Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 141



Brakk!!


Pintu di buka kasar oleh Relvan, matanya langsung menatap intens seluruh penghuni kelas satu persatu. Hingga mata elang itu terhenti pada lelaki yang berdiri di samping Rizhan, kakinya bergegas menuju lelaki itu. Tanpa berpikir panjang, laki-laki itu melangkah cepat dan melayangkan pukulannya tepat pada wajah Rhaegar.


Bugh!


Bugh!


Bogem mentah yang langsung mengenai wajah Rhaegar itu sontak membuat penghuni kelas terutama yang perempuannya seketika jadi menjerit saat melihat kejadian tersebut.


Setelah dua pukulan ia layangkan, tangan Relvan kemudian menarik kerah depan baju seragam Rhaegar. "Lu apain dia, hah?" Tanyanya dengan amarah yang membuncah di dada.


Rhaegar meringis, ia seolah tak diberikan Relvan untuk sekedar mengambil nafas. Ditonjok seperti ini lumayan terasa sakit, Rhae juga tidak tahu di mana letak permasalahannya hingga Relvan berbuat seperti ini padanya. Ia tak ada mencari masalah dengan laki-laki ini.


Rhae lantas menepis kasar tangan Relvan dan memukul balik wajah Relvan satu kali. Beruntung kan ia tidak membalas dua kali seperti yang telah dilakukan Relvan padanya.


"Maksud lu apa sih, Van?!" Selorohnya dengan dada yang turun naik. Entah mengapa, hari ini emosi Rhaegar tidak stabil, ia seolah seperti tak bisa mengendalikannya.


Melihat keadaan yang semakin memanas itu, Alby, Rey, Sigra dan juga Rizhan sontak memisahkan keduanya. Alby dan Rizhan menahan tubuh Rhaegar, sedangkan Sigra dan Rey menahan tubuh Relvan yang hendak kembali menyerang Rhaegar.


"Harusnya gue yang nanya begitu! Lu apain Soya, hah?! Lu mukul dia?!" Relvan nampak memberontak tetapi Sigra yang terlihat menahan temannya dengan kuat.


"Lepasin gue! Biar gue hajar tuh bocah!"


"Apaan sih maksud lu?!" Balas Rhaegar yang juga ditahan kuat oleh Alby dan Rizhan. "Sini lu maju! Emang elu kira gue takut apa?!"


Para anak-anak di kelas itu nampak kelabakan sekaligus bingung, yang perempuan pun sampai menyembunyikan wajah mereka karena tak ingin melihat aksi tonjok menonjok yang dilakukan kakak kelas dengan teman sekelas mereka itu.


"Panggil guru aja lah." Seseorang siswa berbisik pada teman sebangkunya.


"J-jangan! Ntar tambah ribut itu," sahut mereka. Bisik-bisik warga kelas terdengar ricuh satu sama lain.


Rizhan melirikkan matanya ke sekeliling kelas lalu ia matanya teralih menatap Relvan. "Van, sabar, Van."


Relvan seketika melemah dan berhenti memberontak kala mendengar suara lembut Rizhan, tapi tetap emosi saat menatap wajah Rhaegar. Sedangkan Rhaegar sendiri tak jauh berbeda dengan Relvan, ia nampak mendelik dengan tajam ke arah laki-laki yang berada tak jauh di depannya itu.


Sialan! Rahang Rhaegar terasa sakit untuk sekedar menggerakkannya sedikit. Beruntung ia dapat membalas Relvan dengan pukulan juga, biar laki-laki dapat merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


"Kita bisa bicara baik-baik, oke? Kayaknya elu lagi salah paham, Van."


Rizhan kembali menyambung ucapannya tadi tetapi Relvan tak menyahutinya. Relvan hanya sibuk mengatur nafasnya yang bergemuruh, menahan emosinya yang masih ingin meledak.


Di luar kelas, Soya dan Angga berlarian ke kelas Risya dengan nafas yang ngos-ngosan. Setelah masuk ke dalam ruangan yang dituju mereka Angga pun lantas berseru.


"Woi, anjir lu ngehajar Rhaegar?" Angga langsung bertanya ketika sampai dan berdiri di depan mereka. Ya pasti, kan? Karena ia lihat masing-masing dari Relvan ataupun Rhaegar nampak dipegang erat oleh teman-temannya.


Soya buru-buru menghampiri Rhaegar. "Rhae, lu gak apa-apa?" Gadis itu langsung menangkup wajah Rhaegar dan memperhatikannya dengan seksama. "Lu ditonjok sama dia? Di mana?"


Kekhawatiran Soya serta pertanyaan yang dilontarkan gadis itu pada Rhaegar membuat sang empu tak bisa langsung menjawabnya. Rhaegar merasa terkejut sekaligus bingung hingga ia juga tak bisa apa-apa selain diam saja.


Risya yang masih duduk tenang pun sontak membulatkan mata kala melihat pemandangan di depannya. Soya tenang sekali menyentuh-nyentuh wajah Rhaegar langsung di hadapan Relvan.


Risya kemudian menipiskan bibirnya, ia merasa aneh. Entah tiba-tiba ia jadi tidak suka, tak tahu karena apa. Saat Soya menyentuh Rhaegar, jantung Risya merasa sesak seketika. Tak lama, hanya beberapa detik saja.


Lain halnya dengan Relvan, air muka lelaki itu nampak terlihat berubah, sudah seperti ingin memakan orang hidup-hidup saja. Wajahnya dingin dan tak bersahabat sama sekali. Ia tak suka melihat Soya yang mengkhawatirkan orang lain selain dirinya.


Hati Relvan panas hingga membuatnya seketika menyentak kasar tangan Sigra dan Rey yang menahan tubuhnya. "Lepasin gue!" Katanya saat itu.


Rizhan tersenyum tipis. Ia merasa Relvan begitu cemburu sekarang ini, ia juga menebak kalau lelaki itu sebenarnya menyukai Soya namun tertahan karena egonya. Ck-ck-ck!


Anak itu kemudian mencondongkan tubuhnya ke dekat Soya dan berkata pelan pada gadis itu "Soya, lu gak takut di makan sama Relvan apa karena pegang-pegang muka Rhaegar?"


Perkataanya sempat membuat Soya mengernyit namun ia reflek tersadar dan seketika langsung menjauhkan tangannya dari laki-laki dihadapannya ini.


Setelah itu, Soya sontak membalikkan badan dan menghadap Relvan. Padahal ia hendak bertanya, tapi ia urungkan dan diganti dengan mengomel saja.


"Vano, lu apa-apaan sih kok nonjok Rhaegar?!" Ia melotot dengan wajah sengit.


Relvan menipiskan bibirnya. "Apa-apaan? Gue ke sini juga buat ngebelain elu, La!"


Hah? Mata Soya terbelalak lebar. Membela dirinya? Apa sih maksud Relvan??


"Maksud lu?" Soya mengernyit dalam. Ia benar-benar tidak paham. Apa Relvan mendengar masalah yang terjadi sebelumnya? Tapi apa yang perlu dibela lagi? Bukankah masalah tadi sudah kelar dan itu juga cuma kesalahpahaman belaka.


"Memar di dahi lu, dia kan yang bikin lu jadi kayak gitu?" Ucap Relvan seraya menunjuk tepat ke arah wajah Rhaegar.


"Memar? Lu ngomong apa sih?" Sergah Rhaegar.


Risya mengerutkan keningnya dan seketika itu pula ia beranjak dari duduknya. Risya menyergah ke arah Soya dan menyibakkan rambut perempuan itu yang menutupi ujung dahi sebelah kiri. Benar saja, ada nampak memar yang samar-samar terlihat di sana.


"Dahi lu... Kenapa?" Risya menurunkan arah fokusnya, dan sekarang menatap mata Soya.


Soya mengerjapkan matanya dengan cepat. "Oh, memar ini?" Ia juga ikut menyentuh ujung dahinya. "Ini tuh abis kebentur pintu toilet." Gadis itu menyengir lebar, tapi terasa kaku.


"Vano aja tuh yang salah paham."


Ketujuh lelaki yang mendengar itu lantas menggelengkan kepala mereka, satu atau dua orang di antaranya hanya bisa menghela nafas panjang. Sedangkan Rhaegar masih merasa dongkol karena di tuduh sembarangan, sudah begitu ia malah mendapatkan bogeman dari Relvan!


Sialan!


"Jadi gue cuma salah paham?"


"Tuh, kan!" Rhaegar membuka suara. "Gue tuh gak salah! Lagian lu dapet info dari siapa sih kalau gue mukul Soya? Mana gue kena tonjok lagi." Laki-laki itu mengusap rahangnya sembari menatap Relvan dengan sorot mata sinis.


"Mana gue tau, kan lu gak ngelak." Relvan menyahutnya dengan santai. Ia sedikit merasa malu karena salah paham, tapi anggap saja ini balasan karena Rhaegar sudah memarahi Soya.


"Gila lu!" Sentak Rhaegar. "Gimana gue mau menyela coba? Elu aja dateng-dateng malah nonjok gue!"


"Haahh... Itulah gunanya dengerin orang ngomong sampe abis, biar gak salah paham." Angga menyindir teman lelakinya itu. Ya ,kan, Soya saja tadi belum selesai berbicara tapi Relvan malah lari duluan meninggalkan mereka.


"Lain kali jangan langsung serobot aja, tanya dulu baik-baik atau dengerin yang ngomong dulu sampe akhir." Rizhan menimpali obrolan mereka, menatap Relvan dengan seksama. "Jadi karena ini cuma salah paham, ayo saling memaafkan."


"Ck!" Relvan dan juga Rhaegar, kedua laki-laki itu mendecakkan lidah bersamaan. Seolah sama-sama malas untuk bermaafan.


Soya seketika menghembuskan nafasnya, ia sungguh lelah. Matanya terpejam sejenak lalu kemudian netranya kembali fokus menatap Relvan. "Van, minta maaf sama Rhaegar."


Relvan melirik ke arah Soya. Terdiam sejenak dan berperang dengan pikirannya. "Sorry," katanya kemudian.


Rhaegar tak langsung menjawabnya hingga membuat Alby lantas menyenggol lengan temannya itu. "Nyet! Jawab aja, biar kelar."


Rhaegar mendelik. "Tapi gue masih dendam," sahutnya dengan berbisik.


"Gak apa-apa, ntar bales aja di luar sekolah."


Rhaegar langsung melebarkan pupil matanya saat ia mendengar dan melihat Alby yang nampak menahan senyumnya, menahan bibirnya juga agar tidak melepas tawa. Dasar Alby gila! Celetuknya dalam hati.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...