
"Apa kamu selalu melakukan hal seperti barusan?"
"Nih!"
Nina melepas cincin pemberian Hanssel dan mengembalikannya.
"Siapa yang menyuruh mu melepaskannya!!"
"Jika aku mau kasih ya aku kasih ngapain sewot!!"
"Bukannya cewek tuh suka ya hal seperti itu?!"
Hanssel mendadak kesal, Nina benar-benar seperti pawang perasaan Hanssel. Sebentar cerah sebentar mendung sebentar bergemuruh dengan banyaknya petir disana sini!
"Cewek lu yang kek gitu gue kagak!!" Sungut Nina.
"Kita cuma buat 1 bulan bukan? Ngapain berkorban banyak!!"
CEKIIITT!!
Hanssel menghentikan mobilnya mendadak.
"KAU GILA? GUE MASIH MAU IDUP!!" Maki Nina.
"SUMPAH LU BAWEL BANGET NENEK LAMPIR!!"
"PAKE LAGI CINCINNYA SEKARANG JUGA!!"
Nina membulatkan matanya terkejut, dia kembali pada posisinya dan kembali memakai cincin simple yang indah dengan mata berlian di tengahnya. Nina terus memperhatikan dan memainkannya.
Seandainya ini benar-benar nyata cintanya. Sayangnya semua hanya pura-pura saja. Bertahan 1 bulan rasanya akan sama dengan setahun lamanya!
Nina melemparkan wajahnya keluar jendela, hatinya merasa kacau saat ini. Hanssel kembali memacu kendaraannya setelah di maki oleh pengendara lain di belakangnya.
Mereka telah sampai kembali di Hilton Hotel. Hanssel segera mencengkram pergelangan tangan Nina dan menarik paksa menuju lift setelah mengambil kunci kamar sebelumnya. Beruntungnya kawasan itu sepi pengunjung, mengingat hari sudah sangat larut.
"HANSS... Mmm...."
Hanssel sungguh jengah dengan sikap arogan Nina dia kembali membungkam mulut wanita itu dengan ciuman kasarnya.
"Aaahhh!! HANSSEL!!"
Triing!
Pintu lift terbuka Hanssel segera menggendong Nina didepannya.
"HANSSEL!!!"
"Diamlah... Atau kau senang mengundang perhatian orang?"
Nina membenamkan wajahnya dalam dada bidang Hanssel. Pria itu melengkungkan senyumnya.
"Turunkan aku..." Lirih Nina di depan pintu.
"Tidak perlu..."
Pintu terbuka setelah menaruh kartu akses kemudian dengan bantuan punggungnya dia mendorong pintu dan keduanya telah memasuki ruangan besar yang akan di gunakan keduanya beristirahat malam ini.
Hanssel meletakan Nina langsung di atas ranjang besar dan mewah. Debar jantung Nina tak menentu, Hanssel melonggarkan dasi dan melempar jasnya sembarang.
"Hanssel... Please aku mohon..."
"Aku ingin kita melakukan perjanjian sebelum benar-benar berpacaran!!"
Nina terus memutar otaknya agar Hanssel tidak mengerjainya malam ini.
"Oh ya? Kamu ingin apa?" Hanssel melepas kancing-kancing kemejanya. Nina terus beringsut mundur hingga ujung ranjang. Dia menelan salivanya, untuk pertama kalinya melihat tatanan roti sobek beraneka rasa itu jelas di depan matanya.
Jangan ngiler please!!
Hanssel tersenyum mengerti dengan tatapan liar sekertarisnya.
"Aku minta kamu tidak melakukan sentuhan fisik lebih dari ciuman!!" Pinta Nina.
"Apa?" Hanssel memicingkan matanya dan tersenyum mengejek.
"Ayo lah Nina... Kita sudah sama-sama dewasa!!"
"Apa kamu pikir hubungan dua insan hanya saling bertukar pikiran?!"
"It's bullshit!!"
"Masa kamu kalah sama bocah-bocah sekolahan yang sudah bisa check in sendiri bareng pasangannya!!"
"Kamu kira mereka ngapain? Maen gaple?"
"Mana ku tahu..." Gumam Nina lirih.
"Aku belum siap..." Nina menyilangkan tangannya di depan tubuh bagian depannya.
Hanssel terdiam, dia merasa heran jika dengan Nina semua hal dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Dulu saat mempermainkan para wanita dia hanya akan bertemu jika ingin bermain-main. Jika tidak ada hal lain dia tidak mau bertemu dengan mereka. Bahkan tidak ada yang tahu kondisi Hanssel sesungguhnya seperti apa?
"Baiklah... Aku juga bukan pria yang tidak tahu diri dan tidak bermoral." Hanssel beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.
"What?!" Nina mengerutkan keningnya takjub.
"Dia melepaskanku begitu saja?"
"Jika begitu aku akan berpura-pura menyedihkan sepanjang hari."
Nina bergegas membuka tasnya mencari peralatan tempur make upnya. Dia juga melepas semua pakaian kerjanya dan mengganti dengan baju tidur yang baru di belinya.
"HANSSEL SIALAN!! DIA MENUKARNYA DENGAN LINGERIE!!" Maki Nina lirih melihat baju set tidur panjangnya di tukar dengan lingerie tipis.
Nina terpaksa memakainya beruntungnya dia bisa menggunakan kimononya walau masih terlihat sangat seksi. Nina menghubungi Rangga.
"Maaf aku tidak sempat mengangkat telpon... Aku baru selesai meeting!"
"Meeting apa sampai jam 10 malam?!"
"Kamu di perbudak atau gimana?!"
"Keluarlah dari sana aku yang akan jamin hidupmu!!"
"JANGAAAN!! Gajiku sudah sangat bagus disini... Saat ini kami sedang dalam masa sulit saja..."
"Apa Jimmy marah padaku?"
"Tidak, dia sangat mengerti..."
"Syukurlah..."
"Kalian sudah makan?"
"Sudah tadi asistenku yang membelikannya."
"Aku ingin berbicara dengannya..."
"Dia baru saja tidur..."
"Maafkan aku... Baru saja aku bersamanya aku sudah meninggalkannya..."
Nina keluar menuju balkon dan memperhatikan keindahan malam kota ini.
"Ini kan bukan murni salahmu..."
"Aku senang juga seharian dengannya. Dia sungguh tidak menyusahkan dia benar-benar anak yang baik dan pintar."
Nina semakin dibuat sendu "Terima kasih Rangga... Aku tanpa mu bagai butiran serbuk Rinso satu kali kucek bersih tanpa noda!!"
"HAHAHAHAHAHHA..."
"Belikan aku oleh-oleh ya..."
"Siap Bosqu!"
"Oh ya... Aku akan membuat serangan pada Suho saat ini..."
"Jangan!!"
"Kenapa?"
"Kau sedang mengurus sidang peralihan hak bukan?! Akan sangat sulit jika dia merasa Suho jatuh dia tidak akan melepaskan Jimmy.."
"Begitu ya... Untung aku bilang.. Rencananya aku akan memulainya besok..."
"Aku mempertaruhkan posisi pekerjaanku..."
"Nina... Kita selesaikan satu per satu okay..."
"Aku akan terus membantumu..."
"Terima kasih Rangga..."
"Kalau begitu kamu istirahatlah..."
Nina menutup sambungan telpon kemudian sebuah rangkulan hangat dia dapatkan.
"Hanssel..."
"Kamu menelpon siapa?" Hanssel menciumi tengkuk leher Nina.
"Temanku.. Dia yang menjaga putraku..."
"Oh..."
Hanssel membalikan badan Nina, pria itu telah selesai dengan mandi malamnya bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawahnya. Debar jantung Nina sungguh berpacu dengan cepatnya, walau bagaimanapun kenistaan akan selalu hadir di kepalanya.
"Kamu sangat cocok dengan baju ini..." Hanssel mencium bibir Nina dan kembali menggendong wanitanya menuju ranjang.
"Bajumu sangat tipis kena angin bahaya masuk angin nanti!!"
"Di banding di masukin kamu!!" Rutuk Nina spontan.
"Hahahaha!!"
"Kemarilah... Aku tidak akan melakukan apapun hari ini..."
"Aku juga sangat lelah... Kau membuatku tidak bisa tidur sedari kemarin!!"
Hanssel mendekap tubuh Nina dari belakang dan menutup matanya. Nina sungguh canggung saat ini.
"Mengapa kamu tidak bisa tidur karena aku?" Tanya Nina penasaran.
"Kamu selalu mengacuhkanku!!"
"......... "
"Hanssel... Mari kita sepakat untuk tidak saling jatuh cinta!!! Kita tidak akan di takdirkan bersama... Kita tidak saling mengenal satu dengan lain... Kita hanya sedang saling mengambil keuntungan!"
Hanssel membuka matanya kembali dan terpaku dengan ucapan serius wanitanya "Baiklah... Kau sangat tahu bukan pacarku hanya akan bertahan satu bulan!"
Tanpa Hanssel sadari Nina tengah menjatuhlan air matanya. sedangkan Nina tidak tahu betapa sakit hati Hanssel dengan pernyataan wanitanya barusan.
Aku tidak mungkin sedang kecewa bukan? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada nenek lampir ini!
✲✲✲✲✲✲