
Persentasi dan rapat yang di adakan dengan JK sukses besar. Adamson Group kembali memenangi tender besar tahun ini.
"Terima kasih sayang... Ini berkat dirimu..." Hanssel mencium leher Nina dari belakang.
Keduanya telah kembali ke hotel dan berada di kamar Hanssel saat ini.
"Hans.." Nina kini memiliki panggilan kesayangan untuk prianya.
"Aku menginginkan mu kembali sayang... May I?"
"No!"
"Why?"
Hanssel tengah bermuka masam, dia terus menciumi dan mengusap lembut perut rata nan mulus wanitanya.
"Hans, aku tidak bisa fokus. Aku tengah mempersiapkan berkas terakhir yang di minta JK."
Nina membalikan wajahnya ingin menatap dingin bosnya namun Hanssel segera menyesap bibir peach Nina. Tangannya kembali bergerilya di tubuh Nina.
"Hanssel!!" Nina mendorong tubuh bosnya.
"HUH!!"
Hanssel melepaskan Nina dan beranjak setelah ketukan pintu luar terdengar.
"Maaf tuan saya mengganggu... Ini berkas yang anda inginkan..." Farell menyerahkan informasi yang di minta bosnya.
"Terima kasih... Oh iya apa kamu sudah memeriksa Jimmy dan Nanny nya?"
"Sudah tuan.. Tuan kecil sedang tidur siang sebelum saya kemari..."
"Bagus... Jangan lupa kirimkan beberapa kudapan ke kamarnya."
"Baik tuan..."
Nina tersenyum bahagia mendengar percakapan serius tuannya mengenai buah hatinya.
Jimmy, seandainya papa Hanssel benar-benar menginginkan posisi itu. Aku yakin kita akan hidup bahagia... Sayang semua itu hanya angan semata.
Nina menghentikan jentikan jemari di laptopnya. Di mengatur nafasnya agar tidak terlihat sedang berpikir berat.
Aku tidak mungkin jatuh hati dengannya bukan? Lagian melihat pria tampan, kaya dan sangat perhatian wanita mana yang tidak akan terjebak dalam pesonanya!
Nina menarik nafas dan menghembuskannya perlahan dia meyakinkan kembali dirinya agar kuat menghadapi kenyataan. Dari awal niat dia adalah membalas dendam keluarga Shin dan membawa kesuksesan dirinya agar bisa kembali ke dalam keluarga besarnya Kaviandra.
"Aahh!" Nina merentangkan tangannya ke atas dan beranjak dari meja yang di gunakannya bekerja.
Sedari tadi dia tidak mendengar suara bosnya. Setelah mendekat ternyata tuannya berada di luar balkon kamar. Nina memperhatikan baik tuannya. Hanssel tengah memeriksa beberapa berkas dan memverifikasinya. Salah satunya tentang berkas Suho Enterprises dan mempelajari profil Erick Shin. CEO Suho saat ini dan sekaligus mantan suami pacarnya. Dia meremasnya penuh emosi.
Pria brengsek ini tidak pantas untuk Nina!! Si nenek lampir itu mengapa bisa mudah jatuh kedalam pelukan pria bajingan seperti itu!! Bisa-bisanya dia menggantikan posisi Nina dengan wanita murahan seperti Soraya!!
"Kau sedang apa?" Pertanyaan Nina membuyarkan lamunan Hanssel.
Dia juga segera menutup semua berkas dan menaruhnya di meja kecil di sebelahnya.
"Kau sudah selesai dengan JK?"
"Ehmm.." Nina mengangguk.
Hanssel mendekat dan keduanya kembali bertautan mesra. Dia juga segera mengangkat tubuh ramping Nina dan menaruhnya di ranjang.
"Aku sudah tidak sabar sayang..." Hanssel menyeringai dan mulai menanggalkan semua pakaiannya.
Keduanya kembali melabuhkan hasrat mereka yang terus bergejolak. Ingin rasanya Hanssel terus menerus menikmati tubuh sekertarisnya. Namun rengekan Nina untuk menghentikannya membuat dia tidak bisa menolak atau memaksanya. Keduanya masih dalam keadaan tanpa sehelai benang hanya berselimutkan kain tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
Hanssel menciumi bahu wanitanya dan memberikannya kembali tanda cintanya.
"Hanss sayang jangan terlalu banyak aku tidak bisa pale baju terbuka nanti!!" Protes Nina.
"Aku tidak mengijinkanmu memakai pakaian terbuka mulai saat ini!!"
"Hanya boleh di perlihatkan padaku saja!!"
Hanssel kembali menampakan sifat posesifnya. Nina tertawa kecil dengan penuturan bosnya. Tangannya menggenggam erat jemari prianya dan mengecupnya mesra. Hanssel tersipu dibuatnya.
"Kau tahu Nina... Ini pertama kalinya aku melakukan cuddling!"
"......." Hanssel terdiam, dia tidak ingin menyakiti wanitanya saat ini dengan menceritakan tentang keburukannya dimasa lalu.
Nina membalikan badannya dan menatap heran ekspresi Hanssel saat ini.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin membahasnya karena aku apsti cemburu?!" Goda Nina.
"Aku bahkan sering memergoki kalian... Itu sudah hal biasa di hidupku selama 2 tahun ini... Hahaha" Nina tertawa melihat ekspresi Hanssel yang tengah gelisah.
"Apa kamu tidak cemburu?!" Tanya Hanssel serius.
"Ah come on, kita anggap saja semua ini hanya one night stand selama satu bulan bukan?!"
"Lets fall in love tonight and forget in the morning!"
Ucapan Nina menyayat hati Hanssel, pria itu kaku, terdiam dan terpaku. Nina yang mendapat tatapan serius dan dingin atas ucapannya seketika merasa bersalah.
Apanya yang salah? Bukankah benar? Aku dan dia tak ubahnya hanya pemuas ranjang semata!
"Kau kenapa?" Tanya Nina memastikan keadaan Hanssel.
"Apa kamu pikir semua ini hanya perasaan sementara saja Hah?!" Hanssel terbawa suasanya dan mengungkapkan kekecewaannya.
"Maksudmu?" Nina tidak mengerti.
Sejurus kemudian Hanssel kembali mengerjai Nina, kali ini jauh lebih kasar dan brutal. Hanssel sungguh gelap mata! Dia tidak menyukai saat Nina bilang bahwa mereka hanya sekedar one night stand semata.
"Arrrghh!"
Hanssel membenamkan miliknya semakin dalam "Kau ingat Nina, hanya boleh aku yang menyentuh tubuhmu!!"
"KAMU MILIKKU MULAI SEKARANG DAN SELAMANYA!!"
"Aaarghh!!"
Nina hanya mampu meringis menahan pedihnya kelakuan Hanssel, menangispun percuma bosnya sudah tidak lagi mendengarkan ucapannya. Dia juga tidak lagi mementingkan kenyamanan wanitanya. Nina semakin erat mencengkram sprei putih yang sudah tidak pada tempatnya, gerakan Hanssel semakin brutal dan kasar. Dia merasakan tidak hanya perih di area bawah miliknya namun bagian depan puncak bukitnya terasa sangat perih oleh gigitan gigi rapi prianya. Bahkan dia merasa prianya akan memotongnya hingga lepas.
Kau sungguh seperti binatang!!
Nina terus menggosok tubuhnya di dalam kamar mandi. Tidak hanya tubuhnya yang sakit melainkan hatinya juga terasa sangat sakit di perlakukan seperti layaknya wanita panggilan untuk memuaskan hasrat yang tidak normal tuannya.
***
Hanssel terbangun dari tidur lelapnya, dia menggerakan tangannya kesamping. Matanya terbuka seutuhnya, dia bangkit dari tidurnya. Dia mendapati Nina tidak di sampingnya, dia memanggil nama sekertarisnya namun hening.
Hanssel menarik ponsel dengan kasar, dia menghubungi nomor sekertarisnya.
Tuutt...
Beberapa kali Hanssel menghubungi namun tidak ada jawaban dari wanitanya. Kini dia menyadari perbuatan kotornya saat mengerjai Nina sebelumnya. Hanssel segera beranjak dan membersihkan diri. Berharap Nina berada di kamarnya bersama Jimmy.
[ Maafkan aku sayaang... Aku memperlakukanmu dengan buruk... Aku sungguh emosi saat kanu bilang kita hanya patner ONS!! ]
Sebelumnya Hanssel mengirim chat pada sekertarisnya.
Nina membaca pesan Hanssel namun dia tidak ingin membalasnya. Nina sungguh lelah dan sakit di sekujur tubuhnya. Setelah mendengar pesawat mereka akan berangkat Nina mengajak Jimmy dan Nannynya untuk segera beranjak.
Nina pulang lebih dulu, dengan anggaran pribadinya Nina merubah jadwal kepulangannya jauh lebih cepat. Tanpa memberitahukan Hanssel terlebih dahulu, dia benar-benar ingin terlepas sejenak dari lelaki yang sudah menorehkan luka pada dirinya.
Hanssel sudah beberapa menit mengetuk pintu kamar Nina namun tidak ada jawaban, sampai akhirnya ada petugas OB menghampirinya dan mengatakan bahwa dia akan membersihkan kamar itu karena tamu sudah check out beberapa jam yang lalu. Hanssel yang emndengarnya seperti mendengar letusan bom api. Dia menghubungi Farell dan melacak berada Nina sekaligus penerbangan terdekat HK ke SH.
"SIAAAL!!!"
Bug!!
Hanssel memukul pilar ruang tunggu Airport. Dia terlambat mengejar penerbangan yang di gunakan Nina untuk pulang lebih awal.
"Jadwalkan kembali yang paling dekat hari ini."
"Baik tuan..."
Nina maafkan aku... Aku mohon!!
Nyatanya saat ini Hanssel tengah ketakutan luar biasa. Dia sangat takut kehilangan sekertarisnya.
✲✲✲✲✲✲