Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 81 | Don't Cry



Ceklek!


Pintu di salah satu ruangan itu terbuka membuat atensi beberapa pemuda didalam nya langsung teralih dan menata ke arah sejurus. Melihat Nina yang masuk ke ruangan itu menghampiri Relvan yang sudah berbaring di bed hospital tersebut.


"Udah?"


Nina mengangguk lalu duduk di dekat Relvan. "Kakak udah minum obat nya?" Tanya nya seraya memandang Relvan.


"Udah," sahut lelaki itu sambil tersenyum tipis.


"Maaf ya, aku lama," kata Nina merasa tak enak pada Relvan. Tapi sih lama nya dia juga membuahkan hasil karena ia mendapat beberapa informasi tentang salah satu teman lelaki ini.


"Gak apa - apa." Nina mengusap kepala Relvan membuat lelaki itu mengembangkan senyum ke arah nya. Gila! Ternyata tampan juga ya, jadi pengen deketin teman nya deh.


"Kakak istirahat aja, Nina temenin disini." Relvan mengambil tangan Nina yang masih mengusap rambut nya lalu ia genggam tangan itu dengan tangan besar nya.


"Makasih," ucap nya. Nina tentu senyum manis dan sedikit merona mendengar ucapan terimakasih Relvan.


"Ehm!!" Nina dan Relvan menoleh ke arah tiga manusia yang masih berada di ruangan itu.


"Jangan lupa kita masih disini," celetuk Angga kesal. Ini nih yang bikin dia kesal jika mereka berkumpul dan salah satu dari mereka membawa seseorang pacar, mana ngebucin lagi! Aduh, bikin hati membara saja. Tidak ingat lagi dengan teman yang berstatus jomblo kesepian.


"Transparan kali ya wujud kita jadi gak keliatan," sambung Rey juga.


Relvan mendengus. "Sirik aja lu bertiga!" Ujar nya ketus.


"Eehh gue gak ikutan ya." Rizhan menyergah tak terima. "Berdua noh! Bukan bertiga." Ia menunjuk ke arah Angga serta Rey sambil mengerucutkan bibir nya. Enak saja! Masa ia diikutkan juga?


Nina tertawa kecil melihat nya, Rizhan ternyata imut juga. Tapi ia tak boleh mendekati anak itu, ia lihat Rizhan itu nampak mencurigakan jadi ia harus berhati - hati dalam bertindak. Bisa saja Rizhan diam - diam juga tengah mengawasi diri nya.


"Ulululuh... Boncel ngamuk." Rizhan sontak melotot garang ke arah Angga tapi lelaki itu justru malah tertawa - tawa.


"Udah lah, Zhan. Kagak ada yang takut sama tatapan lu, biar tatapan maut sekalipun lu tetep keliatan imut," tukas Rey pada Rizhan.


"Imut mulu dah perasaan, gak ada yang lain apa?"


"Gak ada." Relvan langsung menyahut keluhan Rizhan. Perkataan lelaki itu membuat bibir Rizhan manyun sambil membuang pandangan ke arah lain.


"Cih!" Gumam bocah itu pelan.


Kini di ruangan Risya, Sigra tengah menyuapkan makanan ke dalam mulut adik nya itu. Tadi Risya berkata lapar dan minta di belikan makanan. Awal nya Sigra ingin memanggil suster, tapi Risya tak mau karena gadis itu tahu kalau Sigra ingin meminta rumah sakit ini menyediakan beberapa makanan untuk nya. Tentu ia menolak itu, makanan rumah sakit rasa nya tak enak, ia tak suka.


Akhir nya Sigra memberitahukan kepada kedua orang tua nya dan karena Risya ingin makan sekarang jadi Daddy Vino segera menghubungi orang rumah untuk mengantarkan makanan kesini. Ia memang menuruti permintaan anak perempuan nya tapi dengan syarat Risya harus dirawat disini selama satu hari dulu baru ia diantar ke rumah.


"Udah ah jangan banjir air mata lagi. Jelek jadi nya," ucap Risya melihat Sigra yang masih mengerucutkan bibir nya. Di dalam ruangan ini hanya tersisa mereka berdua lagi, orang tua mereka entah pergi kemana. Kalau si Kakek sudah pulang lebih dulu, kata nya capek mau istirahat dulu.


"Gemes banget! Anak siapa sih?" Risya mengunyel pipi Sigra sambil mengunyah makanan terakhir di mulut nya.


"Ca, jangan terlalu banyak gerak. Entar infus nya malah lepas," tukas Sigra sambil menaruh mangkok bekas makan adik nya lalu memberikan segelas air untuk Risya.


Risya meneguk air di gelas itu seraya melirikkan mata ke arah tangan nya. Ia memberikan gelas itu kembali pada Sigra. "Gak akan lepas," sahut nya sambil tersenyum. "Abang belum jelasin sesuatu ke Caca," sambung nya lagi.


Sigra menatap Risya dengan menaikan sebelah alis nya. "Kamu juga belum jelasin sesuatu ke Abang."


Risya menautkan alis. "Tentang?" Tanya nya bingung.


"Kamu di bully?"


"Hm?" Risya melirikkan mata ke atas. "Perasaan aku gak ada di bully," kata nya dan kembali memandang Sigra.


Sigra nampak mengernyit. "Terus tangan kamu kenapa?" Tanya nya.


Risya menatap kedua tangan nya. Tak ada yang aneh pada tangan nya, masih tetap seperti sebelum nya. Ia mengangkat tangan nya ke hadapan Sigra dan memperlihatkan nya pada lelaki itu.


"Gak kenapa - kenapa tuh," sahut nya. "Ditusuk infus ini kah?" Ia lalu menunjuk jarum infus yang tertusuk di tangan nya.


"Bukan," ucap Sigra sambil menggeleng pelan. Tentu saja tangan Risya baik - baik saja kerena luka bekas pecahan kaca itu sudah memudar total.


"Lalu?"


Sigra menghembuskan nafas nya ke udara berkali - kali. Risya jadi bingung melihat Abang nya yang seperti itu, memang nya apa yang telah ia lakukan?? Ia menatap kedua tangan nya lekat - lekat dan mencoba mengingat sesuatu yang sudah ia lupakan.


"Kamu gak inget kenapa kamu berakhir disini?" Risya mengalihkan arah pandangan nya lalu menggelengkan kepala.


"Terakhir Caca inget cuma tanding basket sampai babak terakhir," sahut Risya.


"Itu aja?" Risya mengangguk sekali. "Setelah nya?"


"Gak tau."


"Kalau sebelum nya?" Risya memiringkan kepala mendengar pertanyaan Sigra. "Sebelum nya?" Risya bergumam kecil. Sebelum ia masuk rumah sakit, ia kan lagi tanding basket. Kalau sebelum nya lagi... Emm, entah lah tapi seperti nya ia sudah mengingat itu.


"Sebelum main basket maksud nya?" Tanya Risya mencoba memastikan. Sigra tak menjawab membuat Risya mendecakkan lidah.


"Caca gak mau jawab kalau kayak gitu!" Gadis itu menggembungkan pipi nya, berpura - pura tak melihat ke arah Sigra.


"Iya, sebelum kamu main basket," ujar Sigra sembari menghela nafas panjang.


Risya sontak melirik ke arah Sigra yang juga memandang ke arah nya. "Gak ada apa - apa sih, cuma kayak nya ngebasmi hama sebentar," sahut nya enteng.


"Hama?" Risya hanya tersenyum miring dan tak langsung menjawab pertanyaan Sigra. "Siapa?" Tanya Sigra. Seperti nya Risya nampak tak ingin memberitahu nya, sudah lah, mari tanya hal lain.


"Kata siapa?"


"Jawab aja," desak Sigra.


"Boleh gak aku gak usah jujur?" Tanya Risya memelas. Apakah Sigra akan mengomel pada nya jika ia jujur?


"Gak."


"E.. ya gitu." Risya menundukkan kepala dalam. "Pakai tangan kamu?" Tanya Sigra. Risya mengerjap dan mengangguk ragu membuat Sigra melongo dan menatap nya tak percaya. Kuat juga ternyata tangan Risya hingga bisa memecahkan kaca padahal kecil begitu.


"Lain kali kalau kamu di bully sama mereka bilang aja Abang."


"Kalau aku bilang, emang Abang mau apain mereka?" Tanya Risya tapi Sigra hanya mengangkat bahu nya seolah tidak tahu atau justru tidak ingin memberitahu?


"Inti nya bilang aja," kata Sigra yang mengabaikan pertanyaan adik nya.


"Sekarang giliran Caca yang nanya. Jadi kenapa Caca bisa masuk rumah sakit? Terus Caca denger tadi Kakek bilang Caca koma. Bener?" Sigra menganggukkan kepala.


"Iya kamu koma hampir dua Minggu."


"Alasan nya?"


Sigra kembali menggeleng. "Alasan nya nggak begitu bisa dimengerti." Risya mulai menatap Sigra lekat. "Kamu mimisan dan dokter bilang kamu cuma kecapean aja. Butuh istirahat dan lain - lain. Tapi... Setelah di tunggu juga, ternyata kamu gak bangun - bangun selama itu."


Sigra menundukkan kepala seolah tak ingin menatap mata Risya. "Abang. Hei?" Risya mengangkat dagu Sigra agar menatap ke arah nya. "Kenapa? Mau nangis lagi?"


Air mata Sigra kembali menetes lagi saat ditegur oleh adik nya. Risya pun terkekeh kecil. "Apaan coba yang di tangisin sih, Bang? Caca kan udah bangun, udah kumpul sama kalian lagi. Caca udah sehat." Di sapu nya air mata itu lembut. "Tolong jangan nangis lagi."


"Bohong," sergah Sigra. Lelaki itu tahu adik nya tengah berbohong sekarang, Risya masih sakit namun berusaha untuk tidak membuat nya khawatir.


Risya memutar bola mata malas, ia benar - benar sehat masa Sigra masih tak percaya pada nya? Apa karena wajah nya terlihat pucat? Seperti nya ia perlu bercermin sekarang supaya melihat kondisi wajah nya bagaimana.


"Mau Caca buktiin?" Tanya nya pada Sigra. Risya memperlihatkan otot tangan nya, padahal tak ada otot nya tapi masih saja ia perlihatkan. "Nih! Caca masih punya tenaga. Kalau disuruh keliling rumah sakit sekarang juga bisa."


Sigra yang tadi wajah nya terlihat sendu kini terlihat sedikit lebih cerah. Ia mengulas senyuman mendengar candaan adik nya. "Udah jangan sok kuat kamu." Ia menyentil dahi Risya membuat gadis itu mengerucutkan bibir sambil mengusap dahi nya.


"Ca." Risya lantas menatap ke arah Sigra. "Jangan sakit lagi ya," pinta Sigra pada nya. Risya menganggukkan kepala saja sambil menarik lekuk bibir nya.


Maaf, tapi gue gak bisa janji untuk enggak sakit lagi.


Risya mengalihkan pandangan ke arah pintu. "Daddy sama Mommy kok belum balik juga ya?" Tanya nya bingung.


"Sabar, Ca," sahut Sigra. Ia mengusap pipi Risya yang masih gembul. "Kamu agak kurusan ya sekarang," celetuk nya sendu.


"Masa sih?"


Sigra mengangguk. "Pipimu juga kurusan," ucap nya seraya menarik pipi Risya pelan.


"Caca kan gak ada makan, cuma makan infus." Sigra lantas mengernyit mendengar perkataan Risya.


"Bukan makan infus," sergah lelaki itu.


"Terus? Infus nya yang makan aku?" Tanya Risya bingung. Pecah sudah tawa Sigra hingga membuat Risya bertambah bingung.


"Kenapa sih?" Tanya nya. "Hati - hati loh, kata orang kalau banyak ketawa nanti ujung - ujung nya malah nangis." Sigra reflek berhenti tertawa sekarang dan kini malah giliran Risya yang tertawa renyah.


"Kenapa sekarang malah kamu yang ketawa?" Kesal Sigra. Ia pun menyentil dahi Risya pelan saking greget nya.


"Ish!! Abang jangan main sentil terus ngapa! Lama - lama Caca sentil juga nih ginjal Abang!" Tukas Risya.


"Berani kamu sentil ginjal abang?" Sigra tiba - tiba menggelitiki pinggang Risya dan membuat gadis itu tertawa.


"Ampuun... Ahahhaha... Ampuun." Risya berteriak meminta ampun dan menyuruh Sigra untuk berhenti. Sungguh ia sangat geli.


Sreekk!!


Seketika mereka berdua terdiam bersamaan. Risya mengedip pelan sebelum akhir nya menangis dengan kencang.


"Huaaa.. tangan gue berdarah!!" Pekik gadis itu saat infus ditangan nya terlepas hingga darah nya mengucur keluar. Sigra yang begitu panik pun segera memanggil dokter untuk datang ke ruangan mereka sekarang.


"Dokter tolong!!!" Pekik nya yang tak kalah kencang.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...