pot?"
Nina mencoba membesarkan hati Farah, Farah sungguh beruntung di pertemukan dengan Karennina Kaviandra.
Keduanya telah berada di resto pilihan, mereka tengah menunggu Rangga yang sudah di beritahu sebelumnya.
Bruuk!
"Ups sorry!"
Seorang wanita tanpa sengaja menabrak Rangga di depan pintu Restorant. Rangga hanya tersenyum tidak mempermasalahkannya namun dia mengerutkan keningnya saat wanita itu justru merangkulkan tangannya di lengan Rangga.
"Hey!!" Hardik Rangga.
Si wanita terlihat pucat dengan masih menunduk dia membual di depan Rangga.
"Sayaaang maaf aku telat!!"
"Kamu marah yaaaa..."
Wanita itu mendekat dengan tubuh Rangga dan berbisik lirih "Maafkan aku tuan, aku mohon bantu aku!"
Rangga menatap kesekitar, benar saja ternyata gadis ini di ikuti oleh beberapa orang berseragam lengkap seperti penjahat bayaran. Rangga merasa kenal dengan gadis itu.
"Owh iya ayok kita masuk!"
Rangga menyambut wanita itu dan memasuki Restaurant. Wanita itu merangkul Rangga erat sekali, Rangga merasakan dengan jelas ketakutan luar biasa yang di alami gadis itu.
"Tenang lah, mereka tidak mengikuti sampai sini."
Wanita itu mendongak dan memperhatikan sekitar.
"Yvone?"
Rangga mengenal gadis itu, Yvone hanya mengerutkan keningnya.
"Anda kenal dengan saya?"
"Ehmm, iya kalau tidak salah kamu putri tuan Albert bukan?"
"Aku yang menangani kasus papa mu minggu lalu."
"Owh iya..."
Namun kemudian wanita itu kembali merangkul Rangga, Rangga menyadari ada yang tidak beres. Ternyata segerombolan pria yang mengejar Yvone berani memasuki Restauran. Dengan cepat Rangga memutuskan mengajak Yvone bergabung dengannya.
Kedua wanita yang tengah menunggu Rangga kini menatapnya tajam.
"Aku bisa jelasin sayang!!" Ujar Rangga menatap Nina, Yvone seketika melepaskan rangkulan tangannya.
"SAYANG GUNDUL MU!!!" Sungut Nina.
Rangga terkekeh dan menarik kursi untuk Yvone. Yvone menunduk berterima kasih.
"Hohoho pria lajang kita sudah berani bawa anak gadis orang!!" Pekik Farah mengolok Rangga.
"Bacot lu!"
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di depan."
"Dia dalam bahaya, ada yang menguntilinya."
"Aku yang merupakan lelaki berbudi pekerti yang luhur tentu saja membantunya."
"OOOOO!" Nina dan Farah serentak membulatkan mulut mereka. Yvone tersipu malu saat ini.
"Siapa nama mu?!" Tanya Nina ramah.
"Panggil saya Yvone kak..."
"Gue keliatan tua ya langsung di panggil Kakak!!" Protes bumil yang menolak tua.
"Padahal pantesnya kamu kan di panggil tante!!" Ejek Farah.
"AAAW!" Farah menjerit setelah mendapat cubitan dari Nina.
"Saya Karennina, dia sepupu saya Farah."
"Hai!"
"Senang bertemu dengan kalian." Ujar Yvone menunduk sopan.
"Cepeet pesen makan aku lapaar!" Protes Farah.
Ketiganya larut dalam memilih menu makanan, Yvone sendiri hanya tersenyum canggung dia beruntung bisa bertemu dengan orang yang bisa membantunya melarikan diri dari pengawal yang di kirim oleh ayahnya untuk membawanya pulang.
✲✲✲✲✲✲
Hai reader tersayang aku gak?
Lagi-lagi saya haturkan terima kasih banyak-banyak selalu mendukung cerita ini sampai sejauh ini.
Terima kasih sudah support dan mengapresiasi author dengan LIKE, COMMENT, VOTE & GIFTnya.
Author jadi semangat kalo saling mengapresiasi :)
Love you to the moon and back !
Spill next romance datang dari Rangga nih guy!!
Setuja enggak???
✲✲✲✲✲✲