Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 65 | Desvita



Tak terasa waktu cepat sekali berlalu dan tak terasa juga sekarang sudah weekend. Waktu beristirahat dan melepas penat setelah setiap hari bekerja keras.


Banyak tenaga dan otak yang terkuras akibat paksaan dari keadaan. Maka dari itu ia membutuhkan refreshing agar fresh kembali.


Seorang gadis yang tengah terlelap itu kini mulai terbangun sambil mengucek mata lelah nya, nyawa nya juga masih belum terkumpul sepenuh nya. Ia masih cengo di atas kasur dengan wajah bantal nya.


Hoooaam...


Ia menguap sambil menarik tangan nya ke atas, netra nya menatap jam weker yang ada diatas meja nakas. Sekarang sudah pukul 06.00 pagi. Pagi ini ia berniat joging di sekitaran kompleks perumahan Permata.


Gadis itu merenggangkan tubuh lebih dulu sebelum beranjak ke kamar mandi. Didalam kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Beberapa detik, setelah itu ia mulai mencuci muka lalu menggosok gigi.


Apakah ia mandi?? Oh, tentu saja tidak. Mandi nya nanti saja, kebiasaan manusia di hari Minggu kalau tidak bepergian mana mau bersentuhan dengan air pagi - pagi.


Begitu juga dengan gadis itu, namun lantaran ia ingin joging jadi mandi nya ia skip dulu. Nanti baru mandi setelah usai dengan kegiatan nya.


Ia hanya mengganti baju nya untuk joging. Mengikat rambut nya seperti ekor kuda lalu melangkah turun dari kamar nya. Kepala nya celingak - celinguk ke sana kemari melihat kondisi rumah nya. Tak ada terlihat seorang pun manusia pagi ini.


Seperti nya belum ada yang bangun ya? Ia mengangguk - anggukan kepala. Kaki nya melangkah pergi ke arah dapur untuk mengambil minum. Saat tiba di sana, ia terkesiap kaget melihat seorang wanita yang tengah berkutat di dapur rumah nya.


"Eh? Bunda udah bangun?"


Wanita yang ia panggil Bunda itu menengok sekilas ke arah sumber suara. "Bunda emang lebih dulu bangun dari pada kamu, La."


Ila alias Soya itu nampak cengengesan mendengar penuturan sang Bunda. "Si kebo belum bangun, Bun?" Tanya nya. Tau kan ya siapa itu kebo?


Gadis itu menuang air di teko ke dalam gelas bersih. Bunda hanya menghela nafas mendengar nya.


"Kamu kan tau sendiri lah gimana Abang kamu itu." Ujar sang Bunda.


Soya terkekeh lalu meminum air putih yang sudah ia tuang ke gelas. "Ila mau joging dulu ya, Bun." Pamit nya.


Bunda Seya melihat penampilan putri nya dari atas ke bawah. Soya terlihat sudah siap untuk joging dengan handuk kecil yang diselempangkan nya ke pundak.


Wanita itu mengangguk sekali. "Tumben nggak siram bunga dulu?" Tanya nya seraya terkekeh pelan. Biasa nya kan putri nya itu begitu setiap pagi Minggu.


Soya nyengir menatap sang Bunda. "Entar, abis Ila joging." Ia mengecup pipi Bunda Seya.


"Papaiii!"


Soya melambaikan tangan dan bergegas keluar dari rumah. Bunda tersenyum menatap punggung putri nya yang mulai menghilang dari pandangan sambil geleng - geleng kepala.


Di depan rumah nya, Soya melakukan pemanasan lebih dulu untuk mengurangi risiko cidera baru berlari santai menjauh dari rumah. Ia berkeliling dekat komplek perumahan nya saja.


Setelah beberapa menit puas dengan joging kali ini, ia pun berniat mampir di taman dekat jalan raya itu. Di sana ada banyak muda - mudi serta orang dewasa yang ia lihat.


Soya membeli minuman yang dijual pedagang kaki lima. Saat menatap sekeliling tempat, mata nya tak sengaja menangkap sesosok anak kecil yang tengah duduk sambil memeluk lutut dan menyembunyikan wajah nya di antara kedua lutut kecil itu.


Alis Soya berkerut dengan sangat. Setelah membayar satu botol air mineral dan membeli sebuah permen, ia pun menghampiri si bocah yang tak ia kenali itu.


Bahu anak itu naik turun seperti sedang menangis. Soya mendekatkan kepala nya dan ia mendengar isakan kecil dari anak perempuan itu. Seperti nya anak ini berumur sekitar tujuh atau delapan tahunan.


Soya duduk perlahan di samping nya. "Adik kecil kenapa nangis sendirian?" Tanya nya lembut.


Mendengar suara seseorang, anak perempuan itu perlahan mendongak dengan hidung memerah dan wajah yang masih berurai air mata.


"Kenapa? Apa kakak juga mau ikut Ita nangis?"


Soya tersedak ludah nya sendiri. Siapa juga yang mau ikut dia menangis?! Ada - ada saja pertanyaan nya.


Gadis itu tersenyum lembut menatap anak perempuan disampingnya. "Nama kamu Ita, ya?"


Anak itu tidak mengangguk dan tidak menggeleng juga, beberapa detik ia terdiam memandang Soya.


"Kakak orang jahat bukan?" Tanya nya.


Soya mengerjap pelan lalu menjawab pertanyaan nya. "Bukan." Kata gadis itu.


"Oh, karena kakak ini cantik kalau gitu kakak boleh tau nama Ita siapa."


Soya memandang anak bernama Ita itu lekat - lekat. Berarti kalau tidak cantik, tidak boleh tahu nama dia, begitu? Ternyata bukan hanya orang dewasa yang memandang fisik, anak kecil pun bisa. (>_<)


Ita mengangguk kecil. "Desvita nama panjang nya."


Soya mengangguk lalu mengusap pelan jejak air mata di pipi bocah itu. "Kamu kesini sama siapa?" Tanya nya karena ia tak melihat se siapapun yang menemani anak ini.


"Sama bang Aksa."


"Terus Abang kamu kemana?"


Ita menggeleng pelan. "Abang tadi bilang nya mau beli minuman sebentar tapi Ita tunggu Abang juga belum datang."


Soya seketika merasa iba. Kenapa kakak bocah ini tega sekali membiarkan anak sekecil ini sendirian di taman. Kalau di culik orang bagaimana??


Tidak mungkin kan kakak nya itu membuang anak kecil ini di taman??


"Udah kamu jangan nangis lagi, ya. Ini permen buat Ita." Soya memberikan permen lollipop yang ia beli tadi kepada anak itu.


Mata Ita seketika berbinar cerah. "Buat Ita?" Tanya nya.


Soya mengangguk membuat bocah itu memeluk dirinya dengan senang. "Makasih kakak cantik." Ucap bocah itu.


"Sama - sama. Tapi jangan panggil kakak cantik, panggil aja kak Soya."


Gadis itu mengusap rambut Ita lembut dan bocah itu juga perlahan melepaskan pelukan nya. Ia membuka permen yang diberikan Soya tadi.


"Tapi Ita mau nya panggil kakak cantik." Sahut nya membuat Soya menghela nafas panjang. Terserah bocah saja lah.


"Rumah Ita dekat komplek perumahan ini ya?"


Ita menengok ke arah Soya setelah satu kali menggigit permen lollipop. "Ita nggak boleh ngasih tau alamat rumah. Kata bang Aksa nanti Ita bisa di culik orang."


Soya tersenyum kecut mendengar penuturan polos nya. Apa dia kira penculik itu harus tahu alamat rumah?? Kalau ingin menculik ya tinggal menculik saja, untuk apa menanyakan alamat rumah? Kecuali kalau itu maling.


Padahal tadi ia mau menawarkan diri untuk mengantar kan bocah ini pulang. Tapi ya sudah lah mau bagaimana lagi kalau bocah ini saja tak mau memberitahukan dimana rumah nya.


"Terus Ita mau nunggu Abang Ita disini?"


Anak perempuan itu mengangguk. "Huum. Abang pasti kesini, dia gak mungkin ninggalin Ita. Bisa kena omel sama Mama." Ucap nya membuat Soya tertawa kecil.


Ita menatap Soya sejenak. "Kakak cantik jangan pergi dulu, ya. Temenin Ita nunggu bang Aksa."


"Iya." Soya jadi mengiyakan karena tak tega dengan anak yang terlalu imut ini. Sekalian menjaga nya sebentar, takut nya kalau beneran di culik oleh orang jahat.


Sepanjang mereka duduk, Ita nampak berceloteh ria dan tak lagi bersedih seperti tadi. Soya hanya mengangguk saja menanggapi celotehan anak itu dan sesekali ikut menimpali.


Saat bocah itu menatap ke arah depan, tiba - tiba saja bocah itu turun dari bangku hingga membuat Soya terkesiap kaget.


Eh?! Kenapa? Ada apa?


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...


LIKE SETIAP BAB YA READERS TERSAYANG🥰🙏