Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 15



Aiden termenung dikamar nya. Ia memikir kan bagaimana cara agar Olive tidak salah paham lagi terhadap nya. Sementara Olive sebegitu keras kepala sampai tidak mau mengerti kondisi diri nya.


Handphone Aiden berbunyi. Aiden menatap handphone nya dengan malas. Ia melihat nama yang tertera dillayar ponselnya, 'ternyata Renata' pikir nya. Entah mengapa ia berharap Olive lah yang menelpon nya dan menanyakan kabar tangan yang digigit nya. Namun perhatian Olive tak akan pernah ada kecuali kalau dia sakit seperti dulu. Setidak nya itulah yang dipikir kan Aiden sekarang.


Dering handphone nya kembali berbunyi, Aiden mengangkat telpon itu.


"Ada apa Renata?" Tanya Aiden to the point.


"Saya hanya mengingat kan kalau anda akan menghadiri acara makan siang bersama pimpinan perusahaan. Disana juga ada perwakilan dari perusahaan GG Property pak." Ucap Renata dari sebrang telpon membuat Aiden memijat pelipis nya.


Hampir saja ia lupa menghadiri makan siang bersama pimpinan perusahaan. Hanya karena memikir kan Olivia membuat nya hampir melupakan acara penting itu.


"Baiklah, terimakasih sudah mengingat kan. Itu saja yang ingin kau sampaikan?" Tanya Aiden.


"Iya pak, hanya itu." Ucap Renata.


"Baiklah. Kalau begitu, saya tutup telpon nya." Kata Aiden.


"Iya pak, selamat siang." Ucap Renata mengakhiri pembicaraan.


Aiden kembali memikir kan Olive. Sebenarnya Aiden ingin mengajak Olive pergi, tapi Olive menolak nya bahkan menggigit tangan nya.


'Ah sudahlah, lebih baik aku bersiap-siap.' Batin Aiden menepis Olivia dari pikiran nya.


Kini Aiden sudah bersiap dengan pakaian casual nya. Mengingat hari ini adalah hari minggu, membuat Aiden berpakaian casual.


Aiden hendak pergi, namun langkah nya terhenti ketika melihat Viona di ruang tv.


'Sebaiknya aku ajak aja Viona ikut bersamaku. Kasihan dia sendirian dirumah.' Batin Aiden.


"Viona.. cepatlah bersiap-siap." Kata Aiden membuat Viona menoleh bingung.


"Bersiap-siap? Apa aku harus pergi dari rumah ini sekarang?" Tanya Viona menyalah artikan ucapan Aiden.


"Aku mengajak mu makan siang bersama pimpinan perusahaan ku. Cepatlah, aku menunggu di mobil." Ucap Aiden menjelas kan kesalah pahaman Viona dan berlalu pergi.


Sebenarnya Viona enggan pergi bersama Aiden. Ia takut Olive akan salah paham lagi pada nya. Tapi...


"ya sudahlah, aku ikut aja. Toh juga Aiden yang memintaku menemani nya' batin Viona


Viona menghampiri mobil Aiden setelah selesai bersiap-siap. Aiden membuka kan pintu dari dalam menyuruh Viona masuk.


"Masuk lah." Kata Aiden.


Sepanjang perjalanan, Viona dan Aiden hanya berdiam tanpa berbicara sedikit pun.


Di tengah perjalanan, ponsel Aiden berbunyi menandakan pesan masuk. Aiden menepikan mobilnya dan membaca pesan yang masuk barusan.


From Renata


Selamat siang pak. Maaf pak, acara makan siang hari ini dibatalkan pak. Saya baru menerima email dari perusahaan GG Property.


"Kenapa?" Tanya Viona penasaran.


"Perusahaan membatal kan makan siang nya" Kata Aiden menatap Viona.


"Ouuh, yaudah kita pulang aja." Kata Viona mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu baru pulang. Ini sudah jam 1, sudah waktu nya makan siang." Ucap Aiden melajukan mobil nya.


****


Sementara Olive dan teman-teman nya berada disebuah mall.


"Gue laper banget nih, kita makan dulu yuk." Kata Olive memelas, tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Berkeliling di mall membuat nya lelah dan lapar. Apalagi sekarang sudah waktu nya makan siang.


"Yuk, gue juga laper." Ucap Sarah yang disetujui sama teman-teman yang lain. Mereka pun berjalan mencari tempat makan.


"Kita makan di resto itu aja yuk.." ucap Denia yang pandangan nya dicuri oleh sebuah restoran yang mewah dan elegan.


"Makanan disitu enak-enak loh, kuy lah kita kesitu aja." Ucap Bella semangat.


Dan akhir nya mereka memutus kan untuk makan siang di sana.


Setelah memesan, mereka duduk sambil bermain handphone masing-masing.


****


Aiden dan Viona sampai di salah satu restoran mewah dan elegant. Viona tak henti memandang decorasi restoran yang unik itu membuat langkah nya terhenti.


"Ayo." Kata Aiden memecah kan lamunan Viona.


"Eh.. iya." Ucap Viona. Kemudian ia berjalan mengikuti Aiden.


Saat Aiden dan Viona masuk kedalam restoran, Sarah yang melihat mereka pun tersedak air liur nya sendiri. Kemudian semua teman nya menoleh kearah Sarah.


"Lo kenapa?" Kata Denia menyodor kan air putih yang di bawa nya


"Kering tenggorokan gue" kata Sarah berusaha agar mereka tidak curiga.


Makanan yang di pesan mereka pun datang, membuat mereka sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Sarah sedikit lega karena datang nya pesanan itu membuat teman-temannya sibuk dan tidak memperhatikan sekeliling.


Mereka mulai menyantap makanan nya masing-masing.


Denia yang ingin memanggil pelayan karena ingin menambah, tak sengaja melihat Viona dan Aiden. Denia memang belum mengetahui wajah Aiden, namun ia sangat kenal dengan saudari tiri Olive.


Denia menyenggol lengan sarah yang tepat berada disamping nya. Sarah yang mengetahui kalau Denia sudah melihat Viona dan Aiden langsung mengambil ponsel nya dan mengirim pesan pada Denia. Sarah memberitahu kalau itu adalah Aiden dan Viona.


Denia yang membaca pesan dari Sarah terkejut sekaligus merasa kasihan dengan Olive. Karena Denia tau kalau Olive menaruh rasa pada lelaki itu. Meskipun Olive tidak mengatakan langsung, namun kedekatan nya dengan Olive membuat nya memahami perasaan Olive.


'Gue harap lo nggak ngelihat semua ini Liv. Gue gak bisa bayangin betapa sedih nya elo saat tau semua ini.' Batin Denia.