
"Tuh, kan, malah lari."
Bisik-bisik para siswa di kafetaria mulai terdengar riuh setelah Nina meninggalkan tempat tersebut. Mereka sesekali juga melirik-lirik ke arah para lelaki yang biasa bersama Nina, tak perduli mereka itu lelaki populer atau bagaimana, yang jelas sebagian dari siswa GIBS banyak tak menyukainya.
"Pasti karena malu tuh, padahal, kan, salah dia sendiri kayak gitu. Mana tebel banget tuh muka pas nuduh orang lain."
Soya menghela nafas saat mendengarkan bisikan mereka, wajahnya terlihat masam saat ia sedikit membersihkan seragam miliknya. "Kotor banget buset." Ia terdengar bergumam. "Mana warnanya mencolok lagi."
Ini warna buah naga yang sangat tidak ia sukai. Entah lah ini bisa dicuci atau tidaknya, jika meninggalkan bekas mau tak mau ia harus membeli baju seragam baru.
Relvan yang awalnya menatap ke arah pintu keluar kini mengalihkan pandangannya ke arah Soya. Kemudian ia membuka suara dan memanggil nama 'Soya.
Soya pun langsung mengangkat kepalanya dengan wajah sedikit kesal. "Apa?" Sahutnya ketus. "Elu mau nyalahin gue juga?" Sambungnya.
Soya jadi malas mendengarkan ucapan lelaki itu, bikin mood dirinya memudar saja. Silahkan saja salahkan dirinya, ia tahu kok ia akan terus terlihat salah di mata mereka.
Relvan seketika terdiam dan tak jadi membuka suara. Ia saja belum bicara apa-apa namun Soya sudah berpikiran buruk tentangnya. Ia belum ada angkat bicara, dan tidak ada membela Nina saat tadi. Hanya Rey saja.
Tetap salah juga, ya?
Saat kejadiannya akan berakhir, Risya sudah berdiri di sana beberapa langkah dari mereka bersama Alby dan juga Laura. Tangan Soya nampak tergores, apa ia tak merasa perih, ya?
"Lu deketin Soya, Lau, dia kayaknya lagi emosi banget tuh." Laura mengangguk saat ia menatap ke arah Risya. "Tangannya," kata Risya terdengar ambigu.
Laura melangkah dan terlihat berbicara pada Soya sembari mengusap pundak gadis itu. Ia juga memeriksa tangan Soya yang dikatakan oleh Risya.
Risya nampak menghela nafas panjang. Tangannya kemudian melepaskan jaket yang tengah ia kenakan. Saat sudah setengah terlepas, Alby yang baru saja melihat pun langsung saja menghentikannya.
Risya lalu mendongak dan bertanya, "Kenapa?"
"Jangan dilepas," sahut Alby sambil membenarkan kembali jaket tersebut lalu selanjutnya ia mengusap kepala Risya.
"Bajunya," kata Risya dengan alis bertaut seraya menunjuk ke arah Soya.
Alby menganggukan kepala dan kemudian melangkah mendekat ke arah Soya sambil melepas almamater miliknya. "Soy, ganti baju lu," ucapnya sembari menutup tubuh Soya.
"Gue gak bawa, Al," sahut Soya tapi tetap menerima perlakuan dari Alby.
"Ke ruang ganti aja, ntar gue suruh anak lain buat nganterin seragam buat lu." Alby nampak memberikan kode untuk Laura agar segera membawa Soya keluar dari sini. "Tangan lu diobatin juga," ucapnya.
Alby kemudian menatap ke arah Relvan, Rizhan dan Angga. Ia juga melirik Sigra dari ekor mata. "Tolong bilangin sama temen kalian yang satu itu," katanya kemudian. "Lain kali pasang mata tuh yang bener, banyakin makan wortel sekalian biar penglihatannya jadi jelas. Lu pada juga kalau perlu."
Alby menatap mereka dengan wajah datar. "Kalau mau belain seseorang itu lihat situasi juga, dia ada dipihak yang mana, bener apa salah, biar gak malu buat kedepannya," tambahnya lagi.
"Iya, iya, lagian kita juga gak ada ngomong apa-apa, kok, dari tadi, gak ada belain dia juga," sahut Rizhan.
Relvan dan Angga hanya diam saja, tak ada respon apa-apa yang keluar dari mulut mereka. Tak tahu dengan apa yang tengah para lelaki itu pikirkan.
Risya sedari tadi juga diam saja, ia tak fokus pada permasalahan yang terjadi. Dan ia malah fokus pada sesuatu yang berada di bawah kaki Angga atau sesuatu yang tengah diinjak lelaki itu.
"Susu kotak gue, astaga." Risya membatin sambil memasang wajah cemberut. Ia tadi belum sempat menghabiskan semua makanannya, dan sekarang ia belum juga meminum susu kotak miliknya yang dibelikan oleh Soya.
Susu itu sudah terjatuh lebih dulu dan ditambah susu itu malah diinjak oleh Angga, mungkin lelaki itu tak melihat-lihat jalan saat kegaduhan tadi terjadi.
Risya sedang apa? Batinnya seperti itu. Ia mengernyit sambil menilik apa yang tengah dilakukan oleh gadis itu.
Mereka semua sontak menatap ke arah Risya yang memungut sesuatu di atas lantai. Bekas kemasan kotak susu rasa stroberi?
Risya masih terlihat cemberut sambil menenteng kotak yang sudah gepeng itu ke hadapan Alby. "Susu gue..." Katanya. Bibirnya sudah melengkung ke arah bawah, sepertinya anak itu sudah akan menangis setelah ini.
Melihat hal itu, Alby lantas menghelakan nafasnya sambil mengulas senyuman. Ternyata gadis ini masih ingat dengan pesanannya pada Soya. "Gak apa-apa, ntar gue beliin yang banyak, ucapnya sambil mengusap lembut mata Risya yang sedikit berair.
Yang melihat pun jadi gemas seketika, perihal susu saja bisa membuatnya ingin menangis seperti itu. Seperti bayi saja. Lucunya~
Sigra yang berada di dekat Alby pun dengan lekat menatap ke arah sang adik. Ia yang berada di sini sedari tadi kenapa tak ditatap oleh Risya? Apa ia tidak terlihat? Masa ia transparan??
Sigra langsung meraih bekas kotak susu tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Risya tersentak ketika Sigra melakukan hal itu. Ah, sejak kapan Sigra berdiri di situ?
"Gak usah sedih, nanti aku beliin satu kardus," hiburnya pada sang adik sambil mengusap kepalanya dengan sayang.
"Satu dus?" Risya mengerjap lalu cemberut lagi. "Dua dus dong, jangan satu dus aja," keluhnya sambil terisak kecil hingga membuat Alby dan Sigra panik seketika.
Malah ngelunjak dia_-
***
Di dalam bilik toilet yang sepi itu, Nina berteriak dengan kesal. Sebab dunia yang akhir-akhir ini selalu tak berpihak padanya.
"Arghh!! Anj**g lu, bangsat!" Umpatnya. "Kenapa semua orang udah gak mihak ke gue lagi?! Kenapa mereka malah mihak Soya si jal*** itu?!"
Nina menarik rambutnya dengan frustasi. Ia sungguh terlihat kacau untuk saat ini. "Hiks... Gue benci..." Gumamnya. "Gue benci sama kalian semua..."
Tubuhnya yang bersandar di pintu pun seketika luruh ke lantai. Kakinya seolah tak bisa menopang berat tubuhnya, ia terus terisak sambil menekuk lutut dan memeluk tubuhnya sendiri.
Memang terdengar pilu, yang seakan-akan ia adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini.
Tanpa ia sadari, bahwa semua cara yang sudah ia lakukan itu adalah sebuah kesalahan, seolah ini menjadi karma yang harus ditanggungnya untuk beberapa hal yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Kenapa semua orang selalu ngerebut sumber bahagia gue? Gue juga pengen bahagia...." Nina menggenggam tangannya dengan erat, melampiaskan emosi dalam dirinya sendiri.
"Relvan, lu kenapa gak bela gue? Lu kenapa diem aja? Hiks.. pasti ini karena Soya jal*** itu, kan? Lu berubah karena dia, kan? " Ia terus berbicara pada dirinya sendiri. Terus bergumam seolah akan ada orang yang bisa menjawab semua pertanyaannya.
"Gue gak suka dia, gue pengen bunuh dia..." Ucapnya dengan nafsu yang menggebu-gebu.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...
Halo all! kalau kalian punya saran buat kelanjutan dari cerita ini, boleh kasih pendapatnya. hehe.. lagi kehabisan ideeee😞🙏