Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 112



Relvan seketika tersenyum tipis melihat gelagat Sigra yang nampak sangat terbebani oleh pertanyaan dari teman-temannya ini. Sepertinya ini semua juga bukan sepenuhnya salah Sigra jadi bagaimana, ya?


Lelaki itu kemudian menepuk pundak sang empu pelan. "Berat ya, Gra?" Tanyanya seraya menatap Sigra. "Kalau lu ngerasa pertanyaan mereka terlalu berat, gak usah dipaksa semuanya. Intinya aja ngomong ke kita, setidaknya itu bisa bikin kita semua ngerti."


Sigra terlihat menghela nafas dengan berat. Ia tak bisa menjelaskan itu dan tak tahu ingin memulainya dari mana. Sejujurnya, di satu sisi Sigra memang ingin mempublikasikan kalau Risya itu adalah adik kandungnya. Namun di sisi yang lain, Sigra takut kalau Risya akan menjauhinya.


Adiknya itu tak pernah mau terlihat oleh media. Setelah kejadian waktu itu, kejadian yang mengakibatkan empat sekawan terpisah, dan kejadian itu juga yang mengakibatkan semua waktu terasa berubah.


Sigra rindu... Walaupun semua hanya berakhir semu. Rhaegar juga, anak itu sepertinya juga berusaha untuk menyembunyikan semuanya.


"Gue-"


"Abang."


Baru berbicara satu kata, ucapan Sigra langsung terpotong seketika. Mereka semua menoleh dengan serentak ke arah sumber suara.


Risya, gadis itu menatap Sigra dan teman-teman sang kakak dengan sedikit canggung namun ia juga berusaha untuk terlihat biasa saja. Risya kurang nyaman, apalagi mereka semua itu laki-laki.


"Kenapa?" Sigra bertanya namun tak mendapat sahutan dari Risya.


"Kenapa kalian ngeliatin gue gitu banget?" Tanyanya setelah melangkah mendekati mereka. Risya menatap mereka bergantian. "Gue keliatan aneh, ya?" Gadis itu meringis kecil menatap hoodie yang dipakainya.


"Lucu," batin mereka semua. Mereka sungguh tak dapat mengalihkan pandangan dan seakan lupa dengan pembahasan mereka sebelumnya dan malah terdiam sambil menatap Risya.


"Gak kok, lu gak keliatan aneh."


Suara Rizhan seketika membuyarkan lamunan keempat orang itu. Mereka juga seketika langsung mengalihkan pandangan ke arah lain dengan canggung, kecuali Sigra yang masih menatap ke arah sang adik.


Risya menganggukkan kepalanya. "Oh, kirain," gumamnya kecil.


Angga dan Rey nampak sesekali mencuri pandang ke arah gadis itu, hoodie kebesaran yang tengah ia kenakan itu membuat tubuh mungilnya tenggelam ditelan pakaian. Relvan pun juga seakan tak bisa menahan lekuk bibirnya yang ingin tersenyum.


"Emm..." Risya bingung bagaimana cara ngomongnya ke mereka, alhasil, ia hanya menatap mereka semua sejenak.


"Kenapa, Sya?" Rizhan kemudian bertanya karena sepertinya ada yang ingin Risya ucapkan pada mereka.


"Itu... Gue aus, pengen minum. Dapurnya di mana, ya?" Tanyanya dengan cengiran kecil.


"Di sana!" Sontak, Rizhan, Angga dan Rey menyahut bersamaan membuat Relvan dan Sigra langsung menatap ke arah teman-temannya.


Risya pun nampak sedikit tersentak mendengar suara mereka. "O-oh makasih." Ia hendak beralih segera namun suara Sigra lantas menghentikan langkahnya.


"Minum ini aja, Ca." Risya langsung menatap Sigra dengan kepala yang ia miringkan, bingung mendengar perkataan sang kakak.


"Sini," katanya lagi sambil menepuk sofa di sebelah kirinya. Yang artinya menyuruh Risya untuk duduk di sebelahnya. Risya mengerjapkan matanya namun tetap melangkah mendekat menuruti perkataannya. Macam adik yang penurut.


Sigra lalu menyodorkan segelas teh hangat kepada Risya. "Nih, mumpung masih anget. Belum diminum siapa-siapa juga."


Risya mengangguk dan duduk ditempat yang Sigra arahkan tadi, meraih gelas tersebut sambil bertanya, "ini punya siapa?"


"Punya Abang."


Risya yang hendak meminum teh itu pun nampak tak jadi. "Terus Abang?" Tanyanya dengan dari yang mengernyit membuat Sigra mengulas senyum hangat ke arahnya.


"Minum aja, ntar Abang bisa bikin sendiri," katanya seraya merapikan rambut sang adik yang sedikit berantakan.


Mendengar itu, Risya segera menyesap teh hangat tersebut, merasakan rasa hangat yang mengalir di tenggorokannya yang benar-benar terasa kering. Padahal ia ingin air putih saja tapi ternyata teh rasanya enak juga.


Entah kenapa Risya merasa kepalanya terasa sedikit pening, mungkin saja ini karena terkena hujan tadi dan tak segera mandi. Abaikan saja, nanti ia bisa mendingan sendiri.


"Ehem!" Angga menatap Sigra. "Jadi gimana lu jelasin itu semua ke kita?"


"Dia adek gue," sahut Sigra tanpa beban setelah ia menghela nafas panjang. "Risya hanya melirik ke arah Sigra dan teman-teman kakaknya juga. Mereka tengah membicarakan apa? Apakah tentang hubungan Sigra dengan dirinya?


Jika dilihat dari jawaban Sigra, sepertinya memang iya. Haahh... Biarlah... Pada akhirnya semua orang juga akan tahu itu. Tinggal menunggu waktunya saja.


Angga mendecakkan lidahnya. "Ck. Yang panjang dikit elah!" Gerutunya "Masa kayak begitu doang!" Ia nampak mendengus.


Sigra terlihat menatapnya dengan datar. "Risya Erin Serville itu adek gue, adek kandung Sigrayen Diva Serville," katanya kemudian. "Kurang panjang lagi?"


"Ffftttt!!" Entah kenapa Rizhan seketika ingin menyembur tawanya, perutnya terasa menggelitik kala mendengar penjelasan Sigra. Padahal tak ada yang yang lucu 'kan, ya? Namun entah mengapa.


Itu bukan penjelasan, tapi lebih mengarah ke pernyataan.


Risya pun seketika ingin menyemburkan teh yang tengah diminumnya, namun alhasil, ia malah tadi tersedak karenanya. Sigra sontak terlihat khawatir pada sang adik dan segera ditepuknya punggung gadis itu pelan.


"Pelan-pelan, Ca, minumnya. Gak ada yang mau ngerebut teh punya kamu." Risya langsung mendelik sinis lalu menggeplak lengan sang kakak dengan sadis. Padahal ia ingin menggeplak kepalanya tapi tak jadi karena kasihan.


"Apa sih?" Desisnya dengan kesal.


Relvan menggeleng kecil lalu ia menatap Sigra dengan lekat. "Jadi Risya beneran adek lu?" Sigra menaikkan sebelah alisnya. "Terus apa alasan lu selama ini nyembunyiin itu semua dari kita?" Tanyanya mengintimidasi namun tak membuat Sigra merasa terintimidasi.


"Emm... kalau masalah itu kalian semua jangan nyalahin Sigra." Risya langsung menimpali seraya menaruh kembali gelas yang berada di tangannya. Mereka terlihat mengernyit memandangnya.


"Kenapa?" Rey menatap Risya. "Apa karena semua itu sebenarnya permintaan dari lu?" Risya nampak mengerjap pelan. 'Lu minta Sigra buat nyembunyiin itu semua dari semua orang termasuk gue, Relvan, Rizhan dan Angga."


"Iya, kayaknya perkataan lu bener," gumam Risya dalam hati.


Rey kemudian menatap Sigra. "Gra, kenapa gak bilang dari awal? Apa kita bukan temen lu? Lu gak nganggep kita temen, ya?"


Pertanyaannya seketika membuat teman-teman yang lain terlihat sendu. Jadi begini ya rasanya berteman tapi hanya satu pihak saja yang menganggapnya??


Sigra mengacak rambutnya frustasi. "Gue... gue bukan gak nganggep kalian semua temen. Bagi gue... kalian udah bagai rumah kedua setelah keluarga gue sendiri." Ia menjeda kalimatnya. "Tapi ini bukan perihal itu, ada privasi yang gak semua orang harus tau," katanya.


Sigra menatap teman-temannya bergantian. "Kalian pasti ngerti itu. Gue cuma gak mau kejadian kayak dulu bakal terulang lagi." Akhir kalimatnya terdengar pelan namun ternyata ada yang mendengar.


"Kejadian dulu?" Relvan berucap bersamaan dengan Risya. Keduanya nampak saling bertemu pandang namun Risya lebih cepat memutuskan karena merasa tak nyaman.


Sigra sontak terdiam seketika. A-apa ia harus bercerita lebih jauh lagi? Ia tak yakin itu karena masih ragu. Biarlah semua berjalan pada semestinya.


Lelaki itu menghela nafas berat seraya berkata, "Intinya kayak gitu lah pokoknya, gue gak bisa lagi ngejelasin lebih panjang. Risya sama gue adek kakak. Jelas, kan? Sekandung, satu rahim."


Rizhan langsung bersorak gembira dengan menepuk tangannya. "Public speaking lu lumayan bagus, Gra. Tingkatkan lagi," celetuknya sambil terkekeh geli.


Bukannya memperhatikan penjelasannya, Rizhan malah salah fokus sebab Sigra berbicara panjang lebar kali ini.


"Kalau elu?" Angga menatap Risya. "Ada penjelasan tambahan dari lu sendiri?"


"Emm..." Risya mengulum bibirnya sambil melirikkan mata ke atas sesaat. Ia juga bingung sendiri mau menjelaskannya dari mana. Kalau alasan kenapa ia tak suka dengan publik, Risya sendiri pun tidak tahu kenapa. Pasalnya Azriella masih belum mengerti dengan pemilik tubuh asli.


"Gue gak ngerti mau ngejelasin apaan sebagai tambahan, tapi apa yang dibilang sama Sigra itu emang bener adanya. Gue sama dia adek kakak."


"Lu takut publik?"


Risya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Rizhan. "Bukan takut, gue cuma gak suka," katanya.


"Lu kenapa suka menyendiri? bukannya itu pasti kerasa sepi? Padahal lu cantik, pasti banyak yang mau temenan sama lu."


Risya mengeratkan jaket miliknya, ia tiba-tiba merasa kedinginan. Menggigil seperti ingin demam saja. "Cantik gak bisa menjamin kita bakal punya temen yang baik, Zhan. Gak ada alasan kenapa gue suka menyendiri sama sepi, gue cuma nyaman sama zona itu. Itu rasanya tenang dan bikin kepala gue yang berisik jadi damai," ucapnya lagi dengan senyuman tipis yang mengembang di bibir manisnya.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...