Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 6



Di kediaman Wijaya, Dewi dan Viona tertawa..


"Mamah nggak nyangka kalau Olive bisa sebodoh itu. Mamah pikir dia itu gadis yang pintar, ternyata dia sama bodohnya dengan Ayahnya." Ucap Dewi tertawa senang..


"Iya mah, padahal perusahaannya itu nggak bangkrut. Kita yang menjualnya dan dia percaya begitu saja, sungguh bodoh.." ucap Viona bangga dengan mamanya.


"Iya sayang, awalnya mama ingin membunuh nya. Tapi itu kurang menyiksa untuknya, maka dari itu selain menjual perusahaannya, mamah juga menjualnya hahaa.." Ucap Dewi yang merasa senang.


"Eh mah, btw siapa sih yang membeli Olive dan perusahaannya? Berarti orang itu kaya banget dong mah." Ucap Viona yang tertarik dengan penderitaan Olive.


"Soal itu mamah kurang tau sayang, paling juga Olive dibeli terus dijadikan budak **** sama mereka.." Ucap Dewi yang tak memiliki belas kasihan terhadap Olive.


"Udahlahh.. yang penting sekarang Olive udah pergi, dan seluruh harta Wijaya akan jadi milik kita hahaha..." Ucap Dewi yang kemudian tertawa bersama Viona, mereka merayakan kebahagian yang sementara itu.


🐨


Olive bangun dari tidurnya, ia melihat jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul 08.27 wib. kemudian Olive menatap pintu kamar yang terkunci.


"Gue pingin keluaaar!!" Teriak Olive. Olive berjalan menuju pintu tersebut kemudian menggedor-gedor pintu itu. Terkadang ia juga menendang pintu itu.


"Gue mau keluar ********!!" Teriak Olive. Belum merasa puas, Olive teriak lagi memaki-maki Aiden.


"Lepasin gue Aiden *******!! Dasar lo gak punya otak! Sini lo biar gue cakar tuh muka lo yang sok kegantengan. Lo emang ******** gak tau diri!! Lo denger gue gak? Dasar lo sialan!" Sebenarnya Olive bekum cukup puas dengan hinaan yang dilontarkannya untuk Aiden. Namun Olive juga gak mau suaranya habis hanya untuk menghina Aiden yang gak punya hati itu. Lebih baik Olive memilih jalan aman dari pada merugikan dirinya sendiri.


Olive duduk terdiam di ranjang menatap kearah pintu, seolah-olah tatapannya dapat membuka pintu secara tiba-tiba. Menghela nafas kasar, Olive kembali tertidur diranjangnya.


🐨


Didalam ruang kerjanya Aiden memperhatikan komputer yang menampilkan rekaman cctv dikamar Olive. Sejak semalam Aiden terus memperhatikan Olive, bahkan rasa kantuk yang datang diabaikan oleh Aiden hanya untuk melihat Olive.


Aiden fokus menatap Olive yang tengah memakinya. Aiden tidak marah sama sekali, Aiden malah terkekeh melihat tingkah Olive yang terlihat menggemaskan di matanya. Karena '********, sialan, brengsek' adalah kata yang cocok disematkan untuknya saat ini. Ini resiko karena dia berani menculik dan mengurung gadis itu dirumahnya.


Entah mengapa pertama kali melihat Olive, Aiden merasa ada rasa yang berbeda saat berada didekat Olive. Namun semua itu bisa ditutupi Aiden dengan rapi.


Sampai saat ini, Aiden belum pernah dekat dengan wanita selain Ibu nya. Ibu nya sering berpesan agar tidak memilih wanita yang salah, zaman sekarang banyak wanita yang menginginkan harta atau wajah yang tampan saja. Ketika sudah tidak tampan atau kaya, mereka akan mencari mangsa baru.


Hal itu membuat Aiden membatasi dirinya agar tidak dekat dengan wanita. Bahkan wanita pun sulit untuk menjangkau nya apalagi menyentuhnya. Anggaplah Aiden adalah pria yang suci yang belum tersentuh oleh wanita.


Aiden bahkan sangat sulit berkata lembut dengan wanita. Bahkan saat dengan Olive pun, Aiden tidak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Aiden bingung dengan dirinya sendiri, selama ini ia selalu menghindari wanita. Karena lelaki akan goyah bila dihadapkan dengan tiga perkara yaitu harta, tahta, dan wanita.


Selama ini Aiden tidak terlihat lemah. Aiden memiliki harta yang sangat melimpah. Ia juga pewaris dari keluarga Gavin yang terkenal dengan kekayaannya. Namun satu yang tidak dimiliki Aiden, yaitu wanita.


Aiden sedikit takut, ia takut jika wanita lah yang melemahkannya dan bisa membuatnya terjun kedasar jurang yang paling dalam. Ia berusaha menghindari wanita selama ini.


Namun saat melihat Olive membuat pertahananannya sedikit goyah. Aiden tak pernah mengalami jatuh cinta sebelumnya. Bahkan saat melihat foto Olive yang ditunjukkan oleh Roby membuat rasa ingin memiliki dijiwa Aiden meronta-ronta.


Aiden sudah kenal dengan Olive jauh sebelum Olive datang dengan sendirinya ke mansion keluarga Gavin.


Ini adalah pertemuan ketiganya dengan Olive.


Dulu Aiden bertemu dengan Olive saat Aiden liburan ke Indonesia, saat itu usianya 27 tahun dan usia Olive 16 tahun.


Dipertemuan pertama, Olive tidak sengaja menabrak Aiden sehingga jus jeruk yang dipegang Olive mengotori kemeja yang dipakainya saat itu. Olive yang sangat takut langsung berlari meninggalkan Aiden tanpa meminta maaf.


Dipertemuan kedua, Aiden dan Olive terjebak di dalam lift perusahaan Wijaya. Saat itu Aiden sedang menghadiri rapat perusahaan dengan Wijaya Group. Disitulah Aiden mengetahui bahwa Olive adalah putri kandung keluarga Wijaya.


Sejak kejadian itu, Aiden mencari tahu segala informasi mengenai Olive. Bahkan Aiden tahu ibu dan saudara tiri Olive menyusun rencana licik untuk mendapatkan harta keluarga Wijaya.


Aiden tau kalau Dewi lah dalang atas kematian orang tua Olive. Bahkan Dewi juga berniat untuk membunuh Olive, karena Olive satu-satu penghalang bagi Dewi untuk mendapatkan kekayaan Wijaya.


Maka dari itu, Aiden langsung mengajukan penawaran untuk membeli Olive. Karena itu satu-satunya cara agar Olive bisa selamat dari tangan Dewi. Aiden tidak ingin melaporkan Dewi kepada pihak kepolisian, karena menyiksa Dewi dan Viona sangat mengasikkan daripada langsung menjebloskannya kedalam penjara.


Aiden juga membeli perusahaan Wijaya dari tangan Dewi dengan harga yang sangat mahal yang diwakili oleh Roby, orang kepercayaannya. Tentu uang bukanlah hal yang penting menurut Aiden. Yang terpenting baginya adalah Olive dan kebahagiaan Olive.


Urusan Dewi dan Viona diserahkan Aiden pada Deren, sepupu yang selalu menemaninya. Deren adalah pria yang licik dan sangat kejam mengalahkan kekejaman Aiden. Maka dari itu Aiden sangat suka bila Deren lah yang menyiksa Dewi dan Viona yang sudah berperilaku buruk pada wanitanya.


Ternyata dugaannya benar adanya. Aiden tidak lemah oleh harta dan tahta. Namun yang melemahkan baginya adalah wanita. Gadis 19 tahun yang berhasil mencuri hatinya.


Aiden mengalihkan fokusnya dari laptop ketika ponsel nya berdering. Aiden mengangkat telponnya.


"Tuan, perusahaan Wijaya yang kita beli mengalami masalah. Banyak perusahaan uang ingin menarik sahamnya karena pemimpin sebelumnya meninggal dan juga karena kepemindahan pemilik perusahaan." Ucap Karmila yang merupakan sekretaris kepercayaan Aiden.


"Mereka tidak tahu tuan karena perusahaan dibeli bukan atas nama anda, melainkan atas nama tuan Roby." Ucap Karmila sedikit memelankan suaranya diakhir kalimatnya.


"Baiklah, adakan rapat antar perusahaan yang menanam saham di Wijaya Group satu jam lagi dan gunakan namaku." Ucap Aiden dan langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari Karmila.


Aiden sebenarnya tahu kalau Karmila dan Roby mempunyai suatu hubungan. Aiden melarang keras pekerjanya mempunyai hubungan. Karena dapat mengganggu konsentrasi dalam bekerja. Namun sepertinya Karmila dan Roby dapat bersikap profesional, sehingga Aiden membiarkan merek menjalin hubungan.


Sebenarnya Aiden bisa memberikan salah satu perusahaannya pada Olive. Namun karena Wijaya Group yang diinginkan Olive maka Aiden akan berusaha mempertahankan perusahaan itu.


🐨


Viona hari ini berangkat kuliah. Viona sangat bahagia karena Olive sudah pergi jauh dari hidupnya. Entah kenapa Viona merasa Olive adalah saingan terbesarnya, dan saat ini ia sangat senang karena Olive pergi dari hidupnya.


"Hai Viona πŸ‘‹πŸ»" ucap Bella temannya Viona. Ya, dia orang yang sama saat tak sengaja menabrak Olive di koridor kampus waktu pertama kali masuk kuliah. Sebenarnya Bella ini orang yang baik. Namun karena terkontaminasi oleh Viona, Bella berubah menjadi gadis yang suka tebar pesona.


"Hai Bee.. Sarah mana? Tumben tuh anak belum datang" ucap Viona heran.


"Iya.. gue malah heran liat lo yang datang secepat ini.." ucap Bella terkikik geli yang dibalas dengusan oleh Viona.


"Hai guyss.." ucap Sarah yang tiba-tiba datang menghampiri Viona dan Bella. Sontak hal itu membuat Viona dan Bella terkejut.


"Lo tuh ya! Kebiasaan banget ngagetin orang.." ucap Viona kesal.


"Lah.. emang lo orang? " kata sarah yang membuat Viona tambah kesal.


"Udah ih... lo juga Sar, semangat banget" ucap Bella mendelik.


"Nih ya guys, gue punya kabar gembira untuk kita semua.." ucap Sarah yang langsung dipotong oleh Viona.


"Kulit manggis kini ada extra nya?" Sambung Bella yang membuat Viona dan dirinya tertawa melihat kekesalan Sarah..


"Ih bukan loh... tadi gue ketemu cowok ganteng banget didepan kampus.. dia nanyain ruang rektor gitu. Keknya dia mahasiswa pindahan deh." Ucap Sarah semangat dan berbinar-binar.


Seketika cowok yang dimaksud oleh Sarah melintasi mereka yang sedang mengobrol. Semua perhatian terpusat padanyaa. Cowok itu mengedipkan sebelah matanya kearah Viona, lebih tepatnya Sarah yang ada dibelakang Viona. Bahkan Viona sampai terhipnotis melihat ketampanannya.


"Tuh dia orangnya?" Tanya Bella pada Sarah. Hanya Bella yang melihat cowok itu mengedipkan sebelah matanya pada Sarah, bukan Viona dan Sarah pun membalasnya dengan hal yang sama pula.


Nanti ia akan meminta penjelasan pada Sarah, mungkin ada yang disembunyikan oleh Sarah dari Viona pikirnya. Sedangkan Viona masih dalam dunianya memandangi cowok itu sampai menjauh.


"Iyapss." Kata Sarah.


"Guee mau Sar..." ucap Viona menunjuk arah berjalannya cowok itu.


"Lo pikir tuh cowok donat bisa nunjuk gitu aja langsung dapet. Ya lo deketin lah Ona.. emang gue emaknya." Ucap Sarah sewot.


"Lah, kok lo sewot sih" kata Viona memandang sinis Sarah.


"Abisnya elo sih, gamau usaha dulu." Kata Sarah kesal


"Iya deh gue bakalan usaha buat dapetin tuh cowok." Ucap Viona semangat.


"Namanya Daren Julian, keknya dia dari keluarga Julian deh.." kata Sarah melengkapi.


"Woah... berarti kaya dong!" Tanya Viona semangat, hal itu membuat Bella menatap curiga.


"Lo.. lo matre Viona?" Pertanyaan itu membuat Viona kikuk.


"Hahah.. ya enggak lah, lo kan tau nyokap gue gak bakalan setuju kalau cowok gue tuh dari kalangan biasa-biasa aja. Gue mah maunya sama yang sederhana. Asalkan setia. " ucap Viona. Dan tentu kata-katanya cuma alibi untuk mengalihkan pembicaraan.


"Oh kirain, kalau lo matre Vie.. lo bakalan gue anggap cewek murahan ya nggak Sar?" Tanya Bella meminta persetujuan Sarah.


"Iya, gue gak mau punya teman yang matre. Itu kelihatan banget noraknya. Lagi pula kan kita udah punya, jadi ngapain matre lagi.. kalau mau kaya ya kerja trus usaha dong. Jangan ngerebut harta orang." Ucap Sarah yang berhasil menyentil hati Viona.


'Kok kata-kata Sarah semuanya ditunjukkan ke gue ya' batin Viona.


"Udah yuk, ngapain jadi bahasin matre sih. Tuh muka Viona udah pucet gitu, kita makan dulu yuk dikantin." Ucap Sarah menyentil hati Viona yang kedua kalinya.


"E eh.. iya yuk gue laper banget nih.." kata Viona menanggapi ucapan Sarah. Mereka pun berjalan menuju kantin kampus dengan Bella dan Viona yang berjalan terlebih dahulu disusul oleh Sarah dibelakangnya.


'Lo pikir gue gak tahu kebusukan lo Viona. Gue bakalan buat lo jatuh-sejatuhnya. Lo udah berani buat Olive menderita dan merebut semua apa yang dimilikinya. Bahkan lo sama Ibu lo tega ngebunuh orang tua Olive dan ngejual Olive. Beruntung Olive nggak jatuh sama orang yang salah. Saat ini gue dan kak Daren bakalan balas lo, biar lo tau gimana rasanya dikhianati.' Batin Sarah menatap tajam Viona.