
Hanssel memacu mobil sportnya dengan kecepatan ekstra di jalanan ibu kota dan membawa sekertarisnya ke jalan bebas hambatan.
"Kamu mau bawa aku kemana?!!"
"Bukannya kita ada jadwal yang padat sekarang!!"
"Kita pulang sekarang ya...."
Nina melemahkan intonasi suaranya dari yang awalnya memaki terus menerus. Tanpa Nina sadari segaris senyum pria di sebelahnya terukir di wajahnya yang tampan.
"Aku lapar aku mau makan di Bandung!!"
"WHAT THE F*CK!!" Umpat Nina kasar.
"Patuhlah aku tidak akan melakukan apapun. Lagipula kamu lupa hari ini terakhir proses peralihan hak atas Mentari Abadi."
"Owh!!"
"Ngemeng dong biar ga salah sangka!!"
Hanssel hanya melayangkan senyuman dinginnya. Karena Nina merasa masih sangat lelah dia tertidur selang beberapa menit setelah mobil melaju dengan cepatnya. Hanssel meliriknya kemudian dia berbelok saat memasuki rest area dan membeli satu cup kopi. Jujur dia juga tengah sangat lelah. Dia baru pulang kerumah dini hari bahkan semalaman dia tidak tidur sama sekali.
Setelah kembali dengan membawa kopi dan beberapa pastry serta kudapan manis lainnya dia meminum lebih dulu kemudian membangunkan sekertarisnya yang benar-benar terlelap dengan pulasnya.
"Jika dari awal kamu berpenampilan seperti ini mungkin kamu juga tidak akan bertahan hingga 2 tahun."
Hanssel mendekati wajah Nina dia kembali mencium bibir lembut Nina, tanpa di duga entah apa yang terjadi dengan tubuh Nina dia merespon bibir Hanssel dan menyesapnya balik. Hanssel mendelik tidak percaya. Dia semakin liar bermain-main di dalamnya. Tangannya tidak tinggal diam, dia membelai lembut rambut, pipi, hingga leher Nina.
"Mmmm..." Nina mencoba membuka matanya.
Hanssel tengah menggigit-gigit kecil bibir bawah menggoda sekertarisnya. Membuat wanita itu terbangun dan membuka mata sempurna.
"AARGHH!!"
"HANSSEL KAMU KURANG AJAR!!"
Buuk!
Nina mendorong kasar tubuh bosnya hingga mengenai kemudinya. Hanssel tersenyum dan memegang bibirnya.
"Manis sekali..." Ujarnya mesum.
"KAU!!"
"Nih kopi... Kamu tidur pules bener kek kebo!!"
"WHAAT!!!"
"Kamu tidur aku jadi ngantuk!! Mana ga tidur semalaman..." Hanssel menyilang tangan kebelakang kursi dan memejamkan matanya.
"Kamu tau lelah buat apa nyetir sendiri!!"
"Aku suruh Pak Yanto kemari..."
"Aku tidur bentaran aja ya... Kamu jangan berisik... Kamu makan dulu nih aku beliin barusan..." Hanssel melanjutkan tidurnya. Dia benar-benar sudah tidak kuat.
Nina terdiam, dia memegang bibirnya rasa kopi yang menjalar di indra pengecapannya membuat dia merasa gelisah.
Jangan mikir macem-macem please!! Gue dah mau serius sama Rangga!! Si babi ini emang hobi nyosor sana sini!! Ga usah baper ga usah please ya hati!! Kita bekerja sama dengan baik saat ini...
Nina berusaha tenang dan mengatur debaran jantungnya. Dia menyuap croissant yang telah di beli Hanssel dan menyesap kopi kesukaannya. Dia tidak menyangka Hanssel mengingat apa yang dia sukai.
Dengkuran halus terdengar di telinga Nina, dia menatap lekat bosnya. Kemudian dia menelan salivanya. Jujur wajah Hannsel benar-benar tipe lelaki idaman Nina. Namun kelakuan dan sifatnya berbanding terbalik membuat Nina berpikir ulang untuk menyukai cowok seperti bosnya ini.
Seandainya kamu tidak suka mempermainkan wanita. Dan bermain dengan wanita mana saja mungkin aku bisa benar-benar jatuh hati padamu sedari dulu!
Nina menyuap suapan terahir kue slice coklat miliknya. Sampai dia benar-benar kenyang terakhir menyeruput kopi miliknya. Kemudian menyenderkan bahu di kursi dan menyalakan music player.
"Hening cuma ada suara ngorok si babi kek di kuburan!!" Gumamnya menyalakan musik jazz kesukaannya.
Hanssel membalikkan wajahnya dan mendekat.
"Mm-Mau apa kamu?" Nina beringsut mundur.
"Kamu makan kue aja berantakan kek bocah!!" Sungut Hanssel menyapu lembut ujung bibir Nina.
Debaran jantung Nina kembali berpacu dengan melodi yang membuatnya terkesan lebih romantis. Keduanya larut dalam suasana.
"Manis... Boleh aku mencobanya lagi?" Bisik Hanssel sangat lirih di belakang telinga Nina.
Bagi Nina semua terasa seperti kejutan arus listrik pendek yang membuatnya tidak bisa menggerakan syaraf motoriknya. Nina terpaku tanpa basa basi Hanssel meraup bibir Nina. Nina tak kuasa mendorongnya.
Keduanya kembali bertautan mesra kali ini Nina dalam keadaan kesadaran penuh, tapi dia bahkan tengah melingkarkan kedua tangannya di bahu Hanssel. Hanssel semakin leluasa mengeksplore rongga mulut Nina yang membuatnya kecanduan luar biasa.
"Aaargghh..." Nina melenguh pelan saat lidah Hanssel turun menuju leher jenjangnya.
Wangi parfume magnetis Nina membuat hasrat Hanssel semakin menjadi. Dia menyesap kuat area belakang telinga Nina.
"Aarrhh... Jangan Hansseel..." Pinta Nina terdengar manja.
Hanssel benar-benar menyukai suara seksi Nina saat ini. Tangannya semakin aktif turun dan mencoba membuka kancing-kancing kemeja wanitanya.
"Jangan Hanssel kumohon..." Nina memegang tangan Hanssel segera.
Hanssel tersenyum menatap wajah sayu Nina yang sama tengah menahan hasrat keduanya.
"Sedikit saja sayang... Aku memegang sedikit saja aku janji..." Ucapnya dekat sekali dengan bibir Nina kemudian kembali menyesapnya.
"Mmmm..."
Pegangan tangan Nina melemah, pria itu kembali meneruskan aksinya kini dia telah memegang bukit besar milik Nina. Dia mencoba meremasnya. Nina menutup matanya erat, otaknya bilang untuk menghentikannya, namun tubuhnya merespon lain.
Hanssel semakin liar, dia terus meremas membuat Nina semakin gelisah. "Aaahh Hanssel stop it!!!"
"Aaahh please..." Lenguhan demi lenguhan sengaja Hanssel ingin mendengarnya. Darahnya semakin mendidih ingin rasanya saat ini juga dia menyelesaikan sekertaris noraknya yang berubah dari bebek buruk rupa menjadi angsa putih yang cantik jelita.
Tangannya kini semakin berani turun dan menyingkap rok span ketat Nina hingga pangkal pahanya.
"STOP IT HANSSEL!!"
Dengan kesadaran penuh Nina mendorong tubuh Hanssel. Hanssel benar-benar sudah di puncak hasratnya.
"Nina sayang kita sewa kamar sebentar yuk..." Godanya.
"GUNDULMU!!" Maki Nina.
"HAHAHA!! Kamu sungguh pandai meruntuhkan hasrat yang tengah mencuat."
Hanssel kembali mencium bibir Nina.
"Sudah ya, bibirku kebas..." Pinta Nina memelas.
"Oke sayang aku melepasmu sekarang..."
"Tapi lain kali... Tidak akan!!" Bisiknya mesra mencium leher Nina.
Nina memperbaiki tampilan berantakannya, Hanssel mendapat suntikan energi yang besar kali ini. Dia memacukan mobilnya keluar rest area. Dia menarik satu tangan Nina dan menciumnya mesra.
Nina membiarkannya, jika Hanssel mendapat suntikan energi. Lain halnya dengan Nina, energinya justru seolah merosot tajam atas aksi Bosnya barusan.
Nina, I'm addicted to you... Rasanya jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan di banding dengan wanita yang pernah aku temui sebelumnya.
Dua jam sudah Hanssel menghabiskan waktu di perjalanan menuju Bandung. Mereka segera menuju Hotel Hilton dimana pertemuan itu berlangsung.
*****