
Seminggu kemudian,
Farah sudah merasa baikan, semua bekas luka yang di alaminya sudah menghilang sepenuhnya. Hanya luka batinnya yang masih tersimpan rapat di relung jiwanya sulit sekali dia hapus. Kejadian itu akan menjadi mimpi buruk setiap malamnya bagi Farah.
"Lama-lama gue crazy kalo gini terus!!"
"Semangaaat Faraah!!"
Farah menyemangati dirinya di cermin sebelum dia keluar kembali bekerja.
Di Suho Enterprise Nina telah datang lebih dulu.
"Gue heran ama bos gue yang on time nya pake banget!!"
"Pagiiii bos!!"
"Apa kamu tidak akan mengajak ku sarapan pagi yang enak gitu?!"
"Hari ini tanggal tua!!"
Suara nyaring Farah menghentikan aktivitas Nina dalam memverifikasi dokumen miliknya.
"Masuk juga akhirnya!!"
"Dah habis ya duidnya?!"
Nina mengucapkan candaan pada Farah.
"Ya begitulah..."
Nina menatap Farah dari ujung kepala hingga kaki. Farah yang di tatap demikian menjadi salah tingkah. Dia mengingat sepertinya semua tanda itu sudah menghilang, dia juga mengenakan pakaian yang jauh lebih tertutup.
"Kenapa?!" Farah menunjukan ekspresi tanda tanya.
"Tidak.... Ayok ke coffe shop sebelah!"
"Asiiik!!"
Sesampainya di tempat keduanya telah memesan menu yang diinginkan. Nina menyesap kopi Cappucino hangatnya. Sedangkan Farah memesan ice coffe dan beberapa kudapan manis.
"Kamu ga mau?!"
"Badan masih langsing gitu apa ga kasian ama baby nya?!"
"Lah emang kenapa?!"
"Kan biasa ibu hamil identik sama kegendutan."
"Biar gue bisa ngetawain tubuh lo yang berubah!!" Canda Farah menghilangkan segala kegelisahannya.
"Ya gimana ya dulu aku juga gendut pas nginjek 6 bulan waktu hamil Jimmy."
"Btw, lu dapet apa di penjamuan malam kemarin?!"
DEG!
Nina mengingatkan kembali pada hari terkutuk yang tidak ingin Farah ingat kembali.
"Gue ga perhatiin, gue rekam sama makan doang. Itu acara buat para eksekutif ke atas."
"Lah gue kan cuma ampas kopi doang!"
Nina terbahak mendengarnya, Farah memang bisa jadi moodbooster harinya.
"Lu ketemu kak Keenan ga?!"
"Dia juga ga bahas sama sekali, biasa dia ngomel kek babi!"
"Akhir-akhir ini gue lihat dia agak berubah."
Nina terdiam mengingat kembali saat kakaknya tengah gelisah dan berkeringat dingin. Tidak ada yang membuat kakaknya berlaku demikian jika bukan hal yang membahayakan.
"Gue duduk paling belakang, sengaja biar cepet pulang."
"Gue ga ada liat kak Keenan beberapa hari ini."
Farah menjawab sekenanya, dia sungguh berharap Nina menyudahi investigasi mengenai malam terkutuk itu.
"Kamu ke KL karena Daniel?!"
"Eh?!"
"Hm.. I.. Iya.." Farah kembali gelisah dia tengah berbohong saat ini.
Maafkan aku Nina, tapi kakak terkutukmu itu tidak menginginkan kamu mengetahui betapa dia sudah berkelakuan seperti iblis!
"Hatciiww!!"
"Siapa yang mengutuk ku!!"
Keenan merasa akhir-akhir ini dia sangat emosi.
"Jadi gimana apa udah nemuin pendonor jantungnya?!"
"Belum ada..."
"Tapi Daniel sudah jauh lebih baik, dia hanya tidak bisa beraktifitas berlebihan saja."
Farah berwajah sendu, Nina beranjak dari kursinya dan mendekati Farah merangkulnya.
"Kita doakan agar ada orang yang berhati malaikat yang berbaik hati mendonorkan jantung yang cocok untuk Daniel."
Farah mengangguk mengiyakan.
Dua kakak adik yang memiliki aliran darah yang sama tapi kepribadian yang berbeda bagai Bumi dan Mars!
Meski begitu dia beruntung Karennina, paman dan bibi masih memanjakannya. Keenan sudah di coret dari hatinya mulai saat ini.
***
Hari berlalu dengan begitu cepat, Farah bersyukur dia memiliki aktifitas yang padat membuatnya melupakan apa yang sudah terjadi di hidupnya.
Hari ini Farah berencana melakukan self reward dengan menyenangkan dirinya, mulai dari ke salon kecantikan, serta kuliner. Terakhir dia clubbing di salah satu bar terkenal di ibu kota.
"Sebalnya ga bisa ajak Karen, dia lagi hamil dan harus jaga Jimmy!"
Farah segera memasuki bar, duduk di meja dan memesan cocktail. Dia pikir dia bisa ikut menari di dance floor namun moodnya turun seketika dia tidak memiliki lawan main.
Di salah satu sudut di tempat yang sama.
"Kamu yakin mereka akan bertransaksi disini?!"
"Benar tuan..."
"Tuan Hanssel menerima informasi langsung dari kaki tangan Mr. Lee. "
"Menyebar!"
"Pastikan tidak ada korban, dan kosongkan bar jika sudah ada tanda kedatangan mereka."
"Baik tuan!"
Keenan menelusuri area VIP dari bar itu, dia menemukan orang yang di incarnya. Dia mengendap dengan menggunakan Sistem EYES meretas keamanan disana.
Di salah satu ruangan VIP yang di incar Keenan dan teamnya sudah berada sekitar 5 dan 2 orang penjaga di depan ruangan mereka. Keenan mengeluarkan laba-labanya kembali merekam apa yang sedang mereka lakukan.
"Tuan Don saya membawakan anda klien."
"Selamat malam tuan..."
Keduanya berjabat tangan dan salah satu anak buah tuan Don meletakan sebuah koper di atas meja.
Keenan merekam semua kejadian dan menangkap gambar dengan sempurnanya.
"Apa yang mereka tawarkan?"
"Apakah sejenis narkotika?!"
Keenan terus bergumam, dia sudah berjaga menggunakan senjata andalannya. Pistol berjenis Desert Eagle Mark XIX terkenal dengan daya tembak dan salah satu jenis yang paling mematikan.
"Sam, kamu mulai kosongkan area bangunan dari warga sipil!"
"Noted!"
Keenan berkomunikasi menggunakan HT. Dia kembali fokus pada rekaman yang di refleksikan oleh robotnya.
Salah satu anak buah tuan Don membuka koper kotak hitam yang berisi dua tube kecil yang disinyalir merupakan obat terlarang kemudian kembali menutupnya dan mengambilnya kembali kesisinya.
"Kalian sudah tahu peraturannya bukan?!"
"Obat ini satu pasang, dinamakan mengingat dan melupakan!"
"Jangan sampai salah, anda meminta satu paket!"
"Semua keterangan sudah sangat jelas!"
"Benar tuan, saya ingin memisahkan anak saya dengan pacarnya!"
"Hehe..."
"Anda sudah benar, senjata biologis ini sangat cocok untuk melakukannya secara alami!"
Keduanya melakukan transaksi pembayaran. Setelah selesai Keenan menarik robotnya, semua percakapan dan foto sudah terekam jelas dia bisa dengan mudah menjadikannya alat bukti.
"Sam, target sudah keluar aku serahkan dia padamu!"
"Aku akan mengejar tuan Don dan anak buahnya."
Keenan segera berbalik namun dia terkejut anak buah Don sudah lebih dulu mengetahui keberadaannya.
Dor!!
Dengan cepat Keenan menghindar.
Dor! Dor! Dor!
Perang tembakan di area tak jauh dari pusat bar membuat para pengunjung yang masih berada di area gedung berteriak histeris dan berhamburan keluar ruangan.
"Aarghh!!"
Farah memekik ketakutan, dia seperti kembali berada di hotel di malam terkutuk itu. Suara tembakan masih bersahutan.
"Ya tuhan, dosa apa aku selama ini selalu terjebak di situasi seperti ini!"
"Raja Ming memang sangat tampan di komiknya."
"Tapi aku belum mau bertemu dengannya!"
"Aku belum menikah!!!"
Farah merutuki keadaannya, dia malah berlindung di bawah meja bar. Untuk berlari keluar ruangan seperti yang lainnya kakinya terlalu lemas.
Bruuuuk!
Farah menutup matanya erat, dia juga menutup mulutnya rapat saat sesuatu terjatuh di hadapannya.
DOR!!
Suara tembakan terdengar sangat jelas di telinganya. Ingin rasanya dia menjerit saat ini juga namun dia ingat dia harus menunda lebih lama bertemu dengan Raja Neraka yang terkenal dengan kegantengannya di dunia Komik membuatnya tetap bungkam!
Rasa penasarannya membuat dia membuka perlahan matanya dan melihat kondisi di sekitarnya.
"Demi raja neptunus, Keenan Kaviandra adalah tanda-tanda kesialan ku!!" Gumam Farah lirih.
Gadis itu memperhatikan pria yang tengah terlibat baku tembakan dengan bersimpuh di depannya.
DOOR!!
"Sialan peluruku habis!!"
Saat akan mengganti dengan senjata lainnya Keenan menyadari ada bayangan di bawah meja bar.
"KAUU!!!"
FARAH LEE ADALAH DEFINISI HARI SIAL!!!
Farah segera mencoba melarikan diri setelah Keenan menyadari posisinya, seketika otaknya mengatakan lebih baik mati tertembak di banding harus bersama dengan iblis di depannya!
✲✲✲✲✲✲