
Elio dan Relvan sama - sama terdiam, membiarkan suara hujan mengisi kekosongan kedua nya.
Elio duduk di sofa yang sama dengan Relvan. Ia melirik lelaki itu sekilas kemudian menatap lurus ke arah televisi yang tak menyala didepan mereka.
"Jadi lu kabur dari rumah?"
Relvan masih saja terdiam dan bergelut dengan pikiran. "Abang tau dari mana?" Tanya nya pada Elio.
"Dari muka lu keliatan banget anak terbuang."
Relvan lantas melempar bantal sofa ke arah lelaki yang mengejek nya itu. Di saat seperti ini pun masih saja mau bercanda. Tapi apa memang wajah nya terlihat seperti anak terbuang??
Elio terkekeh geli melihat ekspresi wajah Relvan. "Nggak lah, gue nebak aja. Karena gak biasa nya liat lu sendirian nongkrong dipinggir jalan." Ucap nya.
Relvan nampak menghela nafas kasar, ia bersandar dan menyandarkan punggung nya di sofa berwarna silver itu. Elio menatap Relvan lekat seolah menantikan jawaban lelaki itu.
Relvan mengangguk kan kepala membuat Elio semakin menerka - nerka apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Ya gitu." Sahut Relvan pelan.
"Karena Mama lu, ya?"
Relvan terkesiap mendengar pertanyaan Elio. Kenapa tebakan nya tepat sekali? Apa Elio tahu segalanya tentang Relvan??
Melihat Relvan yang tak menjawab pertanyaan nya membuat Elio semakin greget saja. Berarti tebakan Elio benar, kan? Kalau salah pasti Relvan tak mungkin diam.
"Kenapa? Mama lu marahin elu lagi?"
"Lu tau banyak ya tentang gue?" Tanya Relvan seraya mendengus kesal.
Elio menggaruk belakang kepala nya sambil nyengir ke arah Relvan. "Gak penting lah itu. Jadi sekarang lu beneran dimarahin emak lu? Lu bikin salah apa gimana?"
"Gak ada bikin salah. Gue baru pulang sekolah aja langsung kena omel."
Elio menggulirkan bola mata nya ke sana kemari sambil mengusap dagu nya. "Emak lu pms kali." Celetuk nya.
Relvan mendecakkan lidah nya. "Ya mana gue tau. Mama tiap kali pulang selalu marah - marah sama gue, mana pas Papa gak ada lagi!" Kesal nya.
"Pms itu premenstrual syndrome kan? Gak mungkin lah, masa selalu pms tiap kali pulang ke rumah?" Elio mengangguk-anggukan kepala ny. "Emang cewek berapa lama kalau lagi bloody moon? Satu bulan?"
Elio reflek menabok kepala Relvan saat mendengar pertanyaan lelaki itu. Dia kira apaan bloody moon satu bulan?? Bisa habis kali tuh darah.
"Lu kira pendarahan?! Gila kali ah kalau satu bulan, bisa kurus kerontang kalau kehabisan darah."
"Emang gitu?" Tanya Relvan polos.
"Udah ah jangan dibahas lagi, elu mana ngerti kan gak punya adek cewek."
Relvan mendengus kesal, olokan Elio kenapa nge-jleb ke hati ya??
"Udah ngabarin Papa lu belum? Entar dia malah khawatir karena gak tau keberadaan elu." Kata Elio.
Relvan mengangguk sekali. "Udah. Sebelum gue kesini juga gue udah kabarin kalau gue gak tidur di rumah. Tapi belum dibales."
Elio menepuk pundak Relvan. "Mungkin Papa lu sibuk." Ucap nya membuat Relvan menganggukkan kepala.
"Iya kali." Sahut nya.
"Lu gak usah sedih gitu. Disini masih ada bunda yang sayang sama lu."
"Gue gak sedih, bang."
Elio berdecih mendengar jawaban Relvan. Tak mungkin Relvan tidak sedih, kecuali memang dia sudah tidak punya empati.
"Gak udah bohong lu!"
Relvan mendecakkan lidah. "Kenapa sih bang kok lu bisa tau segala nya?" Gerutu nya.
"Elio gitu loh." Ujar Elio membanggakan diri.
Relvan terdiam sesaat. "Gue selalu ngerepotin kalian ya?" Tanya nya tiba-tiba. Terkadang ia selalu merasa tak enak dengan bunda Seya, Elio dan Ila.
Elio mengernyit menatap nya. "Iya." Sahut nya membuat Relvan tersentak kaget.
Sedetik berikut nya, Elio terkekeh kecil. "Bercanda." Kata nya. Relvan menatap Elio dengan bingung. "Bunda udah anggep lu sebagai anak, Van. Dan gue pun juga anggep lu sebagai adik, jadi lu perlu sungkan. Elu gak ngerepotin kita."
Relvan tersenyum tipis mendengar pernyataan Elio. "Makasih, udah mau nerima gue."
"Apa sih? Kok jadi melow?"
Kemudian mereka berdua tertawa bersama. Entah kenapa Relvan jadi bisa menunjukan ekspresi lebih dihadapan mereka, mau itu sedih, senang atau yang lainnya.
Malam semakin larut. Kini Relvan berbaring di satu ranjang yang sama dengan Elio. Elio sudah tertidur pulas sedangkan ia masih saja tak dapat memejamkan mata.
Sedari tadi ia terus membolak - balikkan tubuh nya namun tetap saja ia tak kunjung juga tertidur.
Ting!
Ada sebuah yang notif masuk pada ponsel nya. Namun tak terdengar karena suara hujan lebih mendominasi malam ini. Ia membuka mata dan melihat ponsel nya menyala.
Tangan nya menjangkau ponsel yang berada diatas meja nakas itu. Bergulir membuka pola ponsel dan membalas pesan masuk tersebut.
...Papa Van☠️...
Berantem lagi sama Mama kamu?
^^^Ya.^^^
Nginep di tempat Rey? Atau Angga?
^^^Nope. Relvan nginep di rumah Tante Seya.^^^
Jangan nakal kamu disana.
^^^Relvan tau. Relvan bukan anak kecil lagi.^^^
Besok kamu sekolah, kan?
^^^Ya. Tadi mau pulang tapi keburu hujan, besok Relvan pulang pagi-pagi biar nggak telat.^^^
Kamu nggak nangis, kan?
^^^[Mengirim emoticon: Cry]^^^
Ya sudah, nanti biar Papa yang ngomong sama Mama kamu.
Relvan menutup ponsel, ia tak lagi membalas pesan Papa nya. Lelaki itu meletakkan kembali ponsel nya dan mencoba memejamkan mata.
Tak..
...Tik.....
^^^Tak..^^^
Tik..
...Tak.....
Jam dinding itu terus berdetak dan berputar sesuai arah nya. Satu pemuda yang tidak bisa tidur tadi pun akhir nya kini tertidur nyenyak, mungkin juga karena suara hujan diluar bersama hawa dingin yang menusuk kulit itu membuatnya bisa terlelap.
**
Hujan terus mengguyur jalanan kota malam itu hingga ke pelosok kecil di kota tersebut. Seorang pemuda duduk terdiam dan hanya ditemani deras nya hujan.
Pemuda itu menggenggam erat tangan mungil seorang pasien yang tengah terbaring diatas bad hospital. Ia tak dapat tertidur lelap, mungkin sebab hati nya yang gundah.
Ia pandang seseorang yang terbaring itu dengan tatapan hangat. "Masih betah sama tidur lelap nya ya, cantik?" Tanya nya sedikit lirih.
"Kapan kamu bangun? Ayen udah dua hari nungguin Caca disini. Caca nggak pingin bangun, apa?"
Tatapan nya berubah sendu. "Mommy sama Daddy khawatir sama Caca, mereka selalu jengukin kamu disini walau sibuk sekalipun."
"Caca tau gak? Mommy jadi sering telat makan karena khawatir liat Caca sakit. Ayen juga rasa nya pingin homeschooling aja, tapi kena marah sama Daddy."
Ia nampak sedang curhat walau tau tak akan ada respon untuk dirinya. Sigra tersenyum tipis menatap Risya.
"Caca tau gak? Ayen sering bolos kesini, setelah isi daftar hadir atau sempat ikut jam pelajaran pertama, Ayen langsung mampir ke rumah sakit." Kata nya seraya terkekeh.
"Caca pasti ketawa liat Abang kayak gitu. Pasti Caca langsung ngejek Abang, iya kan?"
Setelah itu tawa nya kembali luntur, ia termenung lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela yang tertutup tirai.
"Hujan nya awet ya, Ca. Sama kayak kamu, awet banget tidur nya." Rupa nya ia masih saja mengajak Risya berbicara.
"Kamu belum jelasin sesuatu ke Abang, Ca.
Tangan kamu luka juga gak bilang lebih dulu, malah dipaksa ikut festival kemarin." Ia menarik menghela nafas panjang. "Ada yang bilang kaca toilet di dekat ruang ganti perempuan itu pecah dan ada bekas darah. Bukan Caca kan yang hancurin itu semua?"
Sigra sebenar nya ingin marah juga, namun sebisa mungkin ia tahan. Lebih penting sekarang ia mengkhawatirkan Risya ketimbang hal lain, setelah Risya bangun nanti masih bisa ia tanyakan masalah itu. Dan meminta penjelasan pada nya.
Sekarang sudah pukul 01.00 dini hari. Sigra masih saja tidak terlelap, padahal ada disediakan ranjang lain untuk ia tidur namun sepertinya Sigra tetap tak ingin beranjak dari sisi Risya.
Ia masih saja menggenggam tangan itu, kepala nya ia rebahkan di sisi ranjang Risya dan menghadap ke arah gadis itu. Di kecupnya tangan itu sekali lalu berusaha memejamkan mata nya.
Dimalam itu ia terus berdoa, memohon agar Risya cepat tersadar dan bisa berkumpul lagi bersama mereka. Ia percaya bahwa keajaiban itu ada.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...