Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 129



Permainan semakin menegangkan kala skor keduanya seri alias seimbang. Yang menonton pun lama-kelamaan malah bertambah banyak, mereka nangkring di pinggir lapangan dan di teras kelas.


Ini sebuah pertunjukan yang memukaukan bagi para siswa GIBS. Bisa dibilang tak ada yang pernah mau menantang Sigra dalam bermain basket, karena mereka tau kalau pada akhirnya kemenangan tak akan memihak mereka. Tapi hari ini, seorang siswi itu malah memecah rekor tersebut.


"Buset dah! Risya mantep banget gila!" Celetuk Angga tiba-tiba. Ia sangat serius menonton mereka dan sesekali meneriaki kata-kata semangat juga.


Rizhan melirik ke arah Angga. "Apanya yang mantep?" Tanya yang membuat Rey langsung menoleh ke arahnya.


"Ya cara main dia, lah, Zhan," sahut Rey yang otomatis langsung mewakili jawaban temannya, Angga.


Rizhan nampak mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh gitu? Kirain apaan," gumamnya pelan.


Relvan yang tak sengaja mendengar gumaman itu pun seketika langsung menyentil dahi Rizhan. "Anak kecil gak usah mikir yang aneh-aneh!" Celetuknya sambil menatap Rizhan.


Rizhan mendengus kesal sembari menatap Relvan dengan sinis. Memangnya siapa juga sih yang berpikiran aneh?! Dengus nya dalam hati. Ia, kan, cuma bertanya dan tak mengharapkan jawaban yang aneh juga. Lagian ia pun tak berpikir lain saat mengajukan pertanyaan tadi.


Rizhan mengusap dahinya sambil mengutuk Relvan dalam hatinya.


"Menurut lu siapa yang menang?"


Alby menengok saat Rhae nampak bertanya padanya. "Risya lah, gue percaya dia," ujarnya menyahut.


Rhae langsung merangkul Alby dan menepuk pundak lelaki itu sekali. "Nice! Gue setuju! Cewek gue tuh emang hebat banget, ye."


Alby memutar bola matanya dengan malas, ia kemudian menepis tangan Rhaegar yang berada di pundaknya. "Bangun deh lu, mimpi Mulu dah perasaan!" Tukasnya ketus.


"Ye! Gak usah sirik lu!" Kata Rhae yang tak dihiraukan lagi oleh Alby. Rhaegar lalu mencondongkan kepalanya ke samping agar bisa menatap Relvan.


"Van!" Panggilnya kemudian. Relvan sontak menoleh, dan bukan hanya dirinya saja, tapi teman-teman lelaki itu pun malah ikutan menengok padahal tak ada yang memanggil nama mereka.


"Kenapa?"


Rhaegar langsung menjawab, "menurut lu, siapa yang bakal menang, Risya apa Sigra?"


Relvan tak langsung menyahut, ia nampak berpikir sesaat sebelum menjawab. Kalau dilihat dari trik permainan, Risya memiliki lebih banyak peluang untuk menang dibandingkan dengan Sigra. Namun di satu sisi, ia juga percaya bahwa Sigra yang akan memang, pasalnya lelaki itu selalu membawa kemenangan setiap ada pertandingan.


Tapi tidak tahu sih kalau yang ini, entah kali ini Sigra akan kalah atau sengaja ingin mengalah?


"Gue tim Sigra," sahut Angga seketika.


Rhae menaikan sebelah alisnya. "Lu yakin?" Tanyanya.


"Iya lah!" Yakin Angga. "Karena lu anak baru, lu pasti gak tau kalau Sigra itu cowok paling hebat dalam hal kayak gini makanya dia sampe ke pilih jadi kapten basket di sini."


"Kita taruhan gimana?" Ucap Rhaegar sambil tersenyum remeh.


"Taruhan apa? Kalau taruhannya nggak menarik skip aja!" Ujar Angga.


"Gue setuju sama perkataan Angga," sambung Rey juga.


Rhaegar menatap mereka dengan wajah datar. "Kalau Sigra menang lu semua boleh makan di Cafe MintCake gue, gratis tanpa dipungut biaya."


"Cafe MintCake? Bukannya itu Cafe yang paling terkenal di kota X, ya?" Tanya Rizhan sambil menatap teman-temannya yang memberikan anggukan setelahnya.


"Tapi tunggu, tadi lu bilang 'Cafe MintCake gue', kan, berarti..."


"What?!" Angga sontak memekik dan langsung beranjak dari duduknya ketika menyadari maksud perkataan Rhaegar pada mereka.


"Maksudnya gimana? L-lu pemilik Cafe MintCake yang terkenal itu?" Terka Angga dengan ekspresi terkejutnya.


"Gue gak mau sombong sih, tapi itu emang iya," sahut Rhaegar sendiri hingga membuat Angga semakin speechless begitupun dengan Rey.


"Itu namanya elu sombong bego!" Sergah Alby sembari memandangnya dengan malas.


"Wah~ Daebak!!" Kata Rizhan dengan mata berbinar.


"Jadi gimana?" Tanya Rhae pada mereka.


"Oke, tapi kalau Risya yang menang kita semua kudu turutin semua permintaan dia dalam satu hari. Deal?" Rizhan langsung berbicara. Ia berdiri dari duduknya dan menjabat tangan Rhae untuk menyetujui permintaanya.


Rhaegar menatap Rizhan sejenak. "Deal!" Serunya.


Rizhan langsung tersenyum senang dan melepaskan jabatan tangan mereka. Tak perduli siapapun yang akan menang di antara Sigra dan Risya, karena yang terpenting setelah itu mereka semua akan bersenang-senang menghabiskan waktu bersama.


Sedangkan di tengah lapangan, Sigra menatap sang adik dengan lekat. Menerka pergerakan Risya yang tengah fokus pada bola. Saat Risya melangkah ke arah kiri, Sigra pun sontak merebut bola tersebut dari sang adik.


Tapi sayangnya malah gagal karena Risya malah melompat dan melempar bola ke arah ring yang berada di belakangnya. Masuknya bola tersebut menjadi akhir dari permainan yang mereka mulai hari ini, sorakan riuh para penonton disertai dengan suara tepukan tangan yang menambah ramai suasana.


Risya tersenyum penuh kemenangan seraya menatap sang Kakak yang mengulas senyuman. Dengan nafas yang sedikit tak beraturan, Sigra melangkah dan mengacak-acak rambut Risya dengan sayang.


"Good job!" Katanya tanpa memperdulikan banyaknya penonton di sekitar mereka. Seketika semua siswi yang menyaksikan itu pun dibuat heboh karena dia.


"Kyaa!!! Sigraa!!"


"Anjir!! Padahal rambut dia yang diacak-acak tapi kenapa hati gue yang berantakan!" Pekik salah seorang siswi di antara banyaknya manusia.


"Woi lah! Gue juga mau dong, Sigra!!"


"Acak rambut gue!"


"Bahkan kalau lu mau ngacak-ngacak perasaan gue juga gak apa-apa!"


Hingga berbagai macam jeritan mereka keluarkan, Sigra yang mendengar itu hanya bisa meringis saja.


Risya tertawa kecil mendengar teriakan mereka. "Lu banyak penggemarnya," celetuknya pada Sigra.


"Kamu juga."


"Mana ada!"


Sigra menarik sudut bibirnya. Padahal Risya itu sangat banyak penggemarnya dan rata-rata dari mereka adalah laki-laki, tapi bisa-bisanya adiknya ini tak menyadari hal itu?


Risya lalu menengok ke arah enam lelaki yang sejak awal permainan sudah bersama mereka. Tapi sebelum itu, netranya lebih dulu tertuju ke arah Rhaegar yang tersenyum ke arahnya.


Deg! Deg!


Sial! Kenapa tiba-tiba ia jadi berdebar? Sepertinya ini ada kesalahan dengan jantungnya!


Saat Risya mendekat, Rizhan langsung berseru ke arah gadis itu. "Keren, Sya!" Katanya dengan bangga.


Risya dan Sigra berdiri di depan teman-temannya dengan keringat yang terlihat membasahi wajah mereka. Gadis itu terkekeh melihat Rizhan yang nampak bahagia atas kemenangan dirinya.


Tanpa sadar, karena wajahnya penuh keringat sedangkan tangan yang ingin ia gunakan terlihat kotor jadi Risya malah menyapunya dengan baju kaos yang tengah dikenakannya. Perut ratanya seketika terekspos hingga sontak membuat heboh para siswa melihatnya.


Sigra otomatis langsung memeluk sang adik dari depan bermaksud untuk melindunginya dari tatapan jelalatan para lelaki. Bersamaan dengan itu, ternyata Rhaegar bahkan Relvan pun ikut berdiri dan seolah reflek melindungi tubuh Risya dengan cara melepas almamater milik mereka masing-masing.


Rhaegar terkesiap saat menyadari Relvan melakukan hal serupa dengannya, dan anpa Rhae tahu, Relvan pun juga tak kalah kagetnya dengan lelaki itu.


Alby, Rizhan dan Angga juga reflek beranjak. Ketujuh lelaki itu jadi mengelilingi Risya, seolah jadi dinding milik gadis itu. Entah mengapa, Relvan jadi geram saat mata para siswa masih tak lepas dari Risya.


"Tutup mata gak lu semua!" Sentah Rhae seketika.


"Apa perlu gue yang congkel mata kalian biar berhenti liatin dia?" Sambung Relvan dengan nada dinginnya.


Mendengar perkataan dua lelaki itu, para siswa sontak panik dan buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain dengan cepat, secepat kilat. Sigra masih belum berbicara, kalau lelaki itu ikutan, bisa tak selamat satu sekolah!


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...