
"Soraya, sudahkah kamu buat janji dengan tuan Long?"
"Sudah sayang..."
Soraya mendekat pada suaminya yang sedang berkutat dengan berkas permintaan pasokan bahan baku untuk proyek Adamson.
Mengapa aku merasa aneh ya dengan semua kemudahan yang aku terima saat ini?!
Erick Shin semenjak pengumuman kemenangan Suho yang notabenenya adalah pendatang baru jika di banding dengan perusahaan besar lainnya merasa selalu diliputi kegelisahan.
Apa mungkin semudah ini? Aku dengar Adamson Group salah satu perusahaan yang paling ketat dalam tahap seleksi.
Dalam pengajuannya harga yang Erick tawarkan bukan yang paling murah. Dia bertahan satu nominal di atas pesaingnya. Persentasinya juga sederhana tidak se memukau kompetitor lainnya.
"Aku lihat kamu tidak senang sama sekali kenapa?"
Soraya duduk di pangkuan suaminya membelai pipi prianya mesra.
"Tidak ada hanya memastikan bahwa kita tidak sedang di jebak."
"Mengapa kita harus di jebak?!"
"Adamson tidak ada kaitannya dengan mantan istrimu kan?!"
Deg!!
Seketika Erick mengingat sekertaris Hanssel, entah mengapa rasa akrab itu menyelimuti hatinya. Dia bahkan mengikuti wanita itu. Namun sialnya sekertaris Hanssel tidak pernah lepas dari tuannya. Akhirnya Erick menyerah dan tidak melakukan investigasi lanjutan pada wanita yang dia rasa sangat akrab terlebih wangi parfume dia dan Karennina serupa.
"Kamu siapkanlah berkasnya ya..."
"Aku sibuk dulu!"
Erick mendorong tubuh sekertaris yang tak lain adalah istri keduanya yang tengah menggodanya.
"KAMU KO BERUBAH GITU SEKARANG!!"
Soraya tidak tahan untuk tidak protes pada suaminya. Semenjak bertemunya dia dengan mantan istrinya sikapnya berubah. Tidak semanis dan selembut dulu saat sebelum Karennina datang mengambil buah hati keduanya.
"SORAYAA!!"
"Erick!! Apa kamu berpikir tentang Karennina kembali?!"
"Apa kamu berniat mengejarnya lagi?!"
"JANGAN HARAP ERICK SHIN!!"
"AKU TENGAH MENGANDUNG ANAKMU SAAT INI!!"
"Apaaa...."
Seluruh tubuh Erick meremang, jika di banding senang dia justru tengah gelisah.
Bagaimana mungkin? Sudah satu bulan ini aku tidak pernah menyentuhnya lagi.
"Sejak kapan kamu hamil?!" Tanya Erick bergetar.
"Saat kita ke bali!!"
"Aku sengaja menutupinya berencana membuat kejutan untukmu di hari anniversary kita bulan depan!!"
DEG!!
"Baguss lah..."
"Kalau gitu kamu pulang lah istirahat..."
"Apaa?!"
Mengapa reaksinya seperti ini saja?! Bukankah dia sangat menginginkan anak dari ku? Aku sudah penuhi tapi mengapa dia berubah drastis!!
Semua ini pasti karena si KARENNINA JALANG*!!
Soraya meninggalkan ruangan presidir dengan geram, dia membanting pintu dengan kerasnya.
"Aaarggh!!"
Erick menopang kepalanya yang terasa semakin berat.
"Disaat aku pikir bisa menemukan kehidupanku yang baru. Aku justru kembali terpaut oleh mu Karen..."
"Maafkan aku..."
"Maafkan aku..."
"Aku sungguh bodoh menelantarkan kalian!!"
***
Di sebuah kamar hotel tengah terdengar lenguhan seorang wanita dan pria yang saling bersahutan. Kamera tengah menyala dan beberapa lagi tengah memotret mereka. Seolah mereka tengah berada di sebuah ruang studio pembuat Blue Film. Mereka tengah bekerja!
"Arrgh!!"
"Faster babe!!"
Suara si wanita terdengar menjijikan di telinga Nina.
Nina tengah menyaksikan adegan 21 ples yang dia sutradarai sendiri. Nina menopang satu kakinya dia tersenyum mengejek pada musuhnya dengan menggoyangkan gelas winenya.
"Kamu ingin menjebakku?!"
"Haha!!"
Suara tawa Nina dirasa seperti suara Ratu Neraka Qinyi.
Catherina tengah terlelap, Di sampingnya telah berada 3 pria yang tadi menjadi lawan mainnya.
"Semua sudah selesai nona..." Pengawal pribadinya menghampiri dengan memberikan handycam dan beberapa foto yang sudah tercetak. Serta satu buah ponsel yang digunakannya juga untuk merekam semua aktivitas menjijikan itu.
"Bagus..."
"Kamu bunuh ketiga sampah banci itu!!"
"Baik Nona..."
"Kamu sedang kurang beruntung nona!"
"Kamu menjebakku, disaat aku bukan lagi Nina yang dulu polos dan mudah di tindas."
"Kamu menjebakku, disaat aku telah menjadi Nina yang kejam dan yang tidak tahu belas kasih."
"Salahkan dirimu yang berpura-pura naif di depanku!"
"Tenang saja, aku akan menyimpan semua keburukanmu saat ini..."
"Maka bersikap baiklah denganku..."
"Dengan begitu aib mu tidak akan aku ekspose!!"
Nina menghempas kasar wajah Catherina. Dia menjentikan jarinya maka seluruh anak buahnya mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Nina mencuci tangannya dan keluar hotel. Saat akan menghidupkan mesin mobil ponselnya berdering.
"Halo..."
"KARENNINA!!"
"DIMANA KAMU?!"
***
"Hans.."
Hanssel memeluk Nina dari belakang. Keduanya sedang berada di salah satu departemen store. Nina mengatakan dia tengah berbelanja Hanssel menyusulnya.
"Selama ini kamu hanya belanja segini?!"
"Ya biasa wanita itu keluar bukan cuma buat beneran belanja..."
"Bisa juga hanya mencari angin segar!"
Nina beralasan dia melajukan troli menuju bagian mainan anak-anak. Hanssel menariknya dan membuat dirinya lah yang mendorong untuk istrinya. Nina mengulumkan senyumnya.
"Kita beli ini..." Hanssel menunjuk beberapa action figure untuk putra kesayangannya.
"Ini..."
"Ini!"
"Ini!!"
"Aargh!! Aku beli saja mall ini!!!"
Hanssel tengah bertingkah kekanak-kanakan, sedari tadi dia yang sibuk menunjuk dan menaruh mainan untuk Jimmy, karena trolinya penuh dia kesal.
"Kita tidak butuh terlalu banyak sayang..." Nina menaruh beberapa box mainannya.
"Apa..."
"Kamu bilang apa barusan?"
"Hm?" Nina menghentikan gerakan tangannya menatap Hanssel heran.
"Kamu bilang apa tadi?!"
"Ki ta ti dak bu tuh se mua????" Nina mengucap dengan masih heran dan pemenggalan kata yang di pisah membuat Hanssel semakin geram.
"Setelahnya?!"
"Ih apa sih ga jelas!!!" Rutuk Nina.
"KAMU BILANG APA SETELAH ITU?!" Maki Hanssel emosi.
Nina terdiam kemudian mengerti dan dia tertawa.
"KARENNINA!!"
"Iya sayaaaang..." Nina menggoda suaminya yang kini tengah tersipu.
"Sayaang kita pulang sekarang ya." Ajak Nina merangkul lengannya dan menggelayut manja.
Hanssel tengah dalam mode Freeze, biasanya nenek lampir di depannya hanya akan mengucap nama depannya. Walau memang terdengar seksi namun di panggil kata Sayang oleh istrinya rasanya seperti double kill!!
Sebelum benar-benar keluar mall Nina dan Hanssel membeli beberapa kudapan yang ada di Mall dan memakannya bersama bahkan saling suap selama perjalanan menuju parkiran. Hanssel menggenggam erat tangan Nina yang merangkulnya. Sepanjang jalan raut wajah bahagianya tidak bisa di sembunyikannya. Sesekali dia mencium pipi Nina di depan umum dia sudah tidak peduli atas opini publik.
Apa ini semua yang di namakan kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Terima kasih Karennina sayang...
Hanssal terus menatap Nina, membuat wanita itu salah tingkah.
"Kenapa?!" Tanya Nina.
"Kamu sangat cantik!"
"Aku semakin mencintaimu!!"
Nina merangkul tubuh Hanssel dan mencium pipinya, Hanssel tidak melepaskan kesempatan. Dia meminta lebih pada Nina walau mereka berada di basement parkiran mall.
Tanpa mereka sadari bahwa sebelumnya mereka tengah di perhatikan oleh seseorang.
"Bukankah itu Hanssel?!"
"Sepertinya begitu nyonya..."
"Siapa wanita di sampingnya..."
"Sepertinya aku tidak asing dengan perempuan itu."
"Kalau tidak salah dia sekertaris tuan muda nyonya..."
"KARENNINA?!"
"NO WAY!!"
Nyonya Rossie menutup mulutnya, dia yang tengah berkumpul dengan teman sosialitanya, tidak sengaja dalam perjalanan pulang dia melihat putranya berjalan dengan wanita lain. Bahkan lebih mengejutkannya perempuan itu adalah sekertarisnya sendiri.
✲✲✲✲✲✲