Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 52 - Epic Comeback



Nina masih menunggu Rangga menyelesaikan bagiannya namun belum ada 10 menit Rangga sudah menghampirinya.


"Lah?" Nina menatap keheranan.


"Haha... Menggelikan..."


"Baru segini aja dia udah pingsan..."


Nina mengulumkan senyumnya ikut tertawa lirih mengejek mantan suaminya.


"Apa kamu sudah puas?" Tanya Rangga serius.


"Kepuasan itu tidak mutlak..."


"Terkadang manusia itu serakah..."


"Bukan hanya kejahatan saja yang tercipta karena ada niat dan kesempatan..."


"Kepuasan juga demikian..."


"Semakin kita di beri kesempatan semakin kita kejar apa itu kepuasan!"


Rangga menatap nanar ke arah Nina yang tengah mendongakan wajahnya yang tengah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Sekali lagi, hidup itu pilihan bukan?" Rangga kembali memberikan semangat untuk wanita yang dia cintai namun tidak mencintainya.


"Terima kasih Rangga, kamu masih mau membantu ku saat ini."


Rangga mencoba menggenggam jemari Nina, namun perlahan Nina melepaskannya sopan.


"Aku juga tidak akan menyerah padamu..."


"Aku juga menyadari bahwa cinta itu serakah, semakin kamu mencintai seseorang semakin kamu serakah ingin juga memilikinya."


Nina menggelengkan kepalanya perlahan mendengar semua ucapan sendu Rangga.


"Aku kembalikan kata-katamu Rangga..." Nina tersenyum manis mengarah pada pria yang hanya bisa dia anggap sebagai adik laki-lakinya.


"Hidup itu pilihan..."


"Dan kamu bisa memilih untuk hidup bahagia..."


"Temukan wanita yang akan mencintaimu..."


"Wanita yang bisa membuatmu kembali menemukan cinta..."


"Lepaskanlah..."


Rangga mengepalkan kedua tangannya erat, dia masih tidak bisa menerima bahwa cintanya selalu bertepuk sebelah tangan walau sudah bertahun-tahun lamanya Karennina masih tidak bisa melihat ketulusan hatinya.


Nina beranjak meninggalkan Rangga menuju mobil yang ia parkir tak jauh dari posisi mereka berbincang. Rangga menatap pedih punggung wanita yang sudah menyakiti perasaannya sekarang ini.


***


"Semua sudah selesai bukan?"


"Mari kita pulang..."


"Aku masih ada urusan yang belum aku selesaikan."


"Haish..."


"Hubungan dengan bos mu itu?"


Nina terdiam tidak ingin membuat kakaknya mengetahui lebih jauh tentang permasalahan pribadinya.


"Mereka mengundangku ke pesta esok hari."


"Aku tebak, priamu sudah di jodohkan bukan?"


"Apa kamu masih mau ngotot?"


"Aku hanya ingin....."


Nina sudah kehabisan kata, apa yang sebenarnya yang dia inginkan, apa yang ingin dia perjuangkan semua masih abu-abu baginya.


"Aku berjanji setelah selesai aku akan membawa Jimmy pada kakek neneknya."


Nina beranjak dari kediaman kakak satu-satunya kembali pulang. Esok mungkin dia akan mengetahui jawaban pasti atas ambisi apa yang ingin dia capai selanjutnya.


Nina telah sampai di kediamannya, dia merasa energinya terkuras habis. Hampir seharian penuh dia berada di luar, sekarang ini dia hanya ingin beristirahat makan dan tidur. Dia tidak ingin berpikir yang lainnya, dia menyambut pelukan hangat buah hatinya kemudian ijin pada putranya untuk beristirahat. Jimmy sangat pengertian dia tentu saja tidak banyak tingkah dan membiarkan ibunya beristirahat sejenak.


"Tadi papa pulang..."


"Buru-buru mencari ibu, tapi ibu tidak ada..."


"Kemudian dia pergi lagi..."


Ucapan polos putranya hanya di jawab senyuman tipis di bibir Nina. Nina segera berlalu dan membersihkan dirinya, kemudian terlelap begitu saja bahkan tanpa sempat memakai baju dia masih dengan kimono handuknya.


Ceklek!


Hanssel telah kembali, dia merasa iba melihat istrinya tengah meringkuk dengan menampilkan raut wajah yang di tekuk. Walau tertidur, wanita itu kini meneteskan air matanya. Hanssel mengusapnya lembut, menyelimuti istrinya badan Nina terasa hangat dan wanita itu terlihat seperti tengah bermimpi buruk.


"Apa yang sudah mereka lakukan padamu Nina...."


"Mulai sekarang ijinkan aku yang akan membahagiakan mu dan melindungi mu."


Cup~


Hanssel mencium kening istrinya, dia beranjak membersihkan diri. Dirinya juga sangat lelah hari ini. Sepanjang hari dia mencari keberadaan istrinya. Untuk melacak keberadaan Nina dengan ponselnya saja dia tidak bisa. Dia datang mengunjungi lapas namun terlambat, saat dia datang Nina dan Rangga telah selesai dan meninggalkan Lapas 10 menit sebelum Hanssel datang.


Semua informasi tambahan lain yang mengatakan bahwa Suho bangkrut dalam satu malam, hutang keluarga Shin yang menggunung membuat nyonya besar Yu koma di rumah sakit. Skandal video mesum sekertaris dan sekaligus istri CEO Suho telah menyebar di seantero penikmat hiburan jagat maya. Hujatan dan cacian pedas di lontarkan para Netizen bagi Soraya. Wanita itu kini mendekam di penjara dengan trauma yang mendalam. Dia tidak memiliki muka untuk keluar bertemu dengan orang-orang.


Betapa mengerikannya istriku, dia membalaskan dendamnya hanya dalam satu hari. Bahkan belum ada 24 jam semua keburukan keluarga Shin terungkap.


Hal seperti ini saja dia tidak ingin menyusahkanku...


Hanssel segera beranjak dari bak mandinya, dia sangat rindu dengan istrinya. Belum ada satu hari dia lepas dari istrinya dia seperti sudah tidak bertemu dengannya bertahun-tahun lamanya.


"Mmmm..."


Nina menggeliat, tubuhnya merasa dingin oleh sentuhan jemari Hanssel yang kini telah melampar handuk kimono Nina.


Nina membuka mata sepenuhnya "Haansss..." Rengek Nina manja justru membuat Hanssel semakin bergairah.


Tanpa meminta ijin istrinya, Hanssel kembali meminta haknya. Kini jeritan dan lenguhan keduanya kembali menggema. Di tengah deru nafas memburu Hanssel, dia berbisik pada istrinya yang tengah terbang ke angkasa.


"Ini adalah hukuman karena bertindak gegabah!!"


"Aarggh!!"


Nina masih terengah dalam dekapan suaminya yang memainkan rambutnya.


"Nina..."


"Hmm..."


"Kita ini suami istri sekarang..."


"Kita sudah sepakat sebelumnya bukan?"


"Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri Nina..."


"Aku sangat senang jika kamu mau menggantungkan dan mengandalkan aku sebagai suamimu..."


"Terima kasih Hanssel..."


"Aku hanya tidak ingin melibatkanmu..."


"Ini balas dendam milik ku..."


"Tentu saja aku yang akan melakukannya."


Hanssel memeluk erat istri tercintanya dan mengecup keningnya.


***


Berita bisnis pagi ini,


Seperti di ketahui kasus Suho menjadi sorotan publik saat ini. Setelah kabar baik dia memenangkan tender dengan perusahaan sekelas Adamson kini mereka justru terhempas di titik kebangkrutan.


Kabar lainnya mengatakan bahwa Suho telah di akusisi oleh perusahan besar di bawah naungan pengusaha muda yang baru saja membuka bisnis StarUp baru yang di rencanakan akan buka di tanah air dan membuka lowongan pekerjaan besar-besaran.......


Tut!


Hanssel menatap Nina nyalang, berita ini di luar ekspektasinya.


"Kamu mengetahuinya?"


"Apa kamu yang mengijinkan mereka membeli 70% Saham Suho?"


"Kamu hanya memiliki 30%?"


"Atau?"


"Aku juga tidak tahu, semua di luar kendaliku..." Terang Nina datar.


Hanssel sedikit emosi, pasalnya seharusnya saat ini dia lah yang mengakusisi Suho. Selain memperbesar perusahaannya ini satu-satunya alat mengungkung Nina dalam dekapannya. Tanpa Suho, Hanssel tidak bisa mengikat Nina di sisinya. Kini kekhawatirannya semakin menjadi, wanitanya bersikap dingin kembali padanya setelah beberapa hari kebelakang mereka menjalani pernikahan hangat.


Akankah semuanya berakhir cepat baginya?


"Setelah Suho berdiri sendiri sekarang apa kamu berniat membuang ku?!"


Hanssel tidak sabar mempertanyakan sesuatu yang bisa jadi menyulutkan pertengkarang di antara keduanya.


"Kamu mungkin lupa, pernikahan kita tercipta karena kesepakatan."


"Kamu bilang dalam satu bulan kamu memberikan Suho padaku."


"Ini sudah hampir masuk 2 bulan, kamu masih tidak memberikannya."


"KARENNINA!!"


"Apa yang kamu inginkan sebenarnya Hanssel?"


"KAMU!!"


"AKU INGIN KAMU!!"


"Bukankah kamu sudah cukup bersenang-senang dengan ku?"


"Ini sudah lebih dari satu bulan..."


Hanssel mendekati Nina "Kalau begitu kamu tahu bukan bagaimana perasaanku sesungguhnya?!"


Nina kembali memperlihatkan wajah murungnya.


"Aku sudah tidak sanggup bermain Hanssel..."


Hanssel melebarkan senyumnya menarik tubuh Nina dalam dekapannya.


"Jika begitu, kita tidak sedang bermain-main sayang."


"Ini kenyataannya."


"Kenyataan bahwa kita terikat pernikahan yang sah."


"Kenyataan bahwa kita akan menjalani hidup bersama, menua bersama selamanya!!"


"BULLSHITT!!" Nina mendorong kasar dan melepaskan dirinya dalam dekapan Hanssel.


"Apa kamu lupa apa yang di katakan ibunya kemarin?"


"Kamu sudah akan menikan dengan nona muda Lim!"


"Aku yang rakyat jelata ini tidak mungkin bisa bersanding denganmu!!"


"Ssssttt!!"


Hanssel kembali menarik tubuh Nina dan menempelkan telunjuk di bibir seksi sekertarisnya.


"Aku yang memilihmu..."


"Kamu yang akan hidup menua bersamaku..."


"Mereka tidak merestui kita tidak masalah!!"


"Mereka tidak menginginkan mu tidak masalah."


"Aku mau!!"


"Aku ingin!!"


"Jika demikian mengapa sampai detik ini kamu tidak ingin mengatakan sejujurnya pada ibumu hah?"


"........."


"Hahahaha!!"


Nina menggelengkan kepala dengan tawa dukanya, dia beringsut mundur dan keluar dari ruangan bosnya.


"KARENNINA!!"


Buug!


"Arrgg!!"


Hanssel memukul meja kerjanya, dia mengusap kasar wajahnya frustasi. Dering ponselnya seolah tidak membiarkan dia bersedih. Hanssel segera menjawab panggilan dari orang yang baru saja dia bahas bersama istrinya.


"Iya ma..."


"Baiklah, malam ini aku datang kerumah."


✲✲✲✲✲✲