Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 53 - That XX!



"Kamu mau kan bantu aku..."


"Ayo lah..."


"Aku ga mau datang ke pesta di cap sad boy!!"


Rangga tengah merengek pada Nina untuk menyetujui permintaannya menjadi pasangan pura-puranya.


"Cari cewek lain aja!!"


"Kamu datang sendiri juga aku rasa tidak masalah!!"


"Kamu kejam Kareeen... Huaaaa!!"


"Oke!"


Nina menerima dengan terpaksa.


"Thank you, I love you to the moon and back!!!"


"Preeet!!"


Nina merias dirinya, hari ini dia mendapat pesan dari suaminya bahwa dia akan tinggal di kediaman Adamson karena nyonya besar memintanya. Nina tidak banyak bertanya, dia sungguh lelah jika harus terus bertengkar dengan Hanssel berlarut-larut.


Dia tidak tahu dia akan di bawa kemana, dia memakai gaun yang pas dengan badannya. Beruntung kehamilannya tidak begitu menampakan dirinya. Perutnya masih bisa di ajak kompromi saat ini.


Rangga tengah berdiri tegak mematung, tanpa berkedip dan seluruh syaraf motoriknya terhenti melihat tampilan cantik Nina bak Dewi yang baru turun dari khayangan.


"Lap ilermu!!"


Bug!


"Dih!" Rangga tersadar, dia tengah memberikan lengannya.


Nina merangkul mesra Rangga.


"Inget ini ga gratis!!"


"Bayar cuy!!"


"Iya lah... "


"Dasar mata duitan..."


Rutuk Rangga di sambut kekehan.


Di kediaman besar Adamson, semua tempat telah di tata dan di hias sedemikian rupa. Acara ini bertujuan untuk pengumuman pertunangan Hanssel dengan Catherina dan penggabungan kerja sama dengan perusahan perbankan keluarga Lim.


Hanssel mengerutkan keningnya saat pertama kali memasuki pekarangan rumah kediaman besar.


"Ada apa ini?!" Gumamnya seraya memasuki lebih dalam kediamannya.


"Hanssel kamu sudah datang?"


Nyonya Rossie turun dari lantai dua dengan penampilan anggun seperti biasa melengkungkan senyumnya.


"Cepat bersiap!!"


"Pestanya akan di mulai sebentar lagi!!"


"MA!!"


Hanssel menyadari ini jebakan untuknya dia berusaha menggentikannya.


"MA, Aku tidak akan menikahi Catherina."


"Aku sudah tidak mencintainya!!"


"Aku mencintai Karennina!!"


"Kami..."


"Cukup!!!"


"Bersiaplah saat ini juga jika tidak aku akan memberikan Jimmy minuman yang akan membuatnya tidak bisa terbangun lagi?!"


DEG!!!


"Kamu sungguh peduli?!"


Hanssel tidak bergeming dari tempatnya, dia menelan salivanya. Charles menemuinya dia menyerahkan sebuah tablet dan memutar video yang menampilkan Jimmy dengan seseorang yang tidak di kenal.


"HENTIKAN!!"


"Aku akan lakukan..."


"Lepaskan dia... Dia masih kecil dia tidak tahu apa-apa!"


"Hahaha..."


"Hans... Apa kamu begitu menyayangi anak yang bukan darah dagingmu sendiri?!"


"Lepas ini kamu akan memiliki keturunanmu sendiri!!"


"Patuhlah, maka mereka aman!!"


Hanssel mengepalkan tangannya erat. Dia tidak menyangka ibunya akan menggunakan Jimmy dan Nina sebagai kelemahannya.


Nina dan Rangga serta beberapa tamu undangan yang lain telah berada di kediaman Adamson. Nina masih tidak menyadarinya. Dengan anggunnya keduanya berjalan bersama, segaris senyum terukir di wajah keduanya. Mereka tampak serasi layaknya sepasang kekasih.


Sepasang mata menangkap siluet mereka, menyunggingkan senyumnya dan beranjak di belakang keduanya tanpa sepengetahuan Nina.


"Terima kasih semuanya atas kedatangan kalian dalam acara pertunangan putra kami dan putri dari keluarga Lim...."


Deg!!!


Perasaan Nina mendadak kelabu, mendengar suara nyonya Adamson yang di kenalnya kini tengah memberi kata sambutan. Riuh respon dari tamu undangan, Nina seolah berada di dunia lain.


Rangga menatap wanitanya dengan iba, namun dia masih ingin terus berjuang mendapatkan wanita terkasihnya


Apa yang di ucapkan nyonya Adamson tidak sepenuhnya terdengar di telinga Nina, namun saat melihat Hanssel berdiri disana tanpa penolakan hatinya seketika hancur berkeping-keping.


Kau pembohong Hanssel!! Hahaha.


Nina beringsut ingin lari keluar, namun di tahan oleh cengkraman tangan Rangga.


"Apa kamu ingin memperjelas hubungan mu dengannya?!"


"Kamu sengaja kan?!"


Rangga mengusap perlahan air mata Nina yang sudah tumpah.


Hanssel berdiri mematung, menangkap tubuh seseorang yang di kenalnya. Seseorang yang selalu ingin dia sentuh oleh tubuhnya. Istrinya tengah bersama sahabatnya. Hanssel mengepalkan erat kedua tangannya. Ingin rasanya giliran dia menghajar sahabat yang sudah memutuskan persahabatan mereka. Hanssel sendiri tidak fokus dengan apa yang di bicarakan ibunya. Dia tengah cemburu, Catherina yang melihat kemana arah tatapan Hanssel menyunggingkan senyumnya.


Tidak menyangka Nina memiliki hubungan dengan Rangga juga!!


Ini kesempatan bagus dengan begini Hanssel akan menjadi milikku sepenuhnya.


"Selanjutnya pemasangan simbol pertunangan mereka..."


Hanssel tersadar kemudian hatinya kembali sakit.


Jika di banding dengan cemburuku pada Nina saat ini. Aku lah yang sudah berengsek menyakiti perasaannya. Aku yakin Rangga sengaja mengajak Nina kesini dan membuat kami berselisih.


Semua proses berjalan lancar, tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibir Hanssel semua tamu seperti tengah curiga padanya. Namun Hanssel tidak peduli, di saat dia akan berbalik dan meninggalkan acara seseorang memanggilnya.


"Selamat ya Hanssel, tante sama om langsung terbang kemari saat tahu kamu akan menikah bulan ini!!" Suara yang di kenal Hanssel yang merupakan kedua orang tua Rangga menghentikan langkahnya.


Dia berbalik dan tersenyum pahit serta enggan namun masih menunjukan kesopanan.


"Terima kasih tante... Om..."


Ketiganya berpelukan, Catherina ingin mengambil kesempatan bagus ini, dia kembali mendekati mereka setelah sebelumnya Hanssel terus mendiamkannya tanpa mengajaknya berbicara sepatah kata apapun.


"Tante, om..."


"Ternyata kalian memang berjodoh..."


Ibu Rangga memberi selamat pada keduanya, Hanssel masih tidak berucap apapun. Catherina merasa canggung saat aura dingin Hanssel menyeruak saat berada di dekatnya.


"Mama papa!"


"Rangga!!"


Keduanya menyambut anak kesayangan mereka.


"Mengapa kalian tidak mengabariku akan pulang kesini!"


"SURPRISE!!" ayah dan ibunya berucap bersamaan.


Karena sangat berisik, membuat nyonya Rossie bergabung dengan mereka.


"Jeng..."


"Rossie... Congratulations!!"


Sesama perempuan hebat itu tengah berpelukan.


Nina yang di genggam erat Rangga membuat Hanssel terus menatap ke arahnya tajam. Sorot matanya tidak lepas dari wanita yang paling di cintainya. Nina yang di tatap demikian memalingkan wajahnya.


"Tunggu... Sepertinya tante mengenal kamu?"


"Ehm..." Nina tersenyum canggung.


Rangga semakin mengeratkan genggaman tangannya. Semua itu membuat semuanya melihat curiga pada keduanya.


"Oh, Karenn!!"


"Iya tante..."


"Kaliaaan?" Ibu Rangga menunjuk keduanya bergantian, Rangga yang tersipu dan Nina yang salah tingkah di salah artikan keduanya.


"Oh my god!!!"


Plak!


"Anak durhaka!!"


"Mengapa kamu tidak mengatakan dari awal bahwa kamu sudah berpacaran!!!"


"Oh ya tuhaaaan..."


"Pah lihat anak kita normaaal!!"


"Dia bisa jatuh cinta dengan perempuan!!!!"


Pekikan ibu Rangga membuat anaknya menjadi malu, dan hiburan bagi yang mendengar namun tidak bagi Hanssel dan Nina. Kedua insan ini justru seolah berada di dunia yang berbeda dengan mereka semua. Mereka seolah tengah saling berkomunikasi melalui telepati.


Aku membencimu Hanssel...


Maafkan aku Nina, aku terpaksa... Jika bukan karena Mama menggunakan Jimmy aku mungkin telah membatalkan semuanya.


Percayalah padaku Nina... Hanya kamu yang aku cintai...


Nina menelan salivanya dia menahan sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Wah... Wah... Wah..."


"Aku tidak menyangka Nina kamu ternyata memiliki hubungan khusus dengan Rangga." Nyonya Rossie menatap tajam ke arahnya, antara mengejek dan mengancam sepertinya sama saja.


Seketika Hanssel merasa gelisah, dia harus menjauhkan Nina dari jangkauan ibunya.


✲✲✲✲✲✲