
Nina melangkah ke arah empat pemuda yang berada tak jauh dari parkiran kendaraan roda dua. Ia membawa sekotak bekal sambil tersenyum ceria.
"Pagi, kak!" Sapa nya ketika sudah berhadapan dengan keempat pemuda itu. Menatap mereka dengan senyuman selamat pagi yang selalu mengembang dibibir manis nya.
"Pagi, Nin!" Rey yang telah menjawab sapaan perempuan itu, sedangkan Angga dan Rizhan hanya mengangguk saja. Bagaimana dengan Sigra? Ya. Lelaki itu membisu, tak mengangguk mau pun menjawab sapaan Nina. Hanya diam saja.
Nina seketika mengernyit, merasa ada sesuatu yang kurang diantara mereka. "Em... Kak Relvan kemana?" Tanya nya. Ia celingak - celinguk mencoba mencari keberadaan Relvan disekitar mereka.
"Relvan izin gak masuk." Kata Rizhan mewakili, membuat Nina menatap ke arah nya. Perempuan itu menelengkan kepala karena bingung. Tak biasa nya Relvan absen.
"Karena?"
"Dia masuk rumah sakit." Sahutan Rey juga membuat Nina tak kalah kaget.
"Kalian tadi malem jadi balapan?" Nina seketika menutup mulut nya, sial! Kenapa bisa keceplosan?!
Keempat lelaki itu saling melirikkan mata, Rizhan menaikan sebelah alis, curiga. Angga memicingkan mata nya menatap Nina.
"Elu... Tau dari mana?" Tanya nya sedikit mengintimidasi dan membuat Nina gelagapan. Gelagat perempuan itu nampak mencurigakan hingga membuat Sigra mau tak mau menatap lekat ke arah nya.
"E.. itu, Nina cuma denger dari anak - anak yang suka gosip kok." Cicit Nina pelan sambil menundukkan kepala.
Rizhan lantas menatap Sigra, yang ditatap malah bingung tak paham kenapa bocah itu menatap nya.
"Kenapa?" Tanya Sigra. Nina sedikit mengintip ekspresi mereka dari balik bulu mata nya.
"Oh, salah pandang.." Rizhan bergumam lalu ia berbalik menoleh ke arah Angga. Angga seakan paham, ia langsung mendekatkan bibir nya ke telinga Rizhan.
"Kagak tau gue kalau ada yang tau tentang balapan itu. Liatin aja, ada apa enggak berita akurat tentang kecelakaan tadi malem." Bisik nya pelan.
Rizhan mengangguk - anggukan kepala. "Ooh, kirain elu ngikutin kita." Celetuk nya gamblang.
"B-bukan kak." Nina menggeleng cepat dan menyergah perkataan nya. Suasana seketika jadi terasa canggung seolah hawa - hawa tak mengenakan terus menguar.
Rey melangkah maju ke hadapan Nina, menghalangi pandangan teman - teman nya yang masih menatap curiga.
"Oh iya, Nin. Lu kenapa nyariin Relvan?" Rey langsung mengalihkan topik pembicaraan. Perlahan Nina mendongak memandang lelaki itu.
"Aku mau kasih ini, kak." Nina memperlihatkan bekal yang berapa ditangan nya. Rey menggaruk kepala yang tak gatal, bingung harus bagaimana. Relvan nya kan tidak ada.
"Tapi sayang nya Relvan nya gak ada." Sahut lelaki itu.
Nina terdiam dan menggigit bibir bawah nya, gugup. "Ya udah kalau gitu, ini buat kakak aja mau gak?" Tawar nya. Mungkin sayang kalau bekal ini berakhir terbuang.
"Beneran buat gue?" Tanya Rey memastikan, ia sedikit melirik ke arah teman - teman nya yang terdiam.
Nina menganggukkan kepala lalu menyodorkan bekal itu, Rey menerima nya dengan senang hati. Lumayan hemat uang jajan.
"Thanks ya." Ucap Rey seraya tersenyum.
"Kalau gitu aku ke kelas dulu ya kak." Nina melambaikan tangan sambil tersenyum manis meninggalkan mereka.
"Iya." Sahut Rey dan terus menatap ke arah Nina yang menjauh, lelaki itu terlihat melamun hingga dehemam teman nya membuat nya tersadar.
"Ehm!!" Rey menoleh ke arah Sigra dengan kicep. "Kelas." Sigra berjalan lebih dulu dan mereka mulai melangkah mengikuti lelaki itu.
Jam pembelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Hari ini kelas 12 mengadakan ulangan harian di setiap Minggu nya.
Rizhan nampak termenung memandang kertas jawaban milik nya, tangan nya tak pernah diam dan sibuk melakukan hal random. Seperti memainkan bolpoin di jari atau menaruh nya diantara mulut dan hidung.
"Psstt!" Makhluk yang duduk di belakang Rizhan nampak mendesis, namun seperti nya Rizhan tak mendengarkan nya.
Tak!
"Akh!!" Rizhan mengaduh membuat teman - teman di kelas nya sontak menoleh ke arah nya, guru yang ada didepan pun ikut menatap juga.
"Kenapa Rizhan?" Tanya Bu guru.
Ia menoleh menatap Rey sambil memelototkan mata nya. Lalu menatap Ibu guru dengan cengiran. "Gak kenapa - kenapa, Bu. Maaf." Kata nya.
Ibu guru menganggukkan kepala sekali. "Teruskan menjawab soal kalian. Jangan ribut! Waktu nya tinggal lima belas menit lagi." Tegas nya pada murid di kelas ini.
"Baik, Bu!"
Rizhan mendelik sinis ke arah Rey dengan bola mata yang hampir keluar dari tempat nya. "Apa sih?!" Keluh nya dengan berbisik tertahan lantaran kesal. Kepala bagian belakang nya sakit karena di jitak oleh Rey.
Rey menyengir tanpa rasa bersalah. "Jawaban nomor 20." Pinta nya.
Rizhan mendecakkan lidah. "B." Sahut nya lalu berbalik lagi menghadap papan tulis.
"Yang bener lah, Zhan." Rey agak ragu dengan jawaban Rizhan, kata teman dibelakang nya jawaban nomor 20 adalah D. Jadi mana yang benar??
"Udah bener itu. Terus mau lu gimana?" Keluh Rizhan dengan suara pelan. Takut nanti kena teguran lagi.
"Tunjukin kertas lu."
"Ogah!" Tukas Rizhan cepat lalu kembali fokus mengerjakan soal yang tersisa.
"Zhan! Oi, Zhan!" Panggil Rey lagi namun agak nya tak ada tanggapan dari Rizhan. Ia pun berpindah haluan memanggil Angga.
"Lele."
"Sstt!" Angga langsung mendesis seraya memberikan jari telunjuk ke hadapan Rey dan memberitahukan nya untuk diam.
"Ah elah! Gini amat punya temen." Gerutu Rey. Ingin meminta jawaban Sigra tapi lelaki itu jauh di depan dan tidak berdekatan dengan nya.
Dengan wajah yang pasrah pula, akhir nya ia mencoba cap cip cup kembang kuncup sebagai penentu jawaban akhir.
KRIINGG!!
"Kumpulkan kertas jawaban kalian. Satu orang perwakilan, tolong antarkan ke meja Ibu." Beliau berjalan keluar dari ruangan kelas dan meninggalkan murid - murid nya itu.
"Nih! Kertas kita berempat." Angga menyerahkan kertas mereka pada seseorang yang mewakili kelas nya.
"Woke!"
Rey beranjak dari duduk nya seraya menatap ketiga teman nya. "Kafetaria, kuy!" Ajak nya. Ia sekalian membawa bekal yang diberikan Nina tadi siapa tahu teman - teman nya juga ingin mencoba.
"Okey, okey, let's go!" Sahut Angga.
Rizhan langsung menyambung sahutan Angga. "Nonhyeon, 100m, uri jari. Hakgyo kkeunnamyeon hoesa calling- mmpphh!"
Rey lantas membekap mulut Rizhan dengan tangan besar nya. "Berisik! Malah nyanyi!" Keluh nya seraya menjauhkan tangan nya dari mulut Rizhan.
Rizhan melepehkan bibir nya, lalu mencebik kesal sambil ikut melangkah keluar kelas. Namun saat sampai didepan pintu, Rey tiba - tiba saja menoleh kebelakang.
"Eh? Sigra mana?" Tanya nya.
Angga juga Rizhan malah ikutan bingung. Angga sontak mencari di segala sisi, di lantai, di almamater bahkan sampai mengangkat kaki Rizhan membuat bocah itu kesal dan reflek menoyor kepala Angga.
"Apa sih?!" Keluh nya tajam. "Sigra nya masih disitu, noh!" Ia memutar kepala Angga ke arah kelas. Ternyata Sigra masih duduk anteng di bangku nya.
"Lah? Kirain nyelip dimana." Angga menurunkan tangan Rizhan dari kepala nya. "Gra! Gak mau ikut?" Panggil nya sekaligus mengajak lelaki itu untuk pergi bersama mereka.
Sigra menolehkan kepala sekilas. "Gak." Sahut nya sambil terus memandang buku.
"Kenapa sih muka dia dari kemarin - kemarin kusut mulu, kadang dingin terus tatapan nya tajem juga." Celetuk Rey.
Angga hanya mengangkat bahu karena jelas ia tidak tahu. Sedangkan Rizhan, ia masih terus menatap Sigra dengan lekat. Setelah itu ia menatap kedua teman nya dan merangkul bahu mereka walau tidak sampai.
"Skuy! Biarin aja, Sigra lagi pengen sendirian." Ucap nya. Angga dan Rey pun menganggukkan kepala dan mereka bergegas ke kafetaria.
Sigra masih terdiam di dalam kelas, kepala nya sangat berisik tak mau diam. Ia masih terpikir tentang Risya. Cemas dan khawatir terus melebur jadi satu, tak bisa ia hentikan itu.
"Kakek hari ini pulang ya? Kata nya mau jengukin cucu dia, kali aja Risya bangun. Semoga."
Sigra memutar bolpoin dijari, memainkan benda itu sesuka hati nya. Dari arah samping tiba - tiba ada seseorang yang duduk di bangku yang bersebelahan dengan nya.
Sigra lantas menoleh dan menatap perempuan yang kedatangan nya tak diundang itu dengan datar. Nina, dia yang duduk di sebelah Sigra.
"Kak, aku boleh duduk di sini kan?" Tanya nya sambil tersenyum manis.
"Hm." Hanya gumaman yang menjadi sahutan, Sigra malah sibuk dengan buku nya dan tak terlalu menghiraukan Nina.
Nina merasa canggung seketika dan langsung mengajak lelaki itu berbicara. Di tanggapi atau tidak itu akan jadi urusan belakangan.
"Kakak gak ke kantin?" Tanya Nina berbasa - basi karena bingung juga ingin membahas apa. Lagi pun Sigra juga tipe manusia yang tak banyak bicara.
"Gak."
"Kenapa?" Tanya Nina, lagi. Tidak ada respon hingga membuat Nina bertambah canggung. Ia meremas ujung rok nya sebagai pelampiasan kesal nya.
"Mau roti gak, kak? Tadi aku kelebihan beli di kafetaria." Tawar Nina seraya menyodorkan sebuah roti tanpa minuman ke hadapan Sigra.
"Buat lu aja." Tolak Sigra membuat Nina tersenyum kecut.
"Kakak beneran gak mau makan?"
"Ya."
"Kakak nanti bisa sakit."
Sigra mendecakkan lidah nya pelan. Banyak tanya sekali wanita ini! Ia tak suka dengan perempuan yang cerewet kecuali Risya. Tak suka dengan perempuan yang sok menasihati kecuali Risya dan Mommy nya juga sih.
"Kak-"
Nina terkesiap kala Sigra tiba - tiba beranjak dari tempat duduk lalu berjalan keluar meninggalkan Nina sendirian tanpa mengatakan apapun.
"Dia kenapa sih?" Perempuan itu nampak mengepalkan tangan dan mengeratkan gigi nya. Sialan! Padahal ia berniat mendekati lelaki itu namun ternyata susah juga.
Nina langsung beranjak dan berjalan keluar kelas 12 dengan perasaan dongkol. Bertepatan dengan Rizhan, Rey dan Angga yang ingin memasuki kelas.
"Aw!" Nina mengusap dahi nya karena menabrak dada seseorang. Ia mendongak dan ingin marah namun tak jadi karena melihat siapa yang ada didepan nya.
"Nina?" Cengo Rey. Ngapain Nina di kelas mereka??
"Ah sial! Kenapa gue ketemu sama mereka?"
"M-maaf kak." Ucap Nina dengan wajah polos nya. Rey menganggukkan kepala dan menatap perempuan itu.
"Lu ngapain disini?" Tanya nya pada Nina.
"Em, tadi cuma kebetulan lewat." Nina tersenyum simpul membuat mulut Rey seketika membentuk huruf O.
"Sekarang mau balik ke kelas?" Tanya lelaki itu.
Nina tersenyum sambil mengangguk lucu. Melihat itu, Rey sontak mengusal rambut nya pelan.
"Belajar yang rajin."
"Siap!!" Sahut Nina lalu berlari kecil meninggalkan mereka. Rizhan dan Angga hanya menatap datar saja.
"Sigra kok gak ada di kelas?" Celetuk Rizhan yang sudah masuk ke dalam kelas.
Angga duduk di bangku milik nya seraya menoleh ke sekeliling. Ia menatap ke arah seorang siswa di kelas mereka.
"Oi, lu liat Sigra gak?" Tanya Angga. Si siswa tadi pun mengalihkan pandangan nya dari ponsel yang ia mainkan.
"Kagak tau gue. Tadi terakhir gue liat dia ngobrol sama Nina, terus gak tau lagi." Sahut nya sambil mengangkat bahu. "Eh iya gak sih nama nya Nina? Ah pokok nya yang barusan ketemu kalian didepan pintu." Sambung siswa itu.
"Thanks bro." Si siswa mengangguk dan kembali bermain dengan ponsel. Rizhan dan Angga saling terdiam, mereka nampak nya sibuk dengan pikiran masing - masing.
Sedangkan Sigra yang tengah berada di rooftop pun juga tengah memainkan ponsel nya. Lelaki itu nampak nya suka keheningan dibanding keramaian.
Drrtt... Drrtt...
Di geser nya tombol hijau itu lalu ia dekatkan ponsel ke telinga. "Kenapa, Kek?" Sahut nya. Tumben Kakek dari pihak Daddy nya itu menelpon diri nya.
[....]
"Sigra masih di sekolah."
[....]
"Minta jemput sama Daddy." Sigra memutar bola mata nya, rupa nya si Kakek tua ini minta di jemput dari bandara. Kenapa tidak menghubungi Daddy saja atau orang suruhan nya??
[....]
Sigra mendecakkan lidah. "Sigra udah sering bolos jadi gak bisa." Tolak nya, halus.
[....!!]
Sontak saja Sigra menjauhkan ponsel dari teliga. Ia menggosok telinga nya yang terasa berdenging. Sudah tua saja si Kakek masih bisa mengomel dengan suara keras seperti itu.
"Iya, iya. Berhenti ngomel Kek, gak lagi kok." Tukas nya.
Tut!
Si Kakek memutuskan telepon sepihak. Sigra menyimpan ponsel nya di saku celana. Merebahkan diri di sofa yang ada di rooftop sambil menutup wajah dengan buku yang ia bawa.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...