
Rhaegar kini kembali mengendarai motornya karena ia juga sudah selesai berkunjung ke rumah sakit.
Kini arah tujuan nya adalah rumah Alby. Ada si kecil disana, mungkin sedikit bisa mengobati rasa sesak dalam dada nya.
Beberapa menit akhirnya ia sampai ke lokasi. Di tekan nya bel rumah Alby, ia terdiam sambil mengotak - atik ponsel nya. Rhaegar mengangkat kepala dan memandang ke arah sejurus ketika mendengar suara pintu terbuka.
Ceklek!
"Datang juga lu! Lama bener!" Keluh seorang lelaki yang membuka pintu tadi.
Rhaegar mendengus dan langsung masuk tanpa memperdulikan tuan rumah yang masih berdiri di depan pintu.
"Cicha nya mana, Al?" Tanya nya. Sedangkan Alby hanya berdecak malas sambil menutup pintu. Ia menyusul Rhaegar seraya menunjuk sesuatu di ruang keluarga.
"Noh." Tunjuk nya kearah seorang batita yang tengah bermain mobil-mobilan didepan televisi.
Rhaegar menatap sejurus ke arah tunjukkan Alby. Lalu melangkah cepat ke arah sana. Ia langsung meraih bocah itu dan membawa ke pangkuannya.
Si anak sempat ingin berontak dan ingin menangis tapi saat melihat siapa yang mengangkat nya, ia seketika tertawa riang.
"Halo Cicha Cicha didinding, uncle Rhae dateng nih. Seneng gak?" Tanya Rhae yang tengah menatap Cicha dengan senyuman manis.
"Gak." Kata Alby membuat senyum Rhaegar seketika luntur kala mendengar perkataan nya.
Rhaegar tersenyum kecut sambil melihat Cicha yang tertawa kecil sambil memegang jari telunjuk nya.
"Jha jha jha." Ucap Cicha, tak tahu apa yang dia katakan tapi terlihat imut. Rhaegar sendiri jadi gemas melihat nya.
"Utututu imut na."
"Ngomong apa dia, Rhae?" Tanya Alby, ia mendudukkan diri di sofa sambil menatap siaran di televisi.
"Lu mirip monyet kata nya." Ujar Rhaegar seraya terkekeh geli.
"Heh!" Alby melotot garang ke arah Rhaegar. Yang dipelototi seakan tak perduli dengan nya, ia hanya acuh tak acuh.
"Bener ya kan, Cha?" Tanya Rhaegar pada Cicha yang tengah menatap bingung ke arah kedua paman nya.
"Na na na." Sahut Cicha asal, yang penting ia tertawa senang.
Alby mendecakkan lidah nya, ia melirik mereka dengan malas dan kembali fokus lagi pada televisi.
"Al, ambilin gue minum dong! Kering nih tenggorokan gue."
Alby melirik Rhaegar sekilas kemudian menatap ke arah benda persegi panjang didepannya. "Ambil sendiri sana!" Ketus nya.
"Dari rumah sakit ke rumah elu lumayan jauh, dongo! Cepetan elah, Al. Gue udah bela-belain dateng kesini, tega bener lu kayak gitu. " Sahut Rhaegar dengan raut wajah menyedihkan hingga membuat Cicha ingin menangis juga.
Alby yang melihat Cicha hendak menangis pun seketika beranjak, walaupun dengan sedikit rasa kesal. "Iye iye! Jagain tuh bocah, kalau dia nangis gue sleding kepala lu!" Tukas nya.
Rhaegar memutar bola matanya, memang nya membuat minum memerlukan waktu yang lama? Kecuali bikin minum satu dunia.
"Bawain sekalian sama cemilan ya." Ujar nya. Alby seolah tuli, ia melangkah saja ke arah dapur dan tak menanggapi perkataan Rhaegar.
Tak berselang lama ia kembali lagi dengan membawa segelas air dingin dan se toples cemilan.
"Nih." Ujar nya sambil menaruh gelas dan toples cemilan di atas meja.
Rhaegar langsung sumringah, ia tahu walau Alby itu malas menanggapi jika ia meminta sesuatu namun lelaki itu tetap mengambilkan apa yang ia mau. Siapa yang tahu, Alby itu hati nya lembut.
"Sini Cha sama uncle By."
Alby bermaksud ingin mengambil alih batita itu namun seperti nya si bocah tak mau, ia malah semakin menempel pada Rhaegar.
"Udah, Al. Biarin aja." Kata Rhaegar usai meneguk air di gelas. Ia menatap Alby yang memainkan tangan Cicha.
"Emak nya belum dateng?" Tanya nya membuat Alby mengernyit dengan sangat. Sudah beberapa menit Rhaegar disini baru saja bertanya? Memang nya Rhae tak sadar jika di rumah ini tak terlihat manusia lagi selain ia dan bocah ini??
"Ya lu liat aja sendiri, ada gak lu liat orang di rumah selain gue ama Cicha?" Celetuk Alby.
"Ada, satpam depan rumah lu." Sahut Rhaegar gamblang. Alby mencebikkan bibir nya mendengar sahutan lelaki itu.
"Lagian aneh bener nih rumah, punya satpam tapi gak punya pembantu. Terus yang bersihin rumah siapa?" Sambung nya, lagi.
"Aneh biji mata lu! Yang bersihin rumah ya gue lah sama mama!" Sergah Alby membuat Rhaegar seketika menjelek - jelekan wajah nya.
"Elu?"
Alby nampak mendengus dengan wajah yang menyebalkan. "Iya dong. Hebat, kan? Anak rajin gitu loh." Bangga nya.
Alby yang tak merasa diejek pun hanya santai saja, duduk anteng sambil mencomot cemilan di toples.
"Nyet." Panggil Alby.
"Hm?"
"Jadi keadaan cewek kita gimana?" Tanya nya.
Rhaegar mendelik sinis mendengar nya. "Heh! She's my girl. Gue gibeng pala lu kalau bilang cewek kita lagi!"
Alby mengangkat bahu nya tak perduli. "Jadi gimana?" Tanya nya sambil melirik sekilas.
Rhaegar nampak terdiam membuat Alby was - was sekaligus penasaran tentang keadaan dia. Cicha yang masih berada di pangkuan Rhaegar pun ikut memandangi lelaki itu dengan mata bulatnya.
"Dia baik kok, tapi..." Lelaki itu menjeda kalimatnya, beberapa saat hingga membuat Alby tak sabaran.
"Tapi apaan? Lama banget elah jedanya!!" Gerutu nya sekaligus mendesak Rhaegar agar cepat menyelesaikan perkataannya.
Rhaegar mendecakkan lidah nya, tak sabaran sekali sih jadi orang!
"Tapi aneh nya dia belum juga sadar dari pingsan." Ucap nya membuat Alby menelengkan kepala.
"Belum sadar?" Gumam Alby pelan. "Dari awal penanganan?" Rhaegar mengangguk kan kepala.
"Kata dokter beberapa jam setelah penanganan itu pasien bakal sadar. Tapi ditunggu sampai hampir 10 jam pun belum ada tanda - tanda dia mau sadar."
Alby mengerutkan kening nya, mungkin agak sedikit aneh ya hanya mimisan tapi bangun nya lama. Bahkan memakan waktu berjam - jam. Sebenarnya dia kenapa? Dan butuh beberapa jam lagi waktu yang ia perlukan untuk bisa sadar??
"Dokternya ada bilang dia kenapa gak?"
Rhaegar menggelengkan kepalanya. "Gue gak tau soal itu, Sigra juga gak mau ngasih tau gue tentang Risya."
Alby menghela nafas berat, ia menatap Cicha yang nampak mengantuk di pangkuan Rhaegar. Dan mengusap surai legam si cilik dengan perasaan penuh kelembutan.
"Besok jengukin lagi, gue mau ketemu Risya. Biar teman baru nya juga sekalian kata nya mau ketemu juga, kan?"
Rhaegar tak menanggapi, ia hanya diam saja seraya beranjak menaruh Cicha di karpet tebal nan lembut. Ia menaruhnya pelan agar tak membangunkan anak yang telah tertidur lelap tersebut. Kepala si kecil ia sanggah dengan bantal sofa lalu ia duduk disamping nya.
"Gue laper." Kata Rhae tiba-tiba.
Alby yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Rhaegar pun mengernyit heran mendengar perkataan lelaki itu.
"Kalau laper ya tinggal makan. Ngapa ngomong ke gue?" Heran nya.
"Bikinin mie goreng." Ujar Rhaegar santai, seraya ikut merebahkan diri di samping Cicha.
"Bukan pembantu lu btw." Sahut Alby tak perduli.
Rhaegar melempar bantal sofa yang ia peluk ke arah Alby hingga mengenai wajah laki-laki itu. "Heh! Tamu adalah raja, you know?"
Alby memutar bola matanya kala mendengar perkataan itu. "Raja apaan?!!" Tanya nya rada ngegas. "Raja monyet kali." Gumam nya, lagi.
"Bikinin cepet, Al. Gue lapor emak lu nih kalau anak nya menelantarkan tamu terhormat."
Alby lantas beranjak dan menjitak kepala Rhaegar sedikit keras hingga membuat sang empu mengaduh.
"Tamu terhormat, tamu terhormat, jangan lagi lu ke rumah gue!" Kesal nya sambil melangkah ke arah dapur.
Rhaegar terkekeh pelan, menatap punggung Alby yang menghilang dari pandangan.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...