Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 99 | DNLM



Apa yang dimaksud oleh bocah itu?? Cantik tak bisa menjamin hatinya baik juga? Apakah ia tengah menyinggung Nina?


Angga nampak terdiam untuk beberapa saat hingga sebuah tepukan tangan di pundaknya langsung mengagetkannya.


"Eh maling!" Latahnya dan disambut dengan pukulan pelan pada bagian belakang kepala lelaki itu.


Rey terlihat mendengus. "Sialan lu!" Ia langsung mengumpat. "Ganteng gini masa lu bilang maling?!"


Angga mendengus juga lalu kemudian memberikan cengiran kepada Rey, lelaki itu terlihat mengambil tempat di sebelahnya, tempat yang diduduki oleh Rizhan sebelumnya.


"Ya elu sih ngapain juga ngagetin gue?" Keluh Angga. Pandangan yang tadinya menatap ke arah punggung Rizhan kini Rey tolehkan menatap teman di sampingnya.


"Elu aja kali yang budeg! Masa gue jalan aja lu kagak denger, Le?" Sergahnya.


Angga menggaruk bagian belakang kepalanya, sambil memasang wajah bodoh. Ia kemudian berdehem pelan, seketika kini ada perasaan canggung yang melanda dirinya.


"Lu ngapain ke sini? Yang lain masih di ruang tengah apa?"


Rey terlihat menganggukkan kepalanya. "Terus elu ngapain juga di sini?" Ia kembali melemparkan pertanyaan yang sama pada Angga.


Angga menunjuk ke arah Rizhan yang terlihat berjalan menghampiri mereka menggunakan dagunya.


"Tuh! Nemenin tuh bocah makan," sahutnya. Rizhan yang sudah berada di dekat mereka pun langsung mengambil tempat duduk di depan kedua temannya.


"Apaan sih, anjirt! Ngomongin gue bocah mulu, lu!" Gerutunya, seolah tak terima dengan panggilan yang terdengar mengesalkan itu.


Rizhan sudah remaja, bukan bocah lagi. Mengapa masih saja dipanggil seperti itu? Ia sudah sweet seventeen loh, masa iya sih masih saja dipanggil seperti itu?


"Lagi ngomongin apaan?"


Serentak, Angga, Rizhan dan Rey menoleh ke arah sejurus kala mendengar suara seseorang yang mereka kenali. Sigra, lelaki itu melangkahkan kakinya melewati mereka dan berjalan menuju ke arah kulkas untuk mengambil air minum.


"Gak ada, Gra," sahut Angga. "Cuma nemenin Rizhan makan, terus gak lama Rey juga dateng."


"Oh," Sigra menjawabnya dengan singkat. Ia kemudian meneguk segelas air dingin, jakunnya terlihat naik turun tanda air sudah masuk dan mengalir melewati tenggorokannya yang terasa kering. Setelah itu ia kembali menaruh gelas tersebut dan berbalik ke arah teman-temannya.


"Kumpul di ruang tengah aja, kasihan kalau Relvan sendirian," sambungnya seraya meninggalkan Rey, Angga dan Rizhan.


Wajah Angga terlihat cengo seketika sambil memandang Sigra yang kini berjalan meninggalkan mereka. Ia kemudian menoleh ke arah Rey dan bertanya, "Kok Relvan sendirian? Emangnya Nina udah balik?"


Rey meraih sebuah apel dan beranjak dari tempat duduk. "Gak tau, tapi pas tadi gue ke sini dianya masih ada, sih."


Rizhan juga ikut beranjak dari tempat duduk. "Udah, yuk! Ke sana aja," ajaknya pada mereka. Angga menganggukkan kepala dan kemudian melangkahkan kakinya mengikuti mereka.


Saat menuju ke sana, Rizhan nampak berlarian kecil menghampiri teman-temannya, padahal Angga sudah sering memperingatinya untuk tidak berlari saat berada di mana pun kecuali jika sedang terdesak. Itu pun harus berhati-hati dan perhatikan jalanan yang dilalui.


Rizhan itu anak yang ceroboh dan sering terluka jika tak ada yang menjaganya.


Dan tak berselang lama dari itu, Rizhan berlari dan malah tersandung kakinya sendiri. Tuh 'kan! Anak itu sontak menutup matanya sebelum rasa sakit menghantam dirinya.


"Eh!" Rizhan tersentak kaget saat merasa ada yang menarik tangannya.


"Hati-hati," peringat Sigra. Untung saja lelaki itu yang melihatnya lebih dulu, dan sebelum terjatuh, Sigra dengan sigap menahan tangan Rizhan untuk menyelamatkannya.


"Hehe, makasih."


Rizhan memberikan cengiran lalu melepaskan tangan Sigra dan langsung melompat ke atas sofa. Angga menghela nafas dan geleng-geleng kepala saja.


"Nina udah pulang, ya, Van?" Celetuknya.


"Iya." Relvan mengulas senyuman tipis.


"Kapan?" Timpal Rey yang ikut duduk di single sofa.


"Barusan," kata Relvan lagi. "Bokap dia yang jemput."


"Oh."


Rey mengangguk-anggukan kepalanya. Angga lantas menatap ke arah Rizhan dengan lekat, sedangkan yang ditatap lantas memiringkan kepalanya seolah bingung.


"Kenapa, Le?" Tanyanya hingga membuat mereka semua langsung menatap sejurus ke arah Angga.


"Gak ada," sahut Angga langsung dan terdengar acuh.


Rizhan terlihat ber-oh ria lalu ia merebahkan tubuhnya dengan bantalan paha Relvan. Lelaki itu sedikit tersentak namun tak mengelak dan membiarkannya saja.


"Ponsel lu tadi bunyi," ucap Relvan tiba-tiba.


"Ponsel siapa?" Tanya Angga.


"Rizhan. Tadi ada yang call."


Relvan mengangguk sekali. "Gak ada namanya, dia juga gak ngomong apa-apa pas gue angkat," jelasnya.


Rizhan terdiam sejenak dengan pikirannya, ia mengusap dagunya sambil melirikkan mata ke arah lain. "Siapa ya?" Gumamnya pelan.


**


"Hati-hati, bro!"


Rey menyatukan kepalan tangannya pada keempat orang temannya itu. Hari ini adalah hari berkumpul mereka yang paling lama dari sebelum-sebelumnya. Biasanya paling lama hanya sekitar dua atau tiga jam saja. Namun hari ini mereka menghabiskan hampir tujuh jam waktu yang mereka luangkan.


"Kita cabut dulu," ucap Angga. Rey langsung mengangguk sembari mengangkat satu jari jempolnya. Ia kemudian menutup pintu kala teman-temannya mulai menghilang dari pandangan.


Angga pulang bersama Rizhan, sedangkan Relvan dan Sigra mengendarai motor masing-masing. Mereka kemudian berpisah di persimpangan, relvan juga ada urusan jadi ia singgah sebentar di penjual martabak manis dipinggir jalan.


Ia tiba-tiba teringat pada bunda Seya, bunda 'kan suka dengan makanan manis jadi tak ada salah nya ia mencoba membelikannya untuk bunda, sekalian mau main ke sana.


Relvan merogoh ponselnya dan memastikan sekarang sudah jam berapa. "Setengah delapan," gumamnya.


Masih bisa bertamu, kalau terlalu larut malam nanti takut menganggu waktu istirahat mereka. Walau sebenarnya keluarga bunda Seya tak pernah mempermasalahkan hal itu namun tetap saja, Relvan jadi tak enak hati.


Relvan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku sambil menatap ke arah penjual itu. "Bang! Martabaknya satu, ya," ucapnya sembari duduk dan menunggu. Tak lama, penjual itu kembali memberikan sebungkus martabak pesanan miliknya tadi.


"Makasih, Bang."


Ia memberikan uang pas dan bergegas pergi ke rumah bunda. Sepanjang perjalanan, ia jadi teringat pada Soya. Lebih tepatnya pada permasalahan yang terjadi antara gadis itu dan Nina.


Jujur, Relvan memang kecewa pada Soya. Delapan puluh persen kecewa. Namun di satu sisi, ia juga merasa dirinya salah saat berkata seperti itu pada Soya.


Mungkin saja tanpa mereka saling tahu, masing-masing dari mereka memiliki rasa kecewa tersendiri.


Ding dong!


Selepas Relvan memarkirkan motornya, ia menekan bel rumah Soya dan menunggu di depan pintu.


"Vano?" Pintu nampak terbuka. Relvan pun langsung menatap ke arah sejurus, menatap Elio yang ternyata membukakan pintu tersebut.


"Bunda ada, Bang?" Tanya Relvan.


Elio mengangguk sekali. "Ada," sahutnya yang kemudian celingukan menatap ke sekitar rumahnya.


"Sendirian aja lu?" Tambah Elio seraya menatap Relvan.


"Berdua kok," sahut Relvan. Elio mengerutkan keningnya. "Sama bayangan," sambungnya sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah.


Elio seketika memasang wajah datarnya. Ia menutup pintu dan mengikuti anak itu.


"Bawa apaan tuh?" Celetuk Elio seraya menatap ke arah bingkisan di tangan Relvan.


Relvan melirik sekilas. "Martabak," ujarnya. Elio hendak meraih benda itu namun langsung dihentikan oleh lelaki itu.


"Eh, bukan buat lu. Ini buat bunda."


"Bagi elah, Van. Bunda gak bakal abis kalau makan itu sendirian." Wajah Elio nampak memelas namun tak dihiraukan oleh sang empu.


"Kata siapa?" Bunda Seya tiba-tiba muncul entah dari mana, ia melangkahkan kakinya ke arah Relvan. "Bunda abis kok makan ini sendirian." Ia meraih bungkusan di tangan Relvan.


"Ini buat bunda, ya, Van?" Relvan mengembangkan senyumnya seketika, sedangkan Elio terlihat memasang wajah masam.


Pelit sekali mereka ini! Elio ngambek saja lah!


"Makasih," kata bunda sambil terkekeh kecil melihat anak sulung dan dan juga Relvan.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...