
══════•°•⚠ Mature Content ⚠•°•══════
Nina membuka aplikasi kamera pengawas di laptopnya. Di sudah membidik ada sekitar 10 anak buah Wijaya yang sedang mengepungnya. Bahkan ada salah satu dari mereka yang berada di kawasan gedung di depan mansion Nina yang tengah membidik posisi mereka dengan senapan laras panjang M-16.
"Sam, aku ingin mengeluarkan dua orang ku keluar."
"Berikan aku 5 anak buah dan lindungi mereka sampai keluar kawasan mansio!"
"Baik nona muda!"
Nina sendiri mempersiapkan senjata miliknya sama seperti Rangga, Keenan hanya mengijinkan Nina memakai senjata berjenis Glock karena mudah digunakan dan semi otomatis daya tembak juga sangat mumpuni.
Pertempuran kali ini memang dikatakan tidak bisa di prediksi, tidak seperti saat menangani Sarah yang memang dia sudah rancang sedemikian rupa jadi dia tidak menggunakan senjata langsung melainkan memakai media magnet seperti yang di lakukan Magneto, dia mengendalikan medan magnet dengan jam tangan miliknya yang berfungsi seperti transmiter yang dia modifikasi sendiri atas arahan kakaknya. Sama seperti microbot dengan transmiter yang bisa di kendalikan oleh Hino salah satu karakter superhero besutan Marvel kurang lebih begitulah cara kerjanya. Hanya saja dia perlu media magnet khusus miliknya agar alat itu bisa di gunakan.
"Aku paling tidak suka saat sudah memulai banyak keraguan dalam diri kalian!"
"Semua keraguan itu akan terbaca oleh musuh dan di jadikan kelemahan."
"Kamu paham kan Rangga?"
"Detik ini wanita yang berada di depan mu bukan lagi wanita yang 7 tahun lalu bersekolah bisnis."
"Bukan pula wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak."
"Apalagi wanita yang lemah yang pernah di buang di jalan!"
"Wanita di depan mu saat ini lebih suka di bilang reinkarnasi ratu antagonis!!"
Rangga dan Yvone membuka mulut mereka lebar, kemudian Rangga memutar bola matanya jengah dengan hembusan nafas kasar. Mau tidak mau pada akhirnya memang semua ini harus mereka hadapi.
"Tenang aja, gue juga ga mau jadi beban lo!"
"Lu fokus aja ngehindar dan kabari jika sudah berada di kediaman Keenan."
PRAAAAAANG!!
TAAAK!
Salah satu peluru yang di tembakan oleh senapan M-16 telah megenai kaca jendela mansion Nina.
"AAARRRGHH!!" Pekik Yvone menundukan tubuhnya ketakutan.
Rangga tidak menyangkanya secepat ini mereka sudah mulai menyerang. Nina menyunggingkan senyumnya, kemudian terdengar sirine tanda bahaya di rumah menggaung di penjuru mansion dan gedung. Nina segera membuka pintu depan dan beberapa pintu akses tangga darurat memberikan jalan bagi Rangga dan Yvone untuk keluar kawasan secara otomatis.
"Ingat, setelah ini kita tidak saling mengenal." Pesan terakhir Nina pada Rangga yang tengah menggenggam erat jemari Yvone.
Rangga mengangguk mengerti, bergegas dia membawa lari Yvone seperti instruksi yang sudah Nina jelaskan sebelumnya.
Nina mengokang penutup geser senjatanya di samping tubuhnya, dan membidik dengan tepat menggunakan lensa kontak miliknya.
DOR!
Dalam sistem miliknya memberitahukan bahwa musuh tengah mendatanginya, selain memburu Yvone, anak buah Wijaya juga memburu dirinya.
"Nona muda, lewat sini!" Salah satu anak buahnya tengah mengamankan tuannya, Nina mengangguk dengan hati-hati dan perlahan dia menghindari baku tembakan di rumahnya.
Dalam kondisi kehamilannya dia sungguh memiliki keterbatasan dalam bergerak Sayangku, maafkan ibu... Tapi kita sudah sepakat bukan? Kita akan melakukan pekerjaan berat ini sekali ini saja, ibu pastikan ibu akan memperhatikan kondisimu. Maka ibu mohon, bekerja sama lah dengan ibu ya nak! Baik-baik di dalam sana!!!
Nina mengusap lembut perut besarnya dengan terus berkomunikasi dan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
BRAAAAK!!!
"SAM!"
"APA YANG TERJADI DI RUMAH KARENNINA?!" Pekik Keenan di sambungan telpon.
Sam sudah memprediksinya, "Tuan Wijaya sudah mulai melakukan penyerangan."
"Dia juga membagi anak buahnya beberapa lini."
"Beberapa tengah mengarah di Mansion milik Nona Luna tuan!"
"Tuan Hanssel tengah melakukan baku tembakan disana!"
"SHIIIIT!!!"
"PASTIKAN KAREN TIDAK TERSENTUH MEREKA DAN CEPAT KIRIM DIA KE TEMPAT AMAN!!"
Keenan bangkit, dan bergegas mengambil jas miliknya keluar kawasan mengisi selongsong pada pistol miliknya. Mengaktifkan EYES di lensa kontak dan mobil sportnya.
Welcome back Mr. Keenan.
***
Dor!!
Dor!!
Dor!!
"SHIIIT!" Umpat Hanssel saat pelurunya tengah habis.
Dengan sangat cepat dia mengganti dan kembali menembak.
"Chang!"
"Iya tuan..."
"Bawa nona Luna pergi dari sini!!"
"Tapi anda?"
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka tentu saja dan memastikan kamu dan nona ketiga aman."
"Sebentar lagi aku yakin Mr. K kemari!!"
"Baik tuan..."
"Sesuai rencana bawa dia ke bandara, jet pribadi tuan besar telah siap disana."
"Titik koordinat telah di setting menuju Aussie!"
"Baik tuan..."
Dor!!
Dor!!
Dor!!
Hanssel melindungi anak buahnya dari incaran musuh. Saat ini di lokasinya langsung di handle oleh Tuan Don yang merupakan salah satu eksekutor terbaik Wijaya.
"Mr. H, Apa kita tidak sedang membuang peluru percuma disini?!" Ujar Tuan Don menghentikan tembakan seluruh pasukannya. Melangkah tanpa keraguan mendekati posisi yang digunakan Hanssel untuk berlindung.
Hanssel memicingkan matanya dan menajamkan indra pendengarannya.
"Jika begitu bukan kah lebih baik kamu menyerah dan kalian semua akan selamat!"
"HAHAHA!"
"Kami tidak akan berhenti sampai Luna berada di tangan kami!"
"Tapi sebelum itu, apa kamu benar-benar tidak ingin membantu istri mu yang tengah menjadi incaran kami juga?"
"Rumahnya bahkan sudah luluh lantah!!"
"Apakah dia selamat??!!"
"Hahahahaa..."
"Dia sungguh berani membunuh anak buah kebanggan ku!"
"Aku pastikan tidak hanya istri mu yang bersimbah darah, bahkan bayi dalam perutnya aku pastikan tidak akan pernah terlahir di dunia ini!!"
Kembali bagi mereka mempermainkan dan mengecoh emosi serta perhatian dengan kelemahan musuh adalah nilai plus!
DEEGG!!!
Seketika hati Hanssel seperti di remas kencang, esofagusnya seolah di beri lelehan cairan dingin yang membuatnya tidak bisa berkutik membeku. Tuan Don menaikan ujung bibirnya dengan gerakan tangannya mengarahkan memberi isyarat pada anak buahnya yang di mengerti dan dengan berjalan perlahan memposisikan titik tembak yang langsung mengarah pada Hanssel.
DOR! DOR!
Traang!
Suara tembakan yang saling tindih serta bunyi jatuhnya dua selongsong peluru di lantai menghentikan lamunan Hanssel yang kini tengah menekan dadanya sesak memikirkan kondisi istrinya. Dia mengatur emosi dan pernafasannya.
"SHIIT!" Umpat tuan Don karena Mr. K sudah terlihat di lokasinya dengan beberapa anak buah di belakang mereka.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Sleeb! Sleeb! Sleeb!
Beberapa anak buah tuan Don seketika tersungkur menerima tembakan dari para anak buah Keenan.
"Apa kamu tidak malu memilih target yang tidak seimbang?"
Keenan melakukan gerakan tangan pada Hanssel, Hannsel mengerti secepatnya dia berlalu memastikan keadaan Chang dan putri ketiga tuannya.
"Akhirnya sudah beberapa bulan ini kita tidak bertemu Mr. K!"
"Aku pikir kamu pensiun dan memilih berkeluarga seperti pria normal lainnya!!"
Lagi dan lagi mereka telah mengetahui masing-masing kelemahan dari pihak lawannya.
✲✲✲✲✲✲