Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 106 - Still life



"Jam ini bisa membantumu disaat keadaan yang mendesak dan berbahaya."


"Mengingat saat ini statusmu adalah Nyonya Keenan."


"Kedepannya kamu akan jadi incaran musuhku demi mendapat nyawaku!"


Glek!


Farah menelan salivanya, dia memang telah menyadari resiko dengan menyandang status besar menjadi wanita kakak sepupu jauhnya itu.


"Tombol ini berfungsi mengelurkan senjata sebesar jarum tipis yang bisa membuat orang pingsan seketika."


"Jika kamu dirasa dalam keadaan bahaya dan tidak bisa meminta bantuan kamu bisa gunakan ini."


"Tombol sos ini kamu tekan, aku atau anak buahku akan datang secepat yang kami bisa."


Bruuk!


Keenan terpaku belum selesai dia menjelaskan pada kelinci kesayangannya tapi Farah telah memeluknya dengan erat. Keenan mengusap kepala wanitanya lembut dan menciumnya.


"Aku berharap tidak ada orang yang berniat jahat padamu."


"Pagi ini aku harus kembali pada pekerjaanku."


Keenan mencium bibir mungil lembut kekasih kecilnya. Farah menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kakak harus selalu berhati-hati, janji?!" Farah menunjukan jari kelingkingnya membuat janji dengan prianya.


"I love you cutie..."


Keenan tersenyum mengikutinya sebelum dia pergi meninggalkan kekasihnya.


***


Satu bulan kemudian,


Di salah satu rumah sakit besar di Negara S, Yvone mulai menunjukan perubahan yang baik. Tanda-tanda kehidupannya semakin terlihat dan hari ini dia terbangun dari komanya.


"Ehmm...."


Yvone memegang kepalanya yang dirasa berputar.


"Kau sudah sadar?!"


Rangga menghampirinya, Yvone memang sudah tidak menggunakan alat bantu medis yang rumit seperti sebelumnya. Dia hanya tersemat satu selang infus sebagai penambah cairan tubuh. Semua alat vitalnya menunjukan gejala baik hanya saja sepertinya Yvone sendiri yang belum menginginkan terbangun dari alam bawah sadarnya.


Rangga sendiri tidak menyangka kepedulian dia terhadap Yvone sungguh besar. Dia begitu merasa kasihan jika mengingat bagaimana orang-orang yang tidak memiliki perasaan itu membuang mayatnya begitu saja.


"D-dimana ini..."


Yvone berencana terduduk, Rangga membantunya perlahan.


"Kamu ada di rumah sakit..."


"Kamu siapa??!"


Yvone sedikit ketakutan, dia enggan di sentuh oleh Rangga.


"Kau tidak mengingatku?!"


Yvone menggeleng lemah dengan raut wajah yang masih pucat.


"Baiklah, bagaimana dengan dirimu..."


Yvone membesarkan kedua bola matanya, tanda dia tidak mengerti akan pertanyaan Rangga.


"Aku tidak sengaja membantumu saat kamu mengalami kecelakaan."


"Tapi tas dan lainnya aku tidak menemumannya."


"Jadi aku tidak tahu identitasmu."


Yvone tertegun dengan kalimat yang panjang terlontar dari penolongnya. Dia menatap ke arah jendela kamar rawatnya.


"Siapa aku?!"


"Aku tidak ingat..."


Sejurus kemudian air matanya mengalir begitu saja, ada rasa sesak di dadanya. Namun sulit dia temukan jawabannya.


Aku... Aku sendiri tidak ingat apa yang terjadi saat ini...


Rangga memberanikan dirinya dia menggenggam tangan Yvone bermaksud menenangkan gadis itu. Namun Yvone menyadari dan memilih menepisnya.


Siapa pria ini? Aku seperti tidak asing dengannya.


"Aaargghh!!"


Yvone tiba-tiba memekik dengan menekan kepalanya dengan kedua tangannya. Rangga terkejut seketika dan segera menekan tombol pemanggil perawat untuk datang keruangannya.


"Kamu kenapa?!"


"Jangan dipaksakan!!"


"Mungkin kecelakaan itu membuat kamu kehilangan ingatan mu!"


Yvone terbelalak, sekelebat memory hidupnya menampilkan dirinya. Dia tengah berada di situasi dimana di ancam dan disiksa oleh seseorang kemudian ingatan itu kembali memudar.


Yvone pun menangis histeris. Tak berapa lama team medis mendatangi mereka.


"Sus tolong dia!!"


"Baik tuan, sebaiknya anda keluar dulu dari ruangan."


"Kami akan melakukan test fisik pada nona."


Rangga menelan salivanya, tenggorokannya tercekat. Baru kali ini dia melihat sendiri penderitaan seseorang yang baru dia kenal dan dekat dengannya.


Di ruang tunggu pasien Rangga melayangkan pikirannya.


"Ternyata tidak mudah mengusut apa yang sebenarnya terjadi."


"Aku baru tahu bahwa ternyata tuan Albert tidak hanya melakukan bisnis di lini kolektor barang kuno."


"Dia juga menjual beberapa barang ilegal bahkan senjata api bagi pelanggan rahasia yang tidak bisa kami dapatkan informasi lanjutannya."


"Kolektor benda antik hanya cangkang bisnisnya saja."


"Aku juga baru mengetahui bahwa keempat pria yang mengikuti Yvone bukan dari keluarga Albert!"


"Melainkan anak buah dari penyedia pelelangan pasar gelap dalam jaringan hitam."


"Yvone meretas sistem keamanan mereka dan mencuri barang dari pelelangan."


"Barang apa itu aku tidak bisa mendapatkan informasi lebih jauh."


"Karenninaa..."


Rangga ingat juga dengan Nina yang sampai saat ini belum dia hubungi. Dia terlalu fokus mengurusi kasus yang terjadi pada Yvone.


"Aku harus menelponnya..."


Namun tak berapa lama suster telah selesai dengan pemeriksaan pada Yvone.


Braaak!


"Bagaimana keadaannya??!" Rangga beranjak dari tempat duduknya.


"Kami hanya memberikan nona obat penenang tuan."


"Selebihnya dokter yang akan menjelaskan semuanya pada anda."


"Beliau tiba satu jam lagi."


"Mohon sabar menunggu tuan..."


Suster menjelaskan dengan lugas dan ramah. Rangga mengerti dia menganggukkan kepalanya dan kini beranjak menuju kamar. Rangga terkejut ternyata Yvone tidak tidur melainkan tengah menatap keluar jendela.


"Mengapa kamu membantuku?!"


Lebih tersentak lagi Yvone mengatakan hal yang terlalu blak-blakan pada Rangga.


"Aku..."


Rangga tengah berpikir baiknya menjelaskan seperti apa.


"Karena aku manusia..."


"Sesama manusia harus memiliki rasa kemanusian yang tinggi."


"Kita sebagai manusia juga harus memiliki sifat kepedulian dan tolong menolong antar sesama."


"Terlebih pekerjaanku memang merupakan salah satu sistem penegak hukum."


"Aku melihatmu sedang dalam masalah dan kecelakaan tentu aku bantu."


"....."


Yvone menatap Rangga dengan penuh haru, dia kembali menitikan air matanya. Dia tidak ingat kapan ada seseorang yang begitu peduli pada hidupnya.


Aku bahkan tidak ingat siapa keluargaku... Entah bagaimana hidupku kedepannya.


"Harusnya kamu membiarkanku mati!"


Deg!!


Rangga merasa jantunya berhenti berdetak sesaat dan saat ini berpacu dengan cepatnya.


Bagaimana jika dia tahu bahwa sejunurnya dia bangkit kembali dari kematian?


"Kenapa kamu ingin mati?!"


Rangga mendekati Yvone yang tengah terisak menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak ingat apapun lagi."


"Aku tidak tahu harus kemana, harus melakukan apa..."


"Aku sendiri tidak tahu siapa diriku sendiri!!!"


"Jika seperti ini apa bedanya dengan menyiksa hidup-hidup?!"


Rangga terbelalak, dia seperti memiliki kata kunci yang tidak sengaja dia dapat dari keputusan asaan Yvone.


Tujuan dari obat yang ada di dalam tubuh Yvone adalah menyiksanya seumur hidup. Sungguh kejam...


"Mulai saat ini kamu orangku..."


"Aku akan memberikanmu identitas baru untuk kamu gunakan..."


"Aku juga yang akan menjamin hidupmu..."


Yvone menghentikan tangisnya, dia menatap Rangga dengan sisa air mata di pelupuk matanya. Keduanya beradu pandang, Rangga menelan salivanya menatap wajah baru Yvone yang sengaja tanpa persetujuan Yvone dia meminta dokter bedah merubahnya sedikit.


Mata Rangga membulat sempurna, wajahnya merona, jantungnya berdegub dengan kencang. Yvone spontan memeluk dirinya. Rangga dalam mode freeze.


Yvone melonggarkan pelukannya dengan senyuman manisnya dia tunjukan pada penolong hidupnya.


"Terima kasih..."


✲✲✲✲✲✲