Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 54 | Untuk Kamu



Didalam aula yang serupa gedung besar itu terdapat ribuan manusia yang duduk rapi menunggu sambutan dari pemilik yayasan GIBS. Hiruk pikuk para murid juga memenuhi teras kelas, dan lapangan utama.


Soya duduk di dekat stand minuman bersama Risya, Laura, Alby serta Rhaegar. Dua cowok itu tak ingin berpisah dengan mereka, lebih tepat nya dengan Risya.


Apalagi Rhaegar, saat ia mendengar perkataan tak mengenakkan dari beberapa siswi tentang Risya, ia lah orang yang paling emosi setelah Soya.


Soya dengar Rhaegar itu adalah anak baru, yang berarti ia baru berteman juga dengan Risya. Tapi dari yang ia lihat, cowok itu seolah sudah lama mengenal Risya. Dari cara ia memperhatikan makan Risya, tahu banyak hal yang disukai Risya dan yang tidak disukai nya juga.


Jangan - jangan Rhaegar menyukai Risya?? Bukan penguntit kan karena ia tahu segala nya??


Soya menghela nafas. Jangan sampai mereka berkelahi hanya karena Rhaegar, karena yang ia lihat Laura juga menyukai lelaki itu. Ia harus bisa jadi penengah mereka, dan semua nya juga kembali lagi pada Rhaegar. Karena mereka tak bisa menentukan nya sendiri.


"Sya, gue denger lu ikut main di tim basket ya?" Risya melirik Soya sesaat lalu menyeruput air minum nya. Pagi - pagi dia sudah minum air es, Soya takut nanti dia malah pilek.


"Denger dari siapa?" Tanya nya.


Soya menunjuk Alby menggunakan dagu. "Dari monyet, tuh." Sahut nya.


Risya langsung mendelik Alby dengan sinis. "Ember banget mulut nya!" Keluh nya. "Gue kan mau bikin kejutan, biar yang liat kaget." Ujar nya, lagi.


"Sok - sok an mau bikin kejutan, entar elu sendiri yang kaget!" Sahut Rhaegar.


"Gak usah ikut - ikutan! Lu gak diajak!" Celetuk Risya, sedikit kesal. Ia mempoutkan bibir nya, terlihat begitu imut.


"Lu ikut ekskul basket?" Risya kini menatap ke arah Laura, ia mengedip pelan kemudian melirik ke atas sesaat.


"Enggak." Jawab nya.


Soya dan Laura sama - sama mengernyit. Terus bagaimana ia bisa ikut dalam tim basket?


"Terus gimana bisa?" Tanya Laura, lagi. Soya pun juga menganggukkan kepala menunggu jawaban cewek itu.


Risya menolehkan kepala menatap Alby. "Lu kan bilang sama dia tuh, emang gak bilang juga alasan gue kenapa?"


Alby mengendikan bahu membuat Risya mengerutkan dahi dan menatap Soya. "Dia gak bilang?" Tanya nya.


Soya menggelengkan kepala membuat Risya lagi - lagi mengernyit heran. "Dasar aneh." Gumam nya.


"Anggota nya ada yang gak bisa ikut, ketua mereka nyari pengganti sementara dan nawarin gue." Lanjut nya.


"Karena olimpiade, kan?" Sambung Laura.


Risya mengangguk sekali. "Tuh lu tau." Kata nya.


"Oh iya, kalau ada olimpiade berarti si nenek sihir gak ada disini dong? Aman deh sekolah." Ucap Laura, nampak senang.


"Nenek sihir?"


Laura mengangguk seraya menatap Rhaegar. "Itu tuh si Nina ninu gila." Kata nya.


Alby mendengus tawa sedangkan Rhaegar sudah menyembur tawa seolah tak bisa menahan diri untuk sesuatu yang bagi nya lucu.


"Kenapa kalau cewek yang lagi musuhan sama cewek lain pasti panggilan mereka jelek banget?" Tanya Alby.


"Ya karena mereka sama - sama jelek maka nya saling ejek." Sahut Soya asal.


"Tapi Nina cantik." Laura seketika melotot seperti tak terima mendengar perkataan Rhaegar, sedangkan Risya santai saja dan tak perduli dengan cowok itu.


"Dih! Cantik dari mana nya?!" Sergah Laura.


"Ya cantik, tapi..." Rhaegar menjeda kalimat nya. "Tapi kalau dilihat dari sedotan." Ucap nya serentak dengan Alby setelah itu mereka tertawa bersama.


"Gila!" Tukas Risya seraya melempar sedotan ke arah kedua cowok itu tanpa rasa bersalah.


"Kenapa gak lu antar mereka ke rumah sakit jiwa, Sya?" Kelakar Soya.


"Takut nya nanti mereka malah nangis disana, terus minta beliin bebek mainan segudang. Gak bisa gue, gak mampu." Risya menyahut candaan Soya. Ketiga cewek itu terkekeh menatap kedua cowok yang dinistakan oleh mereka.


"Sialan lu pada!" Umpat Rhaegar. Kemudian ia beranjak diikuti mereka semua, seperti nya acara sudah hampir dimulai.


Soya berjalan beriringan dengan Laura dan Risya, dimana ia yang berada ditengah - tengah mereka.


"Wajib nonton kalau nanti gue tampil." Tukas nya tiba - tiba.


"Lu tampil apa?" Tanya Risya sambil memandang lurus ke depan. Mulut nya masih saja ngemil, tak berhenti, apa ia masih lapar??


"Nyanyi, bareng Relvan." Risya nampak terkesiap, ia menatap Soya dengan pupil mata yang membesar.


"Wow..." Takjub nya. "Tapi kenapa jadi Soya ya bukan Nina?" Risya bergumam kecil hingga Soya sendiri tak bisa mendengar apa yang ia katakan.


"Lu ngomong sesuatu?" Tanya Laura, seperti nya ia juga mendengar Risya bergumam namun tidak tahu bergumam apa.


"Hah? Nggak ngomong apa - apa." Sahut Risya sambil nyengir, menampilkan deretan gigi kecil nya.


"Pasti nonton kok, tapi nanti gue main harus nonton juga." Soya dan Laura mengangkat jempol serentak, dan mereka pun meneruskan perjalanan menuju aula.


Sesampai nya di sana, mereka memilih tempat duduk di dekat pintu masuk saja biar tak susah jika ingin keluar saat masih acara penyambutan. Dua cowok yang bersama mereka mengambil tempat duduk tepat dibelakang tiga cewek.


"Ganteng banget ya Pak Vino itu." Kata Laura seraya memandang ke atas panggung.


"Kalau om - om nya kayak gini mah mau banget gue." Sahut Laura sambil terkekeh geli.


Risya ikut tertawa kecil. "Kalau gue gak mau sih sama om - om nya." Ujar nya membuat Laura mengernyit heran.


"Terus? Mau sama bini nya?"


Risya merengut sebal. "Ya kali! Lesbay dong gue." Ujar nya. "Kan anak nya masih ada." Lanjut nya, lagi.


"Iya juga, tapi ayah nya lebih menggoda." Sahut Laura.


Soya memilih diam. Biar saja mereka berhalu, tak mungkin juga dilirik oleh Pak Vino. Bisa sih, tapi "in your dream."


Sambutan pagi ini terasa sangat meriah, apalagi orang yang membuka acara ini sangat memanjakan mata para tamu undangan. Bikin semangat 45 menggelora.


Banyak dari mereka yang tidak terlalu mendengarkan MC berbicara, malah sibuk mengagumi wajah pembuka acara.


Hingga tak terasa acara sambutan nya sudah selesai, kini tinggal MC menyebutkan acara-acara selanjut nya yang akan diikuti oleh murid - murid sekolah.


Pagi ini Soya tak jadi latihan bersama Relvan sebab cowok itu malah datang terlambat, melenceng jauh dari perkataan nya. Untung saja Soya sudah mempersiapkan diri dari tadi malam, jadi tak masalah jika tak latihan disekolah.


Terasa deg - degan ketika menunggu nama kita terpanggil, Soya pun merasa begitu. Karena ini perdana untuk nya tampil di depan banyak orang, selain siswa GIBS.


Ting!


Soya merogoh ponsel nya, ada pesan masuk dari Relvan. Ia segera beranjak ketika sudah membaca pesan dari cowok itu.


"Gue mau siap-siap, doa'in ya?" Ujar nya, mereka menganggukkan kepala dan memberikan semangat untuk Soya. Aduh manis sekali mereka ini.


Soya keluar dari aula, ia tersenyum tipis ketika melihat Relvan berdiri didepan pintu aula sebelah sana. Apa ia menunggu Soya?


Soya pun menghampiri nya dan tiba - tiba saja Relvan menarik tangan nya padahal ia baru sampai. Tak sabaran sekali. Genggaman tangan Relvan membuat jantung Soya berdebar - debar namun Soya juga tak lantas melepaskan. Ia hanya diam dan mengikuti kemana Relvan melangkah.


Ternyata ia membawa Soya ke belakang panggung pertunjukan, ada Pak Didi disana dan beberapa anak lain nya juga.


Beberapa acara seperti, pertunjukan musik, main solo, atau baca puisi dan sejenis nya akan berlangsung didalam aula tadi. Sisa nya berada diluar ruangan contoh nya futsal dan basket.


Relvan melepaskan genggaman tangan nya dengan canggung. "Sorry." Ucap nya seolah tak enak dengan Soya.


Soya hanya mengangguk tanpa mengucap kata. Pak Didi menyuruh mereka untuk bersiap karena sebentar lagi giliran mereka tampil.


Relvan mengambil gitar dan mengatur stem gitar agar benar. Ia nampak melirik Soya dari ekor mata.


"Sorry gue tadi gak nepatin janji, tadi pagi harus ke kantor Papa dulu ada urusan maka nya terlambat."


"Oke, gue juga udah nyiapin diri. Jadi gak apa - apa kalau gak latihan pagi ini." Sahut Soya. Ia lihat Relvan tersenyum tipis namun hanya sebentar dan kembali datar.


"Ayo berdiri disini, sebelum MC panggil kalian."


Soya dan Relvan beranjak, mereka berdiri didepan pintu yang tertutup tirai. Soya mengatur pernafasan nya sejenak, merilekskan tubuh agar tidak gugup.


"Acara selanjut nya, mari kita beri sambutan kepada anak didik kita. Soya Aila Aldic dan Relvano Hyperion."


Suara MC terdengar bersamaan mereka yang mulai keluar dari balik tirai. "Beri tepuk tangan nya untuk mereka berdua." Sambung MC.


Mereka duduk di bangku yang disediakan dengan mic yang berada didepan. Relvan sudah memangku gitar, ia terlihat begitu keren dan tampan.


Soya mensejajarkan mic ke mulut nya dan mulai berbicara sekedar sambutan.


"Selamat pagi untuk para tamu undangan yang sangat kami hormati! Saya berterimakasih kepada yang telah mengizinkan kami untuk tampil hari ini." Ia menarik nafas sebelum melanjutkan ucapan nya.


"Saya membawakan sebuah lagu untuk kalian nikmati, dan lagu ini saya persembahkan untuk orang yang pernah mengisi relung hati." Ucap nya dengan senyuman manis.


Sorakan riuh para penonton semakin membuat ramai tempat ini, Soya tersenyum melihat mereka yang terlihat bahagia pagi ini.


Jreng..


Suara riuh tadi menjadi hening ketika petikan senar mulai terdengar dari gitar yang dipangku cowok disamping nya. Dan suara Soya mulai mengimbangi melodi nya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...