Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 58 - Melawan Restu



"Apakah dokumen ini benar?!"


"Benar tuan, saya mendapatkannya di rumah nona muda."


"Dia sungguh berani!!!"


"Mungkin ini seperti kesepakatan yang sering nona muda bilang tuan..."


"Maaf saya lancang tuan..."


"Sam, selidiki dimana mereka sekarang?!"


"Lalu semalam apa yang kamu dapatkan?"


"Lapor tuan, semalam nona sudah melakukan semua yang di instruksikan."


"Dia sudah menanamkan virus di perusahan Lim."


"Asal mereka menyadari folder kosong itu dan membukanya. Virus akan menyebar dengan cepat."


"Bagus..."


"Apa semua rapi?!"


"Sangat rapi!"


"Nona benar-benar berbakat!"


Keenan mengisyaratkan tangannya pada Sam, Sam mengerti dia undur diri. Keenan tengah melihat dokumen akta nikah Nina dan Hanssel.


"Pantas saja!!"


Keenan tahu sendiri kondisi mental adiknya semenjak keluar dari keluarga Shin, Keenan diam-diam tanpa keluarganya tahu merangkul adiknya membesarkan hatinya mengajari seluruh keahliannya pada gadis itu. Demi membalaskan dendamnya pada keluarga Shin. Jika dia sendiri yang melakukannya tidak akan menjadikan Nina sekuat sekarang. Nina di daftarkan pelatihan mata-mata di XK. Dengan kepintaran Nina dia berhasil lolos, dan menjadi murid terbaik dalam pengasuhan Keenan.


Kraaaak!


Door!!


"Menjadi seorang agen profesional, jangan sekali-kali melibatkan perasaan!"


"Kamu hanya perlu insting dan ketepatan yang kuat!!"


Door!!


"Great!!"


Keenan mengingat bagaimana dia mengajari adiknya menggunakan senjata, dan Nina berhasil menguasainya hanya dalam waktu satu bulan saja. Di bawah pengaruh dendam yang menggebu pandangan Nina tidak pernah bergeming dan dingin. Namun saat melihat adiknya menatap Hanssel malam itu Keenan menyadari adiknya mulai mencair.


"Kelemahanmu sudah terlihat dengan jelas Nina..."


"Jangan sampai mereka mengetahui dan menggunakannya!!"


Keenan meninggalkan ruangan kerjanya.


***


Kedua sejoli ini masih betah dengan kemesraan mereka berdua.


"Kita belum mengadakan honeymoon sayang..."


"Kamu ingin kemana??"


Tanya Hanssel memainkan rambut Nina.


"Kemana ya..."


"Kemana saja, asal bersama denganmu dan Jimmy!"


Hanssel tersenyum, "Bagaimana dengan Santorini, atau Maldives, atau..."


Nina terkekeh mengusap lembut wajah prianya. Entah mengapa hari ini dia merasa sangat bahagia.


"Aku tidak menyangka, aku akan merasakan kebahagiaan seperti ini kembali di hidupku!"


"Setelah apa yang sudah aku alami sebelumnya..."


"Selama ini aku merasa aku ada di lubang hitam, sulit keluar."


"Aku berharap kamu tidak pernah mengecewakan ku Hanssel."


Hanssel terpaku dengan ucapan istrinya, antara senang dan sedih, kecewa dan bahagia melebur menjadi satu.


"Hanssel Adamson, terima kasih sudah menarik ku dari lingkaran lubang hitam yang dalam."


"Aku ingat kita berjanji untuk tidak saling jatuh hati!"


"Berkata jangan pernah berjanji untuk saling memiliki, karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok hari semua masih menjadi misteri!"


"Tapi aku benar-benar bersungguh-sungguh saat aku mengatakan aku mencintaimu!!"


Hanssel mengatupkan bibirnya, dia bahkan tengah meneteskan air matanya.


"Mengapa sekarang kamu jadi pendiam?" Nina memancing suaminya.


"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari ku kan?!"


Hanssel memeluk Nina erat, "Kamu hanya perlu percaya aku hanya mencintaimu!!"


Nina mengembangkan senyumnya, dia menutup matanya erat merasakan bahwa untuk kedua kalinya dia ingin kembali percaya bahwa cinta itu nyata.


***


Seminggu kemudian, Adamson Group.


"Apa ini ma?!"


"Kontrak kerja sama dengan keluarga Lim!"


"Aku akan menandatanganinya dengan syarat wujud investasi itu nyata!!"


"Ini nyata Hanssel!!"


"Kamu lihat pergerakan saham ini?!"


"Ini menguntungkan kita!"


"Kamu tinggal menikahi Catherina dan semua ini akan menjadi milik kita."


"Heh!"


"Mama sendiri paham ga sih?!"


"Mama tuh di bohongi sama tetua Lim!!!"


"HANSSEL!!!"


"Mama tidak mau berdebat!!"


Nyonya Rossie meninggalkan ruangan Hanssel, sebelumnya dia berbelok menuju ruangan Nina.


Braak!


"Nina, apa kamu masih punya muka untuk datang kembali bekerja disini?!"


Tanpa basa-basi Nyonya Adamson memaki Nina saat memasuki ruangan sekertaris putranya.


Nina berdiri dan menunduk hormat, karena di depannya adalah tetua Adamson. Dia harus menunjukan rasa hormat.


"Sejujurnya saya sudah mengundurkan diri sudah sangat lama, namun seperti yang anda ketahui Tuan Hanssel tidak mengijinkannya."


"Jika anda merasa saya mengganggu, anda bisa langsung menyuruh tuan Hanssel memecat saya."


"Saya berada di bawah naungan beliau!"


"LANCANG SEKALI KAMU NINA!!"


"APA PERLU AKU INGATKAN SIAPA YANG MEMASUKAN MU DI PERUSAHAN SAYA!"


"MAA!!"


Nina berdiri tidak bergeming, tidak ada tatapan keraguan bahkan ketakutan sedikitpun di diri Nina.


Hanssel menghentikan tangan ibunya saat hendak menampar istrinya.


"Aarh!"


"Hanssel!!"


Plaaak!


Sebagai gantinya Nyonya Rossie menampar putranya untuk pertama kalinya.


"Lihat Hans!!"


"Dia adalah pengaruh yang buruk terhadapmu!!!"


"Keluarkan dia sekarang juga atau kamu tidak perlu lagi melihat mama!!!"


"Ma!!"


"Maafkan saya tuan dan nyonya besar."


"Saya tidak pernah ingin menjadi sumber pertikaian diantara kalian."


"DIAM KAMU!!"


"TERNYATA KAMU LEBIH BERBAHAYA DARI SEKERTARIS SEBELUMNYA!!"


Untuk pertama kalinya Hanssel dilanda kebingungan luar biasa, ini baru terjadi sekali di hidupnya.


"Ma, aku minta maaf aku akan membangkang mu saat ini!"


"Aku berterima kasih karena jasa mu padaku luar biasa..."


"Aku tidak akan pernah melupakan semuanya."


"Bakti ku padamu akan aku lakukan."


"Tapi tidak seperti ini!!"


"Bagaimana bisa kamu bilang menyayangi ku tapi tidak mementingkan perasaan ku?!"


"Sudah 28 tahun aku mengabdikan hidupku untuk mu ma!"


"Kali ini aku memilih Nina."


"Dia yang akan menemaniku menua bersama disisa usia ku kelak!"


"Sekali lagi mama berlaku tidak rasional aku akan membongkar semuanya ma!"


"Bagaimana Adamson Group berkontribusi dalam bisnis ilegal....."


"CUKUP HANSSEL!!!"


"Kau!"


"Aargh!"


Nyonya Adamson segera meninggalkan ruangan itu dengan penuh emosi.


"Terima kasih..."


Nina langsung mengutarakannya pada suaminya. Dia tidak menyangka Hanssel masih teguh pada pendiriannya.


"Hans, jujur aku..."


"Aku tidak ingin mendengarnya lagi sayaaang..."


"Kamu tidak sedang kehilangan ku Hans."


"Aku mempercayai mu sepenuhnya!"


"Kita sepakat memulai hubungan kita dengan komitmen yang kuat dan kepercayaan yang relevan."


"Cinta akan selalu di uji..."


"Tinggal bagaimana kita menghadapinya."


Hanssel mengulumkan senyumnya, dia mendekati istrinya dan memeluk erat.


"It's time..."


"Aku perlu merombak Suho!"


"Aku tidak percaya pada siapapun lagi..."


Nina menatap Hanssel dengan memelas, sejujurnya di dalam Adamson saat ini dia tidak bisa bergerak. Anak buah nyonya Adamaon selalu mengamati gerak geriknya. Tentu saja ini sudah di luar rencana awal.


"Aku bisa merekomendasikan seseorang untuk menggantikan diriku!"


"Tentu saja dia laki-laki!!"


Hanssel tertawa kali ini. Mengetahui bahwa istrinya ternyata pencemburu berat akan sangat merepotkan memang jika harus berada dengan para perempuan lain. Masalahnya dengan Catherina saja belum dia selidiki saat ini.


"Huh!"


"Ayo lah sayaaaaang!!"


"Kita kan serumaaaah!!"


"Kamu bayangkan 24/7 kita terus menempel!"


"Tangan kiri mengetahui apa yang di lakukan tangan kanan!"


"It's bored!!"


Nina tengah bertingkah manja kali ini berharap Hanssel membuka pikirannya dan menyetujuinya.


"Kamu bertingkah seperti ini aku pastikan aku akan menyelesaikan mu saat ini juga!!"


"MESUUM!!"


Nina memukuli dada bidang suaminya.


"Kau tahu, ibuku menyingkirkan mu hanya satu tujuan..."


"Dia akan menaruh Catherina disini!"


Nina terdiam, "Tidak masalah, selama kamu pegang janjimu padaku!"


"Aku percaya kamu tidak akan mengkhianatiku!"


DEG!!!


✲✲✲✲✲✲